|
|
Dari bagian 2 Tanpa mengenakan apa-apa lagi kubawa Tina kembali lagi ke ranjang. Ia
sudah merengek genit minta untuk masuk babak berikutnya. Aku masih
menatap dan menikmati pemandangan indah di depanku. Tina yang sedang
dalam keadaan telanjang terlentang mengangkang di atas ranjang. Rambut
hitam tipis menghiasi celah pahanya.
Kutarik kakinya sampai melewati tepi ranjang dan dalam posisi membungkuk aku segera menghisap dan mencium vaginanya.
"69 lagi To. Aku masih ingin bermain dengan penismu," rengeknya.
Kuikuti kemauannya dan kini kembali kami bermain dalam posisi 69 sampai
ia benar-benar puas memberi dan menerima rangsanganku.
Aku berjongkok di depannya. Jari tengah dan Ibu jariku membuka
vaginanya. Dengan penuh nafsu, aku menciumi kemaluannya dan kujilati
seluruh bibir luar dan sampai bibir dalamnya.
"Oh.., teruss.. An.. To.. Aduhh.. Nikmat..".
Aku terus mempermainkan klitorisnya yang sebesar biji kacang tanah.
Seperti orang yang sedang berciuman, bibirku merapat di belahan
vaginanya dan lidahku terus berputar-putar di dalamnya.
"Anto.., oh.., teruss sayamgg.. Oh.. Hh!!".
Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuat
gairahku berkobar. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikan aksi
lidahku.
"ooh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..", teriakannya semakin merintih.
Ia menekan kepalaku dan menjepit dengan pahanya. Ia mengangkat
pinggul, cairan lendir yang keluar dari dinding vaginanya semakin
membanjir. Vaginanya sudah basah terkena ludah bercampur lendirnya. Aku
jilat lagi, terasa sedikit asin dan beraroma segar yang khas.
"Sudah Anto.. Sudah.. Ayo kita..!!"
Kulepaskan mulutku dari selangkangannya dan aku berbaring di
sampingnya. Ia naik ke atas tubuhku dan menciumi bibir dan telingaku.
Mulutku menghisap kedua payudaranya, kugigit putingnya bergantian. Ia
hanya melenguh panjang dan gairah kami berduapun semakin memuncak.
Tangannya menyusup di sela pahaku, kemudian mengelus, meremas dan
mengocok penisku. Pantatku sesekali kunaikkan dan menahan napas.
Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya. Napasnya
dihembuskan dengan kuat ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai
menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku kemudian menjalar
sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai kenikmatan. Kupeluk dan
kuusap pungungnya dengan lembut dari leher sampai pantatnya. Ketika
sampai di pantatnya kuremas bongkahan pantatnya dengan gemas.
Tangan kiriku dibawanya ke celah antara dua pahanya. Jari tengahku
masuk, mengusap dan menekan bagian depan dinding vaginanya dan bersama
Ibu jari menjepit dan memilin sebuah tonjolan daging sebesar kacang.
Setiapkali aku mengusap dan memilinnya Tina mendesis keras seperti
orang yang kepedasan "SShh.. Ouhh.. Sshhss"
Tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah
berdiri tegak. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan
putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan
suara merintih.
"SShh hhiihh.. Sshh.. Ngghh.. Ayo To.. Antokhh".
Perlahan lahan diturunkankan pantatnya sambil memutar-mutarkannya.
Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di
mulut vaginanya. Terasa sudah mulai lembab karena cairan dinding
vaginanya.
Aku tersadar belum mengenakan kondom. Kudorong badannya perlahan dan kubisikkan, "Kondom..".
Kuambil kondom yang tinggal satu dan mulai menyobek bungkusnya.
Namun sebelum kupasang ia merebutnya dan membuangnya jauh ke sudut
kamar. Kutatap mukanya, ia balas menatapku lembut dan berbisik,"Kali
ini aku ingin naturally".
"Tapi.." Aku tak sempat melanjutkan kata-kataku karena dia telah menyumbat mulutku dengan bibirnya.
