|
|
Dari Bagian 3 Puting sang asisten terasa enak sekali di mulutku. Setiap kali lidahku
menyapu kepala putingnya yang tegang melenting, kontolku terangsang.
Apalagi di sekitar putingnya terdapat bulu-bulu halus, membuatnya
semakin seksi saja. Slurp! Slurp! Air liurku melapisi putingnya. Saat
putingnya yang basah kutiup-tiup, sang asisten menggeram dengan penuh
kenikmatan. Kontolku yang tegang dipegang dengan kasar. Aku mengerang,
tentu saja. Sang asisten rupanya senang bermain kasar. Kontolku
ditarik-tarik dengan gerakan mencoli yang kasar. Namun rasanya tetap
saja nikmat.
"Hhoohh.. Aahh.. Uugghh.."
Mendengar desahan nikmatku, dia malah semakin bersemangat mengerjai
kontolku. Tak ayal lagi, precumku mengalir keluar dengan deras. Cairan
licin itu melicinkan permukaan kulit kontolku. Sesekali pegangan sang
asisten selip.
"Hhoohh.. Kamu begitu menggairahkan.. Aahh.. Mau 'kan aku entot?" tanya sang asisten, napasnya menderu-deru.
Tetesan precum dari kontolnya menggenang di perutku. Kulihat tubuh
atletisnya menjauh dariku. Mengambil posisi berdiri, asisten itu
kemudian menarik tubuhku sehingga pantatku berada tepat di sisi
ranjang. Dengan kasar, kakiku dikangkangkan selebar-lebarnya dan
diletakkan di atas pundaknya. Tak terbayangkan betapa nikmatnya
meletakkan kaki di atas pundak berotot miliknya itu. Oohh.. otot
dadanya berkontraksi seiring dengan setiap gerakan yang dia buat.
Astaga, kontolku hampir muncrat. Dan tanpa aba-aba, tiba-tiba asisten
itu menghujamkan kontolnya masuk ke dalam pantatku.
"Aarrgghh!!" jeritku, keras-keras.
Rasa sakit menusuk tubuhku sampai ke ubun-ubun kepalaku. Anusku
yang masih bengkak kembali dipaksa untuk menerima kontol. Namun
berhubung ukuran kontol sang asisten sangat besar, aku menjadi semakin
kesakitan.
"Oohh.. Sakit Bang.. Aahh.." rintihku, air mataku mengalir keluar.
"Jangan cengeng.. Aahh.. Kamu 'kan homo yang doyan kontol.. Hhoohh.. Rasakan kontolku.."
Tanpa belas kasihan, sang asisten itu menggenjot pantatku dengan
keras. Kepala kontol yang besar itu menghajar isi perutku sambil
meninggalkan jejak precum di mana-mana. Sisa semburan sperma sang
dokter yang masih berada di dalamku teraduk-aduk. Sebagian mengalir
keluar dari bibir anusku.
"Oohh yyeeaahh.. Enak banget.. Aahh.. Pas sekali dengan kontolku.. Hhoohh.."
Lubang anusku dapat dibilang sudah longgar akibat disodomi dokter
itu. Namun ketika dimasuki kontol besar milik sang asisten, anusku
terasa sempit lagi. Baru kali ini duburku 'disiksa' separah ini. Tanpa
kusadari, bercak-bercak darah memerahkan cairan sperma yang lolos
keluar dari anusku.
"Oohh.. Fuck you.. Aahh.. Rasakan ini.. Oohh.. Fuck.."
Kontol besar itu dipompanya keluar masuk. Tubuhku
terguncang-guncang, mengikuti ritme sodokan kontolnya. Meski terasa
sakit, rasa nikmat menyerang tubuhku. Setiap kali prostatku disodok
kontol itu, tekanan dalam bola pelirku meningkat. Aku merasa
seakan-akan mau ngecret namun dorongan di dalam bola pelirku belum
cukup keras untuk mengeluarkan spermaku.
Kepalaku mulai berputar-putar, mabuk dengan kenikmatan itu. Precum
mengalir sangat deras dari lubang kontolku. Cairan itu mengalir
menuruni batang kontolku dan lalu mencapai perut, berbaur dengan
tetesan precum milik asisten itu. Namun karena penuh, cairan precumku
mengalir menuruni sisi perutku dan membasahi ranjang. Aku hanya mampu
mengerang-ngerang, pasrah.
"Hhoohh.. Fuck me.. Aahh.. Hhoosshh.. Kontol.. Aahh.. Uugghh.." Aku mulai meracau tanpa henti.
