|
|
Dari bagian 1 Deburan ombak di pantai juga seolah-olah menambah semangatku.
Kupercepat gerakanku seakan berlomba dengan ombak yang berkejaran.
Akhirnya tak lama kemudian kami bersama mencapai titik trianggulasi
tertinggi. Aku menyemprotkan spermaku terlebih dahulu. Hanny semakin
cepat menggerakkan tubuhnya agar tidak ketinggalan dan tak lama
Hannypun mendapatkan puncaknya ketika penisku masih menyemburkan
sisa-sisa lahar kenikmatan. Setelah itu kami terbaring lemas. Sekilas
terlihat bayangan orang yang mengendap-endap menjauh.
Setelah mandi dan berenang lagi sebentar, maka kamipun duduk
menikmati sunset dan segera pulang ke hotel. Dalam perjalanan ke hotel,
Hanny singgah sebentar di sebuah kios.
"Kamu tunggu saja di sini, ada yang mau kubeli!" katanya.
Aku tidak berpikir apa-apa, paling dia beli air minum atau makanan
kecil. Tiba-tiba aku melihat di samping kios tadi ada toko obat. Entah
bagaimana tiba-tiba timbul keinginanku untuk merasakan bersetubuh
dengan menggunakan kondom. Selama ini kami bersetubuh secara alami,
karena toh dia juga masih ikut KB suntik. Selagi Hanny sibuk di kedai,
maka akupun membeli sekotak kondom dan kusimpan di saku celanaku.
Kami tiba di kamar hotel dan segera mandi untuk menghilangkan rasa
lengket akibat air asin. Setelah mandi, badan terasa segar dan perut
terasa lapar. Kami makan di sebuah rumah makan kecil di dekat hotel.
Rumah makan yang cukup bersih dan asri, hanya berdinding anyaman bambu
setinggi dada. Bau khas laut terbawa angin yang bertiup perlahan.
Setelah makan, langit sudah mulai gelap. Bulan di arah timur sudah
mulai muncul. Kupikir-pikir malam ini belumlah purnama penuh, paling
tanggal 12-13 menurut kalender Jawa. Kami berjalan menyusuri pantai
sampai ke ujung, dan kembali lagi ke arah hotel.
Sekitar jam sembilan kami sudah sampai di hotel dan duduk di teras
hotel sambil memandang laut. Hanny sudah berganti pakaian dengan baju
yang bagian atasnya terbuka berwarna pink dan celana pendek dari jeans.
Branya yang berwarna hitam dengan model tanpa tali di bahu terlihat
tidak mampu menampung buah dadanya. Ia duduk di atas pagar teras kamar
dan aku memeluk dari samping, sambil bibirku mulai bekerja memberikan
pemanasan, menciumi daerah leher, pelipis dan sekitarnya.
Angin mulai bertiup agak kencang sehingga Hanny mulai menggigil.
Tanganku dipegangnya dan didekapkan di dadanya. Kubisikkan di
telinganya, "Daripada kita kedinginan lebih baik kita panaskan dulu
suasana ini!"
Ia tidak menjawab namun tubuhnya turun merosot dari pagar teras
tempat ia duduk dan kemudian tangannya menggelayut di leherku. Kuangkat
tubuhnya yang montok itu. Bibirnya menempel di leherku dan segera kami
masuk ke dalam kamar.
Kumatikan lampu kamar sehingga cahaya bulan yang kuning keemasan
menerangi kamar kami. Ketika aku hendak menyalakan lampu tidur, ia
menahanku, "Aku ingin bercinta dengan diterangi cahaya bulan malam
ini," katanya.
Tidak lama kami sudah berpelukan di atas ranjang. Tak lama kemudian
tubuh bagian bawahnya sudah telanjang, sementara aku sudah telanjang
bulat. Aku sengaja belum membuka bajunya karena ingin menikmati
pemandangan di depanku ini.
Tubuh yang putih mengenakan pakaian tipis terbuka di atas sedang
berbaring di ranjang dengan bed cover biru laut diterpa sinar bulan
kuning keemasan. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Sementara
di bagian pangkal pahanya terbayang sejumlah rumput hitam yang rapi
mengitari sebuah telaga. Ia membuka pahanya sehingga telaganya yang
berwarna kemerahan sangat menantang. Aku hanya diam dan mengelus-elus
perutnya.
"Kamu cuma akan memandangi aku begini terus atau..".
Belum habis kata-katanya kucium bibirnya dan aksiku pun segera
berlanjut. Kutindih dan kujelajahi sekujur tubuhnya dengan jariku.
Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik.
"Ouuhh.. Anto.. Jantanku.. Terserah kamu apapun yang akan kau lakukan..".
