|
|
Dari bagian 1 Aku memang tidak menemukan inner beauty dalam dirinya. Ketertarikanku
semata-mata hanya karena nafsuku dan bentuk tubuhnya yang aduhai.
Kadang-kadang bahkan aku berpikir bahwa inisiatifnya untuk variasi
dalam bercinta bukanlah karena romantisme atau pengetahuan tentang
hal-hal yang baru dalam hal hubungan sex, tetapi lebih merupakan sebuah
naluri. Tapi toh aku menikmatinya juga.
Kuletakkan majalah yang kubaca dan kulingkarkan tangan kananku di
belakang bahunya. Kumainkan tali bra-nya. Ia duduk di samping kananku.
Jemari kanannya memegang tanganku yang ada di tubuhnya, sementara
tangan kirinya menyingkapkan celana pendekku dan mengusap pahaku.
Kepalanya disenderkan di dada kananku. Kuciumi rambutnya yang masih
basah. Segar. Bulu kakiku ditariknya pelan-pelan. Nafsuku
perlahan-lahan tapi pasti mulai meningkat.
"Han! Yang"
"Hmm.. Apa"
"Sudah berapa lama kita tidak bercinta?" tanyaku
"Hmm.. Kamu ujian dua minggu. Yah.. Kira-kira tiga atau empat mingguan".
"Kalau aku ingin sekarang?" tanyaku dengan napas tertahan.
"Hussh.. Eka sebentar lagi pulang lho!"
Kami diam sambil terus kuciumi rambutnya. Ketika kucium tengkuk dan
telinganya ia menghindar dan mengerang pelan," Nghh.. Eeehh..".
"Kamu ingat waktu kita bercinta di Ciawi pertama kali. Kusetubuhi kamu dengan cepat tanpa melepaskan bajumu?"
Ia berpikir sebentar dan mengangguk. Matanya berbinar dan bibirnya
tersenyum. Agaknya dalam hal-hal yang menyangkut hubungan badan ia
sangat cepat ingat dan tanggap.
"Kenapa? Kamu memang nakal sekali. Anto.. Anto". Ia mengeleng-gelengkan kepalanya dan badannya bergetar merinding.
"Hiihh".
"Aku ingin mengulanginya sekarang, disini".
Kuremas dadanya dan kucium lehernya. Ia memberikan gerakan menolak,
namun dengan lembut kuremas dadanya dan kucium keningnya agak lama. Ia
menyerah.
Kurebahkan badannya ke sofa, aku duduk dibawah di dekat kepalanya.
Kucium Hanny mulai dari rambut, kening, hidung, pipi, leher dan
kemudian bibirnya menyambut bibirku dengan lumatan ganas. Ketika daguku
yang berjenggot pendek kugesekkan ke lehernya ia meronta-ronta.
"Uffppss.. Sakit dan geli yang".
Kini kami berciuman dengan dalam, french kiss. Tanganku meraba
pahanya yang tertutup daster. Kumainkan jariku mengikuti garis celana
dalam di pahanya. Tanganku ke bawah dan kusingkapkan dasternya.
Bulu-bulu halus di kakinya kumainkan. Lututnya kucengkeram dengan lima
jariku dan kugesek-gesek dengan kukuku. Ia melenguh.
"Uuhh.. Geli sayang".
Digigitnya telingaku dan lidahnya terjulur menjilati lubang telingaku. Kepalaku mengelinjang menahan geli.
"Rasain sekarang.." katanya.
Tanganku mulai menarik ban celana dalamnya. Ia tiba-tiba tersentak dan bangkit dari sofa.
"Kenapa Hanny?" tanyaku kuatir kalau ia marah padaku.
Ia diam saja dan melangkah ke pintu, membukanya, memindahkan
sandalku ke dalam dan "Klik" ia menguncinya. Korden jendela kaca depan
dibiarkannya terbuka. Ia hanya mengecek korden kain transparan yang
melapisi korden utamanya. Ia yakin bahwa jika ada orang yang datang dan
menempelkan matanya di kaca jendelapun tidak akan melihat apa-apa di
dalam rumah.
Aku berdiri dan menyongsongnya.
"Pengamanan level pertama", katanya sambil tersenyum.
Akupun tersenyum pula. Hebat sekali Hannyku ini. Akupun ingat waktu
kejadian pertama di kamar kosku, ketika ia memasukkan sandalnya dan
sepatuku ke dalam kamar.
Kembali kami berciuman. Lidah kami saling memilin dan menjepit.
