|
|
Dari Bagian 1 Setelah beberapa menit hanya melihat pertunjukan tersebut dari jauh,
aku mulai tidak sabar dan berencana untuk sedikit lebih mendekat.
Akhirnya dengan hati-hati, aku mencoba untuk mendekat ke tempat Mbah
Karyo melakukan kegiatannya tersebut. Dan di saat itu, Mbah Karyo
membuka matanya dan sedikit kaget melihat keberadaanku. Tapi hal
tersebut tidak berlangsung lama setelah dia tahu siapa yang datang.
Meskipun begitu, kedua tangannya sudah mulai diam. Tangan kirinya dia
turunkan perlahan, sedangkan tangan kanannya dia coba gerakkan untuk
menutupi penisnya. Tampak bahwa penisnya masih tetap tegak berdiri
meskipun sebelumnya sudah kaget dengan kedatanganku. Mbah Karyo tampak
hanya tersenyum melihat aku datang.
"Sudah lama, Yan?" tanya Mbah Karyo.
"Eh.. Baru saja kok Mbah," kataku tergagap dan sedikit bohong.
"Oh," hanya itu saja, setelah itu terdiam lagi beberapa saat.
"Mau nyuci ya?" tanya Mbah Karyo lagi setelah melihat aku mulai mengeluarkan beberapa baju kotorku.
"Iya Mbah, sudah banyak baju kotor nih," jawabku.
"Kok siang-siang gini tho nyucinya, kenapa nggak tadi pagi?" lanjutnya kemudian.
"Iya Mbah, saya kesiangan bangunnya, jadi baru bisa nyuci jam segini," kataku (bohong lagi).
"Mbah sendiri kok mandi jam segini, kan tanggung?" tanyaku.
"Iya nih, habis dari sawah, gerah, jadi langsung mandi saja." jawabnya.
"Tapi biasanya banyak yang mandi sebelum dhuhur kan Mbah?"
"Yah, Mbah lagi ingin jam sekian aja, lebih sepi, jadi bisa sedikit santai," jawabnya sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban dari Mbah Karyo, tahu apa
yang dimaksud. Tapi dengan senyum dan kedipan matanya membuatku jadi
salah tingkah dibuatnya.
"O ya Mbah, Mbah tahu tidak sih kenapa tembok di tempat ini cukup
tinggi, katanya dulu digunakan pemiliknya sebagai tempat untuk
berselingkuh ya?" tanyaku.
"Wah, ngaco kamu, itu kan cuma berita yang tidak benar. Mbah
sendiri tidak begitu tahu kenapa tembok ini begitu tinggi, waktu Mbah
kecil tempat ini sudah seperti ini. Tapi kalau masalah sebagai tempat
untuk berselingkuh, itu jelas tidak benar. Bahkan katanya tempat ini
terlarang untuk wanita. Jadi tidak boleh ada wanita yang boleh masuk ke
tempat ini, meskipun dia masuk dengan suami atau anaknya sekalipun. Ada
yang bilang kalau sampai ada wanita yang masuk ke tempat ini, maka mata
air di tempat ini akan kering."
"Mosok sih Mbah, tahayul itu." ujarku.
"Tentang kebenarannya Mbah sendiri kurang begitu tahu, tapi kata
ayah si Mbah, dulu pernah ada sepasang suami istri yang baru pulang
dari sawah dan kemudian mereka berdua mandi di tempat ini. Tidak tahu
apa yang merasuki mereka, tapi konon acara mandi itu berlanjut menjadi
acara berhubungan suami istri. Setelah mereka selesai melakukannya,
tiba-tiba saja air di tempat ini mulai menyusut, mulai mengering.
Bahkan konon bukan hanya di tempat ini saja, tapi juga di seluruh desa.
