|
|
Dari bagian 2 Acara audisi akan dimulai sekitar jam setengah sembilan, sedangkan
undangan kami minta ditulis jam delapan. Terlalu pagi memang. Jam
delapan kurang Bu Poppy datang. Kemudian disusul kedatangan dari pihak
agensi diwakili oleh Bu Sandra dan dari klien oleh Bu Ayu. Ada lima
wanita telah berkumpul.
Bang Jay baru rapi keluar dari kamar mandi. Memberi salam kepada
kami yang dari tadi sudah siap. Dia memeriksa peralatan fotografinya
dan handycam yang semalam sudah disiapkannya. Dia konfirmasi ulang
untuk posisi berdiri para model yang akan di audisi dan ibu-ibu yang
akan memberi penilaian. Bang Jay memintaku untuk berdiri di depan
lemari pajang untuk mencoba posisi arah handycamnya yang terpasang
pakai kaki.
"Sudah ada modelnya ya?" gurau Bu Ayu ketika aku dishooting Bang Jay dengan handycamnya.
"Iya, bu. Boleh ikutan nggak?" tanyaku membalas gurauannya. Kami
tertawa. Dari namanyanya Bu Ayu memang sangat ayu, dengan usianya
kukira sekitar tiga puluhan. Dari sorot matanya, aku rasa dia suka
cowok muda.
Satu persatu para model datang. Ini akan jadi acara audisi yang
sulit setelah melihat para model tersebut. Penampilan mereka memenuhi
syarat semua dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Setelah data diri yang telah diisi para model itu terkumpul, Bu
Poppy membuka acara dengan menyampaikan pengantar dan memperkenalkan
semua yang hadir. Kemudian Bu Ayu menjelaskan masalah produk yang akan
diiklankan dan tampilan iklan seperti apa yang diinginkan
perusahaannya. Aku dan Bang Jay berdiri saja mendengarkan penjelasan
itu, sedang para model duduk di kursi makan yang telah kami persiapkan.
Kemudian acara dimulai. Sisy yang mengatur para model yang akan
maju. Aku memperhatikan posisi kamera handycam apakah sudah benar
arahnya. Giliran pertama namanya Didi. Cowok atletis yang tampilannya
seperti pemain sepak bola dari Itali. Sesuai dengan pengarahan tadi,
para model tampil telanjang dada. Didi membuka kaos oblong di depan
para ibu muda itu. Ketiaknya tidak ada bulunya karena sudah dicukur.
Tampangnya kelihatan sangat manis sebagai cowok.
Kulihat Bu Ayu senyum-senyum dengan Bu Poppy. Dia mungkin nafsu
melihat bulu halus di dada dan di bawah pusarnya. Bang Jay memotret
dari depan dan samping sambil Didi terus diajukan pertanyaan soal diri
dan pengalamannya.
Para model maju bergantian dengan bertelanjang dada untuk diajukan
pertanyaan dan difoto oleh Bang Jay. Handycam tetap merekam semua
kegiatan itu. Dari semuanya, aku suka Bima. Wajahnya ganteng sekali
dengan badan yang tidak begitu berotot tapi masih tetap atletis. Herman
juga bagus, cuma tato dilengan kirinya agak mengganggu. Kalau dia yang
terpilih, mesti ditutup dulu tatonya pada saat pengambilan gambar.
Mungkin karena spermaku suda tumpah semalam lewat rangsangan mimpi,
jadi aku aman karena kontolku tidak begitu tegang-tegang amat melihat
cowok-cowok model yang boleh jadi juga sangat merangsang para ibu.
Kulihat para ibu duduk dengan menyilangkan kakinya ketika acara
pertanyaan diajukan kepada para model cowok yang setengah telanjang di
depan mereka. Acara siang itu terasa cepat, padahal masing-masing model
telah tampil kurang lebih 15 menit. Menjelang siang acara audisi
selesai.
Setelah Rina membagikan honor kehadiran kepada mereka, para cowok
itupun pulang. Tinggal kami merapatkan memutuskan tiga cowok yang
pantas sebagai finalis. Melalui diskusi yang lumayan menyenangkan,
masing-masing memberikan pendapatnya tentang alasan pilihannya, kami
memutuskan Bima, Hari dan Veri yang masuk final. Berikutnya mereka akan
dipanggil lagi untuk dihadapkan kepada tim klien untuk memilih satu
orang.
