|
|
Dari bagian 1 Dikeluarkannya handuk besar yang dipakai mengeringkan tubuh seusai
berenang tadi. Dihamparkannya di atas rerumputan di antara pepohonan
teh. Hmm.. Rupanya ia akan mengulangi peristiwa di pekarangan rumahnya.
Matahari sudah agak condong ke barat. Udara dingin menyapu tubuh kami.
"Ada orang lewat nanti Han!" kataku mengingatkan.
"Tidak ada. Pemetik teh tidak akan datang ke kebun sore-sore
begini. Kalau nanti ada yang lewat pasti dia pasangan berbeda jenis
seperti kita yang juga mencari tempat", katanya sambil tertawa kecil.
Benar juga kupikir. Mungkin kalau hari libur banyak orang Jakarta
yang mencari udara segar bisa saja tersesat sampai di tempat kami,
namun sekarang bukan hari libur. Jadi kupikir aman saja. Resiko selalu
ada, namun masih imbang dengan keuntungannya.
Tidak lama kemudian kami berdua sudah berbaring berpelukan dalam
keadaan bugil. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya. Ia merintih,
nafsunya mulai bangkit. Kubalikkan tubuhnya sehingga membelakangiku.
Kuciumi tengkuk, cuping telinga, leher dan punggungnya.
"Ouhh jangan kau siksa aku.. Ayo kita lanjutkan say.."
Kami kembali berbaring miring berhadapan. Kuremas dadanya dengan
kuat, kupilin putingnya. Kemaluanku cepat mengeras. Mulutnya mencari
bibirku ketika bibirku sedang menjilati lehernya. Kuangkat sebelah kaki
yang ada di atas dan kucoba memasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya.
Beberapa kali kucoba dan hanya kepala penisku yang bisa menyentuh bibir
vaginanya. Akhirnya Hanny memajukan pantatnya, dada dan kepalanya
menjauh dari tubuhku. Dalam posisi demikian akhirnya dengan kerja keras
aku bisa menembus guanya.
Kudorong pantatku maju mundur dengan pelan. Agak sulit melakukannya
dalam posisi miring. Kuputar badannya, tubuhku kini ada di atasnya.
Kugenjot vaginanya. Tak berapa lama kembali ia memainkan otot
vaginanya. Aku membiarkan ia bermain sendiri tanpa membalas kedutan
ototnya.
Pantatku kunaik-turunkan dan rasa nikmat menjalar di sekujur tubuh
kami. Kadang pantatku kugantung dan ia menaikkan pantatnya, menyongsong
dari bawah. Demikian dalam posisi ini kami bertahan beberapa saat
sampai akhirnya aku merasakan denyutan yang kuat di ujung penis dan
sualtu liran yang cepat mengalir dalam saluran kencingku.
Keringat sudah membanjir di tubuh kami. Dinginnya udara tidak
terasa lagi. Kupacu kudaku mendaki lereng terjal menuju ke puncak penuh
kenikmatan. Kami saling memagut, mencium, meremas dan menjilat bagian
tubuh yang bisa kami capai dengan mulut dan tangan kami.
"Aku tidak tahan lagi. Hebat kamu To, aku keluar.. Oukhh"
"Eeahh.. Haahhnn .. Nnyyhh!"
Ia berteriak dan melengkungkan badannya. Kuselesaikan permainan ini
dengan sempurna. Kutekan kemaluanku sedalam yang aku bisa. Tangannya
mencengkeram handuk. Sunyi sejenak tanpa ada suara apapun kecuali napas
kami yang hampir putus.
Hanny memutarkan tubuhnya tanpa melepaskan kemaluanku, dalam posisi di atasku.
"Luar biasa kamu Anto, aku.. Seperti.. Tidak mau melepaskanmu".
"Akupun sangat puas, permainanmu juga hebatth", kataku sambil mengacungkan jempol.
