|
|
Membaca cerita-cerita di sumbercerita.com ini
mengingatkan diriku pada 19 tahun yang lalu saat pertama kalinya aku
merasakan nikmatnya seks. Saat itu usiaku 11 tahun dan masih duduk di
kelas 6 SD. Dan orang-orang pertama yang menjadi pemuas nafsuku adalah
Mama dan adikku sendiri.
Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun aku mempunyai keingintahuan dan
hasrat yang kuat akan seks. Secara sembunyi-sembunyi aku sering membaca
majalah dewasa milik orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat
sebelum berangkat sekolah dan orang tuaku tidak di rumah. Saat membaca
majalah tersebut aku juga beronani untuk memuaskan hasratku.
Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku akan pemuasan seks semakin
besar, maklum saat itu adalah masa puber. Frekuensiku melakukan onani
juga semakin sering, dalam sehari bisa sampai 4 kali. Dan setiap hari
minimal 1 kali pasti aku lakukan.
Pada suatu sore ketika aku duduk di kelas 6 SD, saat itu tidak ada
seorang pun di rumah. Papa sedang bertugas keluar kota, sedangkan Mama
dan adikku sedang mengikuti suatu kegiatan sejak pagi. Aku gunakan
kesempatan tersebut untuk menonton blue film milik orang tuaku. Sejak
pagi sudah 3 film aku putar dan sudah 4 kali aku melakukan onani. Namun
hasratku masih juga begitu besar.
Ada adegan yang sangat aku sukai dan aku sering berkhayal bahwa aku
menjadi pemeran pria dalam film itu. Adegan itu adalah saat seorang
pria sedang berbaring sementara wanita pertama duduk di atas penis sang
pria sambil menggoyangkan pinggulnya dan wanita kedua duduk tepat di
atas mukanya sementara sang pria dengan lahapnya menjilati vagina
wanita kedua tersebut.
Aku segera menurunkan celanaku bersiap melakukan onani sambil
menyaksikan adegan favoritku. Di tengah-tengah kegiatanku dan film
sedang hot-hotnya, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat
itu menunjukkan pukul 20.00, ternyata Mama dan adikku sudah pulang.
Segera aku kenakan celanaku kembali dan mengeluarkan video dari
playernya kemudian meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku
membukakan pintu untuk mereka.
"Eh Wan, tolong bantu masukkan barang-barang dong", Mama memintaku membantunya membawa barang-barang.
"Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja? Koq sepertinya capek banget sih?", aku menyapa adikku Shinta.
"Wah, banyak. Pagi setelah aerobik terus jalan lintas alam. Sampai
di atas udah siang. Terus sorenya baru turun. Pokoknya capek deh.",
Shinta menjelaskannya dengan bersemangat.
Setelah itu mereka mandi dan makan malam. Sementara aku duduk di
ruang keluarga sambil menonton acara TV. Setelah mereka selesai makan
malam, adikku langsung menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung
denganku menonton TV.
"Wan, ada acara bagus apa aja?", Mama bertanya padaku.
"Cuma ini yang mendingan, yang lainnya jelek", aku memberi tahu bahwa hanya acara yang sedang kutonton yang cukup bagus.
Saat itu acaranya adalah film action. Setelah itu ada pembicaraan
kecil antara aku dan Mama. Karena lelah, Mama menonton sambil tiduran
di atas karpet. Tidak lama sesudah itu Mama rupanya terlelap. Aku tetap
menonton. Pada suatu saat, dalam film tersebut ada jalan cerita dimana
teman wanita sang jagoan tertangkap dan diperkosa oleh boss penjahat.
Spontan saja penisku mengembang. Aku tetap meneruskan menonton.
Ketika film sedang seru-serunya, tanpa sengaja aku menatap Mama
yang sedang tertidur dengan posisi telentang dan kaki yang terbentang.
