|
|
Dari bagian 1 Kucabut penisku dan kubalikkan tubuhnya, ia mengerti maksudku. Segera
ia nungging menaikkan pantatnya yang memang masih kencang. Kuposisikan
diriku di belakang pantatnya. Diraihnya penisku dan segera diarahkan
untuk menerjang guanya kembali. Kuterjang vaginanya dengan kocokan
lembut. Tanganku memegang pantatnya dan membantu menggerakkan pantatnya
maju mundur. Ia yang masih memakai sepatu hak tinggi kelihatan sangat
seksi, seperti adegan di BF.
Ia mulai menggelinjang dan mengejang lembut, kedua tangannya mencengkeram dan meremas sprei.
"Ouhh.. Sudah To.. Kita.."
Ia merintih ketika pantatku kugerakkan kebelakang sampai penisku
hampir terlepas dan kumajukan dengan cepat. Kuulangi beberapa kali lagi
dan iapun menekankan kepalanya miring di atas bed.
"To.. Kita kembali posisi.. Kita.. Aku.." ia menjerit dengan
kata-kata yang tidak jelas. Ia memintaku untuk kembali dalam posisi
semula.
Kembali kucabut penisku dan segera kurebahkan kembali dalam posisi
konvensional. Aku tahu ia, dan aku juga, hampir mengakhiri babak
pertama ini. Kami bergerak berputar-putar. Karena ranjang berbentuk
bundar maka kemanapun arah tidur kami tetap dapat memuat tubuh kami
berdua dengan nyaman. Setiap kulihat cermin di langit-langit, maka
akupun terpacu untuk membagi kenikmatan yang lebih kepadanya.
Bunyi crik.. crik.. crikk dari gelang kakinya semakin sering dan
kuat, memenuhi seluruh sudut kamar. Vaginanya kugenjot semakin cepat
dan kuangkat kaki kirinya dan kulipat sehingga lututnya menempel di
perutnya. Dengan satu kaki terangkat dan satu lagi dikangkangkannya
lebar-lebar ia semakin meracau.
"Ouahh.. Uuuhh!".
Dinding vaginanya mulai berdenyut dan akupun sudah mencapai no
return point-ku. Sebuah titik dimana aku tidak bisa turun atau kembali
lagi, harus kucapai puncak itu. Kakinya yang tadi kulipat kukembalikan
lagi dan segera kedua pahanya menjepit pinggangku.
"Sekarang Han.. Aku mau kell.. lluu.. arr.. ghh," aku menggeram keras.
Pinggulnya naik menjemput kejantananku. Kutekankan kejantananku dalam-dalam di vaginanya.
"Ouhh Anto.. Aku juga samm.. paaiihh!" iapun memekik kecil.
Jepitan kakinya semakin ketat dan denyutan di vaginanya terasa
meremas penisku. Hak sepatunya menekan paha belakangku.
Ditekan-tekannya pantatku ke bawah dengan betisnya. Setelah beberapa
saat kami sama-sama terkulai lemas bunga melati yang ditaburkannya tadi
sebagian menempel pada tubuh kami yang basah kuyup oleh keringat yang
membanjir.
Udara sejuk dari AC sangat membantu kami untuk mengembalikan
tenaga. Hanny masih mengusap dan mempermainkan bulu dadaku. Ia
berbaring miring di sebelahku dengan kaki kananya membelit kakiku.
Kupeluk bahunya dan kuusap-usap dengan lembut.
"Aku tidak ingin hari ini berlalu. Aku masih ingin bersamamu mengarungi samudra kenikmatan," katanya sambil mengecup lenganku.
Setelah beberapa saat kemudian, maka napas dan detak jantung
kamipun kembali normal dan kami tidur berpelukan sampai hampir lupa
untuk makan malam. Jam tujuh malam aku terbangun dan perut terasa
lapar. Aku memesan makanan dari kamar saja. Setelah makan kuajak Hanny
untuk mandi dulu. Di bawah segarnya guyuran air hangat dari shower
terasa tenaga kami dengan cepat menjadi pulih kembali.
Tanpa mengenakan apa-apa kami kembali lagi ke ranjang bundar dan
Hanny sudah merengek minta untuk masuk babak berikutnya. Aku masih
menatap dan menikmati pemandangan tubuh aduhai yang sedang dalam
keadaan telanjang terlentang di sampingku. Ia naik ke atas tubuhku dan
mencium bibir, leher dan telingaku. Mulutku menghisap kedua
payudaranya, kugigit putingnya bergantian. Ia hanya melenguh dan gairah
kami berduapun mulai timbul.
