|
|
Ini adalah kisah NYATA homoseksualku yang belum
pernah aku ceritakan kepada orang lain. Well kecuali kepada kalian para
pembaca yang mungkin juga memiliki pengalaman yang serupa denganku, dan
tidak direkayasa atau ditambahkan apapun. Aku adalah anak pertama dari
tiga orang bersaudara dan berdarah oriental. Kedua adikku perempuan dan saudara tidak seayah. Sedangkan ayahku sudah
memiliki keluarga lain. Aku adalah anak yang dibesarkan tanpa kasih
sayang dari seorang ayah. Ayah tiriku sendiri saat itu telah memiliki
wanita lain disamping ibuku. Kami sebagai anak-anaknya sering kali
melihat mereka saling ber'perang' atau melihat benda-benda yang
melayang karena dilempar. Kehidupan keluargaku juga merupakan sebuah
cerita yang jika disinetronkan akan jadi sebuah telenovela yang sangat
panjang. Namun hal itu tidak akan kubahas di sini. Bermula saat aku masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar di
daerah Mangga Besar di Jakarta. Saat itu aku baru pindah dari daerah
Mangga Dua ke daerah Kebon Kelapa (sekarang kedua daerah tersebut
tinggal kenangan karena sudah banyak berubah). Aku berkenalan dengan
dua orang anak dari tetangga sebelahku. Mereka, Andrew dan Darwin
(kedua nama telah disamarkan) adalah Kakak beradik. Andrew lebih tua
dua tahun dariku sedangkan Darwin lebih muda satu tahun dariku. Ukuran tubuhku saat itu tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu
gemuk. Kami selalu bermain ketempat-tempat yang jauh, cari-cari ikan
diselokan atau bersepeda. Kadang suka menonton video, main game bersama
atau main layangan. Aku juga sering datang kerumah mereka. Pada suatu
sore saat aku berkunjung ke rumahnya, aku diajak bermain di atas
loteng. Dari depan lotengnya, kami bisa melihat orang melewati rumah
kami. . "Gun, liat gue nih. Gue akan kencing dari atas ke bawah", ujar Andrew.
"Gila luh, kena kepala orang tau!" seruku sambil melihatnya mengeluarkan penisnya yang belum disunat.
"Ah, nggak apa-apa. Udah biasa tau" katanya.
Lalu dia benar-benar kencing seperti air mancur yang turun dari gunung
yang tinggi. Aku segera melongok kebawah kalau-kalau ada orang yang
kena.
"Untung gak ada orang", pikirku sambil kulirik 'burung'nya. Wah, menurutku 'burung'nya itu cukup besar untuk anak seukurannya.
Ia tersenyum saat aku meliriknya dan berkata, "Mau liat yang lain gak? Lebih seru nih..!"
"Boleh, apaan sih?" aku balik bertanya.
Kedua kakak beradik ini kemudian saling berhadapan satu dengan yang
lain lalu saling melepaskan celananya, sehingga yang nampak adalah
kedua penis mereka yang besar dan panjang. Mereka kemudian duduk saling
berhadapan satu dengan yang lain, lalu saling menempelkan penis. Saat
aku tertegun melihat tingkah polah mereka, Darwin menarikku untuk juga
menunjukkan kejantananku. Darwin berbalik kepadaku dan melepaskan
celanaku. Aku bingung bercampur malu saat itu karena tidak pernah
'burung' kesayanganku itu dilihat oleh orang lain kecuali orang tuaku
tentunya. Apalagi saat itu aku tidak pakai CD. Andrew kemudian memegang
penisku yang tertidur lalu digosok-gosokkan dan disentuhkan ke
penisnya.
"Wah, burung loe lucu banget. Belum disunat ya", kata Andrew. Aku tertawa kecil.
"Ah, loe juga" jawabku.
Saat itu kulup kepala penisku dibuka. Aku hanya meringis saja.
Kepala penis Darwin dimasukkan kedalam kulup kepala penisku. Jadilah
kedua penis kami bersatu dan nampak menempel. Andrew tertawa saat
menyaksikan hal tersebut. Darwin kemudian mempermainkan penisku
sehingga agak tegang. Aku hanya diam mengikuti gerak alur mereka. Saat
itu tangan Andrew juga ikut memegang penisku sehingga seakan-akan
menjadi mainan baru mereka. Aku hanya mengeliat geli karena perlakuan
mereka. "Wah, ntar diliat orang nih?" kataku sambil melirik ke arah tangga.
"Nggak, lagian gak ada orang di rumah!" kata Darwin tegas.
