|
|
Dari Bagian 1 "Saann..!" Jeritku lirih memanggil namanya saat untuk yang kesekian kali, puting susuku disedotnya kuat-kuat.
Aku menggelinjang kegelian. Hisapan itu nikmat luar biasa.
Selangkanganku semakin basah dan meradang. Tubuhku menggeliat-geliat
bagai ular kepanasan mengimbangi permainan lidah dan bibir Hasan di
buah dadaku yang terasa semakin menggelembung keras.
"Oohh Kak.. Teteknya bagus banget.. Mmphh.. Wuih.. Montok banget.." rayu Hasan sambil terus memainkan sepasang payudaraku.
Tubuhku terus menyambut hangat setiap kecupan mesra bibirnya.
Badanku melengkung dan dadaku kubusungkan untuk mengejar kecupan bibir
Hasan. Lalu kudorong kepala Hasan ke bawah menyusur perutku. Dia
mengerti dengan apa yang kuinginkan saat ini. Dengan nafas
menggebu-gebu, ia mulai bergerak. Kedua tangan Hasan menyelusup ke
bawah tubuhku dan mencekal pinggang, mengangkat pinggulku dan
meloloskan kimono yang tersangkut di bawah kemudian mencampakkannya
entah ke mana.
Kini aku benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang
menghalangi. Kulirik Hasan yang terpesona memandangi ketelanjanganku.
Gairahku semakin meletup melihat tatapan penuh birahi Hasan, membuatku
begitu bangga dan tersanjung. Walau sudah sering melihatnya, tetap saja
Hasan terkagum-kagum jika melihatku dalam keadaan telanjang seperti
ini. Mataku melirik ke bawah melihat tonjolan keras di balik CD-nya.
Dadaku berdegup, selangkanganku berdenyut dan semakin membasah oleh
gairah membayangkan batang keras dibalik CD-nya.
"Saann.. Nnghh.. Jangan diliatin aja.. Dingin nih.." rengekku manja
dengan gaya yang genit. Hasan seperti tersadar dari lamunannya, dan
mulai beraksi lagi.
"Abisnya badan kakak seksi banget sih.. Gak bosen aku ngeliat ni
badan kalo lagi telanjang.." katanya seraya melepaskan CD hingga kini
kami sama-sama telanjang.
Kulihat batang kejantanannya yang keras itu meloncat keluar seperti
ada pernya begitu lepas dari kungkungan CD. Mengacung tegang dengan
gagahnya, besar dan panjang. Terlihat olehku otot-otot melingkar di
sekujur batang itu. Aku sudah tak sabar lagi ingin merasakan
kekerasannya dalam genggamanku. Yang dimiiki Hasan ini membuat punya
suamiku seperti milik anak kecil saja. Segera kusambut tubuh Hasan yang
menindih badanku lagi.
Aku langsung menyambut hangat ciuman Hasan sambil merangkulnya
dengan erat. Ciuman itu benar-benar membuatku terhanyut oleh gairah
yang semakin meninggi. Terlebih lagi saat kurasakan batang kejantanan
Hasan yang keras menggesek-gesek perutku, gairahku semakin
meledak-ledak dibuatnya. Hasan kembali menciumi buah dadaku, kurasakan
dan kuresapi setiap remasan dan hisapannya dengan penuh kenikmatan. Aku
tak mau berdiam saja dimanja seperti itu.
Dengan nakal tanganku menggerayang ke sekujur tubuh Hasan, bergerak
perlahan namun pasti ke arah batang kemaluannya. Hatiku berdesir
kencang saat merasakan batang nan keras itu dalam genggamanku,
kutelusuri mulai dari ujung sampai ke pangkalnya. Jemariku menari-nari
lincah menelusuri urat-urat yang melingkar di sekujur batang
kejantanannya. Kudengar Hasan mengeluh panjang. Kuingin dia merasakan
kenikmatan yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang
sudah licin oleh cairan. Lagi-lagi Hasan melenguh, kali ini lebih
panjang.
Tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, kepalanya persis berada di
atas selangkanganku sementara miliknya persis di atas wajahku. Kulihat
batang kejantanan Hasan bergelantungan, ujungnya menggesek-gesek
wajahku hingga dengan refleks mulutku langsung menangkap batang
kejantanan itu. Kukulum pelan-pelan dengan penuh perasaan. Hasan
sepertinya tidak mau kalah dengan gerakanku yang agresif. Lidahnya
menjulur menelusuri garis memanjang bibir kemaluanku.
Hal ini membuatku terkejut, tubuhku bergetar seakan diserang
listrik. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana, sementara lidah Hasan
bermain semakin lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga
rahimku. Ini membuatku seperti melayang-layang di atas awan. Nikmatnya
sungguh tidak terkira, pinggulku tak bisa diam mengikuti kemana jilatan
lidah Hasan berada.
Tubuhku seperti dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan
desakan kuat dalam tubuhku. Aku semakin tak tahan menerima berbagai
kenikmatan yang dibuat oleh lidah Hasan. Perutku mengejang, kakiku
merapat, menjepit kepala Hasan. Seluruh otot-ototku menegang, dan
jantungku serasa berhenti berdetak. Sekuat tenaga aku bertahan sampai
akhirnya tubuhku tak mampu lagi menahan kenikmatan gelombang orgasme
yang meledak-ledak.
Diiringi jeritan lirih dan panjang, tubuhku menghentak berkali-kali
mengikuti semburan cairan hangat dalam liang kewanitaanku. Aku
terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Lagi-lagi
puncak kenikmatan orgasme yang kuraih bersama Hasan terasa dahsyat dan
luar biasa.
"Oohh.. Ssann.. Nghh.. Enak sekali.." rintihku tak kuasa menahan diri.