Tangannya menyusup di sela pahaku, kemudian mengelus, meremas dan
mengocok penisku. Pantatku sesekali kunaikkan dan menahan napas.
Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya. Napasnya
dihembuskan dengan kuat ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai
menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku kemudian menjalar
sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai kenikmatan. Kupeluk dan
kuusap pungungnya dengan kuat.
Tangan kiriku dibawanya ke celah antara dua pahanya. Jari tengahku
masuk, mengusap dan menekan bagian depan dinding vaginanya dan bersama
ibu jari menjepit dan memilin sebuah tonjolan daging sebesar kacang.
Setiapkali aku mengusap dan memilinnya Hanny mendesis keras.
"SShh.. Ouhh.. Sshhss"
Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya bergerak ke
bawah, menjilati perutku. Tangannya masih mempermainkan penisku,
bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah dan
kemudian mengecup kepala penisku. Lidahnya membelah masuk ke lubang
kencingku. Aku merasa seperti disengat aliran listrik tegangan tinggi
dan secara refleks mengencangkan ototku. Dua buah telur yang
menggantung di bawahnya kemudian diisapnya. Aku hanya menahan napasku
setiap ia mengisap telurku.
Hanny kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan
mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kembali kami berciuman.
Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia
mendesis perlahan dengan suara merintih.
"SShh hhiihh.. Ssshh.. Ngghh.."
Perlahan lahan diturunkankan pantatnya sambil memutar-mutarkannya.
Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di
mulut vaginanya. Terasa sudah mulai lembab karena cairan dinding
vaginanya. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya.
Ketika sudah menyentuh bibir guanya, maka ditekannya pantatnya
perlahan. Akupun menaikkan pantatku menyambutnya.
Hanny merenggangkan kedua pahanya dan segera kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya.
"Ayolah Hanny.. Dorong.. Aku akan menyambutnya dari bawah..!!"
Hanny semakin menekan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong nikmatnya.
"Ouhh.. Hanny," desahku setengah berteriak.
Hanny bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan
pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya maka penisku seperti
disedot sebuat mulut pusaran. Hanny mulai mempercepat gerakannya, namun
kupegang dan kutahan pantatnya, kemudian aku yang mengatur kecepatan
gerakan pantatku dari bawah dengan perlahan. Hanny membuat
denyutan-denyutan di dalam lubang vaginanya.
"Hanny.. Pelan saja. Kita nikmati saat-saat ini" desisku sambil mencium dadanya.
Aku ingin mengantarnya mengarungi samudra percintaan. Kami saling
menjepit sebelah kaki dengan dua kaki kami. Kaki kirinya kujepit dengan
kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan dua kakinya. Dalam
posisi ini ditambah dengan denyutan pada kemaluan kami masing-masing
terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan di dadaku dan mengecup
putingku.
Tanganku menarik rambutnya kebelakang sampai kepalanya terangkat.
Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilat dan
kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun
kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya
dengan satu ciuman yang dalam dan lama.
Hanny kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban namun
disertai dengan denyutan pada dinding vaginanya. Pantatnya diturunkan
sampai menekan pahaku sehingga penisku terbenam dalam-dalam menyentuh
dinding rahimnya.
Ia menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah
jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakkan pantatnya maju
mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak
ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang
kuat namun lunak. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya,
namun tidak ada kasar atau menghentak-hentak. Darah yang mengalir ke
penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat di
sekujur tubuhku.
"Ouhh.. Ssshh.. Akhh!" Desisannyapun semakin sering.
Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan
ini dan menggapai puncak kenikmatan. Aku menggeserkan tubuhku ke atas
sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan
menciumi leherku.
"Anto.. Sebentar lagi kita akan berlabuh.. Ouhh!"
Desiran dan aliran di saluran kencingku makin kencang.
Aku bangkit dan duduk memangku Hanny. Penisku kukeraskan dengan
menahan napas dan mengencangkan otot antara buah zakar dan anusku. Ia
semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya
ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk
pinggangnya dan membantu mempercepat gerkan maju mundurnya. Ia sedikit
mengangkat lutunya dan berteriak keras.
"Antokkhh.. Ayo.. Berikan aku.."
"Hanny.. Sekarang.. Kuberi.. Kkhhan..!"
Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku,
matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku
dan..
"Anto.. Sekarang sayangku.. Sekarang.. Hhhuuaahh!"
Ia kini memekik kecil. Pantatnya menekan kuat ke bawah. Dinding
vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Aku menahan tekanan
pantatnya dengan menaikkan pinggulku. Bibirnya menciumiku dengan ciuman
ganas dan sebuah gigitan pada bahuku. Satu aliran yang sangat kuat
membersit lewat lubang meriamku. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan
kutekankan kepalanya di dadaku. Napas yang putus-putus terdengar dan
setelah sebuah tarikan napas panjang ia terkulai lemas di atas tubuhku.
Keadaan menjadi sunyi.
Sisa malam itu masih kami isi dengan dua kali percumbuan yang
panjang. Percumbuan terakhir sekitar jam lima pagi dengan foreplay yang
lama dan kami mengejang bersama sekitar jam tujuh pagi. Kami berendam
di bath tub dengan berpelukan dan jari tangan saling meremas. Selama
mandi pagi ia menyabuni tubuhku dengan mesra.
"Anto.. Kalau saja setelah bekerja kamu bisa tiap minggu ke Bogor, aku akan merasa sangat senang.."
"Hanny, akupun tidak ingin hari ini berganti. Namun banyak hal yang aku harus lakukan untuk masa depanku".
"Aku mengerti To, tapi rasanya cepat sekali kita bersama dan sekarang kita sudah berpisah".
"Ada saat bertemu dan ada saat berpisah, dan lagi meskipun akau tetap di Bogor kita tidak akan bisa selamanya begini".
Ia terdiam dan tidak berbicara apa-apa lagi sampai kami selesai
mandi. Hannypun kelihatan sangat berat hati ketika kami sama-sama
pulang ke Bogor.
Seminggu kemudian aku sudah siap masuk kerja dan akupun pamit
kepada Bapak kos dan beberapa tetangga yang mengenalku. Ketika aku
pamitan dengan keluarga Pak Edi, aku masih sempat dipersilakan duduk
dan mengobrol dengan Pak Edi selama setengah jam. Ia sangat berterima
kasih kalau aku sudah membantu Eka anaknya, sehingga kini prestasinya
terbilang cukup bagus di kelasnya. Ia sangat menyayangkan kalau aku
bekerja di Jakarta dan menyarankan agar aku bisa bekerja di Bogor saja.
Andai aku bisa..
Ketika aku mohon diri, disalaminya aku dengan erat. Eka juga
memelukku dengan menitikkan air mata. Kuusap kepalanya dan kukatakan,
"Eka harus belajar lebih rajin ya! Terima rapor cawu depan harus
ranking satu!"
Hanny menyalamiku dengan tangan bergetar dan menggigit bibir
bawahnya. Ia tidak sanggup menatapku. Akupun tidak berlama-lama lagi
dan kembali ke kamarku.
Akupun pindah ke Jakarta, bekerja dan wanita-wanita datang dan
pergi silih berganti di dalam hidupku seperti yang sudah kukisahkan
dalam kisahku yang terdahulu. Baik ketika aku masih menjalin hubungan
dengan Hanny maupun ketika aku sudah bekerja di Jakarta (Wanita Penjaga
Showroom, Agen Asuransi, Wanita Indonesia 1-8 dan Aku Oase Para Wanita
Bersuami 1-3).
*****
Beberapa bulan kemudian ketika aku mengikuti diklat di Puncak, aku
sempatkan untuk mampir ke tempat kosku dulu. Bapak kosku terlihat
senang karena aku masih ingat dengan keluarganya. Ketika kusinggung
tentang keluarga Pak Edi, ia menarik napas dalam-dalam. Pak Edi pindah
rumah setelah Ibu Heni, Hannyku, tertangkap basah sedang bergumul dalam
keadaan tanpa busana dengan seorang mahasiswa adik kelasku di atas sofa
ruang tamunya.
Ahh! Anto dulu kamu juga pernah merasakan empuknya sofa itu dan tentu saja kehangatan tubuh Ibu Heni di tempat yang sama!
*****
"A taste of honey, tasting much sweeter than wine" (The Beatles, A Taste of Honey)
BUT HANNY MUCH MUCH SWEETER THAN HONEY!!
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,624 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,739 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,943 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,281 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,235 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,362 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,637 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,368 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,457 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,293 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,235 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,125 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,203 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,293 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,240 |
|
|
|
|
|
|
|