|
|
Beberapa hari setelah pulang dari Pangandaran,
setelah jam makan malam aku dipanggil Bapak kostku. Kupikir tumben
malam-malam begini Bapak memanggilku. Sudah beberapa malam aku memang
tidak ke rumah induk, JJM ke Bogor cari suasana yang baru. Biasanya
hampir tiap malam, meskipun sebentar aku menyempatkan numpang nonton
berita di TV agar tahu kondisi terkini.
"Duduk, To!" katanya datar.
Suasana kurasakan agak asing, tidak seperti biasanya. Biasanya
tanpa disuruHPun aku sudah duduk, bahkan kadang tiduran di lantai.
Akupun duduk di depannya. Ibu kosku duduk agak jauh dari tempat kami.
"Saya mau tanya, jawab dengan jujur!" katanya lembut tapi tegas. Aku diam saja, tapi debaran jantung mulai meningkat.
"Langsung saja. Saya mulai denger bisik-bisik, kalau kamu
belakangan ini sering pergi dengan Ibu Heni?" Aku tercekat, tidak bisa
mengeluarkan suara apapun.
"Eee.. Eehh..," aku tergagap.
Pantas saja kemarin waktu aku jalan di gang, ada tetangga yang
melihatku dan memberikan isyarat pada teman bicaranya. Aku sebenarnya
bukan orang yang sensitif, namun kata-kata Bapak kosku mengingatkanku.
"Tadinya saya senang kamu bisa membantu mengajari Eka. Tapi tidak
kukira kalau kamu kemudian memanfaatkan kesempatan ini. Sayang sekali
kalau kuliahmu sampai terganggu, lagian Ibu Heni kan sudah berkeluarga.
Kenapa sih kamu tidak cari yang masih single saja?"
Aku hanya diam dan semakin menundukkan kepalaku. Setelah Bapak kosku berbicara panjang lebar menasehatiku, akhirnya dia berkata.
"Saya anggap kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Ya sudah,
mulai sekarang jauhi dia. Saya tidak melarang kamu mengajari Eka, tapi
jangan bikin affair dengan ibunya lagi. Tentu kamu pernah dengar gosip
tentang hubungannya dengan seorang pejabat. Namun demikian semuanya
terpulang kepadamu, apapun yang kau putuskan. Saya memberi nasehat
bukan karena saya pandai, namun lebih karena saya sudah lebih dahulu
lahir dan lebih dahulu menikmati masa muda!"
Aku kembali ke kamar dengan kepala berdenyut-denyut. Tapi kupikir
benar juga. Dalam hal ini memang aku yang salah. Apapun alasannya.
Sampai malam aku masih memikirkan ucapan Bapak kosku dan berpikir
tentang hubungan gelapku dengan Hanny ke depannya.
Esoknya aku menyempatkan diri bertemu dengan Hanny dan kami janjian
di sebuah kafe di Bogor. Aku berbicara panjang lebar mengulangi apa
yang sudah kudengar tadi malam. Mukanya terlihat keruh, matanya mulai
sembab dan berair.
"Aku tahu bahwa hubungan kita ini memang tidak benar dilihat dari
sisi manapun. Namun aku juga tidak dapat menahan dorongan dari hatiku
untuk selalu bertemu dan berbagi kenikmatan denganmu. Kalau harus
berpisah begitu saja, untuk saat ini aku tidak sanggup. Lebih baik kita
kurangi frekuensi pertemuan dan lebih berhati-hati memilih waktu dan
tempat pertemuan," katanya sambil terisak. Aku hanya diam dan
menggenggam jarinya.
Akhirnya kami sepakat untuk mengurangi frekuensi pertemuan dan lama
waktu pertemuan. Sejak itu kami bertemu dua atau tiga minggu sekali dan
itupun tidak dalam waktu yang lama. Selesai menumpahkan gairah, maka
kamipun segera pulang secara terpisah. Namun kadang dia masih meminta
kenikmatan ekstra sekali lagi dan kuberikan dengan Quicky.. Quicky.
Perlahan-lahan bisik-bisik tentangku pun menghilang.
Akhirnya setelah setahun setengah tinggal di kosku tersebut akupun
dinyatakan lulus dan sebulan lagi akan ada wisuda. Ketika bertemu maka
kuberitahukan kepada Hanny tentang kelulusanku dan iapun mengucapkan
selamat, "Selamat ya, sarjanaku. Nanti aku akan memberikan hadiah yang
khusus buatmu".
