|
|
Dari bagian 1 Santi melebarkan sedikit kakinya. Kejantananku yang semakin mengeras
kuarahkan ke dalam lubang kenikmatannya. Nafas kami sama-sama sudah
tidak beraturan. Kucium bibir dan buah dadanya."Sekarang masukin saja
ya!" katanya. Dibimbingnya kejantananku menuju lubang guanya. Dan..
Slepp.. Blesshh!
Aku mulai menggerakkan pantatku. Cropp.. Cropp.. Crop bunyi diantara selangkangan kami mulai mengeras. Santi semakin meracau.
"Ehhnaakk.. Terus yang keraas yaang.. Ahh,"
Kugerakkan pantatku semakin cepat hingga kejantananku terasa mentok
dirahimnya. Santi membalas gerakanku dengan gerakan memutar pinggulnya.
Kakinya menjepit pinggulku, tangannya mejepit leher dan meremas
rambutku. Demikian kami lakukan beberapa menit dengan mengatur tempo
gerakan. Kalau desiran di penisku sudah terasa meningkat aku menurunkan
tempo, setelah agak menurun maka kutingkatkan, kugenjot dengan cepat.
Kulirik bayangan di cermin. Aku seperti melihat film dengan diriku
sendiri menjadi aktornya. Tubuhnya yang mungil tenggelam dalam pelukan
dan genjotanku.
"Sudah.. To. Aku tidak kuat lagi!" jeritnya sambil mengetatkan jepitan kakinya.
Akupun dalam kondisi gairah yang memuncak, tinggal menunggu saat
yang tepat dan kurasakan inilah saatnya. Gerakan badan dan pantatku
semakin cepat, pinggulnya semakin liar berputar-putar.
"Santii.. Eeeghk.. Aku.. Mauu.. Keelluuaarr.. Ahh..!!"
"Ahh.. Ayo.. To. Ayo.. Sekaranghh".
Kutahan gerakan pantatku ketika dalam posisi naik. Dan akhirnya
aliran lahar yang tertahan dari tadipun meledak. Kutindih tubuhnya
dengan kuat. Ia mengendorkan jepitan pada pinggangku namun betisnya
membelit betisku dan dengan mengait betisku pantatnya naik menyambut
kejantananku yang terhunjam cepat. Penisku masih berdenyut di dalam
vaginanya dan menyemprotkan sisa-sisa lahar.
Beberapa minggu kemudian akupun sudah diterima sebagai staf
pembukuan di sebuah perusahaan di sekitar Harmoni. Selama bekerja Santi
juga menjadi saluran bagi pemuasan gairahku.
Ketika pada suatu hari aku mampir ke rumahnya dia bilang mau
menikah dengan seorang pengusaha toko sepatu. Namun dia tidak bilang
kapan waktunya. Aku mendukung rencananya untuk menikah. Kuberikan kartu
namaku dan kukatakan.
"Hubungi aku kalau kamu ada apa-apa!".
Ketika kucari dia di hotel tidak ada dan kemudian aku ke rumahnya,
maka bapak pemilik rumahnya bilang ada titipan pesan untukku kalau dia
sudah menikah.
Aku masih menjalani kehidupanku dengan menjalin hubungan dengan
beberapa wanita dalam satu rentang waktu. Tentunya dengan manajemen
waktu yang tepat agar tidak bertabrakan jadwal. Santi juga tidak pernah
menelponku. Kupikir ya sudah, biarlah dia bahagia dengan kehidupan
barunya.
Suatu sore pulang dari kantor aku berjalan ke arah Juanda.
Tiba-tiba kulihat sekelebatan wajah seperti Santi berjalan di depan
sana. Kukejar dan ternyata memang benar. Dia terkejut ketika aku
memanggilnya.
"San.. Santi. Tunggu dulu!"
"Eh, Mas Anto. Apa kabar?" katanya sambil menjabat tanganku. Kupegang tangannya dan tidak segera kulepaskan.
"Baik. Kamu agak gemukan sekarang. Syukurlah kalau kamu sudah bahagia. Kok nggak pernah telpon aku?"
"Kartu nama Mas ditemukan suamiku dan dibuangnya".
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
"Sekarang mau kemana?" tanyaku.
"Mau belanja di situ", katanya sambil menunjuk ke arah Pasar Baru.
"Boleh kutemanin ya!"
"Ngrepotin dan ngganggu acara Mas Anto saja".