Akhirnya setelah satu bulan mata air tetap mengering, mereka melakukan
upacara sesajen di tempat ini. Dan katanya waktu itu ada suara gaib
yang mengatakan bahwa tidak boleh ada pria dan wanita yang mandi
bersama-sama di tempat ini lagi. Makanya kalau kamu cermati, hanya
tempat pemandian ini saja yang tempatnya tidak dibagi untuk wanita dan
laki-laki. Itu karena legenda tersebut masih dipercaya oleh beberapa
orang di desa ini, bahwa tempat ini tidak boleh digunakan oleh wanita."
"Memangnya yang nunggu tempat ini tidak suka sama wanita ya Mbah?" tanyaku tersenyum menggoda.
"Nggak tahu juga sih, tapi mungkin saja."
Setelah itu kami terdiam lagi beberapa saat. Aku mulai mencuci
pakaianku, dan Mbah Karyo juga mulai mandi. Ketika Mbah Karyo kembali
muncul dari dalam air, dan duduk kembali di pinggir kolam, Mbah Karyo
mulai menyabuni seluruh tubuhnya. Dan di saat Mbah Karyo menyabuni
selangkangannya, tampak Mbah Karyo memberikan perhatian ekstra di
tempat tersebut.
Tampaknya Mbah Karyo lupa, atau mungkin juga tidak peduli dengan
keberadaanku di sana. Soalnya tampak olehku kalau penis Mbah Karyo
mulai sedikit mengeras. Melihat hal tersebut, aku mulai terangsang
kembali dan tenggorokanku menjadi kering karena nafsuku. Aku dengan
terburu-buru menelan ludahku yang justru membuat aku tersedak, dan hal
tersebut menyadarkan Mbah Karyo dari apa yang dia lakukan. Dia
memandangku dan tersenyum kepadaku. Akupun membalas senyumnya dengan
agak kikuk.
"Memangnya Mbah Karyo masih suka melakukannya ya?" tanyaku mencoba mencairkan suasana, meskipun dengan suara yang sedikit parau.
"Melakukan apa?" tanya Mbah Karyo menggodaku.
"Ya itu.." kataku tanpa meneruskan kata-kataku. Mbah Karyo tertawa.
"Memangnya hanya anak muda saja yang masih suka melakukannya?" ujarnya.
"Tapi saya cuma tidak tahu saja kalau orang seusia si Mbah masih
senang melakukannya. Memangnya Mbah Karyo putri tidak marah?" jawabku
sambil tersenyum.
"Ya ini juga karena istri si Mbah sudah tidak terlalu ingin
melakukannya, katanya sih sudah terlalu tua untuk hal semacam itu. Jadi
terpaksa si Mbah melakukan hal seperti ini." paparnya.
"Memangnya seminggu berapa kali Mbah Karyo ingin begituan?"
"Kalau dulu sih hampir setiap hari si Mbah ingin, tapi setelah
istri si Mbah mulai tidak menyukainya si Mbah paling melakukanya 3 kali
seminggu."
"Wah sering juga ya untuk orang seusia si Mbah."
"Ah, hal itu terjadi sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah itu dalam
satu bulan istri si Mbah ngasih dua kali saja sudah untung. Makanya si
Mbah melakukan onani lagi."
"Kalau onani juga masih sama Mbah?"
"Ya begitulah, si Mbah bersyukur karena si Mbah masih bisa membuat milik si Mbah tegang. Jadi kenapa disia-siakan."
"Hehehe, benar juga, saya juga agak terkejut karena si Mbah masih
bisa membangkitkan milik si Mbah sedemikian keras. Mungkin karena
produksi sperma si Mbah cukup bagus. Saya lihat kantung si Mbah besar
banget." Mbah Karyo melihatku, dan kembali tersenyum menggodaku.
"Kamu benar juga, mungkin produksi sperma si Mbah cukup banyak,
jadi milik si Mbah masih tetap bisa tegang karena produksi spermanya
masih cukup berlebih."