Baju tidurnya (daster) tersingkap, sehingga sedikit celana dalamnya
terlihat. Tubuhku langsung bergetar karena nafsuku yang tiba-tiba
meledak. Tidak pernah terpikir olehku melakukan persetubuhan dengan
Mamaku sendiri. Tapi pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29
tahun, Mama masih terlihat sangat menarik. Dengan kulit kuning, tinggi
badan 161 cm, berat badan 60 kg, buah dada 36B ditambah bentuk
pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari bahwa
sebenarnya Mama sangat menggairahkan.
Selama ini aku benar-benar tidak pernah punya pikiran aneh terhadap
Mama. Sekarang sepertinya baru aku tersadar. Nafsu mendorongku untuk
menjamah Mama, namun sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama
terbangun. Namun dorongan nafsu memaksaku. Akhirnya aku memberanikan
diri setelah sebelumnya aku mengecilkan volume TV agar tidak
membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan mengambil posisi
dari arah kaki kanannya. Untuk memastikan agar Mama tidak sampai
terbangun, kugerak-gerakkan tangan Mama dan ternyata memang tidak ada
reaksi.
Rupanya karena lelah seharian, ia jadi tertidur dengan sangat
lelap. Dasternya yang tersingkap, kucoba singkap lebih tinggi lagi
sampai perut dan tidak ada kesulitan. Tapi itu belum cukup, aku singkap
dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih dahulu aku pindahkan posisi
kedua tangannya ke atas. Sekarang kedua buah dadanya dapat terlihat
dengan jelas, karena ternyata Mama tidak mengenakan bra. Langsung aku
sentuh buah dada kanannya dengan telapak tangan terbuka dan dengan
perlahan aku remas. Setelah puas meremasnya, aku hisap bagian putingnya
lalu seluruh bagian buah dadanya.
Tiba-tiba Mama mendesah. Aku kaget dan merasa takut kalau-kalau
sampai Mama terbangun. Tetapi setelah kutunggu beberapa saat tidak ada
reaksi lain darinya. Untuk memastikannya lagi aku meremas buah dada
Mama lebih keras dan tetap tidak ada reaksi. Walau masih penasaran
dengan bagian dadanya, namun aku takut jika tidak punya cukup waktu.
Sekarang sasaran aku arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis
berwarna kuning sehingga masih terlihat bulu kemaluannya.
Aku raba dan aku ciumi vagina Mama, tapi aku tidak puas karena
masih terhalang CD-nya. Jadi kuputuskan untuk menurunkan CD-nya sampai
seluruh vaginanya terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena
posisi kakinya yang terbentang menyulitkanku untuk menurunkannya. Jadi
terpaksa aku rapatkan kakinya sehingga aku bisa menurunkan CD-nya
sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina
Mama dengan leluasa karena kakinya kini merapat. Apakah aku harus
melepas semuanya? Tentu akan lebih leluasa, tapi jika Mama sampai
terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan cepat
memakaikannya kembali.
Berhubung nafsuku sudah memburu, maka aku putuskan untuk
melepaskannya semua. Lalu aku rentangkan kakinya. Sekarang vagina Mama
dapat terlihat dengan jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan
jilati vaginanya. Lebih jauh lagi, dengan kedua tangan kubuka
bibir-bibir vaginanya dan aku jilati bagian dalamnya. Aku benar-benar
semakin bernafsu, ingin rasanya aku telan vagina Mama. Tidak lama
setelah aku jilati, vaginanya menjadi basah. Setelah puas mencium dan
menjilati bagian vaginanya, penisku sudah tidak tahan untuk dimasukkan
ke dalam vagina Mama. Aku kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu
aku duduk lagi di antara kedua kaki Mama dan aku bentangkan kakinya
lebih lebar.
Dengan mengambil posisi duduk dan kedua kakiku dibentangkan untuk
menahan kedua kaki Mama, aku arahkan penisku ke lubang vaginanya.
