|
|
Dari Bagian 1 "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya lagi.
"Kenapa kamu menelan sperma Papa? Kamu benar-benar homo?"
Meskipun semua pertanyan yang diajukan terasa sangat memojokkanku,
namun aku tak menemukan intonasi kemarahan atau pun keterkejutan dalam
nada bicaranya. Papaku terdengar seolah-olah dia sudah tahu sejak lama
bahwa aku gay. Tapi bagaimana mungkin? Papaku berjalan ke arahku. Saat
kami telah berdiri berhadapan, aku hanya bisa menundukkan kepalaku
dalam-dalam, malu sekali.
"Ada apa denganmu? Papa sudah berdiri di sini dari tadi. Papa
melihat bagaimana kamu menikmati noda pada celana dalam itu dan
bagaimana kamu menyukai setiap tetes dari pejuh Papa. Papa juga lihat
bagaimana kamu sangat menikmati masturbasimu. Kamu ngecret sangat
banyak. Anakku, kalau kamu begitu menyukai sperma Papa, kamu 'kan bisa
minta."
"Hah?!" Aku tak percaya mendengar ucapannya. Apa maksudnya?
"Papa sudah tahu kamu homo, tapi Papa tak berani memintamu ngeseks
dengan Papa. Kamu pasti tidak tahu, tapi Papa sering mengendap masuk ke
dalam kamarmu saat kamu sedang keluar. Papa suka sekali dengan semua
koleksi film porno homo, majalah homo, dan juga foto-foto di komputer
kamu. Semuanya merangsang. Sering Papa berfantasi bagaimana nikmatnya
bersetubuh dengan anak Papa sendiri tapi Papa takut."
Pengakuan Papa sangat mengagetkanku. Dalam sekejap, bayanganku tentang Papa langsung pecah berkeping-keping.
"Tapi saat Papa tadi melihatmu asyik mencoli kontol kamu sambil
meminum sperma Papa, Papa yakin bahwa kamu juga sering membayangkan
Papa dalam setiap fantasi jorokmu. Benar 'kan?"
"Tapi, Pa, tadi aku lihat Papa sedang ngeseks dengan seorang
wanita pelacur. Papa biseks?" tanyaku penasaran. Rasa takut dan maluku
berangsur-angsur hilang.
"Wanita?" papaku tertawa kecil.
"Anakku, yang tadi Papa bawa pulang namanya Jon. Dia laki-laki
tulen, seumur Papa. Dia adalah anak buah Papa di kantor. Selama
bertahun-tahun, Jon telah sering melayani nafsu homoseksual Papa.
Sebenarnya sudah berkali-kali Papa mengajaknya kemari, namun baru kali
ini Papa tertangkap basah oleh kamu. Celana dalam yang tadi kamu
jilat-jilat adalah celana dalam yang sengaja ditinggalkan Jon untuk
Papa," jelasnya sambil tersenyum mesum.
"Anakku, Papa sama homonya seperti kamu. Sejak Papa ditinggal
mamamu, Papa membenci wanita dan mulai menyukai sesama jenis."
Penjelasan Papa membuatku tercengang. Kami hanya berdiri saling menatap
selama bermenit-menit sebelum akhirnya aku merangkul papaku sambil
menangis lega.
"Papa.. Saya sayang Papa.. Sudah lama saya memimpikan Papa.."
Kepalaku bersandar di atas dadanya yang gempal namun padat berisi.
Tanpa ragu, kuraba-raba dadanya sambil memuaskan impianku untuk
memeluknya. Pelan-pelan, kontol Papa membentuk tonjolan besar di depan
celana pendeknya. Dan saat itu Papa bertanya..
"Kamu masih kuat? Mau bercinta dengan Papa?"
Kutatap wajah papaku dan kutemukan nafsu birahi kembali
menguasainya. Aku mengangguk-ngangguk, setuju. Tanpa basa-basi, Papa
memerosotkan celana pendeknya. Ternyata Papa juga sudah tidak
mengenakan celana dalam. Pepatah mengatakan, ayah dan anak sama saja.
Kurasa pepatah itu benar. Kontolnya langsung melompat keluar,
berdenyut-denyut dengan bangga. Rasanya hangat sekali saat kontolnya
itu menempel di pahaku, beradu dengan kontolku. Perlahan, kontolku yang
tadi sempat melemas, kini mulai mengeras lagi. Noda pejuh yang masih
melekat pada kontolku menodai paha Papa, namun Papa tampak tak
keberatan.