"Aku akan memuaskanmu sampai kamu tidak ingin berhenti.." kataku membalas bisikannya.
"Ouhh.. Apa.. Saja. Akhh..!"
Dari bibir lidahku turun ke dada dan ke samping, mengecup pinggul
dan pinggangnya, kemudian ke arah pahanya. Hidungku kutempelkan di
bibir vaginanya. Tercium aroma harum dan segar. Kulebarkan pahanya
kuberikan rangsangan di sekitar pangkal pahanya tanpa menyentuh
vaginanya. Ketika kugigit pahanya sampai merah ia memekik.
"Antoo.. Jangan.. Sudah To!" pekiknya.
Kepalaku kembali ke dadanya dan kuminta dia untuk berguling ke
atas. Dengan cepat kami berguling. Kuraih bagian bawah bajunya dan
dengan cepat kulepaskan lewat kepalanya. Kukecup gundukan payudaranya
yang keluar dari cupnya. Bra-nya dengan sekali jentikan jariku kemudian
terlepas. Kusambut payudaranya dengan jilatan lidahku melingkari
sekitar puting dan dengan sekali jilatan halus.
Hanny memencet pangkal payudaranya sehingga payudaranya seperti
mengencang. Hanny kemudian membawa payudaranya ke mulutku dan kusambut
dengan rakus seperti bayi yang sedang kehausan susu ibunya. Kugantikan
posisi tangannya dan kuremas. Ujung putingnya kujilat dan kumainkan
dengan gigitan lembut bibirku. Ia semakin terangsang dan ingin segera
mendaki lereng kenikmatan.
Tangannya mengocok penisku dengan lembut. Dikecupnya kepala
penisku, diratakannya cairan bening yang sudah mulai keluar dari lubang
kencingku dengan mulutnya. Aku menahan napas ketika lidahnya menjilati
lubang kencingku. Kini ia jongkok di atas pahaku dan mulai mengarahkan
penisku ke dalam liang vaginanya.
Aku tiba-tiba ingat akan keinginanku. Kuambil kondom yang tadi
kusisipkan di bawah bantal. Hanny melihatnya dan menyatakan protes.
"Ihh, ngapain pakai kondom, nggak nikmat. Nggak, aku nggak mau".
Aku menjelaskan bahwa aku ingin mencoba rasanya bersetubuh dengan
menggunakan kondom. Akhirnya kami bersepakat coba saja dulu, kalau
nanti kurang nyaman tinggal cabut saja.
Kini ia menyobek bungkus kondom tadi. Dikocoknya penisku sebentar
sampai menegang maksimal, kemudian dipasangnya kondom tadi dengan
hati-hati di ujung penisku dan dibuka gulungannya ke batang penisku.
Rasanya agak asing, seperti ada permukaan licin dan sedikit berminyak.
Hanny segera mengarahkan penisku, melanjutkan pekerjaan yang
tertunda sebentar dan tak lama peniskupun masuk ke dalam liang
vaginanya. Rasanya memang berbeda, sepertinya penisku diselaputi lendir
yang licin, sehingga gesekan kulit penisku dengan dinding vaginanya
kurang terasa. Kukeraskan ototku sedikit dan Hannypun mulai
menggerakkan pantatnya. Ia seperti penunggang kuda yang sedang memacu
kudanya. Pantatnya bergerak naik turun dengan cepat. Aku mengimbangi
dengan gerakan pinggulku serta meremas dan mengulum payudaranya.
Gerakannya semakin cepat dan erangannya makin sering. Aku mengubah
posisiku menjadi duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam
posisi Hanny duduk di pangkuanku. Kueksplorasi seluruh tubuhnya dengan
tangan dan bibirku.
"Aaagghh.. Anto..," teriaknya.
Kudorong dia ke arah yang berlawanan dengan posisi tidur kami
semula. Kini aku berada di atasnya dan mulai mengatur irama permainan.
Bibirku bergerak ke leher dan menjilatinya. Tangannya mengusap punggung
dan pinggang sampai pantatku.
Tanganku meremas lembut payudaranya dari pangkal kemudian kutarik
ke arah puting. Kutarik putingnya sedikit dan kujilati sekitarnya yang
juga berwarna kemerahan. Kutekan payudaranya dengan telapak tangan dan
kuputar-putar.
Kususuri buah dadanya dengan bibirku tanpa mengenai putingnya. Ia
bergerak tidak menentu. Semakin ia bergerak maka payudaranya ikut
bergoyang. Jilatanku makin ganas mengitari tonjolan kemerahan itu.
"To.. Aku.. Isep.. Isep dong.. Yang," pintanya.
