|
|
Cerita gay seks romantis ini fiktif belaka dan
adalah sekuel dari "Kejutan Paris", ditulis untuk kekasihku, Bang Veri.
Bang Veri, semoga kamu suka dengan cerita ini. Aku sungguh sangat,
sangat, sangat berharap kita bisa bersama terus sebagai pasangan
kekasih yang tak terpisahkan sampai maut memisahkan kita. Cintaku
takkan pernah berubah untukmu. Adek cinta kamu, Bang Veri..
http://www.angelfire.com/falcon/brycejlover/index.htm http://endy2004.blogspot.com Email Friendster.com: midnight_lantern2004@yahoo.com *****
Cintai aku dengan lembut, kasihku
Sayangi diriku, sayang
Jangan pernah kau lepaskan daku
Kau membuat hidupku lengkap
Dan aku amat sangat mencintaimu
Cintai aku dengan lembut, kasihku
Sayangi diriku, sayang
Katakan bahwa kau milikku
Dan aku akan menjadi milikmu
Selamanya hingga akhir waktu
Cintai aku dengan tulus, sayang
Semua impianku terwujud
Karena, sayangku, aku mencintaimu
Dan aku akan selalu mencintaimu..
*****
Beberapa bulan berlalu sejak kejadian dalam ceritaku "Kejutan
Paris" terjadi. Aku masih mabuk kepayang, membayangkan kembali
saat-saat intim nan merangsang ketika Bang Veri, kekasihku yang sangat
kucintai, menyetubuhiku di puncak menara Eiffel. Masih terngiang-ngiang
erangannya di telingaku. Sejak kepulangan kami dari Paris, Bang Veri
tampak semakin romantis saja. Entah apa yang terjadi dengannya karena
biasanya Bang Veri tenggelam dalam pekerjaannya. Bang Veri kini lebih
sering meluangkan waktunya denganku, tentu saja aku senang sekali.
Pada suatu malam yang tak terduga, Bang Veri datang mengunjungiku.
Pakaiannya rapi sekali, lebih rapi daripada biasanya. Aroma colognenya
yang harum nan lembut membuatku mabuk dengan cinta. Dan di tangannya
tergenggam karangan bunga mawar merah! Bang Veri tak pernah
membawakanku bunga. Kusambut karangan bunga itu dengan senyum dan
ciuman.
"Ada apa, sayang? Tumben sekali." tanyaku.
"Emangnya Abang tidak boleh membawakan bunga untuk kekasihku?"
godanya sambil menarik hidungku pelan. Bang Veri memang suka
menggodaku. Bagian tubuhku yang paling suka dia mainkan adalah anusku.
Bang Veri senang sekali menyodomiku dengan jarinya hingga membuatku
terbakar nafsu dan kenikmatan.
"Tentu saja boleh, tapi dalam rangka apa. Pakaianmu juga rapi
sekali. Dari mana kamu? Kondangan?" tanyaku manja, membiarkan Bang Veri
memeluk tubuhku. Oh, aroma colognenya langsung masuk ke dalam hidungku
dan tembus masuk ke otakku. Harum dan memabukkan. Dipeluk seperti itu
oleh Bang Veri membuatku merasa aman dan dicintai.
"Abang mau melamar Adek," jawabnya santai seraya membelai-belai
punggungku. Bang Veri lebih suka mamakai kata 'Abang-Adek' untuk
mengekspresikan rasa sayangnya. Namun sesekali, dia juga suka
menggunakan kata 'sayang'.
Jantungku berdegup kencang, tak percaya dengan pendengaranku.
"Melamarku? Maksudmu.. Melamar sebagai pasangan hidup?"
Kulepaskan diriku dari pelukannya dan kutatap matanya dalam-dalam,
mencari-cari isyarat bahwa dia sedang bercanda. Namun yang kutemukan di
dalam matanya hanyalah cinta yang dalam, cinta sejati dan tulus yang
belum pernah kudapatkan dari pria manapun juga. Cinta semacam itu
sungguh langka, terutama di dalam dunia gay. Aku sendiri memiliki cinta
itu dan sudah kuberikan pada Bang Veri. Mataku langsung berkaca-kaca
saat Bang Veri membelai-belai pipiku.
