|
|
Dari bagian 1 Kudorong degan kuat dan peniskupun meluncur dengan mulus di lorong
vaginanya. Meskipun memakai kondom, namun desakan dan gesekan dinding
vagianya masih dapat kurasakan.
"Tin.. Ouhh nikmat Tin.." aku mendesis.
"Kamu tidak mau dikasih enak dari dulu," ia menjawab dengan napas memburu. Mukanya kelihatan memerah dadu.
Aku merasa bahwa ronde ini akan berlangsung dengan cepat, maka
kubisikkan lagi untuk memastikan supaya ia juga bermain dengan cepat.
"Kita main cepat Tin. Rasanya aku sudah tak tahan lagi". Tina
menganggukan kepalanya. "Aku akan mengimbangimu. Akupun rasanya ingin
segera menikmati ledakan kenikmatan itu".
Aku segera menggenjotnya dengan tempo sedang dan semakin lama semakin cepat. Ia mengimbanginya dengan menggerakkan pinggulnya.
Sementara itu mulut kami saling berpagut dan melumat sampai
menibulkan bunyi kecipak yang cukup keras. Kadang juga kusedot
putingnya dengan keras dan ia menggelitik lubang telingaku dengan
lidahnya. Ketika ia menjilati putingku, kubalas sama dengan
perlakuannya tadi padaku. Kugelitikin lubang telinganya dan kuhembuskan
napasku yang memburu di sana.
Gairah kami semakin memuncak dan gerakan kami semakin cepat dan
liar. Aku tak mau menahan lebih lama lagi. Ketika kulihat mulut Tina
terbuka seperti mulut ikan yang kekurangan air akupun tahu sebentar
lagi ia juga akan sampai ke puncak.
"Hah.. Hh.. Hh.. Huuhh.. Ouhh Tina nikmat sekali milikmu," kataku terengah-engah.
"To.. Ayo lebih cepat lagi To.."
Genjotan demi genjotan, desah napas yang semakin memburu bercampur
dengan keringat yang menitik akhirnya membawaku untuk segera mencapai
puncak kenikmatan. Erangan kami saling bersahutan memenuhi seluruh
sudut kamar.
"Tina.. Tin.. Ahhk sekarang.."
"Ouhhkk To.. Lakukan.. Ayo tekan sekuatnya"
Kepalanya mendongak dan tangannya meremas rambutku. Kupeluk
pinggangnya dan kuangkat ketika aku dengan cepat menghentakkan serangan
terakhirku.
"Akhh.. Yeahh.. Arrghkk.. Ouhh".
Ia melenguh panjang ketika lahar kepuasanku menyemprot keluar.
Dinding vaginanya berdenyut menyedot penisku. Matanya terpejam dan
remasan tangannya pada rambutku semakin kuat.
Aku terkapar lemas di atas tubuhnya dengan tubuh basah oleh
keringat dan napas yang seakan-akan mau putus. Ketika penisku akan
kutarik ia menahan pinggangku dan memberikan sebuah denyutan kuat di
vaginanya. Aku kembali tersentak dan mengejang merasakan remasan
dinding vaginanya.
Setelah membersihkan diri kami berbaring dan rasanya badanku lelah
sekali setelah menyelesaikan ronde ini. Kukatakan padanya, "Sorry Tin,
rasanya aku capek sekali. Aku mau tidur dulu sebentar untuk memulihkan
tenagaku. Bukankan nanti masih ada babak berikutnya?"
Ia mencubit pinggangku dan aku mulai memejamkan mata. Kurasakan tangan Tina memeluk dan mengusap pinggangku.
Kurang lebih sejam kami tertidur. Aku bangun dan merasakan badanku
mulai segar kembali. Kulihat Tina masih memejamkan mata dengan tarikan
napas teratur. Kuberikan usapan dengan ujung jariku mulai dari tengkuk
hingga belahan pantatnya. Tina tersadar dan menggeliat.
"Uppss.. Mulai nakal ya. Sekali dikasih maunya nambah terus. Kenapa sih dari dulu nggak mau?"
"Aku nggak siap mental waktu itu?" kataku."Dulupun kalau kita
bercinta dengan memakai sarung karet pengaman tentu saja aku mau.
Buktinya suamimu sekarang terjebak dalam permainanmu," kataku lagi
dalam hati.
Ujung jariku masih melakukan gerakan memutar di punggungnya. Ia
membalas dengan melakukan sentuhan ringan di pinggangku dan turun ke
buah zakarku. Penisku perlahan mulai mengeras seiring dengan naiknya
gairahku.
Aku bergerak sehingga posisi dadanya sekarang di depan mulutku.
Putingnya yang kecil berwarna coklat kemerahan digesekkannya di ujung
hidungku dan segera kutangkap dengan bibirku. Mulutku bergerak ke bawah
perutnya, ia membuka pahanya agar memudahkan aksiku. Aku menggesekkan
hidungku ke bibir vaginanya.
