|
|
Tidak terasa sudah hampir setahun aku tinggal
disana dan berolah tubuh dengan Hanny, tetangga kosku. Selama menjalin
hubungan dengan Hanny, sempat kucicipi kehangatan tubuh beberapa wanita
lain. Tentu saja tanpa sepengetahuan Hanny. Ada Titin yang karyawan
pabrik garment di Cibinong, ada Ida sang Wanita Penjaga Showroom dan
Wiwik, wanita bersuami yang menjadikan aku oase tempat pemuas
dahaganya.
Rencana penelitian skripsiku sudah disetujui pembimbing dan
seminggu lagi aku harus berangkat ke Banyuwangi selama dua bulan untuk
melakukan penelitian tentang kehidupan masyarakat nelayan di sana.
Akupun sudah memberitahu Hanny mengenai rencana keberangkatanku.
Aku sudah mulai "bosan" dengan Hanny. Dalam arti begini, setiap
kali bertemu untuk bercinta rasanya sudah cukup sekali saja aku orgasme
atau paling banyak dua kali. Terakhir kali bercinta seharian pada
minggu lalu kubiarkan ia mengejang sampai empat kali, sementara aku
hanya dua kali menembakkan amunisi senjata biologisku.
Tiga hari sebelum berangkat kami hanya sempat Quicky.. Quicky di
atas sofa ruang tamunya. Ia sebenarnya menginginkan permainan yang
panjang dan lama. Namun karena keadaan tidak memungkinkan, dia hanya
bisa membekaliku dengan beberapa gigitan memerah di bahu dan dadaku.
Selama di lokasi penelitian aku sempat merasakan kehangatan tubuh
wanita di sana. Dua kali pada saat menyeberang ke Bali untuk
mendapatkan data pembanding, aku melakukannya dengan PSK. Namun klimaks
yang kucapai terasa hambar. Hanya sekedar ejakulasi untuk menumpahkan
mani yang sudah penuh. Namun secara emosional aku tidak terpuaskan.
Dua bulan berlalu dengan cepat..
Aku kembali di rumah menjelang tengah malam. Badanku terasa remuk
semua setelah melintasi pulau Jawa dari ujung timur sampai hampir di
ujung baratnya. Langsung aku tertidur sampai agak siang. Suara Hanny
menyapu di pekarangannya tidak mampu membangunkanku. Aku bangun setelah
matahari sepenggalah. Setelah mandi dan membereskan pakaian kotor,
terasa perutku lapar sekali.
Hanny melambaikan tangannya ketika aku melintas di depan rumahnya.
"Anto!! Kapan kamu sampai!"
"Tadi malam Bu?" kataku agak kikuk setelah selama dua bulan tidak bertemu dia.
Juga kebetulan dari arah berlawanan ada tetangga yang juga lewat. Dia memandangiku dengan mata berbinar-binar.
"Kamu tambah hitam dan agak kurusan sedikit," katanya setelah mengamatiku sesaat.
"Yahh, selama dua bulan terus berjemur di panas matahari, makan
juga teratur. Sehari dua kali, pagi dan sore karena siang masih di
lapangan", kataku.
Diam sesaat.
"Ya sudah. Kamu istirahat dulu, nanti kukirim air jahe agar
tenagamu cepat pulih. Lusa aku berangkat ke Ciamis, ada saudara yang
mau menikah. Aku sudah bilang Pak Edi. Eka tidak ikut karena belum
liburan. Karena kamu sudah tiba di sini, maka jadwal perjalananku
berubah. Kita bisa merasakan asinnya air laut Pangandaran. Aku akan
ngomong lagi sama Pak Edi sampai berapa hari berada di Ciamis".
Kupikir dalam beberapa hari ke depan aku tidak sibuk. Konsep
laporan penelitianku sudah kusiapkan dari lapangan, rencananya akan
kubaca lagi dan kuserahkan ke dosen pembimbing seminggu lagi. Huuhh!!
Rekreasi tapi sekaligus kerja keras lagi.
Lusanya kami berangkat pada malam hari. Perjalanan ke Banjar tidak
terasa lama, karena di sepanjang perjalanan tangan kami sibuk bekerja
menyatakan keinginan dan kerinduan kami masing-masing. Dari Banjar kami
melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Agak siang kami tiba di
Pangandaran.
Kami masih merasakan lelah karena perjalanan tadi. Sampai di kamar
sebuah hotel kami langsung mandi berdua dengan melakukan sentuhan dan
kecupan ringan sebagai pemanasan. Kamar yang cukup indah, terletak di
lantai dua dengan pandangan sea view di bagian selatan. Di bagian timur
dan barat ada jendela kecil untuk memandang sunrise dan sunset. Bed
cover warna biru laut menambah sejuk dan menciptakan suasana santai.