Sedot menyedot silih berganti. Kubawa dia kembali ke sofa dan segera
kubaringkan. Tanganku menyusup dari bawah dasternya dan menarik celana
dalamnya, melanjutkan pekerjaan tadi yang sempat tertunda. Tangannya
bergerak akan melepas jepit rambutnya, tapi kutahan.
"Jangan! Biar saja begitu. Aku sangat menikmati keindahan tengkukmu!"
Ia mengangkat pantatnya memudahkan aku melepas celana dalamnya. Aku
berdiri di dekat kepalanya dan tak lama kemudian celana pendek dan
celana dalamku sudah terlepas ditangannya. Ketika aku mau melepas kaus
ditariknya tanganku sehingga aku jatuh diatas tubuhnya.
Tangan kiriku mulai menjalar di pahanya. Dasternya sudah tersingkap
benar-benar mulus sekali pahanya. Kuremas-remas sampai ke pangkal
pahanya. Ketika sampai di celah sempit antar dua pahanya, kumasukkan
jari tengahku, dan kugaruk-garuk dinding vaginanya.
"Ah sayang. Kamu semakin nakal dan.. Pintar".
Aku tidak menghiraukannya. Sementara itu tangan kananku meremas
buah dadanya dari luar. Tangannya membalas dengan memegang bahkan
mencengkram keras kejantananku. Terasa sedikit ngilu tapi nikmat. Kami
memutar tubuh pelan-pelan karena tempatnya sempit. Dia mengarahkan agar
posisiku di bawah. Akhirnya dengan susah payah karena ia tidak mau
melepaskan pelukannya sementara tempat sempit, namun akhirnya aku sudah
ditindihnya.
Dengan ganasnya ia menciumiku, seperti seekor elang yang
mencabik-cabik buruannya. Terus ke leher dan lenganku yang terbuka.
Diciuminya bulu ketiakku, dihirupnya napas dalam-dalam. Aku yakin saja
karena sudah kuamankan dengan Eternity sebelum berangkat tadi. Kemudian
ia menyingkapkan kausku, menjilati dan menggigit putingku. Lidahnya
kemudian menjilati bulu dadaku dan bibirnya menggigit serta menariknya
pelan.
Tidak lama kemudian kepalanya turun ke selangkanganku dan ia telah
mengulum, menghisap kepala meriamku dan tangannya mengurut serta
meremas batangnya. Pandai sekali ia memainkan meriamku.
"Hannyku.. Sayang.. Ohh. Ohh. Ahh. Nikmat sekali sayy" Aku pegang
kepalanya dan aku tahan agar ia tidak melepaskan kulumannya pada kepala
meriamku.
Aku bangkit dan kudorong ia ke belakang. Kembali aku berada di atas
tubuhnya. Kusingkapkan dasternya sampai di dadanya. Bra transparan
warna krem tidak mampu memuat gundukan payudara dan tidak mampu
menyembunyikan putingnya. Kulepaskan kaitan bra-nya di punggung dan
kutarik cup-nya ke atas. Kini giliranku menjilat dan menciumi
putingnya.
"Ayo sayang.. Jangan.. Kau permainkan aku.. Ayo masukkan!! Sekarang.. Ya.. Ohh. Oohh."
Kata-katanya terus meracau, apalagi ketika aku melahap habis
gundukan payudaranya dengan mulutku dan kusedot, kukulum, kupilin dan
kugigit dengan lembut putingnya.
"Ah.. Gil.. La.. Ennak ssayang.. Kamu.. Ohh.. Oohh"
Kukocok penisku dan kuarahkan ke guanya kemudian dengan sekali
hentakan sudah masuk ke dalam lubang kenikmatannya. Kupompa perlahan
lahan. Tubuhnya meronta-ronta. Kedua gunduk payudaranya bergoyang
kencang. Kuraih payudaranya kanannya dengan tangan kiriku, aku pelintir
putingnya sebelah kiri dan mulutku masih menggigit halus puting
kanannya. Ia menghentakkan badannya ketika putingnya kugesek dengan
daguku yang tiga hari tidak bercukur.
Kaki kananku kuturunkan ke lantai, sedang kaki kiriku kuluruskan
sejajar permukaan sofa. Hanny mengangkangkan kakinya. Kaki kananya di
naikkan ke sandaran sofa. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat pula
ia meronta.
Kedua kakinya ia jepitkan diatas tubuhku. Sampai akhirnya ia
menggelinjang, kedua tangannya menekan keras kepalaku ke atas
payudaranya. Ia hampir mencapai orgasmenya. Jepit rambutnya sudah
terlepas dengan sendirinya, rambutnya sudah acak-acakan dan sebagian
tergerai menempel di pipi dan mukanya yang basah oleh keringat.
