|
|
Ketika aku menikah dua tahun yang lalu, rasanya
dunia ini hanya milikku seorang. Betapa tidak, aku mendapatkan seorang
pria yang menjadi impian semua gadis di seluruh kampungku. Aku menjadi
istri seorang pejabat di kota yang kaya raya. Bayangkan saja, suamiku
memiliki puluhan hektar tanah di kampungku, belum ruko-ruko yang
dikontrakan. Tidak hanya di daerah kampungku tetapi ada juga di
daerah-daerah lainnya. Sudah terbayang di benakku, setiap hari aku
tinggal di rumah besar dan mewah (setidaknya untuk ukuran di
kampungku), naik mobil bagus keluaran terbaru.
Hari-hariku sebagai istrinya memang membahagiakan dan membanggakan.
Teman-teman gadisku banyak yang iri dengan kehidupanku yang serba enak.
Meski aku sendiri tidak yakin dengan kebahagian yang kurasakan saat
itu. Hati kecilku sering dipenuhi oleh kekhawatiran yang sewaktu-waktu
akan membuat hidupku jatuh merana. Aku sebenarnya bukanlah satu-satunya
wanita pendamping suamiku. Ia sudah beristri dengan beberapa anak.
Mereka tinggal jauh di kota besar dan sama sekali tak pernah tahu akan
keberadaanku sebagai madunya.
Ketika menikaHPun aku sudah tahu akan statusnya ini. Aku, entah
terpaksa atau memang mencintainya, memutuskan untuk menikah dengannya.
Demikian pula dengan orang tuaku. Mereka malah sangat mengharapkan aku
menjadi istrinya. Mungkin mereka mengharapkan kehidupan kami akan
berubah, derajat kami meningkat dan dipandang oleh semua orang kampung
bila aku sudah menjadi istrinya. Mungkin memang sudah nasibku untuk
menjadi istri kedua, lagi pula hidupku cukup bahagia dengan statusku
ini.
Semua itu kurasakan setahun yang lalu. Begitu menginjak tahun
kedua, barulah aku merasakan perubahan. Suamiku yang dulunya lebih
sering berada di sisiku, kini mulai jarang muncul di rumah. Pertama
seminggu sekali ia mengunjungiku, kemudian sebulan dan terakhir aku
sudah tak menghitung lagi entah berapa bulan sekali dia datang kepadaku
untuk melepas rindu.
Aku tak berani menghubunginya. Aku takut semua itu malah akan
membuat hidupku lebih merana. Aku tak bisa membayangkan kalau istri
pertamanya tahu keberadaanku. Tentunya akan marah besar dan
mengadukanku ke pihak berwajib. Biarlah aku tanggung semua derita ini.
Aku tak ingin orang tuaku terbawa sengsara oleh masalah kami. Mereka
sudah hidup bahagia, memiliki rumah yang lebih besar, sawah dan
ternak-ternak piaraan pemberian suamiku.
Hari hari yang kulalui semakin tidak menggairahkan. Aku berusaha
untuk menyibukan diri dengan berbagai kerjaan agar tak merasa bosan
ditinggal suami dalam waktu lama. Tetapi semua itu tidak membuat
perasaanku tenang. Justru menjadi gelisah, terutama di malam hari. Aku
selalu termenung sendiri di ranjang sampai larut malam menunggu kantuk
yang tak kunjung datang. Kurasakan sprei tempat tidurku begitu dingin,
tidak seperti di hari-hari awal pernikahan kami dulu. Sprei tempat
tidurku tak pernah rapi, selalu acak-acakan dan hangat bekas pergulatan
tubuh kami yang selalu berkeringat. Di saat-sat seperti inilah aku
selalu merasakan kesedihan yang mendalam, gelisah mendambakan
kehangatan seperti dulu. Rindu akan cumbuan hangat suamiku yang
sepertinya tak pernah padam meski usianya sudah mulai menua.
Kalau sudah terbayang semua itu, aku menjadi semakin gelisah.
Gelisah oleh perasaanku yang menggebu-gebu. Bahkan akhir-akhir ini
semakin membuat kepalaku pusing. Membuatku uring-uringan. Marah oleh
sesuatu yang aku sendiri tak mengerti. Kegelisahan ini sering terbawa
dalam impianku. Di luar sadarku, aku sering membayangkan cumbuan hangat
suamiku. Bagaimana panasnya kecupan bibir suamiku di sekujur tubuhku.
Aku menggelinjang setiap kali terkena sentuhan bibirnya, bergetar
merasakan sentuhan lembut jemari tangannya di bagian tertentu tubuhku.
Aku tak mampu menahan diri. Akhirnya aku mencumbui diriku sendiri.
Tangannku menggerayang ke seluruh tubuhku sambil membayangkan semua itu
milik suamiku. Pinggulku berputar liar mengimbangi gerakan jemari di
sekitar pangkal pahaku. Pantatku terangkat tinggi-tinggi menyambut
desakan benda imajinasiku ke dalam diriku. Aku melenguh dan merintih
kenikmatan hingga akhirnya terkulai lemas di ranjang kembali ke alam
sadar bahwa semua itu merupakan kenikmatan semu. Air mataku jatuh
bercucuran, meratapi nasibku yang tidak beruntung.
