|
|
Dari Bagian 2 Seusai makan malam, kami berjalan kembali ke kamar hotel kami. Bang
Veri dengan lembut melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku merasa
sangat aman bersamanya. Saat pintu kamar terbuka, Bang Veri tiba-tiba
mengangkatku serta menggendongku seperti pengantin pria menggendong
mempelainya. Aku setengah memekik kaget sambil berpegangan sekuatnya.
Bang Veri hanya tertawa saja. Badannya memang kuat meskipun ekspresi
kelelahan sedikit tersirat di wajahnya. Setelah membawaku masuk, Bang
Veri menutup pintu dengan kakinya. Selanjutnya, tubuhku dibaringkan
dengan hati-hati di atas ranjang hotel yang nyaman, empuk, dan juga
lebar. Matanya menatap wajahku terus, tak berkedip. Kudengar Bang Veri
bergumam..
"Akhirnya, Adek milik Abang."
Perlahan, kami kembali berciuman. Oh, bibirnya terasa begitu lembut
di bibirku. Kugerakkan bibirku untuk mencium dan menyedot bibirnya.
Kami terus-menerus saling beradu bibir, ditambah dengan pelukan dan
rabaan. Selagi bibir kami bekerja, tangan kami sibuk saling melucuti
pakaian. Bang Veri bergerak cepat dan membuang seluruh pakaianku dalam
sekejap. Tak kalah cepat, aku juga berhasil menelanjangi tubuh Bang
Veri bulat-bulat.
Kami kini berada di ranjang, saling bertatapan, aku masih berbaring
sementara Bang Veri duduk di sampingku. Kalung batu giok yang dulu
kuhadiahkan padanya sebagai hadiah ulang tahunnya masih setia
bergantung di lehernya. Tali kalung itu, terbuat dari benang tebal
berwarna merah, sudah mulai tampak kusam, namun Bang Veri masih setia
memakai dan menjaganya. Dan di jari manisku kini melingkar cincin
pemberian Bang Veri saat dia melamarku. Kutatap cincin itu dengan
perasaan haru bercampur bahagia. Dalam semalam, aku sudah berganti
status. Kini aku resmi telah 'menikah' dengan pria yang paling kucintai
seumur hidupku.
"Adek sayang, akhirnya kita sudah menikah sekarang. Apakah Adek
merasa senang? Maksud Abang, Adek tak merasa menyesal telah mengikat
diri Adek pada Abang, kan?" tanya Bang Veri.
Suaranya terdengar kalem namun juga sekaligus tegas. Aku bangun dan
duduk di depannya, kakiku bersila di atas ranjang. Kutatap wajahnya
dalam-dalam sebelum akhirnya kukatakan..
"Abang, Adek sungguh-sungguh mencintai Abang. Adek sangat bahagia
karena sekarang Adek sudah menjadi pasangan hidup Abang. Selamanya,
Adek takkan pernah menyesal. Hanya Abang seorang yang Adek mau, dan
yang Adek cintai."
Kusentuh wajahnya yang tampan itu dengan kedua telapak tanganku. Sejenak, kuraba-raba wajahnya, merasakan tekstur kulitnya.
"Jangan pernah ragukan cinta Adek. Memang dulu Adek pernah
mencintai beberapa orang pria. Tapi mereka semua adalah masa lalu.
Dibandingkan dengan mereka, Abang adalah pria yang paling aku cintai.
Walaupun nanti Abang berubah tua, gemuk, dan jelek, Adek tetap akan
mencintai Abang. Bukan fisik Abang yang Adek cintai, melainkan hati dan
kepribadian Abang."
Kupeluk tubuhnya untuk menekankan kata-kataku. Kepalaku bersandar
pada bahunya, tercium aroma colognenya yang harum nan memabukkan. Bang
Veri balas memelukku. Punggungku diraba-raba dengan penuh cinta.
"Abang tahu Adek cinta Abang. Tapi apa Adek pernah menyesali hidup
Adek sebagai seorang gay?" Kugeleng-gelengkan kepalaku dalam pelukannya
seraya berkata..
"Tidak, Bang. Adek tak pernah menyesalinya. Adek senang menjadi
diri Adek apa adanya. Semua telah digariskan oleh Tuhan. Dan Adek telah
ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup Abang selamanya. Adek cinta
Ab.."
Kalimatku terpotong karena tiba-tiba saja Bang Veri mencumbuiku
dengan liar dan penuh cinta. Tubuhku terdorong ke belakang sehingga
terjatuh ke atas ranjang. Bang Veri menimpaku dari atas sambil sibuk
mencium dan mencumbuku. Batang kejantanannya mengeras dan memanjang,
menusuk-nusuk selangkanganku.