Rasa nikmat memenuhi kepalaku. Namun terasa menyiksa karena aku
belum bisa ngecret. Aku sengaja menahan diri untuk tidak bermasturbasi
agar rasa nikmat yang kurasakan bertambah. Kualihkan perhatianku pada
dada sang asisten yang bidang, lebar, dan keras itu. Aahh.. Enak sekali
rasanya saat kularikan tanganku di atasnya. Kuremas-remas dada itu yang
saat itu sudah mulai berkeringat. Semakin lama, keringat yang mengucur
dari badannya semakin banyak. Tetes demi tetes keringat menetes ke atas
tubuhku. Badan asisten itu benar-benar besah dengan keringat, terlihat
seperti baru saja mandi.
Selama proses ngentot itu, sang dokter hnaya tertawa mesum saja
setiap kali mendengar eranganku. Dia terus memberikan semangat pada
asistennya.
"Oohh yyeeaahh.. entoti pantatnya, jangan ragu-ragu. Berikan si
homo apa yang dia mau.. Hhoohh.. Sodok anusnya dengan kontolmu yang
besar itu.. Biar dia tahu rasa.. Yyeeaahh.. Sodomi terus.. Jangan
diberi ampun.. Aahh.. Lihat dia, dia mengerang dan memohon kontolmu..
Hhoosshh.. Berikan kontolmu.. Aahh.. Hajar saja.. Oohh.. Fuck.."
Tampak sekali dokter itu terangsang lagi. Kontolnya kembali
bangkit, berkilauan dengan noda precum. Sambil mencoli kontolnya, dia
mulai mendekati asistennya. Dari belakang, dokter itu mengusap-ngusap
dada bidang milik bawahannya itu. Sesekali tangannya bertabrakan dengan
tanganku. Namun asisten itu sama sekali tidak protes saat digerayangi
oleh sang dokter. Kuduga, mereka adalah pasangan homo. Sesaat
kubayangkan apa yang akan mereka lakukan tiap kali tutup praktek.
Mereka pasti sering berhomoseks bersama.
Seakan dapat membaca pikiranku, dokter itu berkata..
"Kami memang sering ngentot bersama. Meskipun kami berdua bukan
homo, tapi kami suka ngentot bareng-bareng. Terkadang hanya ada kami
berdua. Dan terkadang lagi, seperti sekarang ini, ngentot rame-rame
dengan pasien priaku. Lebih mudah memperkosa pasien pria dewasa karena
mereka takkan berani melapor. Siapa sih yang mau mengaku di depan
polisi kalau dia baru saja disodomi oleh sesama pria? Mau ditaruh ke
mana mukanya? Harga dirinya sebagai seorang pria akan runtuh."
Dokter itu kembali menggerayangi tubuh asistennya, merasakan setiap lekuk otot yang menonjol.
"Tapi kalau memperkosa kaum homo seperti kamu paling gampang.. Hhoohh.. Karena kalian memang menginginkannya.. Aahh.."
Tanpa malu, mereka saling berciuman. Kulihat bibir mereka menyatu
dan lidah mereka saling menyentuh. Suara ciuman mereka bergema di dalam
ruangan praktek bercampur dengan erangan nikmatku.
"Aarrgghh!!" Asisten itu tiba-tiba melolong kesakitan, padahal dia
belum ngecret. Namun ketika kucermati, rupanya dia melolong kesakitan
karena pantatnya sedang disodomi oleh dokter itu.
"Hhoohh.. entoti pantatku, dok.. Aahh.. Saya butuh kontol dokter juga.."
Astaga, mereka benar-benar pasangan homo. Meskipun mereka masih
bersikeras bahwa mereka bukan homo, bagiku mereka adalah homo, sama
sepertiku. Dari posisiku, aku tak dapat melihat dokter itu dengan
jelas, sebab tubuhnya terhalang tubuh sang asisten. Namun di dalam
otakku yang mesum, kubayangkan rupa kami semua. Aku berbaring di atas
meja dan sedang dingentot asisten itu. Lalu asisten itu dingentot oleh
sang dokter sambil berdiri. Aahh.. Kontolku makin ngaceng saja
membayangkannya.
"Aahh.. Fuck me.. Oohh.. Hajar anusku, dok.. Aahh.. Banjiri perutku dnegan spermamu, dok.. Hhoosshh.."
"Aahh.." desah sang dokter, berpegangan kuat pada pinggul asistennya.
"Kusodomi pantatmu.. Oohh yyeeaahh.. Rasakan kontolku.. Oohh.. Dokter ngentotin asistennya.. Hhoosshh.."