Pelarianku itu menjadi kebiasaan setiap menjelang tidur. Menjadi
semacam keharusan. Aku ketagihan. Sulit menghilangkan kebiasaan yang
sudah menjadi kebutuhan bathinku. Aku tak tahu sampai kapan semua ini
akan berakhir. Aku sudah bosan. Kecewa, marah, sedih dan entah apalagi
yang ada dalam perasaanku saat ini. Kepada siapa aku harus melampiaskan
semua ini? Suamiku? Entah kapan ia datang lagi. Kepada orang tua? Apa
yang bisa mereka perbuat? Oohh.. aku hanya bisa menangisi penderitaan
ini.
Aku memang gadis kampung yang tak tahu keadaan. Aku tak pernah
sadar bahwa keadaanku sehari-hari menarik perhatian seseorang. Aku baru
tahu kemudian bahwa ternyata Kang Hendi, suami kakakku, mengikuti
perkembanganku sehari-hari. Mereka memang tinggal di rumahku. Aku
sengaja mengajak mereka tinggal bersama, karena rumahku cukup besar
untuk menanmpung mereka bersama anak tunggalnya yang masih balita.
Sekalian menemaniku yang hidup seornag diri.
"Kasihan Neng Anna, temenin aja. Biar rumah kalian yang di sana dikontrakan saja" demikian saran orang tuaku waktu itu.
Aku pun tak keberatan. Akhirnya mereka tinggal bersamaku. Semuanya
berjalan normal saja. Tak ada permasalahan di antara kami semua, sampai
suatu malam ketika aku sedang melakukan hal 'rutin' terperanjat
setengah mati saat kusadari ternyata aku tidak sedang bermimpi bercumbu
dengan suamiku. Sebelum sadar, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa
sekali. Terasa lain dengan khayalanku selama ini. Apalagi ketika puting
payudaraku dijilat dan dihisap-hisap dengan penuh gairah. Aku sampai
mengerang saking nikmatnya. Rangsangan itu semakin bertambah hebat
menguasai diriku. Kecupan itu semakin menggila, bergerak perlahan
menelusuri perutku terus ke bawah menuju lembah yang ditumbuhi
semak-semak lebat di sekitar selangkanganku. Aku hampir berteriak
saking menikmatinya. Ini merupakan sesuatu yang baru, yang tak pernah
dilakukan oleh suamiku. Bahkan dalam mimpipun, aku tak pernah
membayangkan sampai sejauh itu. Di situlah aku baru tersadar. Terbangun
dari mimipiku yang indah. Kubuka mataku dan melirik ke bawah tubuhku
untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mataku yang masih belum
terbiasa dengan keadaan gelap ruangan kamar, melihat sesuatu
bergerak-gerak di bawah sana, di antara kedua pahaku yang terbuka
lebar.
"Aduh kenapa sih ini.." gumamku setengah sadar sambil menjulurkan tanganku ke bawah sana.
Tanganku memegang sesuatu seperti rambut. Kuraba-raba dan baru
kutahu bahwa itu adalah kepala seseorang. Aku kaget. Dengan refleks aku
bangun dan merapat ke ujung ranjang sambil mencoba melihat apa terjadi.
Setelah mataku terbiasa dengan kegelapan, kulihat di sana ternyata
seseorang tengah merayap ke atas ranjang. Aku semakin kaget begitu
kutahu orang itu adalah Kang Hendi, kakak iparku!
Saking kagetnya, aku berteriak sekuat tenaga. Tetapi aku tak
mendengar suara teriakan itu. Kerongkonganku serasa tersekat. Hanya
mulutku saja yang terbuka, menganga lebar-lebar. Kedua mataku melotot
seakan tak percaya apa yang kulihat di hadapanku adalah Kang Hendi yang
bertelanjang dengan hanya memakai cawat.
Kang Hendi menghampiri sambil mengisyaratkan agar jangan berteriak.
Tubuhku semakin mepet ke ujung dinding. Takut, marah dan lain
sebagainya bercampur aduk dalam dihatiku melihat kehadirannya di
kamarku dalam keadaan setengah telanjang seperti itu.
"Kang! Lagi apa..?" hanya itu yang keluar dari mulutku sementara tanganku sibuk membenahi pakaianku yang sudah tak karuan.
Aku baru sadar ternyata seluruh kancing baju tidurku semuanya
terlepas dan bagian bawahnya sudah terangkat sampai ke pinggang.
Untungnya saja celana dalamku masih terpakai rapi, hanya dadaku saja
yang telanjang. Aku buru-buru menutupi ketelanjangan dadaku karena
kulihat mata Kang Hendi yang liar nampaknya tak pernah berkedip menatap
ke arah sana.