"Benar, Say. Abang rindu ama Adek. Ingin sekali Abang memeluk dan
menggendong Adek di pangkuan Abang setiap hari, siang dan malam. Abang
ingin Adek menjadi milik Abang seutuhnya. Abang cemburu jika ada pria
lain yang mendekati Adek. Abang tak seperti mereka yang hanya
menganggap Adek sebagai mainan seks. Biarkan Abang menjaga dan
mencintai Adek selamanya. Adek mau kan?" tanya Bang Veri.
Air mataku seketika itu juga mengalir keluar, tak tertahankan.
Kupeluk badan Bang Veri sambil menangis bahagia di dadanya. Kemeja
putihnya agak basah, terkena air mataku.
"Mau, Bang. Tentu saja Adek mau. Adek juga menginginkan hal yang
sama. Adek ingin sekali bisa mencintai Abang dan berada di sisi Abang
senatiasa. Adek tak mau terpisahkan dari Abang sampai kapan pun juga.
Hanya Abang seorang yang Adek cintai."
Selama beberapa menit, kami berdiri di teras rumahku saling
berpelukkan. Bulan dan bintang, meski tertutup oleh bangunan-bangunan
tinggi, menjadi saksi cinta kami. Pelukan Bang Veri terasa lebih hangat
daripada biasanya. Aku sangat percaya dengan cintanya. Sudah lama
kutunggu pasangan jiwaku, dan akhirnya dia datang! Dengan lembut, Bang
Veri menyeka air mataku seraya berkata..
"Kamu sensitif dan lembut sekali. Abang suka. Tapi sekarang kita
masuk, yuk. Abang sudah tak sabar mau melamar Adek. Kemudian Abang akan
bawa Adek jauh-jauh agar kita berdua bisa memulai hidup kita bersama
dengan bahagia. Oh, Abang sangat mencintai kamu.."
Begitulah, Bang Veri melamarku di hadapan kedua orangtuaku dan adik
perempuanku. Tanpa ragu sedikit pun, Bang Veri menyatakan rasa sukanya
padaku, dan bahwa dia ingin menikahiku. Aku harus berjuang keras
menahan air mata haruku. Di hadapan mereka, Bang Veri mengeluarkan
sebuah cincin keemasan dari balik saku kemejanya. Aku tak peduli apakah
cincin itu mahal atau tidak, yang terpenting adalah niatnya.
Saat Bang Veri melingkarkannya di jemariku, aku ingin menangis.
Mataku berkaca-kaca, hampir saja air mataku jebol keluar. Cincin itu
berukirkan inisial nama kami: V & E. Meskipun bentuknya sangat
sederhana namun aku sangat menyukainya. Kupeluk dia dan kami
berangkulan. Keluargaku menerima lamaran Bang Veri karena mereka
berhasil diyakinkan oleh Bang Veri. Akhirnya, aku akan menikah,
menikahi pria yang sangat kucintai.
Saat aku menoleh ke belakang, kulihat kembali perjalanan cintaku.
Sudah ada banyak hal buruk yang kualami atas nama cinta. Sudah banyak
air mata yang terbuang akibat cinta. Sudah banyak hal yang telah
kualami, mulai dari ditinggal mati, dicampakkan, cinta bertepuk sebelah
tangan, sampai ditipu. Tapi semuanya mengajarkanku arti cinta. Aku
ditempa untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Terbayang kembali saat Bang Veri meneleponku pertama kali setelah
membaca cerita erotisku di sumbercerita.com. Takdir telah mengatur semuanya
bagaikan sebuah teka-teki besar. Meskipun Bang Veri dan aku tidak
langsung bertemu, tapi pada akhirnya kami bertemu juga. Tak pernah ada
kata terlambat untuk cinta. Pepatah mengatakan, "Kalau sudah jodoh,
takkan ke mana-mana."
Malam itu juga, Bang Veri tinggal di rumahku. Jam menunjukkan pukul
12 malam. Bang Veri tidur di ranjangku, di dalam kamarku. Kami
berbaring sambil bertelanjang bulat. Dengan lembut, Bang Veri
merengkuhku dan membelai-belai tubuhku. Penis kami berdua yang semula
lemas, pelan-pelan menegang. Batang kejantanan Bang Veri yang keras
menyodok-nyodok selangkanganku, sesekali beradu dengan penisku. Kami
berdua hanya saling tersenyum mesum saat menyadari bahwa kami berdua
terangsang.
"Abang tegang nih," bisik Bang Veri di telingaku. Kami memang harus saling berbisikan karena tak mau terdengar oleh keluargaku.