"Lakukan To.. Teruskan. Ahkk!!" Ia menghentakkan kepalanya dengan keras ke atas bantal meluapkan kekecewaannya.
"Belum Tin.. Nanti pasti kulakukan".
Aku belum ingin melakukannya sekarang, hanya sekedar memberikan
fantasi dan membuatnya penasaran. Kepalaku kembali bergerak ke atas dan
menciumi sekujur dadanya. Tangannya berada di atas kepala sambil
meremas ujung bantal.
Kami berguling sedikit dan sebentar kemudian ia sudah berada di
atasku. Bibirnya dengan lincah menyusuri wajah, bibir, leher dan
dadakuku. Tina mendorong lidahnya jauh ke dalam mulutku, kemudian
menggelitik dan memilin lidahku. Kubiarkan Tina yang mengambil kendali
penyerangan. Sesekali lidahku membalas mendorong lidahnya. Kujepit
putingnya dengan jariku sampai kelihatan menonjol kemudian kukulum dan
kujilati dengan lembut.
"Auhh, Ayolah Anto.. Teruskan.. Lagi," ia merintih pelan.
Kemaluanku mulai menegang dan mengeras. Kukulum payudaranya
semuanya masuk ke dalam mulutku, kuhisap dengan kuat, dan putingnya
kumainkan dengan lidahku. Napas kami memburu dengan cepat dan badan
kami mulai hangat oleh darah yang mengalir deras.
"Ayo puaskan aku sayang.. Ahh.. Auuh!" Tina mendesis ketika ciumanku berpindah turun ke leher dan daun telinganya.
Tangan kiriku mulai menjalar di pangkal pahanya, kumasukkan jari
tengahku ke belahan di celah selangkangannya dan kugesek-gesekkan ke
bagian atas depan vaginanya.
"Ahh.. Kamu pandai sekali".
Sementara itu tangan kananku meremas buah dadanya dengan lembut.
Tangannya membalas dengan memegang, meremas dan mengocok penisku.
Dengan liar kuciumi seluruh bagian tubuhnya yang dapat kujangkau dengan
bibirku. Beberapa saat kemudian penisku mengeras maksimal. Kepalanya
memerah dan berdenyut-denyut.
Jari tengah kiriku kugerakkan lebih cepat dan tubuhnya kemudian
berputar-putar menahan rasa nikmat. Pinggulnya naik dan
bergoyang-goyang. Kupelintir puting payudara kirinya dan dan mulutku
menjilati puting kanannya. Sementara itu jari kiriku tetap mengocok
lubang vaginanya. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat dan liar
gerakan pinggulnya.
Kepalaku bergerak turun perlahan sampai di selangkangannya dan
segera mengambil alih pekerjaan jariku. Kubuka bibir vaginanya dengan
jariku dan dinding vaginanya yang mulai basah oleh lendir agak kental
dan lengket segera kujilati. Bibir vaginanya kugaruk dengan kumisku. Ia
menggelinjang tidak karuan.
"To.. Anto.. Aku juga mau merasakan penismu,"
Aku bergerak memutar sehingga penisku berada di depan mulutnya. Ia
kemudian mengecup kepala penisku. Lidahnya membelah masuk ke lubang
kencingku. Aku merasakan sensasi kenikmatan yang tidak terkira dan
secara refleks aku mengencangkan otot kemaluanku. Buah zakar yang
menggantung di bawahnya kemudian diisapnya dan dijilatinya sampai titik
Kundaliniku. Aku hanya menahan napasku setiap ia menjilati titik
sensitif ini. Kami seakan berlomba untuk memberikan rangsangan pada
alat kelamin.
Kami bergantian menikmatinya. Ketika ia mengulum, mengisap dan
menjilat penisku aku menghentikan aksi lidahku dan menikmatinya
demikian juga sebaliknya ketika klitorisnya kujilat dan kutekan dengan
lidahku ia berdesis keras menahan rasa nikmat. Tangannya kadang menekan
kepalaku dengan keras ke selangkangannya.
"Putar To. Berguling, aku ingin di atas," pintanya dengan manja.
Aku berguling dan kembali kami melanjutkan aktivitas kami. Kini
mulutnya dengan leluasa beraksi di penis dan area sekitar pangkal
pahaku. Penisku sudah mulai terasa ngilu menahan sedotan mulutnya yang
sangat kuat.
"Tina, ayo kita masuk dalam permainan berikutnya.."
Kembali kuambil kondom dan Tina membantu tanganku memasang dengan
baik pada penisku yang sudah berdiri keras. Dengan gerakan perlahan
Tina berjongkok di atas selangkanganku dan mulai menurunkan pantatnya.
Sebentar kemudian dengan mudah aku sudah menembus guanya yang hangat
dan lembab. Kembali kurasakan sempitnya alur vaginanya.
