|
|
Rasa bersalah pada isteriku kian menggunung
dengan segala rahasiaku. Ingin rasanya berterus terang selekas mungkin
sebelum semuanya terlambat. Namun aku belum siap untuk bisa menerima
konsekwensi terburuk yang sering menghantui. Aku tidak mau ditinggal
isteri yang sangat kucintai jika dia tahu betapa bejatnya aku. Apalagi
jika harus berpisah dengan anakku, aku tidak sanggup.
Namun aku pun tertekan. Jika dokter keluargaku atau Aab Saddam
(begitu aku memanggil dosen yang berasal dari Irak itu) meneleponku
hanya sekedar tanya kabar misalnya, apalagi sampai datang
mengunjungiku, rasa itu semakin menyiksaku. Aku mencoba menghilangkan
rasa bersalahku, tapi biar bagaimana pun aku pernah bercinta dengan
mereka dan isteriku tidak tahu bahwa telah kukhianati. Untungnya Mr.
Smith si bule baik hati itu sudah kembali ke negara asalnya dan hanya
setahun sekali datang ke rumah. Meski email untuknya masih sering
kukirim, namun beban terhadapnya tidak terlalu berat dibandingkan yang
lain.
Sejak pergumulanku yang sedikit bernuansa premanisme dengan Aab
Saddam, lelaki itu semakin sering menghantui pikiranku. Tidak jarang
dia datang ke rumahku jika aku tidak masuk kuliahnya, meski dia juga
tahu bahwa aku tidak di rumah karena sedang sibuk dengan proyekku. Dia
beralasan menanyakanku sekaligus menengok keluargaku, dan memang benar
juga. Anakku semakin akrab dengannya karena Aab sering membawakan
mainan dan makanan kesukaannya. Berbagai rasa berkecamuk jika sepulang
kerja, isteriku apalagi anakku bercerita panjang lebar tentang
kedatangan Aab Saddam yang setahu mereka adalah dosenku sekaligus salah
satu pengurus perguruan tinggi di mana aku dulu mondok menimba ilmu.
"Maaf, tidak nelepon lebih dulu, Dj. Kedatanganku mengganggu?" sapanya.
Aku sedikit terkejut begitu tahu bahwa yang menekan bel rumahku
adalah Aab Saddam. Aku menggeleng antara menggeleng menjawab tidak
terganggu dan menggeleng karena tidak siap akan kedatangannya.
"Woww, kerennya kau dengan baju itu, bikin kangenku harus segera diobati, Dj!" ujarnya.
Sebelum pintu kututup rapat, Aab sudah mendekapku erat dari
belakang. Aku tidak bisa beralasan lagi sebagaimana hari sebelumnya
jika Aab ingin bertemu khusus denganku. Dia tahu bahwa aku sendirian
saja karena siangnya tadi dia telah ikut mengantar isteri dan anakku ke
bandara untuk berlebaran di kampung orang tuanya.
"Aduh, aku belum makan, Ab. Jadi masih lapar!" ujarku sambil memegang perutku yang terasa lapar.
"Iyaa, kebetulan sekali Dj. Aku juga belum makan, makanya aku
bawakan banyak makanan untuk kita" aku sekali lagi menggeleng karena
tidak tahu harus berbuat apa.
Sambil mendekap erat dan sesekali menciumiku, Aab membimbingku ke
meja makan. Selama makan, banyak hal yang dilakukannya yang membuatku
risih. Aku yang biasanya tidak aneh-aneh jika makan dengan isteriku,
merasa kikuk saat dia meminta untuk menyuapiku. Bahkan sesekali makanan
yang sudah disuapkannya ke mulutku diambilnya lagi dengan mulutnya. Aku
sendiri jijik membayangkan makanan yang sudah kukunyah ditelan lagi
oleh orang lain.
"Maaf, Ab. Aku mau mandi, sudah hampir malam" ujarku.
Aku bergegas bangkit setelah merasa cukup. Kulihat rasa kecewa
menggantung di wajah brewoknya yang berubah seperti wajah anakku yang
merengut jika kemauannya tidak kuturuti.
"Please, Dj. Hampir satu bulan aku menahan rasa ini. Aku tidak
sabar menunggu waktu yang tepat seperti sekarang ini. Atau memang kau
sudah siap untuk berterus terang dengan isterimu?" ujarnya.
Ahh, lagi-lagi dikeluarkannya jurus itu. Aku memang sudah yakin
kalau foto-foto ketika dia menjilati dan mengulum penisku sebagaimana
di ceritaku sebelumnya itu sudah terekam bagus di ponselku, tapi aku
belum bisa memproses foto itu tanpa aku harus minta bantuan orang lain.