"Isepin donk, Say," pintanya manja.
Bagaimana mungkin aku menolak permintaan pria yang kucintai itu?
Bang Veri memang tahu benar semua tombol-tombol sensitif di tubuhku.
Dengan lembut, dia menciumi bibirku. Mula-mula memang terasa lembut,
namun makin lama ciumannya mengganas. Kurasa Bang Veri tak dapat
menahan birahinya. Kekasihku itu memang tipe pria yang berlibido
tinggi. Tapi aku suka sekali dan aku ingin dapat memuaskannya setiap
saat. Batang kejantanannya terasa semakin mengeras, menggoda birahiku.
Lidahnya menyerbu masuk ke dalam mulutku, air liur kami berbaur.
Kuciumi dia seraya meraba-raba punggungnya. Bang Veri pun tak mau
kalah, tubuh telanjangku dipeluk erat sekali seakan takut kehilanganku.
Kami pun bergumul di ranjangku yang tak begitu lebar. Dan tiba-tiba
saja, tubuhku berada di bawah sedangkan tubuhnya berada di atasku.
Pegangannya tidak mengendur, masih saja erat. Bang Veri menciumiku
dengan bernafsu sekali. Puas dengan bibirku, dia menciumi wajah dan
leherku. Khusus di bagian leher, Bang Veri menyerang sisi leherku yang
sangat sensitif. Bibirnya dengan laparnya menghisap dan menjilati
leherku, persis dengan adegan percintaan yang sering kulihat di
film-film. Suara desahanku memenuhi kamar. Kedua tangan Bang Veri sibuk
mengelus-ngelus tubuhku.
"Aahh.. Hhohh.. Aku cinta Abang.." bisikku di sela-sela ciumannya.
"Hhoohh.. Abang juga cinta Adek, tapi sekarang isepin dulu donk,
Say. Gak tahan lagi, nih," keluh Bang Veri, manja sekali, seraya
menggoyang-goyangkan penisnya.
Aku hanya tersenyum mesum dan kucium dia lagi sebelum kami mengubah
posisi. Bang Veri mendudukkan badanku di ranjang dengan punggungku
bersandar pada kepala ranjang. Batangku berdenyut-denyut penuh gairah,
tak sabar untuk dicumbu Bang Veri. Dengan berhati-hati, Bang Veri
memposisikan badannya setengah berlutut, badanku terjepit di antara
pahanya. Penisnya yang tegang berdenyut-denyut di depan mukaku
seakan-akan berkata, 'Hisap aku donk, Say'.
Meskipun aku sudah sering mengoralnya berkali-kali, namun aku suka
sekali memandang penisnya. Jika saja aku mempunyai foto close-up kepala
penisnya, aku akan memandanginya setiap hari. Sungguh sebuah penis yang
indah. Panjang dan tebalnya sangat ideal. Bagi kebanyakan pria
homoseksual bottom dan wanita, kontol yang besar dan panjang adalah hal
yang seksi. Tapi kita hidup di dunia nyata, bukan dunia fantasi
masturbasi. Lagipula penis yang terlalu besar akan sangat menyulitkan.
Bagiku, penis milik Bang Veri sangat ideal dari segi ukuran. Kepala
penisnya terekspos total akibat disunat. Saat penis Bang Veri sedang
lemas, kepalanya akan mengecil dan tampak manis. Tapi saat tegang,
penis itu akan memanjang dan mengeras. Kepala penisnya pun akan basah
dengan precum. Seperti itulah keadaan glans penisnya pada saat itu!
Sebelum memulai servis oral, aku menciumi dan menjilati kepala
penisnya dulu. Jika waktu mengizinkan, aku suka bermain pelan agar
pasanganku semakin penasaran dan bernafsu. Saat kudekatkan wajahku ke
area penisnya, aroma kejantanan tercium sangat tajam. Aroma khas
seorang laki-laki. Dan ini bukan sembarang aroma karena aroma itu
berasal dari batang kejantanan milik kekasihku, Bang Veri.
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
454,906 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
167,291 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
164,264 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
158,830 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
155,685 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
110,262 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
103,254 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
97,419 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
90,063 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
80,509 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
78,984 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
76,389 |
| Dokter Mesum - 4 |
brycejlover@yahoo.com |
75,663 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
74,457 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
73,845 |
|
|
|
|
|
|
|