Tangannya kembali meremas dan mengocok penisku sampai membesar
dengan maksimal. Dia membawa penisku untuk segera masuk ke dalam
vaginanya. Ketika sudah menyentuh bibir guanya, maka ditekannya
pantatnya perlahan. Akupun menaikkan pantatku menyambutnya.
Tina merenggangkan kedua pahanya dan segera kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya.
"Ayolah Tina.. Tekan sekuatmu.. Dorong.. Aku akan menusuk dari bawah..!!"
Tina semakin menekan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk
ke lorong nikmatnya yang sempit. Tanpa memakai kondom jelas sekali
bahwa kenikmatan yang ia berikan jauh di atas apa yang kurasakan dalam
dua babak terdahulu.
"Ouhh.. Tina," tanpa sadar aku setengah berteriak. Ditutupnya
mulutku dengan telapak tangannya dan dimasukkan jarinya ke dalam
mulutku. Kukulum jarinya dengan lembut.
Tina bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan
pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya maka penisku seperti
disedot sebuah kompresor yang lembut. Tina mulai mempercepat gerakannya
namun aku mengatur kecepatan gerakan pantatku dari bawah perlahan. Tina
membuat denyutan-denyutan di dalam lubang vaginanya.
"Tina.. Pelan saja. Kita nikmati babak terakhir ini" desisnku sambil mengulum payudaranya.
Buah dadanya yang sedang putih mulus dengan puting yang coklat
kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut
payudaranya yang semakin mengeras.
"Ohh.. Teruss To.. Teruss..!" desahnya. Kuhisap-hisap putingnya
yang keras seperti biji kelengkeng, sementara tangan kiriku meremas
pinggang dan buah pantatnya. Desahan kenikmatan semakin keras terdengar
dari mulutnya.
Kemudian ciumanku beralih ke ketiaknya. Tina mengangkat lengannya
untuk memberikan kesempatan padaku menciumi ketiaknya. Ia kegelian
sambil mendesah, matanya terpejam dan kepalanya menengadah.
"Oh.., ennaakk.., terussh..!"
Rambutnya sudah awut-awutan. Ternyata, wanita bertubuh kecil ini
benar-benar sangat ekspresif dalam menyalurkan gairahnya. Gairah kami
semakin bergelora dan kini saatnya untukku kembali menimba kenikmatan.
Kugulingkan badannya dan dengan posisi setengah kutindih ia menjilat
leher kemudian dada dan putingku. Aku menumpukan berat tubuhku pada
kedua lenganku. Sementara gerakan pantatku sedikit kukurangi justru
Tina menggerakkan pantatnya dengan cepat.
Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Tina tersenyum. Lalu kucium
bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya dimasukkan ke dalam mulutku,
menari dalam rongga mulutku dan menjilati langit-langit mulutku. Aku
membalas dengan mengulum dan menghisap lidahnya.
Kutarik biji penisku sehingga terasa semakin keras dan memanjang.
Pinggulnya naik menyambut hunjamanku. Kumasukkan penisku ke dalam
vaginanya sampai terasa menyentuh dinding rahimnya.
"Oh.., Gimana.. Rasanya sayang.., Ouuh!!" aku berbisik.
"Hhahh!! Ooh.., enakk..".
Kini Tina yang membuat gerakan peristaltik di sepanjang lorong
vaginanya. Batang penisku seperti dipilin-pilin. Tina terus
menggoyangkan pinggulnya.
"Oh.. Tinaku.. Terus.. Sayang.. Mmhhkk..".
Pinggulku kuhujamkan lagi lebih dalam. Tina dengan gerakan
pinggulnya yang naik turun dan berputar semakin menenggelamkan kontolku
ke liang kenikmatannya.
"Oh.. Isap dadaku.. Sayaangg, remass.. Terus.. Oh.. Uhhu..!" Erangan dan rintihan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
"Oh.. Tina.., terus lebih cepat..", teriakku menambah semangatnya.
Goyangan pinggulnya semakin di percepat. Tangannya memeluk erat leherku.
