|
|
Aku punya teman SD, Tina namanya. Sebenarnya
anaknya cukup manis dengan tubuh mungil, namun centilnya minta ampun.
Ia pindah ke sekolahku saat aku duduk di kelas 5. Sejak pertama bertemu
aku memang kurang suka kepadanya karena kecentilannya itu.
Sewaktu melanjutkan sekolah di SMP dan SMA kami berpisah. Namun
sikapku terhadapnya tidak berubah. Aku tetap saja tidak suka kepadanya.
Apalagi ketika SMA, aku merasa pergaulannya tidak baik. Tapi itu dulu,
kalau sekarang tentu lain cerita.
Sampai ketika aku melanjutkan kuliah dan saat libur semester aku
pulang kampung. Malamnya aku nongkrong dengan teman masa kecilku di
sebuah warung gado-gado. Tinapun ada di sana sambil berbisik-bisik
genit. Ia tiba-tiba duduk di sebelahku.
"Hai Anto, apa kabar? Kelihatan gemuk sekarang deh," katanya sok
akrab. Aku menjawab sekenanya saja, masih belum ada interestku
kepadanya. Namun ia tidak menyerah dan bertubi-tubi bertanya tentang
keadaan diriku sekarang ini.
Akhirnya aku yang menyerah dan meladeni pertanyaannya. Ternyata
sebenarnya asyik juga anak ini sekarang. Hanya mungkin image yang
tertanam sejak kecil membuatku mengambil jarak terhadapnya. Ia perlahan
merapatkan duduknya ke arahku tanpa menarik perhatian orang lainnya.
Ketika warung mulai sepi, maka tangannya mulai nakal mengusap
pahaku dan memainkan bulu kakiku. Tentu saja penisku langsung berontak,
membesar di balik celana pendekku. Ia tersenyum melihat bagian depan
celanaku yang sedikit menggembung. Tak lama kemudian ia pulang karena
sudah malam..
Akupun pulang dengan penis yang mengembang karena elusan tangan
Tina di pahaku tadi. Karena tensi sudah terlanjur naik ke ubun-ubun,
maka malam itu kusemprotkan sperma dengan bantuan tanganku.
Malam-malam berikutnya aku jadi rajin ke warung gado-gado untuk
nongkrong dan menikmati elusan Tina di pahaku. Suatu ketika Tina pulang
dan minta kuantarkan. Aku tentu saja dengan senang hati mengantarnya
pulang.
Sampai di rumahnya disuruhnya aku masuk dulu dan duduk di ruang
tamu. Ruang tamunya kelihatan sepi, tapi dari arah ruangan dalam
kudengar pelan suara TV. Tak tama kemudian Tina keluar lagi dan kami
ngobrol sampai lama. Aku sudah mulai mengantuk dan beberapa kali
menguap. Tian kemudian membuatkanku segelas kopi. Sambil menunggu kopi
agak dingin kami kembali ngobrol. Ia duduk di depanku hanya memakai
celana pendek dan kaus oblong.
Tangannya mulai iseng mengusap lututku. Dengan refleks kutangkap
tangannya dan kutarik ke arahku. Ia tidak melawan tarikan tanganku dan
akibatnya sebentar kemudian ia sudah duduk dipangkuanku dan bibirku
langsung melumat bibirnya. Ia terkejut sebentar, namun kemudian
membalas lumatanku dengan ganas. Beberapa detik ia masih duduk
dipangkuanku dan kami berciuman. Kurasakan ia tidak memakai BH. Aku
terangsang dan napasku menjadi berat. Mendadak kami sadar dengan
keadaan kami. Ia melepaskan pelukanku dan kembali duduk di tempatnya
semula.
Suasana menjadi kaku. Kami berdua sama-sama merasa kikuk dengan apa
yang telah kami perbuat baru saja. Begitu kopi habis, maka aku segera
berpamitan pulang. Ia mengantarku sampai ke sudut rumahnya. Di sana
kupeluk dan kucium lagi bibirnya. Sekitar lima menit kami masih
berpelukan di sana. Untung lampu di sudut rumahnya putus sehingga kami
leluasa bercumbu di sana.