Kami turun ke Bogor dan pulang ke rumah. Malamnya ia ke kamar kosku
sambil membawa sekantung anggur hijau untukku. Ia memberi kode jari
tengah bertemu dengan ibu jari. Aku menggeleng, kukatakan bahwa
tenagaku sudah habis, nanti malah kamu kecewa. Luar biasa wanita ini,
seakan gairahnya tidak pernah padam. Ia tersenyum, mengerti dengan
keadaanku yang memang sangat kelelahan. Akhirnya ia pulang dan akupun
tidur dengan memeluk guling erat-erat.
Pengalaman berikutnya terjadi setelah kami bergumul ria di sebuah
bungalow di kawasan Puncak. Sengaja kami memilih bungalow yang paling
ujung dan sudut. Di belakang bungalow ada tanah kosong yang ditanami
rerumputan selebar tiga meter dan kemudian dibatasi dengan tembok yang
mengelilingi kompleks bungalow. Keadaan di belakang bungalow ini tidak
akan terlihat dari sudut manapun.
Satu babak permainan yang panjang dan liar sudah kami selesaikan
dengan satu hentakan dan dengusan napas panjang. Keadaan ranjang
berantakan sekali. Sprei sudah terlepas dan tersingkap kemana-mana.
Bantal dan guling berjatuhan di lantai. Pakaian berceceran di lantai.
Setelah mandi bersama dengan air panas kubawa kursi plastik tanpa
sandaran tangan yang ada di teras bungalow ke belakang. Aku
bertelanjang ada, hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam.
Kupikir mengenakan celana dalampun percuma. Tetanggaku yang binal ini
masih minta extra show.
Aku duduk sambil mengamati bunga yang banyak tumbuh di sana.
Sejuknya udara puncak membuatku berniat masuk ke kamar. Tapi sebelum
aku beranjak Hanny telah menyusulku dengan mengenakan jubah mandi. Aku
yakin 101%, dia tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya.
"Enak juga duduk disini, sepi", katanya sambil menjatuhkan pantatnya di pangkuanku. Tangannya langsung merangkul leherku. Hhh..
Kami mengobrol sambil sementara tubuhnya masih berada dipangkuanku.
Sejuknya udara hilang begitu saja karena panas tubuh kami yang saling
menghangatkan. Hanny mulai menggelitik telingaku dengan lidahnya,
"Lagi dong.. Yang!" bisiknya lirih.
Kuubah posisi duduknya sehingga ia kupangku dengan tubuh
berhadapan. Kutarik rambutnya ke belakang sehingga kepalanya menengadah
dan lehernya yang putih mulus segera basah oleh jilatan dan kecupanku.
Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian kutarik tali
jubah mandinya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok putih
mulus dengan puting yang coklat kemerahan terasa menantang untuk
kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin mengeras.
"Ohh.. Teruss To.. Teruss..!" desahnya.
Kuhisap-hisap putingnya yang keras seperti kelereng, sementara
tangan kiriku meremas pinggang dan buah pantatnya. Desahan kenikmatan
semakin keras terdengar dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke
ketiaknya. Hanny mengangkat lengannya untuk memberikan kesempatan
padaku menciumi ketiaknya. Ia kegelian sambil mendesah, matanya
terpejam dan kepalanya menengadah.
Ia mengikik ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri
menempel pada perutnya. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku
serta meremas-remasnya.
"Oh.., ennaakk.., terussh..!"
Desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh.
Ia kemudian melepaskan pelukanku dan berjongkok. Ditariknya celanaku
hingga terlepas dan dengan serta merta melumat kepala kejantananku.
"Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat.." Dikeluarkannya seluruh kemahirannya.
Ia tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk berbuat banyak
kecuali merintih dan memegang kepalanya. Dengan semangat, bibirnya
mengulum dan tangannya mengurut kejantananku. Aku terbuai dengan sejuta
kenikmatan. Tangannya terus mengocok, dan mulutnya terus melumat dan
memaju-mundurkan kepalanya.
"Oh.. aduhh..!" teriakku dengan penuh kenikmatan.