Tangan kananku membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong
penisku perlahan. Aku rasakan penisku memasuki daerah yang basah,
hangat dan menjepit. Tubuhku gemetar hebat karena nafsu yang mendesak.
Setelah beberapa saat akhirnya seluruh penisku sudah berhasil masuk ke
dalam vagina Mama dengan tidak terlalu sulit, mungkin karena Mama sudah
melahirkan dua orang anak.
Mulailah kugoyangkan pinggulku maju mundur secara perlahan.
Kurasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Aku memutuskan untuk
memuaskan nafsuku, apa pun yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin
cepat. Dengan semakin bernafsu, aku peluk tubuh Mama dan mengulum
dadanya, sementara penisku terus bergerak cepat menggosok vagina Mama.
Aku sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar
pun terbangun aku akan terus menggoyangnya sampai aku puas.
Sungguh nikmat. Bahkan lebih nikmat daripada fantasiku selama ini.
Setelah aku berjuang keras selama 6 menit, akhirnya aku sudah tidak
tahan lagi hingga aku benamkan penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku
rasakan spermaku mengalir bersamaan dengan sensasi yang luar biasa.
Seakan melayang sampai-sampai terasa sakit kepala. Aku biarkan penisku
beberapa saat di dalam tubuh Mamaku.
Setelah cukup rileks, aku cabut penisku. Aku puas. Aku tidak
menyesal. Aku kenakan kembali celanaku. Sebelum aku kenakan kembali
CD-Mama, aku puaskan diri dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu
aku rapikan kembali daster Mama. Aku matikan TV dan naik menuju kamarku
di atas. Aku langsung rebahan di atas kasurku. Walau aku merasa lelah
tapi aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru
saja aku rasakan. Pengalaman seorang anak SD yang baru saja melakukan
hubungan seks dengan Mamanya sendiri.
Membayangkan hal tersebut saja membuat nafsuku bangkit kembali. Aku
berpikir untuk kembali melakukannya dengan Mama. Aku berjalan keluar
kamar menuju ruang keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah
apa yang mengubah pikiranku. Aku berpikir, kalau Mama saja tidur
sedemikian lelapnya maka tentu Shinta juga demikian. Apalagi selama ini
Shinta kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan.
Perlahan aku buka kamarnya dan aku lihat Shinta tertidur dengan
menggunakan selimut. Aku masuk ke kamarnya dan aku tutup lagi pintunya.
Seperti yang sudah aku lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad
akan menyetubuhi Shinta adikku sendiri. Walaupun ia bangun aku juga
tidak akan peduli.
Lalu aku singkap selimutnya dan aku lepaskan dasternya serta tidak
CD-nya. Sekarang Shinta sudah benar-benar bugil. Karena Shinta belum
memiliki buah dada, sasaranku langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh
mulus karena belum ditumbuhi rambut. Aku rentangkan kakinya lalu aku
cium dan jilati vaginanya. Sekali-kali aku gigit perlahan. Lalu aku
buka lebar-lebar bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian
dalamnya.
Setelah puas menciumi vaginanya, aku bersiap untuk menghunjamkan
penisku ke dalam vagina Shinta yang masih mulus. Aku rentangkan kakinya
dan aku tempatkan melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi
yang memungkinkanku dapat menyetubuhi Shinta dengan leluasa.
Lalu kuarahkan penisku ke lubang vaginanya sementara kedua tanganku
membantu membuka bibir vaginanya. Aku dorong perlahan namun ternyata
tidak semudah aku melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu
sempit, karena ia masih kecil (saat itu ia baru berusia 9 tahun) dan
tentu saja masih perawan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Aku terus
mendorong penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk.
Namun untuk lebih jauh sangat sulit.
Nafsuku sudah memuncak tapi masih belum bisa masuk juga hingga
membuatku kesal. Karena aku sudah bertekad, maka aku paksakan untuk
mendorongnya hingga aku berhasil. Namun tiba-tiba saja Shinta merintih.