Resikonya terlalu besar, pikirku.
"Tapi, Ab. Aku masih capek, nanti agak malam saja yaa.." ujarku
merajuk. Sebenarnya sekarang atau kapan pun aku tidak yakin mau. Rasa
bersalah terhadap keluargaku terlalu besar.
Dia menggeleng. Bahkan semakin erat memelukku. Aku yang sudah
sangat gerah seharian tadi semakin merasakan gerah di sekujur tubuhku.
"Please, Dj!" ujarnya dengan nafas terengah-engah.
Hembusan panas nafasnya terasa di telinga ketika dari belakang
kepalaku dia menjilatinya. Kumisnya yang tebal seolah memberikan
tambahan energi di desahannya. Tangannya sudah meremas-remas penis di
balik celanaku. Kurasakan benjolan keras di pantatku ketika dia dekap
erat aku.
Aku kembali tak bisa berbuat apa-apa. Kedekatan Aab dengan
keluargaku seolah memberikan gambaran mengerikan jika Aab sampai
menceritakan apa yang pernah kuperbuat dengannya dan dengan lelaki lain
sebagaimana di ceritaku karena dia kecewa telah kutolak kemauannya. Aku
harus senatural mungkin bersikap di hadapannya. Aku masih belum tahu
betul karakter Aab sebagai orang Arab, orang Irak persisnya.
Gairahku mulai terusik ketika dibisikkannya kata-kata indah yang
entah dari mana didapatnya. Desahannya di telinga membius gairahku. Tak
urung penisku yang berkali-kali diremasnya menyembul dengan bebasnya
dari balik celanaku karena memang aku tidak memakai celana dalam.
Bajuku, pemberian dokter keluargaku, sosok yang juga mengisi gundahku,
tidak sedikit pun menyurutkan gairah Aab yang sudah membara.
"Ohh, Dj. Please!". Berkali-kali desahan itu keluar dari bibir tebalnya.
Lidahnya berkali-kali menjilati kedua telingaku seperti induk
kucing sedang memandikan anaknya. Direnggutnya celanaku sehingga
penisku yang sudah sangat tegak, bergoyang-goyang mengikuti irama
gairahku. Demi melihat penisku yang telah keras dan memerah, Aab
beralih ke bagian depan. Dengan mesra disandarkannya tubuhku ke
dinding. Tangannya yang besar berkali-kali meremas penisku hingga
menambah cepat gairahku memuncak.
Aku mulai mendesah mengikuti permainannya, apalagi saat mulut Aab
beradu dengan mulutku. Bibirku digigitnya hingga aku mengaduh, tapi
bukannya beringsut Aab malah semakin ganas melumat bibirku. Lidahnya
mencoba membuka mulutku yang ternganga merasakan sensasi gilanya.
Dengan ganas lidahnya bermain di dalam mulutku. Berkali-kali aku
tersedak karena merasa risih dengan kumis tebal yang melintang di atas
bibirnya, namun tetap dengan ganas Aab memainkan lidahnya menyedot
habis lidahku yang bahkan semakin tidak bisa kuimbangi.
Setelah terenggut satu-satunya baju yang kupakai, aku dibopongnya
ke kamar mandi. Ruangan berukuran 3x4 yang kudesain alami dengan segala
pernak-perniknya, terasa berubah menjadi sempit dengan permainan kami.
Tergesa Aab melepas segala yang dipakainya, sehingga keringat yang
mengucur di tubuhnya yang sedikit gelap dan hampir dipenuhi bulu,
kulihat berkilat. Aah, benjolan di pangkal paha itu seakan bertambah
besar saja. Kembali Aab menciumiku.
"Sejak pertama masuk di kamar mandimu dua minggu lalu, aku begitu
ingin merasakan bercinta denganmu di sini, Dj. Aah, ternyata anganku
tidak harus lama menunggu" ujarnya.
Ucapan Aab yang tidak lebih bernada membisik, mencoba membangkitkan
sensasiku. Bak mandi yang juga kudesain sendiri, sengaja kubuat agar
muat dua orang, bahkan lebih bisa berendam. Dan memang sudah tidak
terhitung berapa kali aku, baik sendiri maupun dengan isteriku
melampiaskan gairah insani kami.