Kami akhiri rapat audisi siang itu dengan makan siang keluar
aparteman, ke restoran sea food di sekitar Mangga Dua. Bang Jay tidak
ikut, tinggal aku sendiri laki-laki diantara lima wanita. Hmm.. Aku
ikut mobil Bu Ayu sedangkan Rina dan Sisy bersama Bu Poppy. Bu Sandra
menyusul karena mau ke kantor dulu katanya.
Aku yang nyetir mobil Bu Sandra. Dia memang agresif juga, ketika di
dalam mobil, dia membuka blazernya dan memperlihatkan yang indah
miliknya. Dadanya yang masih kencang itu terlihat membayang di balik
blousnya yang tipis.
Kami ngobrol soal program kerja pemasarannya. Dia menjanjikan akan
memberi order iklan produknya yang lain. Dia bercerita dengan semangat.
Tangannya yang dari tadi bergerak sambil cerita dengan pelan sampai ke
pahaku. Mobil jalan berlahan karena macet di jalan Gunung Sahari.
Kubiarkan apa yang dilakukannya. Pelan kontolku menegang juga dan dia
tahu itu yang mengundangnya untuk menyentuhnya. Darahku sampai kekepala
ketika jari-jari Bu Ayu meremas kontolku dari luar celana. Ada rasa
was-was ketahuan apa yang dilakukannya, terutama oleh penumpang mobil
di depan karena kaca mobil yang di depan tidak gelap, tidak seperti
kaca yang disamping dan belakang.
Aku mesti menjaga sikap, walau Bu Ayu yang memulai. Aku diam saja
ketika tangannya mulai menarik resteling celanaku dan menyelusupkan
telapak tangannya di gundukan kontolku dibalik celana dalam. Apakah ini
bagian dari servis perusahaanku sebagai biro iklan agar proyek ini kami
dapatkan? Bu Ayu sebagai manager pemasaran di perusahaannya apakah
harus diservis olehku?
Otakku mulai bertanya-tanya sambil menikmati rangsangan dari Bu
Ayu. Karena hampir sampai, aku merapikan kembali celanaku yang terbuka
dengan tangan kiriku. Untung kami tidak sulit mencari lokasi parkir.
Siang ini agak mendung, mungkin nanti malam akan hujan.
Aku dan Bu Ayu menuju pintu restoran. Bu Poppy, Rina dan Sisy sudah
menunggu. Aku diberi tahu kalau Bu Sandra minta maaf kalau tidak dapat
ikut makan siang bareng. Dia sedang ada tamu. Akhirnya kami makan siang
dengan ikan bakar, udang bakar, cumi saos kecap dan lalapan. Aku makan
siang lumayan mengenyangkan.
Di meja makan, entah karena pengaruh makanan atau teringat
rangsangan Bu Ayu tadi dalam perjalanan, kontolku jadi menegang.
Kenyang-kenyang begini kok malah ngaceng sih? Kami ngobrol macam-macam
hal sambil menikmati air kelapa muda yang segar sekali.
Setelah makan siang, Bu Poppy, Rina dan Sisy pamit mau ke kantor
dulu dan aku diminta untuk mengantarkan Bu Ayu. Wah aku dijadikan umpan
nih! Dalam perjalanan, Bang Jay telepon bahwa dia sudah berangkat ke
tempat Mas Narto, ilustrator kami untuk urusan story board.
"Wah, saya mengganggu jadwal kerja Dik Yadi nih. Jadi merepotkan,"
kata Bu Ayu setelah kuberitahu acaraku hari ini setelah makan siang.
"Nggak apa kok, bu. Dan lagi Bang Jay sudah mewakilkan," kataku.
"Sekarang kita ke aparteman dulu ya?" tanyaku memastikan.
"Iya dong. Tas saya kan masih tertinggal di situ dan beberapa file
mesti saya bawa untuk rapat besok," katanya. Suaranya itu menggoda.
Tangannya tidak begitu liar seperti tadi waktu berangkat.
Bu Ayu turun di lobby aparteman, sedangkan aku memarkir mobil.