Aku diam sejenak dan ternyata Shinta tidak bereaksi lebih jauh.
Walaupun aku tidak peduli apakah Shinta akan tahu atau tidak, tetap
saja akan lebih baik kalau Shinta tidak mengetahuinya.
Kemudian aku mulai menggoyang pinggulku, tetapi gerakanku tidak
bisa selancar saat melakukannya dengan Mama, karena vagina Mama basah
dan tidak terlalu sempit, sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku
terus menggesekan penisku di dalam tubuh Shinta semakin lama semakin
cepat sambil memeluk tubuhnya. Ada perbedaan kenikmatan tersendiri
antara vagina Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka
hanya dalam waktu 3 menit aku sudah mencapai orgasme.
Kubiarkan spermaku mengalir di dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu
khawatir karena aku tahu Shinta belum bisa hamil. Aku tekan penisku
dalam-dalam dan aku peluk Shinta dengan erat. Setelah puas aku kenakan
lagi pakaian Shinta baru aku kenakan pakaianku sendiri. Aku berjingkat
kembali ke kamarku dan tertidur sampai keesokan paginya.
Pada pagi harinya aku agak khawatir jika ketahuan. Tapi sampai aku
berangkat sekolah tidak ada yang mencurigakan dari sikap Mama maupun
Shinta. Sejak saat itu aku selalu terbayang kenikmatan yang aku alami
pada malam itu. Aku ingin mengulanginya. Dengan Mama kemungkinannya
bisa dilakukan jika Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih besar
kesempatannya jika melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat
melakukannya, aku tidak peduli jika diketahui tetapi tetap akan lebih
aman jika mereka tidak mengetahuinya. Maka hampir setiap malam, aku
selalu bergerilya ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai
tahap melucuti pakaiannya. Setiap kali penisku mulai masuk, Shinta
selalu terbangun.
Empat bulan sejak pengalaman pertama, aku belum pernah lagi
melakukan sex. Pada bulan kelima, aku masuk SMP dan pada pelajaran
biologi aku mengenal suatu bahan kimia praktikum yang digunakan untuk
membius. Saat itu aku langsung berpikir bahwa aku bisa menggunakannya
bersetubuh dengan Shinta lagi.
Setelah pelajaran biologi, aku mengambil sebotol obat bius untuk
dibawa ke rumah. Pada malam hari setelah semuanya tertidur, aku masuk
ke kamar Shinta. Sebuah sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku
tempatkan di hidung Shinta. Setelah beberapa saat, aku angkat sapu
tangan tersebut dan mulai melucuti pakaian Shinta. Dan setelah aku
melucuti seluruh pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di
antara kedua kakinya.
Aku mengambil posisi favoritku dengan menempatkan kedua kakinya
melingkari pinggangku. Aku masukkan penisku ke vaginanya dengan
perlahan sampai keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai
menggoyang tubuh Shinta. Aku memeluk tubuhnya dengan erat dan penisku
bergerak keluar masuk dengan cepat. Karena aku yakin Shinta tidak akan
terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku. Seperti sebelumnya,
saat pada puncaknya aku biarkan spermaku tertumpah di dalam vaginanya.
Sejak saat itu hampir setiap hari aku menyetubuhi adikku, Shinta.
Sesekali jika Papa sedang di luar kota, aku juga menyetubuhi Mama.
Alangkah beruntungnya aku. Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan
ternyata dapat diselesaikan dengan mudah.
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
181,491 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
169,086 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
156,524 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
150,960 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
135,585 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
126,435 |
| Anakku Tersayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
123,304 |
| Anakku, Sarana Pelampiasanku |
putri.andien@eudoramail.com |
118,898 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
115,287 |
| Gairah Kakak Kandung 01 |
Pecinta Wanita |
104,530 |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
104,404 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
104,303 |
| Mamaku Sayang 02 |
ichapunya@yahoo.com |
99,058 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
95,797 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
94,876 |
|
|
|
|
|
|
|