Kuangkat lengannya, kami berdiri, kemudian berputar, kududukkan dia
di atas kursi. Ia mengerti maksudku. Posisi duduknya agak maju, kakinya
dibuka lebar. Kusibakkan pahanya semaik lebar. Aku melihat vaginanya
yang berwarna merah muda dengan rumput hitam yang tebal tapi ditata
rapi..
Aku berjongkok di depannya. Jari tengah dan ibu jariku membuka
vaginanya. Dengan penuh nafsu, aku menciumi kemaluannya dan kujilati
seluruh bibir luar dan sampai bibir dalamnya.
"Oh.. teruss.. An.. To.. Aduhh.. Nikmat..".
Aku terus mempermainkan klitorisnya yang sebesar biji kacang tanah.
Seperti orang yang sedang berciuman, bibirku merapat di belahan
vaginanya dan lidahku terus berputar-putar di dalamnya.
"Anto.. oh.. teruss sayamgg.. Oh.. Hhh!!".
Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuat
gairahku berkobar. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikan aksi
lidahku.
"OOoh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss.." teriakannya semakin merintih.
Ia menekan kepalaku dan menjepit dengan pahanya. Ia mengangkat
pinggul, cairan lendir yang keluar dari dinding vaginanya semakin
membanjir. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak
memberikan kesempatan padanya untuk melepaskan kepalaku. Vaginanya
sudah basah terkena ludah bercampur lendirnya. Aku jilat lagi, terasa
sedikit asin tapi nikmat.
"Sudah To.. Sudah.. Ayo kita..!!"
Aku meraih tangannya dan kubaringkan di atas rumput. Rambutnya
sudah awut-awutan, jubah mandinya sudah melorot. Dengan sedikit
mengerakkan badan, maka jubah mandinya pun terlepas, menjadi alas
tempat kami bergulat. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir.
Ternyata, wanita cantik ini benar-benar sangat agresif dan ekspresif.
Kugulingkan badanku, aku ingin untuk sementara ia yang
mengendalikan kapal. Ia menjilat leher kemudian dada dan putingku. Aku
merasakan nikmat yang luar biasa. Hanny tersenyum. Lalu kucium
bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya dimasukkan ke dalam mulutku,
menari dalam rongga mulutku dan menjilati langit-langit mulutku. Aku
membalas dengan mengulum dan menghisap lidahnya.
Gairah kami semakin bergelora dan kini saatnya untuk menimba
kenikmatan. Kutarik buah kejantananku sehingga kelihatan semakin tegak
dan memanjang. Pinggulnya naik dan bergerak di atas pahaku. Kumasukkan
kejantannaku ke dalam vaginanya yang basah. Blesshh..
"Hhhahh!! Ooh.., enakk..".
Tanpa mengalami hambatan, kejantananku terus menerjang ke dalam vaginanya.
"Oh.., Gimana.. Rasanya sayang.., Ouuh!!" ia berbisik.
Batang penisku sepeti dipilin-pilin. Hanny terus menggoyangkan pinggulnya.
"Oh.. Hannyku.. Terus.. Sayang.. Mmhhkk..".
Pinggulnya kuhujamkan lagi lebih dalam. Hanny dengan hentakan
pinggulnya yang maju mundur, naik turun dan berputar semakin
menenggelamkan kontolku ke liang kenikmatannya.
"Oh.. Isap dadaku.. Sayaangg, remass.. Terus.. Oh.. Uhhu..!" Erangan dan rintihan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
"Oh.. Hanny.., terus lebih cepat..", teriakku menambah semangatnya.
Goyangan pinggulnya semakin di percepat. Tangannya menekan kuat
dadaku. Aku menaikkan pinggulku dan bergerak melawan arah gerakan
pinggulnya agar bisa saling memberikan kenikmatan.
"Ahh.. Ah.., aku.. Cepat.. Aku.. Maa.. Uu.. Keluuaarr.. Oh..!" ia mendesah.