"Ngaceng nih" seruku lagi.
"Biarin" katanya lagi, kemudian penisku diurut-urut dan
digoyang-goyangkan. Karena sentuhan dan rangsangan mereka akhirnya
penisku menjadi tegang berdiri. Kemudian mereka mengocok-ngocoknya.
"Aduh, sakit nih" seruku lagi.
Mereka hanya tertawa namun tetap melakukannya. Saat itu aku
merasakan sesuatu yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. . Sambil
terus mempermainakan penisku, merekapun bercerita jika Ayah Ibu mereka
sering melakukan hal ini di malam hari. Setelah itu mereka mengajakku
kekamar. Aku kaget saat yang terjadi berikutnya adalah mereka
menunjukkan kepadaku apa yang mereka lihat jika kedua orang tua mereka
sedang bercinta. Mereka seperti sedang melakukann hubungan seks
layaknya suami istri. Saat itu aku masih sangat polos sehingga hanya
terbengong-bengong saja menyaksikan tingkah mereka. Yang terjadi berikutnya adalah mereka menyuruhku untuk merebahkan diri.
Ditaruhnya aku di atas kasur. Tanpa sepatah katapun, Andrew tiba-tiba
menindih diriku. Aku kaget dan berusaha untuk menghindar. Apalagi
badannya lebih besar dari aku. Tapi karena tangannya terus merangsang
penisku dan mulutnya menciumku akhirnya aku malah menikmatinya.
Sementara Darwin hanya menyaksikan perbuatan itu dengan tertawa. Walaupun aku cukup risih untuk pertama kalinya tapi karena rangsangan
demi rangsangan yang mereka berikan membuat aku menyukainya. Saat itu
aku hanya mempunyai pikiran bahwa apa yang sedang kami lakukan ini
sungguh nikmat dan belum pernah aku merasakan hasrat seperti ini. Yang
kupikirkan adalah bahwa mereka teman-temanku dan aku tidak mau
mengecewakan mereka. Wah, kecil-kecil mereka ternyata cabe rawit loh!
Hari demi hari terus kami lalui. Aku sangat senang bermain dengan
mereka karena aku adalah seseorang yang memang kurang kasih sayang dari
orang tua. Dan aku merasa mendapatkan kasih sayang dari teman-teman
tetanggaku itu. Aku tidak tahu kalau ternyata 'permainan' yang sering
kami mainkan membawaku lebih jauh dalam dunia yang aku tidak kenal
sebelumnya. Setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hal yang
demikian. Saat itu aku merasa adalah wajar-wajar saja jika beberapa
teman cowok saling menunjukkkan penis mereka dan saling memegang,
mengelusnya atau mengocoknya. Ah, sebuah pemikiran yang akhirnya
membawaku menjadi seperti ini. Sekitar setahun setelah kejadian itu, aku pindah rumah kontrakkan.
Rumah baruku tidak jauh dari rumah kontrakkan sebelumnya sehingga
teman-temanku sering datang. Kini giliran aku yang agresif. Setiap ada
kesempatan, aku suka ajak mereka kerumahku. Tapi yang paling sering
adalah Darwin. Aku senang padanya karena dia cakep dan putih banget.
Aku suka sekali mengajaknya kekamarku, bercerita tentang hal-hal porno
dan tentang tingkah laku Ayah dan Ibu kami masing-masing, atau tingkah
laku orang yang sedang pacaran lalu tidur bareng sambil saling mengocok
penis, walau saat itu aku dan dia belum akil balig, sehingga tidak ada
sperma yang keluar. Dia tidak pernah menolak saat kuajak untuk berhubungan badan (saat itu
aku belum mengetahui anal maupun oral sex) atau saat aku mencium
dirinya. Kami sering sekali memainkan kepala penis lawan main sambil
membuka kulit kulum kepala penis. Kadang kedua penis kami sering kami
gesek-gesekkan satu dengan yang lain atau kami satukan kedua penis kami
dengan cara saling berhadapan lalu dikocok bersamaan dan itu
menimbulkan kenikmatan tersendiri. Saat itu aku merasakan kepuasan jika
bisa 'bermain' dengannya. Selama ini kami tidak pernah dilihat oleh
orang lain sehingga merasa aman-aman saja. Kamar tidurku memang jarang
dikunci karena aku suka lupa untuk menguncinya. "Gun, lagi ngapain? Si Darwin juga.. Ngapain berdua aja?" seru pembantuku saat menyaksikan adegan kami.