Aku terdiam, tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan, tapi aku
hanya bisa melihat apa yang dilakukan oleh Mbah Karyo. Tampak Mbah
Karyo sudah tidak segan-segan lagi kepadaku. Saat ini Mbah Karyo dengan
cukup terbuka memulai kembali kegiatannya seperti saat aku pertama kali
datang ke tempat ini. Dia mulai menggerak-gerakkan tangan kanannya di
batang penisnya, sementara saat ini tangan kirinya mulai meraba-raba
kantungnya yang besar sambil melihat-lihat kantung tersebut,
seolah-olah sedang memikirkan apa yang aku katakan, atau mungkin juga
bangga dan kagum dengan apa yang dia miliki.
Perasaan itu muncul lagi dalam diriku, aku terangsang hebat dengan
apa yang dilakukan oleh Mbah Karyo di depanku. Akhirnya aku sudah
memutuskan, aku harus memulai petualanganku hari ini. Hari ini adalah
awal dari diriku untuk menjadi apa yang sebenarnya aku pendam. Aku
ingin mencoba merasakan berhubungan seks dengan laki-laki lain.
Setidaknya aku ingin mengulum milik Mbah Karyo. Aku tidak peduli apakah
Mbah Karyo akan melakukannya balik kepadaku atau tidak, tapi aku hanya
ingin mencoba penis laki-laki lain di dalam mulutku. Tapi aku juga
tidak tahu bagaimana aku harus memulainya. Tampaknya aku harus juga
mulai sedikit menggoda Mbah Karyo.
"Memangnya enak mana sih kalau melakukannya sendiri dengan melakukannya dengan Mbah Karyo putri?"
Mbah Karyo tampak terdiam sebentar, sepertinya dia tidak terlalu
mendengar dengan apa yang aku tanyakan tadi. Pasti konsentrasinya
sedang pada batang penis dan kantung yang besar tersebut. Meskipun
begitu Mbah Karyo mulai menghentikan kegiatannya dan menoleh kepadaku.
"Kamu ngomong apa, Yan?" tanyanya.
"Saya bilang, enak mana kalau si Mbah ingin gituan, onani atau melakukannya dengan Mbah Karyo putri?" tanyaku kembali.
"Kamu itu gimana tho, ya jelas enak kalau ada yang membantu
melakukannya," kembali Mbah Karyo tersenyum kepadaku dan juga
mengedipkan mata kirinya menggodaku.
Aku jadi kembali kikuk dengan apa yang dilakukan oleh Mbah Karyo.
Perasaanku mulai tidak karuan. Mbah Karyo yang tampaknya
terang-terangan menggodaku sepertinya ingin mengajak aku untuk
melakukannya dengan dirinya. Cuma mungkin sih, habis Mbah Karyo tidak
mengatakan kalau dia lebih senang melakukannya dengan Mbah Karyo putri,
tapi hanya mengatakan kalau Mbah Karyo lebih senang kalau ada yang
membantu melakukannya. Mungkin ini merupakan undangan buatku agar mau
membantunya.
"O iya Mbah, saya ingin tanya tentang cerita Mbah yang tadi,
memangnya yang membuat mata air di tempat ini kering karena wanitanya
atau karena hubungan suami istri yang mereka lakukan?"
"Wah, kalau itu si Mbah kurang tahu. Tapi kalau hubungan suami
istri bisa disamakan dengan onani, maka seharusnya mata air di tempat
ini sudah kering dari dulu," Mbah Karyo menjawab dengan masih tersenyum
kepadaku.
Dengan senyum itu, aku menjadi semakin kikuk, tapi sekaligus
menumbuhkan rasa keyakinanku bahwa Mbah Karyo memang ingin aku bantu.
"Kalau yang melakukannya sama-sama laki-laki gimana Mbah?" tanyaku
sedikit gugup dan agak serak karena menahan gejolak nafsu yang sudah
begitu membara di dadaku.
"Kalau yang itu si Mbah nggak tahu, soalnya si Mbah belum pernah
tahu ada laki-laki yang melakukannya dengan laki-laki di tempat ini.