Untung tempat parkir yang tadi ditinggal belum terisi. Lokasi parkir
yang pas, karena dekat pintu ke aparteman kamarku di lantai 8 dan pintu
keluar parkir. Bu Ayu sudah menunggu di pintu kamar ketika aku masuk ke
koridor aparteman. Dia tidak memakai blazernya.
"Tidak menunggu lama kan?" kataku sambil membuka pintu, dengan
menggesekkan kartu kunci. Aku dan Bang Jay punya masing-masing kunci.
"Lumayan," suara Bu Ayu terdengar serak di telingaku. Kemudiam dia berdehem melancarkan kerongkongannya.
Kupersilahkan Bu Ayu masuk setelah pintu terbuka. Aku sempat kaget
ketika Bu Ayu mendorong tubuhku mengakibatkan pintu tertutup oleh
tubuhku. Bu Ayu melumatkan bibirnya ke bibirku dengan menarik leherku
merendah. Tubuhnya yang lebih rendah dariku membuat dia sedikit jinjit.
Degan liar dia menciumiku. Lidahnya masuk ke rongga mulutku mencari
lidahku. Dengan sedikit kesadaran yang kumiliki, kartu kuletakkan pada
tempatnya. Ac dan lampu mulai nyala. Ruangan belum dirapikan. Ruang
makan dan ruang tamu masih berantakan. Perlu dirapikan oleh room boy.
Tanganku menuju pantatnya. Meremas pelan di situ dan mulai
menaikkan roknya. Aku selipkan jariku di belahan pantatnya. Menyentuh
daerah paling sensitifnya. Dia menarik keluar kemejaku dari celana dan
tangannya pun menyelusup ke celanaku dari atas pinggang.
Pintar banget dia. Telapak tanganya sudah meremas kontolku. Rasanya
kontolku mati rasa akibat makanan laut tadi. Kami masih di pintu dengan
nafas saling menggebu. Kontolku sudah mau keluar saja dari celana.
Apalagi tangan Bu Ayu sudah masuk, membuat celanaku makin sempit. Aku
rasanya seperti diperkosa. Aku putar kunci pintu dan kupeluk dia sambil
berjalan menuju kamarku. Kalau mau terjadi, terjadilah. Batinku.
Di kamar, Bu Ayu terduduk di pinggir di tempat tidur dan mulai
membuka celanaku dan aku pun membuka kemejaku. Kubiarkan diriku
telanjang di depannya. Blousnya kubuka dengan menariknya ke atas.
Tinggallah dia hanyak mengenakan rok dan beha yang transparan berenda.
Kembali aku menciuminya. Lehernya, kupingnya kemudian turun ke
dada. Aku sudah kesetanan melayaninya. Tanganku beraksi di punggungnya
dan dengan sekali sentak, kaitan behanya terbuka. Kumainkan lidahku di
puting susunya sambil tanganku membuka sepatu dan melorotkan celana
yang masih menyangkut di kaki. Aku turun ke perutnya mempermainkan
bibir dan lidahku di sana. Wangi tubuhnya membuat aku makin bernafsu.
Tanganku sudah membuka kaos kakiku. Ac yang ada di kamarku ini tak
sanggup menghentikan keringat kami yang mulai mengalir.
Tangannya memegang leherku, menekannya turun ke arah vaginanya.
Aroma khasnya mulai terasa ketika celananya kuturunkan dan mengeluarkan
satu kakinya dari celananya. Makin membuatku bernafsu. Kumainkan
bibirku di paha dalamnya sebelum aku melumat bibir vaginanya.
Dengus nafasnya memang tidak dapat tertahankan ketika lidahku
menuju belahan kelaminnya. Aku seperti sedang kehausan dengan terus
menjilat cairan yang ada. Kontolku dari tadi sudah tegang dan aku tidak
rasakan apa-apa walau Bu Ayu meremasnya. Rasanya seperti sepotong kayu
yang menempel ke tubuhku.
Aku mengangkat tubuhku, dan kembali menindih tubuh Bu Ayu. Aku
kembali menciumi wajahnya, dan pinggulku bergerak, kubiarkan kontolku
masuk sendiri tanpa bimbingan tanganku ke vaginanya. Pelan kerasakan
kontolku masuk, ada denyut kecil mulai kurasakan di kontolku. Aku
menekannya sampai kepangkal kontolku.