"Lagi nggak ngapa-ngapain kok!" tangkisku sambil cepat-cepat
meresleting kembali celanaku yang sedang terbuka sambil membelakangi
Darwin yang tidak sempat meresleting celanannya karena penisnya sedang
tegang.
"Untung aja baru membuka reselting" pikirku.
Kucoba untuk menutupi badan Darwin dengan badanku. Saat itu kulihat
muka Darwin pucat pasi seperti melihat hantu. Entah apa yang ada
dipikirannya, sepertinya kami akan siap-siap diomeli bahkan dipukuli
jika ketahuan sama orangtua kami.. "Darwin dicariin tuh sama Mamanya", kata pembantuku yang kemudian
keluar dari kamarku. Nampak di wajah pembantuku ada keingintahuan. "Gun, gue balik ya. Gak enak nih diliat pembantu loe" kata Darwin pelan sambil menarik resletingnya.
"Iya deh. Sorry banget nih, dasar tuh pembantu, masuk nyelonong aja" gerutuku.
"Nanti main-main lagi ya ke sini", pintaku padanya. Dia hanya mengangguk, kemudian keluar rumahku dengan cepatnya.
Beberapa hari kemudian Darwin kembali main ke tempatku. Seperti biasa
kami melakukan hal serupa. Tapi kali ini aku sangat terkejut karena
tiba-tiba pembantuku kembali nyelonong saat aku dan Darwin tengah
'bermain pedang'.
"Wah, mati aku!" pikirku.
Aku dan Darwin sama-sama membisu, tidak tahu harus berkata apa.
Pembantuku segera keluar kamar dan aku berharap agar ia tidak
memberitahukan hal ini kepada mama. Darwin bergegas pulang. Aku hanya
menunggu jika Ibuku akan memanggil. Ternyata.., Pembantuku tidak mau
ambil pusing. Ia tidak memberitahukannya. Aku bernafas lega. Sungguh itu adalah hari terakhir aku dapat bertemu dengan Kakak beradik
itu. Saat itu aku sangat merindukan mereka, Namun apa dayaku, kami
harus pindah rumah lagi karena jangka waktu kontrak rumahku sudah
habis. Aku sangat sedih sekali saat itu karena harus berpisah dengan
teman-teman 'sepermainanku'. Sesungguhnya itulah permulaan dimana aku masuk kedunia yang belum
kukenal. Seorang anak polos yang hanya menginginkan kasih sayang dari
orang lain. Sampai saat pindahpun aku tidak tahu apa istilah dari gay
itu. Untuk kalian berdua yang mungkin membaca cerita ini, aku sangat
senang bermain dengan kalian. Terimakasih sudah menjadi teman-teman
mainku dikala kecil. Selamat tinggal Andrew. Selamat tinggal Darwin, aku sangat merindukan
kalian! Aku hanya berharap kalian semua menjadi orang baik-baik.
GUNAWAN Catatan Penulis Aku ingin berterimakasih kepada salah seorang penulis sumbercerita.com
"Raffel" yang walaupun aku belum pernah mengenalnya baik secara
langsung maupun melalui email, tapi tulisannya menggerakkan hatiku
untuk bercerita tentang siapa diriku sebenarnya. Perjuanganmu sama
seperti perjuanganku! Get the best for u. Sedangkan seluruh tulisan ini
adalah buku harianku selama ini yang saat menuliskannya kembali seperti
mengenang masa-masa indah, masa-masa menyesakkan dan tertekan, dan
kadang sedih atau menangis saat membacanya kembali. Tunggu ceritaku saat aku bersama orang-orang lain yang kusayangi dan
juga kubenci. Mereka membentuk diriku seperti ini sehingga aku menjadi
seseorang yang jika dilihat dari penampilan fisik, adalah seorang
laki-laki yang lumayan ganteng (karena banyak cewek yang naksir) dan
tidak sissy (maaf) namun di dalam hati ini tersimpan perasaan lain
kepada laki-laki. Sungguh suatu kenangan di masa kecil yang tak akan
terlupakan.. Penulis mohon maaf jika ada nama yang sama dalam kisahku ini. Jika
teman ingin menanyakan sesuatu kepadaku, silahkan hubungi emailku.
E N D
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
544,048 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
209,685 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
198,877 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
197,237 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
189,479 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
133,526 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
122,985 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
121,520 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
114,334 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
90,993 |
| Dokter Mesum - 4 |
brycejlover@yahoo.com |
88,670 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
87,235 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
87,097 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
82,380 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
82,151 |
|
|
|
|
|
|
|