"Ahh.. Ah.., aku.. Cepat.. Aku.. Maa.. Uuu.. Keluuaarr, .. Oh..!" ia mendesah.
"Jangan.. Dulu aku masih ingin menikmatimu!" kataku terengah-engah.
Aku tahu wanita ini hampir mencapai puncak kepuasan tertinggi,
namun aku masih ingin menikmati tubuhnya. Kuberikan isyarat agar ia
menghentikan gerakannya dulu sambil beristirahat sejenak. Kami hanya
berdiam dengan saling memeluk. Kali ini tidak ada erangan atau pekikan.
Yang ada hanya desisan kecil dan desahan lembut. Hanya otot kemaluan
kami yang saling berkontraksi yang satu mendesak dan yang satu lagi
menjepit. Rasanya penisku seperti diisap oleh sesuatu seperti lumpur
hidup. Tangannya terus mengelus punggung dan pinggangku.
Setelah beberapa saat berdiam, maka dengan perlahan aku mulai
menggenjotnya lagi. Aku menggenjotnya dengan pelan tujuh kali dan pada
hitungan ke delapan kuhempaskan seluruh berat tubuhku di atas tubuhnya.
"Hhgghhkk..". Ia menahan napas menahan berat tubuhku.
Bibirnya mengejar putingku dan mengulumnya.
"Ohh.. Tina.. Geli.. Desahku lirih. Namun Tina tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum putingku kanan kiri berganti-ganti.
Karena rangsangan pada putingku maka kupercepat genjotanku sehingga ia memekik-mekik kecil.
"Oh.. Anto.. Nikmatnya.. Jantanku.. Kuda liarku.. Kamu..!"
Ia diam hanya menunggu dan menikmati gerakanku. Beberapa saat ia
hanya diam saja, seolah-olah pasrah. Aku menjadi gemas, kutarik
rambutnya kebelakang. Dadanya naik dan kugigit putingnya. Kukecup
gundukan payudaranya kuat sampai memerah
"Ouhh.. Sakit.. Ped.. Dih. Ouhh..!"
Kurasakan aku tidak akan kuat lagi menahan desakan dalam saluran
kencingku. Kutatap matanya dan kubisikkan, " Sekarang.. Yang..
Sekarang".
Ia mengangguk lemah," Yyachh.. Eghhkk".
Begitu semprotan pertama kurasakan sudah di ujung lubang kencingku,
maka kembali kuhempaskan tubuhku ke bawah. Tina menyambutnya dengan
menaikkan pinggulnya kemudian memutar dengan cepat dan kembali turun.
Tangannya menjambak rambutku dan kemudian memukul-mukul punggungku.
Kutarik rambutnya dan kutekan kepalaku di lehernya.
"Oh.. To.. Anto.., kau begitu liar dan pintar memuaskanku.", ujarnya.
Denyutan demi denyutan berlalu dan semakin lama semakin melemah. Kukecup bibirnya dan menggelosor di sampingnya.
"Kalau begini rasanya aku tidak mau pulang malam ini To" katanya mesra sambil mengusap-usap dadaku.
"Jangan, nanti kamu dicari keluargamu".
Setelah beberapa lamanya berpelukan dan beberapa kali ciuman
ringan. Hembusan udara dingin dari AC kembali terasa menggigit kulitku.
Jam sembilan malam kami check out dan jam sebelas kami sudah sampai di
rumah. Kami turun di terminal dan naik ojek ke rumah. Ia melarangku
untuk mengantarnya.
"Nggak usah To, nanti nggak enak sama tetangga. Kalau aku pulang
sendirian orang tidak akan curiga. Besok kamu pulang ya? Jangan lupa
nanti kalau pulang kampung beritahu aku. Kita berangkat pagi-pagi agar
mempunyai waktu lebih lama. Kalau perlu menginap dua atau tiga malam,"
katanya sambil tersenyum.
Menginap dengan Tina? Ada yang mau?
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,610 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,721 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,931 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,260 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,234 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,361 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,632 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,360 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,452 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,290 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,234 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,123 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,202 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,290 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,239 |
|
|
|
|
|
|
|