Bu Ayu memelukku makin erat. Nafasnya mulai memacu sambil
pinggulnya bergerak mengikuti gerakanku. Kakinya memeluk pinggangku
kadang ditekuknya sampai punggungku. Tubuhnya melengkung seperti udang.
Tubuhku sedikit melengkung untuk mencapai posisi nyaman. Tapi tidak
lama, karena Bu Ayu membalikkan tubuhku dan kembali naik ke tubuhku.
Kembali dia menusukkan kontolku yang tercabut ketika membalik tadi.
Ah.. Baru aku rasakan otot pangkal kontolku berderak seperti mau patah.
Bu Ayu tetap menggerakkan pinggulnya pelan dan menekannya ke bawah.
Dilakukannya berulang-ulang yang menimbulkan suara decak dari vaginanya
yang sangat basah. Kontolku rasanya mati rasa dan Bu Ayu akhirnya
mencapai klimaksnya.
Ada cairan yang mengalir ke pelirku, sampai ke kasur di pantatku.
"Semprotkan saja, Dik Yadi," katanya disela nafasnya. "Aku mau rasakan spermanya.."
Aku tersenyum. Aku tidak rasakan rangsangan di kontolku. Bagaimana
aku akan ejakulasi? Tanganku memegang pinggulnya untuk mengarahkan
geraknya. Tetap aku tak bisa keluarkan spermaku. Malah Bu Ayu mencapai
klimaksnya lagi, tubuhnya makin mengejang dan puting susunya mengeras
kencang. Bibir vaginanya kurasakan sangat tebal dan panas.
Ini keherananku. Waktu dengan Ran aku begitu gampang akan orgasme,
walau kutahan. Tapi sekarang tanpa ditahan, untuk orgasme saja susah.
Kutarik nafas dalam. Bu Ayu mencabut kontolku dari vaginanya dan coba
mengocok kontolku dengan tangannya berlumurkan cairan vaginanya.
Menaikkan dan menurunkan dengan remasan jarinya yang kecil, kontolku
masih tetap tegang tanpa ada rasa rangsangan. Kembali aku tarik nafas
dalam dengan panjang dan menghembuskannya pelan. Kuulangi lagi.
Akhirnya aku selesaikan permainanku dengan Bu Ayu tanpa aku
orgasme. Kami berpelukan beberapa saat, sambil menenangkan diri. Zinah
yang kami lakukan siang ini membuat otakku protes berat. Perasaanku
jadi kacau. Demi pekerjaan yang diberikannya, aku mau melayani nafsu Bu
Ayu. Apakah aku sudah jadi gigolo sekarang?
E N D
| Title | Author | Views |
| Pengalaman Gay Pertama Johan |
brycejlover@yahoo.com |
455,001 |
| Nafsu Birahi Remaja |
doyancoli@lycos.com |
167,316 |
| Kenikmatan dari Sang Polisi |
djpaijo@yahoo.com |
164,275 |
| Budak Seks Pekerja Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
158,886 |
| Pesta Seks Gay |
gamabuk@yahoo.com |
155,710 |
| Minum Sperma Teman Sekantor - 5 |
haus_lelaki@yahoo.com |
110,269 |
| Pak Pardi dan Aku |
hayudian@telkom.net |
103,278 |
| Di Tempat Pemandian Umum - 1 |
elmokenthos@yahoo.com |
97,427 |
| Dokter Mesum - 1 |
brycejlover@yahoo.com |
90,076 |
| 2 Abang Tukang Bangunan |
brycejlover@yahoo.com |
80,518 |
| Kenapa Harus Om-Om |
rumput_merah17@yahoo.com |
78,985 |
| Simpanan Mama - 1 |
zioputra@plasa.com |
76,396 |
| Dokter Mesum - 4 |
brycejlover@yahoo.com |
75,676 |
| Montir-montir Nakal - 2 |
brycejlover@yahoo.com |
74,463 |
| Tetanggaku Kekasih Baruku |
Adrian_i@telkom.net |
73,848 |
|
|
|
|
|
|
|