Akhirnya kutemani dia belanja dan setelah selesai belanja kuajak
dia makan di sebuah restoran fast food. Sambil makan dia cerita bahwa
dia ternyata dijadikan istri muda. Dia diberikan modal untuk membuka
warung kelontong. Namun suaminya jarang pulang ke rumahnya, lebih
banyak di toko atau di tempat istri tuanya.
Dia berkata kalau dia kadang sangat kesepian. Secara materi dia
sudah cukup, namun secara batiniah dia menderita. Sebenarnya suaminya
bukan seorang yang lemah dalam hal permainan ranjang, namun karena
frekuensi ketemunya jarang maka dia menjadi kesepian.
"Aku sangat senang bertemu kamu sekarang ini. Aku tidak menduga kalau masih bisa bertemu kamu," katanya.
"Iya, aku juga senang melihat kamu sudah hidup enak dan tidak
menjadi hinaan orang. sudah malam, aku mau pulang," kataku. Ia
termangu-mangu.
"To, aku mau mengulangi saat-saat yang kita jalani dulu," katanya.
Bibirnya bergetar waktu menatapku. Aku ragu-ragu. Kemarin sore aku
sudah terkapar lemas dengan seorang wanitaku. Bekas gigitannya masih
kelihatan memerah di dadaku.
"Ayolah To. Kumohon!"
Akhirnya kuputuskan untuk menemaninya sore ini. Kami segera check
in di hotel dekat sini. Karena lama tidak bertemu, maka ia dengan cepat
sudah mencapai klimaks dan akupun segera menyusulnya. Terasa kering
suasana sore itu, karena memang gairahku tidak maksimal. Santi
sepertinya merasa juga bahwa aku kurang bergairah, tidak seperti
dulu-dulu.
Ketika kami berbaring, ia melihat tanda merah di dadaku. Ia menarik napas panjang.
"Hhh. Pantas saja kamu tidak bergairah sore ini. Berapa kali kamu lakukan dan dengan pelacur mana?" katanya tajam.
Aku diam saja. Percuma saja meladeninya. Akhirnya setelah diam
sejenak aku minta maaf dan menjelaskan bahwa setelah dia menikah akupun
harus menyalurkan gairahku dengan wanita selain dia. Aku minta maaf
untuk sore yang tidak menyenangkan ini dan ia memintaku untuk
memuaskannya tiga hari lagi, pas jatuh pada hari libur nasional. Aku
memintanya untuk mengenakan gaun panjang hitam dan sepatu hak tinggi.
Kami pulang naik taksi dan kuantar dia sampai depan rumahnya. Aku
sengaja tidak mampir dan iapun juga melarangku untuk mampir ke
rumahnya.
Tiga hari kemudian kami bertemu di tempat yang telah disepakati.
Santi mengenakan pakaian seperti yang kuminta. Kami segera menuju ke
hotel yang terselip di dalam gang di daerah Senen. Setelah registrasi
dan menyelesaikan administrasi, kamipun masuk ke dalam kamar.
Room boy yang mengantar kami kemudian berbisik, "Pak mau sewa video? Kalau mau saya ambilkan".
Aku kemudian mengiakannya. Room boy tadi kembali ke bawah dan tak
lama kemudian sudah muncul kembali dengan video player dan tiga buah
kasetnya. Waktu itu laser disc apalagi VCD belum banyak beredar.
Sementara kami memasang kabel-kabel video ke TV kamar, Santi masuk ke
kamar mandi. Setelah selesai memasang kabel, maka room boy tadipun
keluar dan berpesan.
"Selamat bersenang-senang pak. Kalau Bapak pulang, videonya biar saja disini, nanti biar saya bereskan".
Setelah memasang kaset yang pertama, akupun membuka bajuku dan
membaringkan tubuhku ke atas ranjang yang empuk. Sangat berbeda dengan
ranjang di Tanah Abang dulu. Santi sudah berbaring di atas ranjang
dengan tubuh tertutup selimut. Kucium dengan lembut, iapun membalasnya
dengan lembut. Ia mengamati dadaku.
"Kamu sudah siap? Nanti seperti kemarin lagi. Aku hanya dapat
sisa-sisa," katanya mencibirkan bibirnya. Kucubit pinggangnya dan iapun
mengelinjang kegelian.
"Kita nonton video dulu ya.." katanya.
Sambil berpelukan kami menonton adegan demi adegan dalam video yang
kuputar. Kaset pertama adalah film biru yang dibintangi aktris
Mandarin. Adegan-adegan yang muncul adalah adegan seperti biasa dalam
sebuah kaset BF. Namun karena kami nonton berdua maka ada suatu gairah
lain yang muncul. Ketika adegan dalam video sudah makin panas maka ia
pun berbisik.