"Jangan.. Ta.. Han dulu aku masih ingin menik.. Mati tu.. Buh.. Mu!" kataku terengah-engah.
Aku tahu wanita ini hampir mencapai puncak kulminasi kepuasannya.
Kemudian aku membalikkan tubuhnya, sehingga posisinya di bawah.
Kuputar dan kunaikturunkan pinggulku. Iapun membalasnya dengan gerakan
berlawanan. Kalau aku berputar ke kiri, ia ke kanan. Kalau aku
menaikkan pinggul ia menurunkannya dan ketika aku menurunkan pinggulku,
maka pinggulnya pun naik menyambut hantamanku sambil memekik kecil.
Kuberikan isyarat agar berhenti dulu sambil beristirahat sejenak.
Kami hanya berdiam dengan saling memeluk. Kali ini tidak ada erangan
atau pekikan. Yang ada hanya desisan kecil dan desahan lembut. Otot
kemaluan kami saling berkontraksi. Rasanya kejantananku seperti diisap
oleh sesuatu yang lembut. Tangannya terus mengelus punggung dan
pinggangku.
Setelah beberapa saat berdiam, maka dengan perlahan aku mulai
menggenjotnya lagi. Kuberikan irama 7-1. Aku menggenjotnya dengan pelan
tujuh kali dan berikutnya kuhempaskan seluruh berat tubuhku di atas
tubuhnya.
"Hhgghhkk..". Ia menahan napas menahan gempuranku.
Bibirnya mengejar putingku dan mengulumnya.
"Ohh.. Hanny.. Geli.. Desahku lirih. Namun Hanny tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum putingku kanan kiri berganti-ganti.
Karena rangsangan pada putingku maka kupercepat genjotanku sehingga ia memekik-mekik kecil.
"Oh.. Anto.. Nikmatnya.. Jantanku.. Kamu..!"
Ia diam hanya menunggu dan menikmati gerakanku. Beberapa saat ia
hanya diam saja, seolah-olah pasrah. Aku menjadi gemas, kutarik
rambutnya kebelakang. Dadanya naik dan kugigit putingnya. Kukecup
gundukan payudaranya kuat sampai memerah
"Ouhh.. Sakit.. Ped.. Dih. Ouhh..!"
Kurasakan aku tidak akan kuat lagi menahan desakan dalam saluran
kencingku. Kutatap matanya dan kubisikkan," Sekarang.. Yang..
Sekarang".
Ia mengangguk lemah," Yyachh.. Eghhkk".
Begitu semprotan pertama kurasakan sudah diujung laras meriamku,
maka kembali kuhempaskan tubuhku ke bawah. Hanny menyambutnya dengan
menaikkan pinggulnya kemudian memutar dengan cepat dan kembali turun.
Tangannya menjambak rambutku dan kemudian memukul-mukul rerumputan.
Akupun menarik rambutnya dan kepalaku kutekan di lehernya.
"Oh.. To.. Anto.. kau begitu pintar memuaskanku. Gila.. Kau liar sekali kuda arabku", ujarnya.
Denyutan-demi denyutan berlalu dan semakin melemah. Kukecup kening dan bibirnya dan menggelosor di sampingnya.
"Kalau begini terus rasanya aku tidak usah pakai pakaian saja To" katanya mesra sambil mengusap-usap dadaku.
Setelah beberapa lamanya berpelukan dan beberapa kali ciuman ringan, udara dingin kembali terasa.
Kami masuk ke dalam. Mandi berpelukan berendam dalam air hangat dan
memejamkan mata. Setelah itu kami makan sate kambing dan minum air jahe
untuk bekal pertempuran berikutnya. Aku sebenarnya sudah puas dan
cukup, namun karena ia memintanya lagi maka aku harus bersiap lagi.
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,611 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,721 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,931 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,261 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,234 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,361 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,632 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,361 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,452 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,290 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,234 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,123 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,202 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,290 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,239 |
|
|
|
|
|
|
|