Kami merencanakan untuk istirahat dulu dan nanti sore baru mulai
menikmati indahnya Pangandaran.
Menjelang tengah hari kami bangun dan makan siang. Kami pilih
restoran dengan menu sea food. Setelah melihat-lihat menu aku putuskan
untuk memesan udang dan kerang sekalian sebagai aphrodisiac, makanan
penambah tenaga seksual.
Setelah makan kami kembali lagi ke hotel dan duduk-duduk memandang
ombak laut selatan yang berkejaran dan memecah di pantai. Beberapa lama
kemudian matahari sudah mulai condong ke barat. Cuaca sedikit berawan
sehingga panas mataharipun agak tereduksi, namun kuperkirakan tidak
akan turun hujan. Kuajak Hanny untuk jalan dan berenang di Pananjung
sambil menunggu sunset. Kubisikkan agar membawa pakaian ganti, namun
sekarang ini tidak usah mengenakan pakaian dalam. Iapun mengerti kalau
aku mengajaknya outward adventure di pantai.
Ia mengenakan baju lengan panjang yang agak tebal agar putingnya
tidak membayang dari luar, aku mengenakan kaus lengan pendek. Kami
sama-sama mengenakan celana pantai yang longgar. Pakaian ganti dan
handuk kumasukkan ke dalam tas kecil dan kusandang di bahu.
Kamipun masuk ke Pananjung melalui gerbang Taman Wisatanya. Kami
memilih jalan-jalan setapak yang jarang dilintasi orang. Bahkan
kadang-kadang menerobos semak-semak. Kalau keadaan sekitarnya kelihatan
aman dan sepi, maka kamipun dapat melakukan ciuman, rabaan dan remasan
ringan. Ia sangat menikmati perjalanan pendek ke pantai Pananjung ini.
Perjalanan yang normalnya paling lama ditempuh tigapuluh menit, kami
lakukan dengan santai dan berbelok-belok sehingga setelah sejam lebih
kami baru menginjakkan kaki di atas pasir.
Kami terus berjalan di pantai ke arah timur sampai agak jauh dan
tidak ada orang lagi yang ada di sana. Kusergap dia dari belakang dan
kubanting pelan ke atas pasir. Kuterkam dan kamipun bergulingan di atas
pasir yang basah. Kami masih terus berpelukan, berciuman dan
berguling-guling. Ketika ombak memecah di pantai, maka tubuh dan
pakaian kamipun menjadi basah. Kami saling menatap dan tertawa
bersama-sama dan kembali berpelukan lagi.
Kubopong tubuhnya dan kuceburkan di air. Ia berteriak-teriak lepas
dan menarik tanganku sehingga akupun juga terjatuh di air. Ia makin
tertawa senang dan menekan bahuku. Kami terus bermain air sambil
berciuman dan mengusap tubuh pasangan kami. Bibir kami ikut basah oleh
air laut yang asin, sehingga ketika berciuman juga terasa sedikit asin.
Namun hal ini tidak mengurangi kenikmatannya, bahkan terasa lebih
nikmat karena ada rasa yang baru yang sebelumnya belum pernah
dilakukan.
Ciuman dan remasanlu semakin lama semakin ganas. Iapun mengerti
kalau nafsuku sudah mulai bangkit. Ia mengajakku ke luar dari air.
Sambil tetap berciuman kami keluar dari air perlahan-lahan. Handuk
besar dari dalam tas kami keluarkan dan kuhamparkan di atas rumput yang
terlindung semak-semak agak jauh dari bibir pantai. Beberapa detik
kemudian kamipun sudah saling melepas pakaian.
Kubaringkan ia di atas handuk dan segera kupeluk dan kucium. Ia
mendesah dan menggesek-gesekkan pipinya pada pipiku. Bibirnya mengulum
daun telingaku dan mendesah.
"Ohh.. Anto. Dua bulan lebih aku menunggu saat-saat seperti ini".
Kuciumi telinganya dan kubisikkan,"Hannyku, akan kutumpahkan kerinduanku dan memuaskan penantianmu..".
"Pasti penuh dan kental manimu. Selama dua bulan lebih tidak dikeluarkan. Sirami milikku dengan airmu," katanya.
Kepalaku kubenamkan ke dadanya dan beraksi mencium dadanya yang
padat kemudian menggigit belahan dadanya dan menjilati putingnya. Masih
ada sisa-sisa air laut.
Kejantananku mulai bereaksi ketika tangannya menyusup di antara
pahaku. Pelan tapi pasti kejantananku mulai membesar sehingga terasa
mulai mengganjal. Kunaikkan pantatku untuk mengurangi rasa tekanan
kejantananku pada perutnya. Kemudian tangannya mengarahkan kejantananku
sehingga kepalanya berada sedikit di bawah pusar.