Papa memelukku sambil meraba-raba seluruh tubuhku. Tangannya terasa
lebar dan kasar, namun aku suka. Bibirnya asyik masyuk mencium-cium
wajah dan leherku. Deru napasnya terdengar jelas seperti suara mesin
pesawat tempur. Kedua puting Papa yang keras melenting terasa
menusuk-nusuk dadaku, membangkitkan putingku. Bibir Papa kemudian
beralih ke mulutku, dan kami pun berciuman mesra sekali. Papa tampak
agak terkejut melihat betapa terampilnya aku dalam membalas ciumannya.
Ketika kujelaskan bahwa aku dulu pernah punya pacar homo, Papa hanya
tersenyum mesum saja. Tangannya aktif meremas-remas belahan pantatku,
sesekali melebar-lebarkan pantatku agar anusku tertarik.
"Hhoohh.. Papa sayang kamu.. Aahh.. Kamu anak Papa yang seksi.. Hhoohh.." desahnya.
Papa tiba-tiba menekan badanku ke bawah seraya mengisyaratkan bahwa
dia ingin dihisap. Aku tak menolaknya. Aku berjongkok di depan
kontolnya tanpa mengeluh. Aroma jantan langsung memancar dari kontol
itu. Nampak noda-noda pejuh masih melekat pada kepala kontolnya.
Aromanya sangat menusuk, mengingatkanku pada pejuh Papa yang baru saja
kutelan tadi.
Mm.. Kontol Papa berdenyut-denyut dan mulai mengalirkan precum.
Papa nampaknya tak sabar lagi sebab dia mulai menggerak-gerakkan
kontolnya menuju mulutku. Begitu mulutku terbuka, kontolnya melesat
masuk dan berdiam di sana. Mm.. Rasa pejuh bercampur precum langsung
memenuhi setiap sel dari lidahku. Sungguh tak terbayangkan, aku sedang
menyedot kontol yang dulu pernah menciptakanku. Jika tak ada kontol
itu, aku takkan pernah ada. Oleh karena itu, aku harus melayani kontol
Papa sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih, dan lagipula aku memang
suka menyedot kontol Papa. Slurp! Slurp! Slurp!
Kontol itu terasa menyesakkan mulutku. Ukurannya jauh lebih besar
daripada kontol mantanku. Aku harus pintar-pintar menghisap kontol itu
sebab mulutku hampir kram. Lidahku bermain-main sambil mengusap-ngusap
kepala kontol itu, menggodanya. Sengaja kujilat-jilat bagian bawah
kepala kontolnya karena bagian itulah yang paling sensitif. Kucoba
untuk memampatkan mulutku agar hisapanku menguat. Kupaksa kontol Papa
untuk memberikanku lebih banyak precum. Mm.. Enak sekali. Slurp!
Semakin keras kusedot kontol itu, Papa mengerang semakin keras pula.
"Hhoohh.. Hisap kontol Papa.. Aahh.. Ya, begitu.. Jilat terus..
Oohh.. Mulutmu lebih enak daripada mulut Jon.. Aahh.. Layani Papa,
anakku.. Oohh.."
Papa menjambak rambutku dan memakainya sebagai pengendali kepalaku.
Meski agak kesakitan, tapi aku tak keberatan karena Papa melakukannya
dengan lembut.
"Hhoohh.. Hisap terus.. Aahh.."
Kedua tanganku merayap naik. Begitu kutemukan dada Papa, aku
langsung meraba-rabanya. Ah, aku rindu sekali menyentuh dada itu, dada
Papa yang kucintai. Putingnya mengeras di bawah rabaanku. Ketika
kupelintir, papaku mengejang-ngejang sembari mengerang keenakkan.
"Hhoohh.. Yyeeaahh.. Mainin puting Papa.. Aahh.. Ayo, nak.. Buat
Papa terangsang.. Hhoohh.." Precum Papa mengalir makin banyak, habis
kutelan semuanya.
"Aarrgghh!!" erang Papa mendadak sambil mendorongku jauh-jauh.
Aku terkejut tapi belakangan aku baru menyadari bahwa Papa tadi
hampir ngecret dan dia hanya mau agar aku berhenti menyedot kontolnya
sebentar.
Papa kemudian menghampiriku. Dengan sepasang tangannya yang kuat,
Papa mengangkatku dan membaringkanku di atas meja dapur. Kami memang
punya sebuah meja dapur yang kokoh tepat di tengah dapur, berfungsi
sebagai meja masak dan sekaligus meja makan. Dengan bernafsu, kakiku
dikangkangkannya lebar-lebar. Anusku nampak berkedut-kedut menyapa
papaku. Papa hanya tersenyum padaku seraya berkomentar nakal.