Di sela-sela aktivitas itu, Bang Veri sempat membisikkan bahwa dia
sangat mencintaiku. Bahagia sekali mendengar kata-kata itu terucap dari
mulutnya. Aku jadi teringat akan bulan-bulan pertama ketika kami baru
mulai berpacaran. Saat itu Bang Veri masih terlalu sibuk memikirkan
pekerjaan dan sanak keluarganya sehingga aku sering merasa kesepian.
Dibandingkan dengan Bang Veri yang dulu itu, Bang Veri yang sekarang
sudah berubah banyak sekali. Dan aku makin mencintainya.
Kemaluanku bangun, terstimulasi oleh perlakuan Bang Veri. Oh,
inilah malam pertamaku bercinta dengannya setelah 'pernikahanku'.
Meskipun Bang Veri jelas terlihat sangat bernafsu denganku, namun sikap
romantisnya masih terasa. Oh, aku menyerah saat Bang Veri menggerayangi
tubuhku. Kuberikan padanya segala yang kumiliki, tubuh, hati, cinta,
dan hidupku.
Mataku terpejam erat saat batang kemaluannya menempel di bibir
anusku. Kedua kakiku diangkat lebar-lebar dan disanggakan pada kedua
bahunya yang lebar. Sebuah bantal diselipkan di bawah pinggulku agar
pantatku lebih terangkat dan anusku lebih terekspos. Dengan lembut,
Bang Veri berbisik di telingaku..
"Sekarang Abang sedang nafsu banget ama Adek. Layani Abang, yach.
Biarkan Abang masuk ke dalam tubuhmu.. Oohh.." Aku hanya mengangguk
saja sambil berusaha merilekskan otot duburku. Tanpa pelumas maupun
kondom, batang penis Bang Veri membor anusku.
"Hhoohh.. Sempit, Dek.. Aahh.. Enak.. Hhoosshh.." Desahan nafasnya
menjadi kencang sementara sekujur tubuhnya bergetar menahan nikmat.
"Aahh.. Oohh.. Uugghh.."
Rasa sakit mulai menyerang anusku. Disodomi secara 'mentah' seperti
itu jauh lebih sakit dibandingkan disodomi dengan peralatan lengkap
(dengan kondom dan pelumas). Namun aku rela menahan rasa sakit itu
asalkan Bang Veri mendapatkan kenikmatan. Itu sudah tugas dan
kewajibanku sebagai kekasih dan pasangan hidupnya. Kepala penis Bang
Veri memaksa duburku untuk menerimanya. Pergesekan penisnya dengan
anusku juga menyebabkan tercabutnya bulu-bulu yang tumbuh di sekitar
anusku. Rasa panas dan perih menyerang anusku terus-menerus.
"Aahh.. Oohh.. Aahh.." rintihku, mataku agak basah dengan air mata.
Sebisanya kutahan diriku untuk tidak mengutarakan padanya bahwa aku
sedang merasa kesakitan namun Bang Veri mengetahuinya.
"Sakit yach?" tanyanya cemas. Sengaja, dia berhenti meneruskan
usaha penetrasinya. Dengan lembut, Bang Veri mendaratkan beberapa
ciuman mesra di bibir dan pipiku.
"Maaf yach, Abang nggak sengaja." Namun kugelengkan kepalaku.
"Tidak, Bang. Jangan berhenti. Teruskan. Adek tahan, kok. Lagipula
rasa sakit itu malah membuat Adek semakin terangsang. Ayolah, Bang.
Sodomi Adek lagi. Bercintalah dengan Adek. Biarkan Adek memuaskan
birahi Abang. Lampiaskan nafsu Abang pada diri Adek. Ayolah, Bang,"
desakku.
"Oh, sayang.. Abang masuk lagi, yach?" Dan dengan itu, Bang Veri
kembali mendorong batang kemaluannya. Erangan kesakitanku mulai
terdengar, bercampur dengan desahan nafas Bang Veri.
"Hhoohh.. Sempit sekali, dek.. Aahh.. Buka lobang Adek.. Aahh..
Biarkan Abang masuk.. Aahh.. Abang mau ngerasain.. Oohh.. Kehangatan
lubang Adek.. Aahh.. Abang sayang Adek.. Aahh.." Kepala baja penis itu
terus memaksa masuk. Dan kurasakan bibir anusku terbuka lebar, semakin
lebar, dan makin lebar lagi sehingga akhirnya.. Plop!
"Hhoohh.. Abang masuk.."
Kepala penis yang seksi itu akhirnya sudah bersarang di dalam liang
cintaku. Pelan tapi pasti, Bang Veri kembali mendorong batangnya masuk
agar dia bisa merasakan kehangatan menyelubungi seluruh batangnya. Aku
hanya bisa mengerang-ngerang, kesakitan bercampur kenikmatan.