Pinggulnya bergerak naik turun dan aku mengimbanginya dengan
memutar pinggul dan menaik turunkan pantat. Kakinya menjepit pahaku dan
kadang dikangkangkan lebar-lebar. Kuciumi bahu dan dadanya. Beberapa
kali kugigit sampai meninggalkan bekas kemerahan. Tangannya menekan
dadaku sekaligus menahan berat badannya. Gerakan pinggulnya berubah
menjadi berputar cepat dan semakin cepat lagi. Tak lama kemudian ia
merebahkan tubuhnya merapat di atasku dan mulai menghujaniku dengan
ciuman dan gigitan. Kini dadaku yang berbekas kemerahan di beberapa
tempat.
Aku mengambil posisi duduk dan kubalikkan tubuhnya ke arah
berlawanan dengan arah kepalaku tadi. Kini aku berada di atasnya.
Jepitan dan sempitnya vagina membuatku kadang melambatkan tempo dan
berdiam untuk lebih rileks. Namun ketika aku diam jepitan dinding
vaginanya ditingkatkan sehingga aku tetap saja didera oleh rasa nikmat
luar biasa.
Kucabut penisku dan kubalikkan tubuhnya.
"Sekarang doggy Tin," bisikku.
Ia mengerti maksudku. Segera ia menaikkan pantatnya yang bulat dan
masih kencang. Kuposisikan diriku di belakang pantatnya dengan berdiri
pada lututku. Diraihnya penisku dan segera diarahkan untuk masuk ke
dalam vaginanya kembali. Kuterjang vaginanya dengan gerakan lembut.
Tanganku memegang pantatnya dan membantu menggerakkan pantatnya maju
mundur.
Ia mulai menggelinjang dan mengejang tertahan, kedua tangannya
mencengkeram dan meremas sprei. Kepalanya ditekankan ke atas bantal.
"Ouhh.. Sudah To.. Aku tak kuat.." ia merintih ketika pantatku
kugerakkan kebelakang sampai penisku hampir terlepas dan kumajukan
dengan cepat. Kuulangi beberapa kali lagi dan iapun menekankan
kepalanya miring di atas bantal.
"To.. Kita kembali posisi.. Kita.. Aku.." ia menjerit dengan
kata-kata yang tidak jelas. Ia menginginkanku kembali dalam posisi
konvensional.
Kembali kucabut penisku dan segera kurebahkan kembali dalam posisi
konvensional. Aku merasa ia ingin segera mengakhiri babak kedua ini.
Vaginanya kugenjot semakin cepat dan kuangkat kaki kirinya dan
melipatnya sampai lututnya menempel di perutnya. Aku setengah berdiri
di atas lututku. Dengan satu kaki terangkat dan satu lagi
dikangkangkannya lebar-lebar ia semakin meracau tidak jelas, "Ouahh..
Hhuuhh!".
Dinding vaginanya mulai berdenyut dan akupun sudah mencapai titik
ideal untuk mencapai garis finish. Kakinya yang tadi kulipat
kukembalikan lagi dan segera kedua pahanya menjepit pinggangku.
"Sekarang Tina.. Uuughh," aku menggeram keras.
Pinggulnya naik menjemput kejantananku. Kutekankan kejantananku dalam-dalam di vaginanya.
"Ouhh Anto.. Aaiihh!" iapun memekik kecil.
Jepitan kakinya semakin ketat dan denyutan di vaginanya terasa
meremas penisku. Ditekannya pantatku ke bawah dengan betisnya. Setelah
beberapa saat kami sama-sama terkulai lemas
Udara sejuk dari AC sangat membantu kami untuk beristirahat dan
memulihkan tenaga. Tina masih mengusap dan mempermainkan bulu dadaku.
Ia berbaring miring di sebelahku dengan sebelah kakinya ditumpangkan di
atas kakiku. Kupeluk tubuhnya dan kuusap-usap dengan lembut."Aku masih
ingin bersamamu sekali lagi untuk berbagi kenikmatan," katanya sambil
mengecup lenganku.
Setelah beberapa saat kemudian, maka napas dan detak jantung
kamipun kembali normal dan kami tidur berpelukan. Ketika kulihat keluar
dari lubang ventilasi di atas pintu langit sudah tampak gelap. Kuajak
Tina untuk makan malam. Kami keluar dari hotel dan makan di rumah makan
terdekat. Aku memesan sate yang dibakar setengah matang dan gulai
kambing sementara Tina memesan soto ayam. Setelah makan kuajak Tina
untuk kembali ke hotel.
Begitu kamar terkunci Tina langsung memelukku dan menyerbuku dengan
ganas. Kulucuti pakaiannya satu persatu dan setelah itu ia gantian
melucuti pakaianku.
"Mandi dulu Tin biar segar," kataku.
"Enggh.. Nggak usah To, nanti saja sekalian".
Kuangkat tubuhnya yang mungil dan kubawa ke kamar mandi. Ia
meronta-ronta, namun tidak dapat melepaskan diri dariku. Di bawah
segarnya guyuran air hangat dari shower terasa badanku menjadi lebih
segar.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,611 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,724 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,931 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,262 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,234 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,361 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,633 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,361 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,452 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,290 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,234 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,123 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,202 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,290 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,239 |
|
|
|
|
|
|
|