Memangnya kenapa, kamu mau melakukannya?" Aku jadi semakin gugup dengan
jawaban Mbah Karyo.
"Ah nggak juga, saya juga belum pernah melakukannya dengan laki-laki kok."
"Atau mungkin kamu mau mencoba, kalau memang mau si Mbah juga nggak
keberatan, mumpung ada yang membantu, bagi si Mbah sih tidak peduli
siapa yang melakukannya, pokoknya asal si Mbah bisa enak. Lagian
mungkin bisa kita buktikan apakah karena wanita yang memang tidak
diperbolehkan masuk ke tempat ini, ataukah karena hubungan yang mereka
lakukan."
Hah, mataku sedikit melotot dengan jawaban Mbah Karyo tersebut.
Tidak aku sangka kalau Mbah Karyo akan mengatakan hal itu. Aku pikir
Mbah Karyo ini orang yang tidak suka dengan hal-hal seperti itu. Tapi
mungkin juga karena Mbah Karyo benar-benar sudah terangsang, sehingga
akal sehatnya hilang entah ke mana. Aku masih terdiam karena kaget, dan
mungkin mulutku juga melongo dengan jawaban Mbah Karyo, sampai akhirnya
aku mendengar Mbah Karyo berkata..
"Bagaimana Yan, kamu mau melakukannya atau tidak? Kalau memang
ingin sebaiknya kamu cepat lakukan sebelum ada orang yang pulang dari
sawah dan mandi di tempat ini."
Dengan ucapan Mbah Karyo itu, aku seolah-olah terhipnotis dan
segera mendekati Mbah Karyo. Perfect, inilah yang aku butuhkan untuk
pertama kali melakukan hal ini. Seorang pria yang sedang terangsang
hebat, berpengalaman, mampu menguasai nafsunya dan yang penting batang
penisnya tidak terlalu besar.
Begitu sampai di depan Mbah Karyo aku langsung menceburkan diriku
ke kolam renang, karena Mbah Karyo dari tadi memang duduk di tepi kolam
dengan kakinya masih tetap berada di kolam. Sehingga dengan begitu aku
sekarang berada di depan Mbah Karyo, berada di dalam air dan mukaku
berada tepat di depan selangkangan Mbah Karyo. Jantungku berdetak cukup
kencang dengan keadaan seperti ini. Di satu sisi aku memang benar-benar
menginginkannya, tapi di sisi lain aku tidak mau melakukan hal ini
karena takut kalau Mbah Karyo akan menganggapku laki-laki yang aneh.
Mungkin nanti Mbah Karyo akan bilang ke orang lain kalau aku
laki-laki yang suka dengan laki-laki. Tapi mungkin juga Mbah Karyo
tidak akan mengatakan hal ini karena kalau Mbah Karyo mengatakan hal
ini kepada orang lain berarti Mbah Karyo juga harus bilang kalau aku
melakukan hal tersebut dengan Mbah Karyo. Selain itu juga karena
kutukan tempat ini tentang sebab keringnya mata air. Aku tidak bisa
membayangkan apa yang harus kami katakan seandainya hal itu benar bahwa
tempat ini tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan badan. Bisa
tambah geger desa ini.
Tapi karena pada dasarnya nafsu sudah sampai di ubun-ubun, hal-hal
seperti itu tidak lagi aku pikirkan. Saat ini aku hanya melihat barang
yang ada di depanku. Penis yang bagus dengan kantungnya yang cukup
besar yang ada di depanku benar-benar telah membuatku tidak bisa
memakai akalku lagi.
Ke Bagian 3
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
455,140 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
167,339 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
164,290 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
158,956 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
155,759 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
110,285 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
103,320 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
97,434 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
90,130 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
80,531 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
79,000 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
76,401 |
| Dokter Mesum - 4 |
brycejlover@yahoo.com |
75,689 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
74,477 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
73,858 |
|
|
|
|
|
|
|