Akupun pulang dengan tersenyum. Kembali sampai di rumah dengan
bantuan tangan kukeluarkan lagi sperma sedari tadi yang sudah sampai di
ujung penisku. Kubayangkan Tina di bawahku sedang memekik-mekik
menerima penisku. Tiga malam berikutnya kami selalu bercumbu di sudut
rumahnya. Ia mulai berani mengusap bulu dadaku dan menciumi putingku.
Akibatnya tiap malam sepulang dari rumahnya spermaku kumuntahkan.
Malam terakhir kami bercumbu lagi. Ia merebahkan badannya melintang
telentang di atas kedua pahaku. Kubuka kancing kemejanya dan seperti
biasa ia tidak memakai BH. Kuisap putingnya yang kecil berwarna
kemerahan itu. Tanganku menggesek bagian depan celana dalamnya.
Kepalanya sudah mendongak pasrah, giginya menggigit bibir dan
mengeluarkan desahan lirih yang sangat menggoda.
Kubisikkan, "Kamu mau ini kita lanjutkan?"
"Kalau kamu mau kita lakukan di belakang rumah saja. Sepi dan gelap
di sana," katanya. Tiba-tiba saja aku bisa menguasai diri dan
berkata,"Tidak Tin. Cukup sudah sampai di sini. Aku tidak mau
menanggung resikonya".
Akhirnya aku pulang.
Setelah kejadian itu maka setiap libur semester aku pulang kampung
dan tak lupa lupa bercumbu dengannya. Meskipun aku sebenarnya sudah
berpengalaman (setelah diajari Ibu Heni, alias Hanny), namun dengan
Tina paling jauh hanya sebatas petting. Sebenarnya kalau aku mengendaki
lebih jauh Tina mau saja, karena iapun sudah sering melakukannya dengan
orang lain. Ia pernah mengajaknya bersetubuh. Kukatakan kalau akupun
mau dengan syarat pakai kondom. Ia menolaknya.
Sampai suatu ketika kudengar kabar kalau ia menikah dengan seorang
PNS. Selentingan yang beredar suaminya itu hanyalah korban dari
permainannya. Sebenarnya banyak yang sudah mencicipi tubuhnya tetapi si
PNS tersebut yang masuk terjebak dalam perangkapnya.
Waktupun berlalu dan aku sudah lulus dan bekerja di Jakarta. Ketika
ada libur tiga hari berturut-turut aku pulang. Aku berjalan-jalan dan
tak terasa lewat di samping rumahnya. Kulihat ia ada di teras dan
melihatku serta menyuruhku mampir ke rumahnya. Kami duduk di teras
sambil bercerita.
"Mana suamimu?" tanyaku.
"Nggak ada. Dia jarang pulang ke sini. Ia lebih banyak di kantor dan pulang ke rumah istri tuanya," katanya.
Ternyata suaminya terkena kasus indisipliner dan sekarang disuruh
untuk menjadi sopir atasannya. Aku baru tahu kalau Tina menjadi istri
muda. Ia mengingatkanku tentang apa yang dulu kami lakukan. Akupun
mulai terangsang ketika dengan genit ia menceritakan kembali peristiwa
beberapa tahun yang lalu.
"Kamu benar-benar mau? Kalau mau sejam lagi kita ketemu di terminal
dan check in ke luar kota!" kataku. Kulihat matahari masih berada di
atas kepalaku, berarti sekitar tengah hari.
Akhirnya kamipun bertemu di terminal dan meluncur ke luar kota
untuk mencari tempat menyalurkan hasrat kami. Di dalam bis sepanjang
jalan ia terus mengusap pahaku dan sekali-sekali mencengkeram lulutku
dengan kukunya. Aku menjadi terangsang sekali dengan ulahnya. Kubalas
dengan menekan sikuku ke dadanya dan kuputar-putarkan. Kami saling
merangsang dengan cara kami.
"Aku mau nanti kita main dengan posisi nungging dan 69," kataku menggodanya. Ia mencubitku lalu berkata,"Kita lihat saja nanti".
"Kamu masih ikut KB?" kataku lagi.
"Nggak, untuk apa. Dia belum tentu sebulan datang tidur di rumah".
Dua jam kemudian kami sampai di kota tujuan kami. Turun dari bis aku langsung masuk ke apotik di depan terminal bis.
"Ngapain ke apotik?" tanyanya. "Hussh. Untuk pengamanan, kamu kan tidak ikut KB," kataku.