"Pantatmu kelihatan sempit. Pasti enak kalau Papa entoti."
Berbekal kondom yang tersimpan di celana pendeknya, Papa
mempersenjatai kontolnya. Kemudian, tanpa bicara lagi, Papa langsung
menusukkan kontolnya dalam-dalam.
"Aahh.." erangnya, matanya merem-melek.
Anusku yang masih sempit, mencekik kontolnya. Namun pelumas yang
menempel pada kondom Papa membantu proses penetrasi sehingga kontol
Papa dapat masuk seluruhnya. Blleess.. Namun Papa tak mau buang-buang
waktu, dia langsung menggenjot pantatku.
"Aarrgghh.. Sakit, Pa.. Hhoohh.. Uugghh.." rintihku.
Kontol Papa memang besar sekali hingga anusku serasa sobek. Air
mataku mengalir keluar, tak tahan menahan sakit. Duburku serasa
terbakar dan berdarah. Namun Papa berusaha menenangkanku.
"Hhoohh.. Sakit.. Aahh.."
"Aahh.. Tahan saja.. Uugghh.. Demi Papa.. Hhoohh.. Sempit banget.. Aahh.. Kontol Papa dijepit pantatmu.. Aahh.."
Kontol Papa memang terasa sempit di dalam duburku, namun Papa malah
semakin menyukainya. Dengan bernafsu sekali, Papa mengentotku. Kepala
kontolnya menghajar isi pantatku tanpa ampun. Rasanya setiap organ
dalam pantatku sudah dirombak ulang. Ketika kontol itu menemukan
prostatku, aku mulai mengerang-ngerang karena nikmat. Prostatku
memancarkan rasa nikmat yang mirip orgasme. Aku merasa senang dan tak
merasa sakit lagi. Berkali-kali prostatku ditumbuk, lagi, lagi, dan
lagi.
"Oohh.. Pa, enak banget.. Aahh.. Fuck me.. Oohh.. entoti anakmu,
Pa.. Aahh.. Aku butuh kontol Papa.. Aarrgghh.. Ayo, Pa.. Ngentot
terus.. Aahh.."
Aku mengerang-ngerang seperti pria murahan, namun aku suka melayani
Papa. Papa tahu kebutuhanku, maka dari itu dia menggenggam kontolku dan
langsung mengocok-ngocoknya. Dari deru napas kami, kami akan segera
ngecret.
"Aarrgghh.. Pa, aku mau.. Aahh.. Kkeluar.." erangku.
Aku sungguh tak kuat lagi. Prostatku dihajar terus-menerus oleh
kontol Papa sementara kontolku dikocok terus oleh tangan Papa.
Orgasmeku sungguh tak dapat dicegah. Seiring dnegan membanjirnya
precumku, aku ngecret! Kontolku berdenyut-denyut dengan ganas,
menyemburkan lahar putih ke mana-mana. Semburannya begitu kuatnya
sehingga mengenai dada Papa. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!
"Oohh.. Semprotkan pejuhmu.. Oohh.. Yyeeaahh.. Biar Papa lihat.. Hhoohh.."
Papa menyemangatiku sambil terus menyodok-nyodok pantatku. Tapi
rupanya orgasmeku justru memicu orgasmenya sebab bibir anusku
berkontraksi hebat ketika orgasmeku terjadi. Papa menggeram seperti
banteng, perutnya berkontraksi. Seiring dengan erangan panjangnya,
kontol Papa mulai mengisi pantatku dengan spermanya. Ccrroott!!
Ccrroott!! Ccrroott!!
"Hhoohh!! Hhoosshh!! Aahh!!" lenguhnya.
Setiap kali kontolnya menembakkan sperma, tubuhnya akan terguncang.
Dada gempalnya ikut terguncang-guncang, seksi sekali. Ccrroott!!
Sebagian sperma meleleh keluar dari pantatku.
Lalu Papa memeluk tubuhku saat semuanya telah usai. Dia membisikkan
bahwa betapa dia mencintai dan menyayangiku. Kubalas dengan sebuah
ciuman mesra di pipinya.
"Aku sayang Papa," bisikku.
E N D
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
454,903 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
167,291 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
164,264 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
158,830 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
155,684 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
110,262 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
103,253 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
97,418 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
90,062 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
80,509 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
78,984 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
76,389 |
| Dokter Mesum - 4 |
brycejlover@yahoo.com |
75,663 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
74,457 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
73,845 |
|
|
|
|
|
|
|