Saking takutnya aku tak bisa ngomong apa-apa dan hanya melongo
melihat Kang Hendi semakin mendekat. Ia lalu duduk di bibir ranjang
sambil meraih tanganku dan membisikan kata-kata rayuan bahwa aku ini
cantik namun kurang beruntung dalam perkawinannya. Dadaku serasa mau
meledak mendengar ucapannya. Apa hak dia untuk mengatakan semua itu?
Aku tak butuh dengan belas kasihannya. Kalau saja aku tidak ingat akan
istrinya, yang merupakan kakakku sendiri. Sudah kutampar mulut
lancangnya itu. Apalagi ia sudah berani-berani masuk ke dalam kamarku
malam-malam begini.
Teringat itu aku langsung bertanya, "Kemana Teh Mirna?".
"Ssst, tenang ia lagi di rumah yang di sana" kata Kang Hendi dengan tenang seolah tidak bersalah.
Kurang ajar, runtukku dalam hati. Pantesan berani masuk ke kamar. Tapi kok Teh Mirna nggak ngomong-ngomong sebelumnya.
"Kok dia nggak bilang-bilang mau pulang" Tanyaku heran.
"Tadinya mau ngomong. Tapi Kang Hendi bilang nggak usah kasihan
Neng Anna sudah tidur, biar nanti Akang saja yang bilangin" jelasnya.
Dasar laki-laki kurang ajar. Istrinya dibohongi biar dia bebas
masuk kamarku. Aku semakin marah. Pertama ia sudah kurang ajar masuk
kamarku, kedua ia berani mengkhianati istrinya yang juga kakak
kandungku sendiri!
"Akang sadar saya ini adikmu juga. Akang mau ngapain kemari..
Cuma.. ngh.. pake gituan aja" kataku seraya melirik Kang Hendi sekilas.
Aku tak berani lama-lama karena takut melihat tatapannya.
"Neng.." panggilnya dengan suara parau.
"Akang kasihan lihat Neng Anna. Akhir-akhir ini kelihatannya semakin menderita saja" ucapnya kemudian.
"Akang tahu dari mana saya menderita" sergahku dengan mata mendelik.
"Eh.. jangan marah ya. Itu.. nggh.. Akang.. anu.." katanya dengan ragu-ragu.
"Ada apa kang?" tanyaku semakin penasaran sambil menatap wajahnya lekat-lekat.
"Anu.. eh, Akang lihat kamu selalu kesepian. Lama ditinggal suami, jadi Akang ingin Bantu kamu" katanya tanpa malu-malu.
"Maksud Akang?"
"Ini.. Akang, maaf neng.., pernah lihat Neng Anna kalau lagi tidur suka.." ungkapnya setengah-setengah.
"Jadi Akang suka ngintip saya?" tanyaku semakin sewot.
Kulihat ia mengangguk lemah untuk kemudian menatapku dengan penuh gairah.
"Akang ingin menolong kamu" bisiknya hampir tak terdengar.
Kepalaku serasa dihantam petir mendengar pengakuan dan
keberaniannya mengungkapkan isi hatinya. Sungguh kurang ajar lelaki
ini. Berbicara seperti itu tanpa merasa bersalah. Dadaku serasa sesak
oleh amarah yang tak tersalurkan. Aku terdiam seribu bahasa, badanku
serasa lemas tak bertenaga menghadapi kenyataan ini. Aku malu sekali
pelampiasanku selama ini diketahui orang lain. Aku tak tahu sampai
sejauh mana Kang Hendi melihat rahasia di tubuhku. Aku tak ingin
membayangkannya.
Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Bersetubuh dengan Ibu Kandung 02 |
Ahmad Ibrahim |
836,700 |
| Mama, Oh Mama... |
kied_a@yahoo.com |
591,142 |
| Mulusnya Ibuku, Nikmatnya Kakakku |
cahyono7@hotmail.com |
513,182 |
| My Family Incest |
ozers78@gmail.com |
510,747 |
| Persetubuhan Yang Terlarang - 1 |
benget666@yahoo.com.sg |
501,259 |
| Ibuku Yang Tercinta |
corona_saints@hotmail.com |
479,506 |
| Tanteku yang Seksi Sekali |
ricky_junetri@yahoo.com |
409,209 |
| Kisah Cinta Ibu dan Anak - 1 |
rahasia_donk2003@yahoo.com |
373,098 |
| Aku, Mama, dan Tante Rina |
roy_takeshi@yahoo.com |
368,744 |
| Ibuku Istriku |
Agus Sumitro |
349,251 |
| Istriku Selingkuh dengan Keponakan |
wirata65@yahoo.com |
341,807 |
| Menantu Perempuan |
aishamaharani@yahoo.com |
314,539 |
| Seks Sekeluarga 01 |
rhysal19@yahoo.com |
304,222 |
| Family Education of Sex 01 |
Wika Erlangga |
292,398 |
| Mertuaku Sayang |
roy_takeshi@yahoo.com |
287,491 |
|
|
|
|
|
|
|