Aku masih mempermainkan gairahnya dengan jilatan halus di putingnya
itu. Umi mendorong buah dadanya ke mulutku, dan putingnya langsung
masuk ke mulutku, dan kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian.
Tanganku mulai bermain di vaginanya semakin basah oleh lendir yang
mengalir.
Jariku tengah tangan kiriku kumasukkan ke dalam vaginanya dan
kukocok keluar masuk sambil menekan bagian atas dinding vaginanya.
Lumatan bibirku di puting Umi makin ganas. Ia semakin liar bergerak.
"Aaagh.." ia memekik-mekik.
Vagina Hanny makin lembab, namun tidak sampai banjir. Hanny
langsung mendesis keras ketika merasakan hunjaman penisku yang
menyodoknya bertubi-tubi. Tangannya mencengkeram punggungku. Gerakan
naik turunku diimbangi dengan memutarkan pinggulnya. Semakin lama
gerakan kami semakin cepat dan liar.
Ia semakin sering memekik dan mengerang. Kuku tangannya kadang
mencakar punggungku. Kutarik rambutnya dengan satu tarikan kuat,
kukecup lehernya dan kugigit bahunya.
"Ouhh.. Ehh.. Yyyeesshh!"
Kugenjot Hanny dengan cepat dan menghentak-hentak. Kuganti irama
gerakanku. Kumasukkan penisku setengahnya dan kucabut sampai tinggal
kepalanya yang terbenam beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan
pantatku dengan keras. Hanny pun menjerit tertahan dan wajahnya
mendongak.
Pinggulnya yang tidak pernah berhenti untuk bergoyang dan berputar
semakin menambah kenikmatan yang terjadi. Jepitan vaginanya yang
menyempit ditambah dengan gerakan pinggulnya membuatku semakin
bergairah.
Aku menurunkan irama untuk mengurangi rasa nikmat yang
meledak-ledak. Penisku kubiarkan tertanam di dalam vaginanya dan
kemudian aku menggerakkan otot kemaluanku. Terasa penisku berkontraksi
mendesak dinding vaginanya dan ketika aku melepaskan kontraksiku,
kurasakan dinding vaginanya menyempit meremas penisku. Ia sudah sangat
menguasai gerakan ini dengan latihan yang lama.
Hanya suara desahan yang terdengar di dalam kamar. Ia memberi isyarat untuk menyelesaikan permainan ini.
"Lepas kondomnya To. Aku ingin merasakan panasnya lahar gairahmu," ia mendesah.
Kucabut penisku dan dengan cepat ditariknya kondom yang terpasang
di penisku. Kembali kami berpelukan dan bergerak liar tanpa
menghiraukan tubuh kami yang basah oleh keringat kami.
Hanny semakin cepat menggerakkan pantatnya sampai penisku terasa
disedot oleh satu pusaran yang sangat kuat. Hanny meremas rambutku dan
membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya menjepit erat pinggulku.
Badannya meronta-ronta, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan,
tangannya semakin kuat menjambak rambutku dan menekan kepalaku lebih
keras lagi ke dadanya.
Aku pun semakin bergairah untuk menghujani kenikmatan kepada Hanny yang tidak berhenti mengerang.
"Aaahh.. Ssshh.. Ssshh"
Gerakan tubuh kami semakin liar dan cepat.
"Ouoohh.. Nikmat.. Aku.. Sam.. Pai.."
Aku mengangguk dan iapun memekik panjang, "Ya .. Ayo.. Aaahhkk..!"
Aku mengencangkan otot kemaluanku dan menghunjamkan penisku ke
dalam vaginanya. Nafasnya tercekat sejenak dan kemudian keluarlah
erangannya. Tubuhnya kami mengejang bersama-sama. Kakinya memperketat
jepitan di pinggulku. Sedetik kemudian spermaku sudah memancar di dalam
vaginanya.
Kami menjerit tertahan "Awww.. Aduuh.. Hggkk"
Sunyi sejenak di dalam kamar. Hanya ada suara napas memburu yang
kemudian berangsur-angsur menjadi tenang. Sayup-sayup suara deburan
ombak terdengar berirama. Sampai check out pada pagi harinya kami tidak
sempat memakai pakaian lagi karena harus bergumul dua kali lagi.
Terakhir kali aku mengejang di atas tubuhnya sudah tidak ada lagi
cairan sperma yang memancar, hanya denyutan penisku saja yang
menyisakan rasa nikmat.
Paginya kuantar ia sampai ke Ciamis dan aku pulang sendirian ke Bogor dengan kenangan indah ombak Pangandaran yang bergelora.
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,613 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,726 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,931 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,266 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,234 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,361 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,634 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,362 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,452 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,290 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,235 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,123 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,202 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,290 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,239 |
|
|
|
|
|
|
|