Saat mulut Aab menemukan penisku, aku semakin bergairah. Aku
mendesis dan kembali mendesis begitu kurasakan sensasi di batang
kebanggaanku. Mulut Aab memang sangat terampil menghadirkan berbagai
rasa. Bibirnya yang tebal, seolah didesain khusus untuk menjepit
penisku. Aku mendesis. Rasa gerah berangsur menghilang, saat air dari
kran mulai mengaliri tubuh telanjang kami, seolah memacu gairah kami
agar lebih dahsyat lagi bergulat.
Aku mulai mengerang saat mulut Aab semakin ganas melumat penisku.
Kumisnya yang tebal sesekali digosokkannya ke penisku hingga memberikan
rasa berganda di ujung ubun-ubunku. Apalagi saat jemari Aab mulai
bermain di anusku. Beberapa jari, dengan cepat bergantian menusuk
anusku dan bermain di dalamnya. Ada rasa yang mulai menyentak dari
dalam penisku, karena dua titik gairahku digarap Aab. Saat aku mulai
mengaduh, Aab mencabut mulutnya dari penisku. Mungkin dia tidak mau
kenikmatanku berakhir hanya dengan permainan mulutnya.
Aab bangkit dan menyodorkan penisnya ke mulutku. Aku menggeleng.
Tapi tetap disodorkannya penis yang besar itu ke mulutku. Aku mencoba
mengulumnya agar tidak dianggap egois, namun aku tetap tidak bisa.
Penisnya terlalu besar di mulutku, sehingga berkali-kali aku mencoba
untuk mengulumnya, berkali-kali pula aku tersedak. Akhirnya aku hanya
menjilati batang penisnya yang hitam, keras, besar dan panjang itu. Aab
mengangguk, tanda menyetujuinya. Dia mendesis berkali-kali. Kata-kata,
"Yess, uugh, yess, uughh..", seperti di adegan intim di film-film porno
koleksiku, berkali juga keluar dari mulutnya.
Tanganku yang sudah kulumasi dengan sabun mandi kujadikan alat
untuk menggantikan mulutku yang masih tidak bisa kutipu untuk tidak
jijik. Aab semakin mendesah, bahkan kulihat mulutnya yang berkali-kali
mendesis, ternganga seolah sedang merasakan sensasi kenikmatan yang
luar biasa. Mata bulat itu berkali-kali merem melek, mengikuti irama
tanganku yang sedang memainkan penisnya.
"Ouugghh, ouuggh..!".
Akhirnya raungan mulai keluar dari mulut Aab begitu kupercepat
aksiku. Di puncak gairahnya, dia ambil alih penisnya yang sejak tadi
dalam kekuasaanku. Begitu raungan panjang terlontar dari mulutnya, dia
mencoba menyodorkannya ke mulutku. Aku menggeleng dan mengunci rapat
mulutku. Aku belum bisa menerima kalau spermanya masuk ke mulutku.
Tak urung sperma itu muncrat ke wajahku. Rasa hangat menyentak
wajahku ketika dengan kerasnya sperma Aab muncrat dari penisnya ke
sekujur wajahku. Sperma yang panas dan kental kurasakan lengket hampir
di semua bagian wajahku. Aku pejamkan mataku agar spermanya tidak
mengenai mataku.
"Sshh.. Shhss". Berkali-kali kudengar Aab mendesis saat mengurut
penisnya yang masih tegang, mencoba menghabiskan sisa-sisa sperma dari
batangnya.
"Terima kasih, Say. Terima kasih, Dj!". Masih dengan gemetar suara Aab lirih berbisik.
Aku membuka mataku dan mengangguk. Aku hendak membenamkan kepalaku
di bak mandi agar sperma Aab yang berserakan di wajahku menghilang.
Namun Aab menangkap wajahku. Dia menggeleng tanda melarangku. Kemudian
dia jilati spermanya sendiri di wajahku, mulutnya sesekali mampir di
mulutku, memagutnya, sambil berkali-kali berkata terima kasih.
Aku mencoba melepaskan dekapannya saat kusadari air dalam bak sudah
terlalu kotor oleh busa sabun, keringat, dan sperma Aab yang terlalu
banyak untuk ukuran lelaki Indonesia. Kembali Aab menggeleng.
"Tidak adil". Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, karena secepat itu pula tangannya meraih penisku yang masih tegak.
Kembali mulutnya mencoba menambah sensasi di penisku dengan
permainan dahsyatnya. Aku pun mulai menemukan gairahku yang sempat
terputus saat sperma Aab muncrat.
"Tunjukkan padaku, seberapa dahsyat kau punya tenaga, Dj. Mungkin
kalau dengan isterimu kau masih kasihan untuk melampiaskan semua
tenagamu, namun denganku, keluarkan saja semua yang kau bisa". Begitu
tantangnya saat dia memasang kondom di penisku, seolah membangkitkan
sesuatu yang selama ini kupendam.