"Mas.. Aku sudah terangsang. Ayo kita mulai!"
Kubuka selimut yang menutupi. Ia mengenakan baju senam yang mirip
baju renang. Kami saling berciuman, berguling, menjilati, memagut dan
mengusap bagian-bagian tubuh yang mendatangkan kenikmatan. Ketika
bajunya kubuka dari bahunya, ternyata ia sudah tidak mengenakan pakaian
dalam lagi. Ia mengerti keherananku.
"Kubuka waktu aku ke kamar mandi. Kalian sedang memasang video", katanya tersenyum.
Tangannya bergerak ke celanaku, membuka ikat pinggang, kancing dan
ritsluiting kemudian menyusup ke balik celana dalamku, mengusap-usap
kejantananku yang mulai berdiri. Ia bergerak ke arah kakiku dan setelah
semua kain di tubuhku terlepas dengan cepat diciuminya kejantananku
sehingga tak lama kemudian semakin tegak berdiri siap menghadapi
lawannya.
Kuberikan isyarat agar ia memutar badannya ke atas. Kini mulut kami
sudah asyik dengan mainannya. Kujilati bibir vaginanya, kubuka dengan
tanganku dan akhirnya sampailah di gundukan kecilnya. Ia mendesah kuat
ketika lidahku mulai bekerja di situ. Dibalasnya dengan suatu sedotan
kuat pada penisku, kemudian tangannya mengocok batang penisku. Kami
bergulingan dalam posisi itu. Kadang aku di bawah, kadang aku di atas.
Setelah puas mulut kami bermain di selangkangan, maka kuhentikan babak
ini.
Kutindih tubuhnya dan dengan satu tusukan penisku sudah masuk di
dalam guanya yang lembab. Terasa lebih sempit dan nikmat dibandingkan
dulu.
"Nikmat sekali San. Lebih sempit," kataku.
"Iya, karena jarang dipakai. Suamiku belum tentu seminggu sekali menggauliku.. He.. Hhh".
Ketika dengan cepat aku mulai menggenjotnya, maka lentingan pegas
di ranjang terasa sangat membantu. Kugenjot dengan cepat, namun ada
gaya tolakan dari lentingan pegas di ranjang sehingga dengan sedikit
tenaga pantatku sudah naik dengan sendirinya.
Kuputar kakinya dan kuajak untuk bermain doggy style. Ia menurut
saja. Sebentar kemudian tanpa melepaskan kemaluan, aku sudah berada di
belakangnya dan menggerakkan pantatku maju mundur.
Plok.. Plok.. Plok.. Suara itu terdengar ketika pahaku beradu
dengan pantatnya. Ia hanya sedikit menggerakkan pantatnya. Kurasakan ia
tidak bisa menikmatinya, maka kami kembali dalam posisi semula. Setelah
beberapa lama kemudian, ia memberi isyarat untuk mengakhiri permainan
ini.
"Akhh.. Ahh. Lebih cepat dan kuat sayangku.. Ooouhh!"
Giginya menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas rambutnya
sendiri. Gerakanku semakin kupercepat dan lentingan pegas ke arah
ataspun semakin kuat dan akhirnya
Hhhkk..
Badannya mengejang dengan bola mata memutih. Kugenjot lagi dan
serr.. Spermaku tumpah ke dalam liang vaginanya. Setelah mandi dan
berbaring menonton video lagi, lima belas menit kepalanya sudah bermain
di selangkanganku.
"Jangan San.. Aku belum..".
"Tuh kan.. Kamu cepat loyo sekarang ini. Jangan-jangan kemarinpun kau sudah naik di atas perut wanita duluan".
"Nggak.. benar kok. Nggak. Beri aku waktu sebentar. Kamu akan kupuaskan sampek elek!"
Benar saja. Hari itu kami habiskan dengan dua puncak permainan yang
lebih seru. Kembali kuantarkan Santi ke rumahnya. Kami tidak janjian
untuk ketemu lagi, hanya kembali kuberikan nomor telpon kantorku dan ia
berjanji untuk menelponku setiap kali membutuhkan pelepas dahaganya.
Namun kemudian sampai sekarang telpon darinya tidak pernah ada.
Biarlah Santi menikmati kehidupannya sekarang dan menjadi memori masa
laluku.
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,619 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,732 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,941 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,276 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,234 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,362 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,636 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,365 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,454 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,292 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,235 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,123 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,203 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,293 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,240 |
|
|
|
|
|
|
|