Kontolnya yang perkasa bergerak keluar-masuk, menjebol lubang anus
asistennya yang sudah tidak perjaka lagi. Di wajah sang asisten
tergambar jelas rasa nikmat yang tak terkatakan. Matanya merem-melek,
merasa setiap hajaran kontol sang dokter.
"Hhoohh.. Fuck you.. Pantatmu tetap rapat dan sempit.. Hhoohh..
Enaknya ngentoti kamu.. Hhoohh.." erang dokter itu, semakin keras
menyodomi asistennya.
Kontol asisten itu yang sedang bersarang di dalam tubuhku
berdenyut-denyut hebat. Kubayangkan, dia pasti sedang blingsatan
merasakan nikmat di kedua sisi. Di pantatnya, kontol dokter itu
menghajar prostatnya. Sedangkan kontolnya sendiri sedang menyodomi
pantatku. Bagaimana tidak nikmat?
"Aahh.. Sodomi aku, dok.. Hhoohh.. Jadikan aku mainan seksmu..
Aahh.. Kontol dokter besar dan hangat.. Aahh.. Fuck me.. Hhosshh.."
"Aarrgghh.. Oohh.." eranganku bertambah besar tatkala tekanan dalam bola pelirku sudah tak tertahankan lagi.
Aku akan muncrat tanpa bermasturbasi! Sang asisten rupanya sadar,
maka dia sengaja menggenggam batang kontolku lagi dan mencolinya
sekuat-kuatnya. Tanpa bisa dicegah, aku pun ngecret. Ccrroott!!
Ccrroott!! Ccrroott!! Aku menjerit sekuat-kuatnya sebab orgasmeku
terasa sangat luar biasa. Tubuhku mengejang-ngejang seperti orang
kesurupan, rasa nikmat menghajar badanku tanpa ampun.
"Oohh!! Aarrgghh!! Oohh!!" Aku berpegangan pada dada asisten itu
sambil merintih-rintih kenikmatan. Orgasmeku rupanya juga memicu
orgasme sang asisten sebab anusku ikut berdenyut-denyut, memerah
spermanya.
"Hhoohh!!" teriaknya, sekujur tubuhnya bergetar. Dan muncratlah
spermanya di dalam anusku. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Asisten itu
sangat blingsatan sambil menyuarakan orgasmenya.
"Aahh!! Oohh!! Uugghh!!"
Wajahnya tampak menyeringai kesakitan. Tapi aku tahu pasti bahwa
bukan rasa sakit yang sedang dia ekspresikan, melainkan rasa nikmat.
Ccrroott!! Ccrroott!! Kontolnya mengejang-ngejang selama hampir semenit
penuh. Pejuh yang dihasilkannya pun terasa sangat banyak sampai-sampai
aku merasa perutku penuh. Hampir di saat yang bersamaan, dokter itu
kembali berejakulasi.
"Aarrgghh!! Shit! Aku ngecret.. Aarrgghh!!" erangnya.
Dan.. Ccrroott!! Ccrreett!! Ccrroott!! Bagai ular naga ganas,
kontol dokter itu menyemburkan spermanya ke mana-mana, membanjiri
setiap ruang kosong di dalam dubur asisten itu.
"Aahh!! Uugghh!! Oohh!!"
Tubuh asisten itu terguncang-guncang sebab dokter itu berpegangan
pada tubuhnya untuk menahan gejolak orgasme. Ah, sungguh pemandangan
yang merangsang kontol melihat dua pria seksi berorgasme. Ketika
semuanya usai, kami tetap berada di posisi masing-masing, saling
memeluk. Jantung kami masih berdegup kencang dan keringat menyiram
badan kami.
Sepuluh menit kemudian, kami semua sudah kembali berpakaian rapi.
Tak ada tanda-tanda bahwa kami baru saja berhomoseks meskipun ruang
praktek itu masih berbau pejuh. Aku terpaksa berjalan agak mengangkang
karena anusku kini semakin bengkak dan perih. Dokter itu memberikan
padaku salep untuk meredakan perih di anusku dengan gratis. Sebelum
berpisah, dia berkata..
"Datang lagi, ya. Aku dan asistenku siap mengentot kami kapan saja."
Tak perlu diminta pun, aku sudah pasti akan kembali lagi menemui dokter itu. Aahh..
E N D
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
452,870 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
166,773 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
164,021 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
157,908 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
155,137 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
110,093 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
102,766 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
97,220 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
89,618 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
80,286 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
78,869 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
76,262 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
74,358 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
73,739 |
| Proyek Biologi Yang Sukses |
brycejlover@yahoo.com |
60,106 |
|
|
|
|
|
|
|