Sambil berjalan mencari hotel terdekat, para tukang becak di depan terminal berlomba-lomba menawarkan diri.
"Mari Pak, saya antar ke tempat yang bersih dan murah".
Mereka ini langsung tahu saja. Aku jadi berpikir apakah kami ini
kelihatan sekali sebagai pasangan selingkuh yang sedang mencari tempat
berkencan.
Akhirnya kami mendapatkan sebuah hotel tidak jauh dari terminal.
Kamarnya cukup bersih dengan satu ranjang king size. AC kamar
kunyalakan dan udara dingin mulai menyebar di dalam kamar ini. Karena
perjalanan tadi cukup jauh maka tubuh kami rasanya lengket dengan debu
bercampur keringat.
Kuajak Tina untuk mandi bersama. Ia menolak dan menyuruhku mandi
duluan. Aku melepas semua pakaianku di depannya dan masuk ke kamar
mandi. Aku belum selesai mandi Tina menyusulku ke kamar mandi dengan
berbalut handuk sebatas dada. Segera kutarik handuk yang melilit
tubuhnya dan segera bibirku menyerang bibirnya dengan gencar. Ia
membalas dengan ganas.
"Hmmhh. Masih pintar juga kamu bersilat lidah," godaku.
"Heehh. Kan kamu juga dulu yang ngajarin".
"Susumu masih kencang seperti dulu. Tapi sekarang agak lebih besar," kataku setelah meremas payudaranya dan mengecup putingnya.
Sambil mandi kami masih terus berciuman. Ketika aku akan berbuat lebih jauh lagi ia mendorongku.
"Nanti saja di ranjang. Kalau sudah selesai, sana ke kamar duluan," katanya.
Aku mengeringkan tubuhku dan langsung berbaring di atas ranjang.
Udara kamar terasa dingin. Aku menarik selimut dan menutupi badanku
sampai ke dada. Tak lama kemudian Tina pun menyusulku masuk ke bawah
selimut.
Ia berbaring menyamping di sebelahku dan tangannya mengusap bulu
dada dan menggelitik putingku. Penisku yang sudah lama menantikan saat
ini segera saja langsung berdiri. Kubuka selimut yang menutup tubuh
kami, dan kutindih tubuh mungilnya. Tina membuka lebar kedua kakinya
sehingga penisku bisa menggesek rambut kemaluan di selangkangannya.
Mulutnya setengah terbuka menantikan serangan bibirku. Belum lagi
bibirku menempel di bibirnya, kepalanya sudah naik menyambut serangan
bibirku. Kami saling menikmati rujak bibir ini beberapa saat. Sementara
itu penisku sudah tak sabar ingin segera melakukan penyerangan. Sejak
di perjalanan tadi Tina tak hentinya merangsangku di bagian paha dan
lutut.
"Tidak disangka. Dari dulu sudah mengarah namun baru kali ini kita
bisa kenthu, bercinta," desahnya. Kenthu adalah bahasa slank di daerah
Jawa untuk bersetubuh.
"Tin, doggy dan 69-nya nanti saja ya. Kita nikmati dulu babak pertama dengan cepat!" bisikku.
"Ihh.. sudah nggak sabar lagi ya," katanya sambil mencium telinga, leherku dan kemudian singgah di putingku.
"Habisnya, sejak di bis tadi kamu sudah membuatku kepanasan".
Kuraih kotak kondom yang sudah kusiapkan, kubuka dan dengan cepat
kupasang pada penisku yang sudah tegak menantang. Kutindih lagi
tubuhnya dan kubuka kakinya lebar-lebar. Kuarahkan penisku untuk
menembus vaginanya. Rasanya sulit sekali untuk menembus liang
vaginanya. Penisku sepertinya kehilangan arah untuk menemukan jalan
masuk liang kenikmatannya. Padahal dengan memakai kondom, kuharap
permukaan kondom yang licin akan mempermudah pekerjaanku. Ia semakin
melebarkan kakinya dan tangannya membantu penisku menemukan lubang
vaginanya.
"Dorong To.. Yaahkk.. Tekan.. Tekan kuat".
Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,612 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,724 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,931 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,264 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,234 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,361 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,633 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,361 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,452 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,290 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,235 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,123 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,202 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,290 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,239 |
|
|
|
|
|
|
|