Tangannya kebawah, kemudian meraba, mengusap serta memainkan penisku.
Kini kepalaku bergerak ke leher, dada, menjilt putingnya dengan
jilatan ringan kemudian terus ke bawah sampai di selangkangannya. Aku
mulai menjilati dan memainkan tonjolan daging kecil bi bagian depan
vaginanya. Bibir vaginanya yang berwarna kemerahan kuusap dengan bagian
dalam telunjukku. Kembali rasa asin menempel di lidahku, namun kemudian
berubah menjadi rasa air yang segar agak lengket.
Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika clitnya kujilat dan
kujepit dengan kedua bibirku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia
merengek-rengek agar aku menhentikan aksiku dan segera melancarkan
serangan terakhir, namun aku sendiri masih ingin menikmati dan
melakukan foreplay yang lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu.
Tangan kirinya memegang kepalaku dan menekankannya ke celah pahanya.
Tangan kanannya meremas-remas payudaranya.
Kepalaku kulepas dari selangkanganku dan kemudian mulutku bermain
dengan puting payudaranya. Hanny kelihatannya tidak sabar lagi dan
dengan sekali gerakan tangannya suda memegang kemudian mengocok penisku
dan menggesekkannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan
payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang.
Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian mencari-cari bibirnya yang
sudah setengah terbuka. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari
sasarannya.
Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.
"Anto.. Kumohon.. Masukk.. Kan!"
Tangannya menarik penisku dan memasukkan ke dalam guanya yang sudah
basah. Aku tidak melawan dan segera kutancapkan penisku dalam-dalam ke
dalam liang vaginanya.
Hanny bergerak menentang arah gerakanku untuk menghasilkan
kenikmatan yang semakin dalam. Aku bergerak semakin cepat dan mulai
kurasakan aliran yang tidak terkendali di tubuhku. Aku ingin segera
mengeluarkannya namun aku harus memuaskannya terlebih daulu. Aku
menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak-gerak liar. Gerakan
demi gerakan, teriakan demi teriakan dan akhirnya Hanny sampai ke
puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.
"Aachhkk.. Anto.. Ouhh".
Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Untuk memaksimalkan
kepuasannya maka kutekankan penisku ke dalam vaginanya. Ketika dinding
vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot Kegelku. Iapun
kembali mengejang setiap kali otot Kegelku kugerakkan.
Sejenak kubiarkan ia beristirahat tanpa mencabut penisku. Kami
saling mengusap tubuh satu sama lain. Aku merasakan ada beberapa pasang
mata yang mengintip di balik semak-semak.
"Ada yang ngintip Han!" kataku.
"Biar saja, selagi mereka tidak mengganggu kita. Paling hanya
anak-anak kampung atau sesama turis yang tersesat. Aku malah merasa
semakin nikmat kalau diintip," katanya tenang.
Ketika gairahnya kembali bangkit, maka aku mengenjotnya lagi dengan
perlahan untuk mengembalikan ketegangan penisku yang sudah mulai
menurun karena ketika kami beristirahat tidak ada rangsangan
kenikmatan. Aku memeluknya kembali, kemudian mengencangkan penisku dan
menggenjotnya lagi.
Setelah kurasakan penisku mengeras kembali, maka kuberikan isyarat
untuk doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat mengambil posisi
menungging, namun kutahan. Kuangkat kaki kirinya dan kuputar melewati
kepalaku. Ia sudah membelakangiku dalam keadaan berbaring. Pantatnya
dinaikkan sedikit dan kugenjot lagi vaginanya. Kurebahkan badanku di
atasnya. Kami berciuman dalam posisi ia kunaiki tengkurap, sementara
kemaluan kami masih terus bertaut dan menjalankan kegiatannya.
Aku menusuk vaginanya berulang kali. Ia pun mendesah sambil meremas
rumput di dekatnya. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik
pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang
disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir dua puluh menit permainan
kami yang kedua ini, Hanny semakin keras berteriak dan
sebentar-sebentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan
hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.
Hanny berbalik telentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas
tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Akhirnya aku merasa hampir
mencapai puncak dari kenikmatan ini. Kutarik buah zakarku sehingga
penisku keliatan agak memanjang.
"Hanny, kayaknya aku nggak tahan lagi, aku mau keluar," teriakku.
"Ouhh.. Tunggu dulu.. Sebentar lagi.. Kita sama..".
Napas kami semakin terengah-engah. Kukendorkan sebentar otot
Kegelku dan kemudian kukencangkan, kutahan dan kugenjot lagi dengan
cepat.
Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,613 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,724 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,931 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,264 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,234 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,361 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,633 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,361 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,452 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,290 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,235 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,123 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,202 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,290 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,239 |
|
|
|
|
|
|
|