Aab bersandar telentang di dinding kamar mandi. Pantatnya menempel
di bibir bak mandi, sedang kedua kakinya dijulurkan ke luar. Tangan Aab
membimbing penisku ke anusnya. Dengan posisi berhadapan, semula aku
merasa kesulitan, namun Aab dengan sabar membimbingku. Penisnya kulihat
sedikit demi sedikit mulai bangkit. Gambaran seorang dosen yang
biasanya perlente dengan segala atribut dan gaya bicara yang dibuat
sewibawa mungkin, lenyap sudah dari diri Aab. Kulihat Aab tidak lebih
dari seorang preman yang sedang melampiaskan gairahnya.
Aku mendesis saat penisku sudah mulai menusuk anus Aab. Kumaju
mundurkan pantatku perlahan, agar penisku benar-benar tertancap ke
anusnya. Saat semua batang penisku tertelan anusnya aku mulai sedikit
keras memaju-mundurkan pantatku, Aab meringis, kesakitan. Aku
menghentikan aksiku, namun kembali Aab menggeleng, bahkan dia
mengolokku bahwa aku hanya bisa sebatas itu.
Harga diriku mulai terusik saat kembali Aab mengolokku. Aku
mempercepat aksiku, kujambak rambut ikalnya dengan kedua tangan. Aab
mengerang, namun justru erangan kesakitannya seolah membangkitkan
gairah nakalku. Bahkan kemudian penis Aab kujadikan pegangan kedua
tanganku ketika semakin keras aku bereaksi. Aab meringis, namun
berkali-kali juga mendesah, sama sepertiku. Desisanku berubah menjadi
erangan kecil saat mulai kurasakan ada yang berdenyut-denyut di pangkal
batang kebanggaanku.
Mulutku ternganga sambil sesekali mengerang. Mataku kupejamkan agar
bisa mendatangkan sensasi yang lebih besar. Eranganku mengeras, seiring
dengan cepatnya denyutan yang kurasakan dari dalam penisku. Aku hendak
mencabut penisku, saat kurasakan sperma mulai menyentak ingin muncrat,
namun di saat spermaku sudah tidak bisa kutahan lagi, Aab justru
membenamkan pantatku ke anusnya dalam-dalam.
Aku berontak, tidak mau kondomku terlepas di dalam anusnya karena
bisa jadi masalah. Namun tetap saja terlambat, aku mengejang hebat saat
spermaku muncrat di dalam anus Aab. Lama aku berada dalam lambungan
gairahku. Belum sempat aku tersadar dari kenikmatanku, satu tangan Aab
mendekapku erat sementara satu tangannya merancap penisnya sendiri.
Tubuh Aab bergetar hebat saat dia mulai mengerang. Kurasakan Aab
mengejang hebat saat cairan hangat muncrat di perutku. Denyutan
penisnya begitu keras sampai-sampai perutku merasa kegelian.
Kucabut segera penisku dari anus Aab saat kulihat Aab terkulai
kelelahan. Untungnya penisku masih keras, sehingga kondomku juga bisa
kutarik. Begitu melihat penisku yang terbungkus kondom, secepat kilat
Aab meraih penisku dan dilepasnya kondom itu. Aksinya tidak berhenti di
situ, karena kemudian dia menjilati sisa-sisa sperma di penisku,
seolah-olah penisku adalah sebatang ice cream berbalut vanilla.
Lebih anehnya, kondom bekas pakaiku berkali diciumi dan kemudian
dituangnya spermaku yang masih tersisa dalam kondom itu ke tangannya
lalu dijilati. Bahkan spermaku yang masih melekat tersisa di kondom itu
pun dijilatinya tak bersisa. Sinting, gumamku. Aku hanya menggeleng
dalam kelelahan hebat. Ah, dosenku yang malang.
Seandainya saja foto-foto itu bisa kuproses sendiri dan bisa
kusimpan dalam komputerku, mungkin aku bisa mengandalkannya saat Aab
Saddam mengancam akan membeberkan aibku ke keluargaku sehingga aku
tidak harus merasa seterpaksa ini. Aab, kapan kau mengerti keadaanku?
E N D
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
454,916 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
167,293 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
164,264 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
158,840 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
155,689 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
110,262 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
103,258 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
97,419 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
90,067 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
80,510 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
78,984 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
76,389 |
| Dokter Mesum - 4 |
brycejlover@yahoo.com |
75,665 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
74,459 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
73,846 |
|
|
|
|
|
|
|