Menjelang wisuda akupun sudah melamar kerja di Jakarta dan diterima
sebagai staf pembukuan di sebuah perusahaan yang berkantor di sekitar
Harmoni. Namun aku minta agar dapat mulai bekerja setelah wisuda saja.
Tiga hari setelah wisuda Hanny memintaku untuk bertemu.
"Aku sebenarnya tidak mengharapkan kita berpisah. Namun aku juga
sadar bahwa jalan hidupmu tentu tidak bisa aku yang mengaturnya. Aku
kali ini ingin bercinta denganmu, mungkin untuk terakhir kalinya.
Kalaupun nanti kita masih bertemu aku sangat senang, namun kalau tidak,
pertemuan ini menjadi kenangan yang indah bagiku. Aku ingin semalaman
memelukmu. Aku sudah mencari alasan untuk pergi selama sehari semalam.
Kalaupun orang atau bahkan Pak Edi tahu aku sudah siap dengan segala
resikonya," katanya.
Ia mengajakku untuk menginap di sebuah hotel di Ancol. Rupanya ia
sudah memesan kamar khusus. Setelah kami masuk ke dalam kamar, maka aku
menjadi sangat terkejut melihat suasana kamar. Sebuah kamar dengan
pandangan ke laut, sebuah ranjang bundar dengan bed cover merah muda
dan langit-langit kamar yang dilapisi cermin. Kupikir ia mengeluarkan
uang cukup banyak untuk kencan terakhir ini.
Ketika aku masuk ke kamar mandi, Hanny masih merapikan ranjang.
Entah apalagi yang diperbuatnya. Baru pada saat kembali ke dalam kamar
aku merasakan suatu perasaan yang very very excited. Kucium harum bunga
melati dan kulihat ia sedang menaburi ranjang dengan bunga melati.
Kupeluk ia dari belakang dan kuusap pinggangnya. Kurapatkan tubuhku
ke tubuhnya sehingga kejantananku menekan belahan pantatnya. Ia
mengenakan baju panjang warna krem dengan ritlsuiting di depan dada
sampai sebatas perut. Celana panjangnya berwarna hitam dengan sepatu
hak tinggi di bawah telapak kakinya.
Kubawa ia ke jendela sambil melihat Teluk Jakarta di waktu siang menjelang sore. Kucium tengkuknya dan ia menarik napas panjang.
"Hhmmh.. Anto".
Ia membalikkan badannya. Mukanya sedikit mendongak, bibirnya yang
merah setengah terbuka dan semakin mendekat ke bibirku. Kami berciuman
dengan lembut namun penuh gairah terpendam. Ia merogoh kantung
celananya dan mengambil sebutir pil, dan menyuruhku untuk meminumnya.
"To ini diminum dulu agar kamu bisa memuaskanku sampai besok pagi".
Aku menolaknya. Kupikir badanku saat ini dalam kondisi fit. Kalau
untuk tiga atau empat pendakian sampai esok pagi rasanya masih mampu.
Kalau ia ingin lebih, biarlah aku menunda kepuasanku dan kupuaskan ia
terlebih dahulu sampai ia menyerah.
"Nggak usah Han, kalau kamu ingin lebih aku akan menunda orgasmeku dan memuaskanmu dahulu".
Kutarik ritsluiting baju di depan dadanya dengan gigiku dan
kemudian tanganku melanjutkan untuk membukanya. Dadanya yang terbuka
berwarna putih mulus terlihat kontras dengan bra berwarna hitam yang
masih menutup payudaranya. Kucium bahunya, kumainkan tali bra-nya. Ia
memelukku dan mengusapkan pipinya di kepalaku. Mulutnya menjilati
lubang telingaku dan membisikkan kata-kata penuh gairah.
"Ouhh Anto.. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Kita akan menikmatinya detik demi detik.. Ouhh!"
Kucium dan kugigit bagian dada di antara dua gundukan daging
payudaranya. Kulitnya memerah karena bekas gigitanku tadi. Ia tidak
mencegahku untuk mencupangnya, bahkan ia memintaku untuk melakukannya
lagi.
"Anto.. Berikan lagi gigitan semutmu.. Aoouhh!"
Kubuka bajunya kemudian bajuku sendiri dengan posisi tetap
berciuman dan berpelukan. Kudorong tubuhnya ke ranjang dan kutindih
tubuhnya. Bibirku menyusuri bahunya melepas tali bra-nya lewat
tangannya bergantian kanan kiri, kubiarkan bra-nya masih menutup
dadanya karena pengait dipunggungnya belum kubuka. Kembali bahunya yang
sudah terbuka kucium dan kugigit sampai memerah.