"Hhoohh.. Hhoosshh.. Aahh.. Fuck me, Bang.. Aahh.. Adek siap
melayani Abang.. Aahh.. Adek mau muasin Abang.. Pakai lubangku, Bang..
Hhoohh.. Ayo, berikan batangmu.. Hhoohh.. Fuck me.."
Aku sengaja melontarkan kalimat-kalimat kotor agar Bang Veri
semakin bernafsu padaku. Sepertinya berhasil sebab batang penisnya
terasa semakin mengeras dan berdenyut di dalam tubuhku. Oh, nikmatnya
bersetubuh dengan kekasihku. Tubuhku dan tubuhnya bersatu untuk
selamanya.
"Hhoohh.." Aku melenguh panjang ketika batang kejantanan Bang Veri merambat semakin dalam hingga akhirnya mengenai prostatku.
"Aahh.." erangku saat gelombang kenikmatan tiba-tiba menyerang
tubuhku. Rasanya seperti sedang orgasme. Nikmat sekali.. Bang Veri
berhenti sejenak hanya untuk menatap wajahku. Tangannya dengan lembut
membelai-belai pipiku sembari berkata..
"Adek memang cakep. Abang makin cinta aja ama Adek."
Sebuah ciuman mesra mendarat di bibirku. Namun, seperti biasanya,
sebuah ciuman yang lembut dan mesra dengan cepat berubah menjadi ciuman
yang ganas dan menggelora. Bang Veri memagut-magut bibirku seakan ingin
menelanku bulat-bulat. Gejolak nafsunya tak tertahankan lagi. Penisnya
mulai digerak-gerakkan, keluar-masuk. Pergesekan antara penis dan
duburku menimbulkan rasa perih yang tak tertahankan, namun Bang Veri
tak memberiku kesempatan untuk mengerang. Bibirku dicaplok dan dipaksa
untuk menerima lidahnya. Kami berciuman ala french kiss, saling
menghisap lidah dan bibir. Percumbuan kami sungguh sangat panas dan
bergairah.
Terbaring tak berdaya di ranjang dengan kedua kaki mengangkang di
atas bahu Bang Veri, aku diciumi oleh Bang Veri. Sementara itu, Bang
Veri sibuk menggenjot pantatku dengan keras dan bertenaga, seolah-olah
tak ada hari esok. Keringat mulai membasahi badan kami meskipun suhu
ruangan sangat dingin.
Akibat genjotan penis Bang Veri yang sangat kuat, ranjang kami
mulai berderak-derak. Bang Veri tak ragu-ragu menyuarakan erangan
nikmatnya keras-keras. Saya yakin, suara yang kami keluarkan saat
sedang bercinta pasti terdengar sampai keluar kamar, namun kami tak
peduli. Lagipula, hotel itu memang didirikan untuk menampung tamu-tamu
gay. Sayup-sayup terdengar suara pasangan lain sedang bercinta. Kurasa,
pasangan pria homoseksual yang tinggal di sebelah kamar kami pasti
tergoda mendengar erangan kami sehingga mereka pun memutuskan untuk
bercinta saja.
"Hhoohh.. Bang, genjot terus.. Aahh.. Fuck me.. Oohh.. Batang Abang
enak banget.. Aahh.. Yyeeaahh.. Lebih keras lagi.. Aahh.. Fuck me..
Hhoohh.." Aku mengerang-ngerang seperti gigolo homo yang haus akan
kontol.
Bang Veri memang sungguh tahu semua 'tombol' di tubuhku sehingga
aku bisa blingsatan dan bernafsu seperti itu. Fakta bahwa Bang Veri
adalah kekasihku membuat kenikmatanku semakin bertambah. Tak ada yang
lebih nikmat daripada bercinta dengan seorang kekasih. Sebelum bertemu
Bang Veri, aku pernah bercinta secara 'one-night-stand' dengan beberapa
pria. Meskipun mereka memang hebat dalam hal entot-mengentot, tapi aku
merasa ada yang kurang karena aku tidak mencintai mereka dan mereka
tidak mencintaiku. Tapi dengan Bang Veri, semua berbeda karena kami
saling mencintai. Kami ingin saling memuaskan.
Ke Bagian 4
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
454,906 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
167,291 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
164,264 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
158,830 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
155,685 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
110,262 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
103,254 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
97,419 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
90,063 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
80,509 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
78,984 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
76,389 |
| Dokter Mesum - 4 |
brycejlover@yahoo.com |
75,663 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
74,458 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
73,845 |
|
|
|
|
|
|
|