"Ayo sayang. Aku sudah tak tahan lagi. Ayo.. Sayang, yah.. Please."
"Iya ss.. Say, aku juga se.. Se.. Bentar la.. Gi..".
Kedua tangannya meremas pantatku pantatku dan membantu mempercepat
gerakan pinggulku. Kocokanku semakin kupercepat ketika kurasakan lahar
panas akan meledak dari kepundannya.
"Yangg.. Oh.. Aku.. Ma.. U kel.. Luu.. Arr"
"Ohh.. Kita sama-sama.. Ouhh.. Yeeaah!"
Kukunci tangannya dan kuhempaskan tubuhku dengan kuat. Akhirnya bersama-sama kami mencapai orgasme yang luar biasa.
Kurebahkan tubuhku di atas tubuhnya. Ia memelukku, mencium kening dan bibirku.
"Terima kasih.. Sayang. Kamu benar-benar gila tapi perkasa dan hebat".
Kutinggalkan rumahnya dengan langkah ringan. Sebelum masuk ke pagar
rumahku, sekilas kudengar Eka berlari pulang dan memanggil Mamanya.
Hmm, nyaris saja. Pengalaman yang seru dan menegangkan.
Sorenya Eka ke kamarku dengan membawa sebuah botol yang dibalut
dengan kertas koran. "Dari Mama", kata Eka sambil menyerahkannya
kepadaku. Eka kemudian mengeluarkan buku pelajarannya dan sebentar
kemudian aku sudah menerangkan kepadanya sampai jelas. Eka pamit
pulang.
Kubuka kertas koran yang membungkus botol tadi. Sebuah botol pendek
warna gelap. Label botol jelas dengan sengaja telah dirobek. Kubuka
tutupnya dan kucium, bau anggur. Kemudian kulihat dengan lebih jelas
lagi. Ternyata ginseng yang direndam dalam anggur kolesom. Kuperiksa
koran pembungkusnya. Ada secarik kertas dan kubaca.
"Anggur merah cintaku. Nikmatilah diriku setiap saat kau mau. Ttd.. Honey"
Setelah beberapa kali bercinta dengan cara kilat, kami sepakat
untuk menamakannya "Quicky.. Quicky" atau Q.. Q. Kedengarannya agak
nakal dan jenaka tetapi nuansa romantisnya.
Secara iseng aku pernah menganalisis pelesetannya. Kalau Q.. Q
diucapkan dalam bahasa Inggris "kyu.. Kyu". Aku tidak tahu persis
apakah kyu dalam bahasa Mandarin berarti sembilan. Tetapi sering
kuperhatikan kalau dalam dunia perjudian kyu-kyu adalah 9-9. Kembali
diucapkan dalam bahasa Inggris "nine-nine". Kalau diucapkan dengan
cepat maka seolah-olah terdengar seperti "nenen". Tahu arti kata
"nenen?". Kalau nggak tahu, keluar dan jangan baca situs ini lagi!
Kode untuk keadaan aman adalah korden yang ditutup setengahnya.
Untuk ajakan Quicky.. Quicky adalah tanda lingkaran dari pertemuan jari
tengah dan ibu jari sementara jari lainnya lurus.
Quicky.. Quicky menjadi selingan kami dalam menuntaskan gairah
bercinta ketika keadaan memang mengijinkan tapi waktunya sempit.
Akhirnya kami bercinta ala Quicky.. Quicky di kamar kosku sampai
beberapa kali. Kalau ia menghendaki Quicky.. Quicky di kamar kosku, ia
mendatangiku dengan daster tanpa mengenakan celana dalam, dadanya
kadang memakai bra kadang tidak. Atau ia memakai celana pendek tanpa
celana dalam, atasnya memakai kaus YCS tanpa bra.
Kurasakan Quicky.. Quicky membuat suasana agak menegangkan karena
diburu waktu, namun ada sensasi tersendiri ketika kami sudah
menggelepar lemas. Kadang-kadang kutunggu Hanny sehabis senam dan kami
check in di Bogor lalu pulang sebelum senja. Sekali kami pernah
melakukannya pada malam hari di teras belakang rumahnya yang terlindung
dengan beralaskan karpet setelah lampunya kami matikan terlebih dahulu.
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,580 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,642 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,882 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,218 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,230 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,357 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,623 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,334 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,444 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,288 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,233 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,119 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,199 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,286 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,236 |
|
|
|
|
|
|
|