Aku bergerak memutar sehingga berada di belakangnya. Kulepas
pengait bra-nya, dan kutarik dengan gigitanku. Kini dadanya terbuka
polos. Dari belakangnya, tanganku meremas pantatnya dan menciumi
punggungnya yang putih. Tanganku meremas buah dadanya yang kencang.
Kuciumi leher dan belakang telinganya, kemudian kugesekkan pipi kananku
ke pipi kirinya. Sambil kucium punggungnya kini tanganku melepas
celananya dan celana dalamnya sekaligus, tapi kubiarkan sepatu hak
tingginya masih melekat di tumitnya. Tak lama celana dan celana
dalamkupun sudah melayang. Aku tetap menciuminya sambil berbaring
miring di belakangnya. Kugigit punggungnya dan terus menyusuri sekujur
punggungnya ke bawah. Tanganku mengusap pantat dan kugigit pelan. Hanny
menggelinjang.
Ia berbalik dengan posisi dadanya di depan mukaku. Putingnya yang
berwarna coklat kemerahan digesekkannya di ujung hidungku dan segera
kutangkap dengan bibirku. Mulutku bergerak ke bawah perutnya, ia
membuka pahanya agar memudahkan aksiku. Aku hanya menggesekkan hidungku
ke bibir vaginanya. Aku tidak ingin merangsangnya dengan mulutku.
Kepalaku bergerak ke atas dan menciumi ketiaknya yang terbuka, karena
tangannya berada di atas kepala sambil meremas bantal.
Kami berguling sedikit dan sebentar kemudian ia sudah berada di
atasku. Bibirnya lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Hanny
mendorong lidahnya jauh ke dalam mulutku, kemudian menggelitik dan
memilin lidahku. Kubiarkan Hanny yang mengambil inisiatif menyerang.
Sesekali lidahku yang membalas mendorong lidahnya. Tanganku
meremas-remas payudaranya.
"Auhh, Ayolah Anto.. Terus," ia merintih pelan.
Kemaluanku mulai menegang dan mengeras. Kukulum payudaranya
semuanya masuk ke dalam mulutku, kuhisap dengan kuat, putingnya
kumainkan dengan lidahku. Napasnya memburu dengan cepat. Detak jantung
kami semakin cepat meningkat.
"Ayo puaskan aku untuk saat-saat terakhir sayang.. Ahh.. Auuh!"
Hanny mendesis ketika ciumanku berpindah turun ke leher dan daun
telinganya.
Tangan kiriku mulai menjalar di pangkal pahanya, kumasukkan jari
tengahku ke belahan di tengah selangkangannya dan kugesek-gesekkan ke
dinding depan vaginanya.
"Ah sayang. Kamu liar dan nakal sekali".
Sementara itu tangan kananku meremas halus buah dadanya. Tangannya
tak mau kalah memegang, meremas dan mnegocok kejantananku. Dengan ganas
aku menciumi seluruh bagian tubuh yang dapat kujangkau. Beberapa saat
kemudian ereksiku sudah mendekati maksimal. Kepalanya berdenyut
menantang lawan di depannya.
Jari tengah kiriku kugerakkan lebih cepat dan tubuhnya kemudian
meliuk-liuk menahan kenikmatan. Pinggulnya naik dan berputar-putar.
Tangan kananku memelintir puting payudara kirinya dan dan mulutku kini
menggigit puting kanannya. Sementara jari kiriku tetap mengocok lubang
vaginanya. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat pula gerakan pantat
dan pinggulnya.
Permainan tangan kiriku kuhentikan dan kuarahkan kejantananku untuk
memasuki liang vaginanya. Sebentar kemudian dengan mudah aku sudah
menembus guanya yang panas. Pinggulku kugerakkan naik turun dan ia
mengimbangi dengan memutar pinggulnya dan menaik turunkan pantatnya.
Harumnya bunga melati sangat membantuku untuk lebih rileks namun
sekaligus juga sangat menimbulkan gairah tersendiri. Kakinya yang masih
memakai sepatu hak tingginya menjepit pahaku dan kadang dikangkangkan
lebar-lebar. Kuciumi leher dan dadanya. Beberapa kali kugigit sampai
meninggalkan bekas kemerahan. Aku akan menghujaninya dengan cupangan
pada sekujur tubuhnya.
Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,624 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,739 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,943 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,281 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,235 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,362 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,637 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,370 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,457 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,293 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,235 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,125 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,203 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,293 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,240 |
|
|
|
|
|
|
|