Mengapa kenikmatan seperti ini tak bisa lagi kudapatkan dari suami
yang sangat kucintai, yang ada hanya rasa menggantung jika sedang
bercumbu dengannya. Semenatara Hasan memberikan kenikmatan tak
terhingga setiap kali kami bercinta. Sambil menetralisir nafasku yang
naik-turun tak karuan, kulihat Hasan tersenyum di bawah sana. Dia pasti
sangat bangga dengan kehebatannya bercinta karena selalu mampu
membuatku mencapai puncak kenikmatan orgasme yang sejati.
Hasan tahu bahwa suamiku tidak dapat memuaskan tubuhku seperti saat
dia mencumbuku. Aku tak bisa berbuat banyak, karena kuakui kalau aku
sangat membutuhkannya saat ini. Membutuhkan apa yang sedang kugenggam
dalam tanganku ini, benda yang berulang kali telah memberikan
kenikmatan lebih daripada apa yang kurasakan barusan. Hasan masih
menjilati sisa-sisa cairan yang keluar dari liang senggamaku.
Jemariku meremas-remas kembali batang kejantanannya. Kukocok
perlahan lalu kumasukkan ke dalam mulutku, kukulum dan kujilat-jilat.
Kurasakan tubuh Hasan meregang dan dari mulutnya keluar rintihan
kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, aku ingin memberi
kepuasan pada Hasan seperti dia telah memuaskan tubuhku. Kulumanku
semakin panas, lidahku melata-lata liar di sekujur batang
kejantanannya.
Terdengar suara kuluman mulutku, sementara Hasan terus
merintih-rintih keenakan. Dia menggerakkan tubuhnya di atasku seperti
sedang bersenggama, hanya saja saat itu batang kelaminnya menancap
dalam mulutku. Kuhisap dan kusedot kuat-kuat, tapi dia belum
memperlihatkan tanda-tanda akan segera mencapai klimaks. Mulutku mulai
terasa kaku karena kelelahan sementara gairahku mulai bangkit kembali,
liang kemaluanku sudah mulai mengembang dan basah lagi. Sementara
batang kejantanan Hasan masih tegak dengan gagah perkasa, bahkan lebih
keras.
"Udah Kak.. Ganti posisi aja ya.." kata Hasan seraya membalikkan tubuhnya dalam posisi umumnya bersetubuh.
Dasar pejantan tangguh pujiku dalam hati. Hasan memang piawai dalam
bercinta, padahal baru sebulan kami berhubungan, dia sudah sepandai
ini, batinku. Dia tidak langsung memasukkan batang kelaminnya dalam
lubang vaginaku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir
kemaluanku. Dengan sengaja ia menekan seperti hendak dimasukkan, tetapi
kemudian di gesekan kembali ke ujung atas bibir vaginaku hingga
menyentuh klitoris. Ngilu, enak dan entah apa rasanya.
"Saann.. Aduuhh.. Aduuhh saann! Sshh.. Mmppffhh.. Ayo saann.. Masukin aja.. Nggak tahann.." pintaku menjerit-jerit tanpa malu.
Aku hampir mencapai orgasme lagi saat membayangkan betapa nikmatnya
saat batang kemaluan Hasan yang perkasa itu mengisi liang kewanitaanku
yang masih rapat dan singset terawat.
"Udah nggak tahan ya.. Kak.." candanya hingga membuatku blingsatan menahan nafsu.
Aku gemas sekali melihatnya menyeringai seperti itu. Aku langsung
menekan pantat Hasan dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Hasan sama
sekali tak menyangka akan hal itu, ia tak sempat lagi menahannya. Maka
tak ayal lagi batang kejantanan Hasan melesak ke dalam liang
kewanitaanku. Aku segera membuka kedua kakiku lebar-lebar, memberi
jalan seleluasa mungkin bagi batang kelamin perkasa itu. Terasa batang
kejantanan itu sangat sesak sehingga membuat liang kewanitaanku terkuak
lebar-lebar.
Kulihat wajah Hasan terbelalak tak menyangka akan perbuatanku. Ia
melirik ke bawah melihat seluruh batang kemaluannya telah terbenam
dalam liang senggamaku. Aku tersenyum menyaksikannya, Hasan balas
tersenyum.
"Kakak nakal ya.. Awas.. Ntar aku bikin mati keenakan.." ujarnya.
"Mau doongg.." jawabku genit sambil memeluk tubuh kekarnya.
Hasan mulai menggerakkan pinggulnya, pantatnya kulihat naik turun
dengan teratur. Kadang-kadang digoyang-goyangkan sehingga ujung batang
kemaluannya menyentuh seluruh relung-relung vaginaku. Aku turut
mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah-patah,
kemudian berputar lagi. Efeknya luar biasa, Hasan memuji-muji
goyanganku. Dia belum pernah melihat aku begitu bergairah sampai bisa
bergoyang sehebat ini.
Aku semakin bergairah, pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil
mengedut-ngedutkan otot vaginaku. Ini membuat Hasan merasa batang
kejantanannya seperti dikulum-kulum dalam jepitan liang senggamaku.
"Akkhh.. Kaa.. Eennaakkhh.., hebaathh.. Uugghh.." erangnya berulang-ulang.
Sementara tangan Hasan semakin kuat meremas-remas dan memilin-milin
puting susuku dan bibirnya terus menyapu seluruh wajahku hingga ke
leher, Hasan semakin mempercepat irama tusukannya, kurasakan batang
kejantanannya yang besar keluar masuk liang senggamaku dengan cepatnya.
Aku berusaha terus mengimbangi kecepatan gerak pinggul Hasan, dan harus
kuakui permainan Hasan sangat luar biasa. Aku bisa merasakan bagaimana
rasa nikmat yang berawal dari liang kewanitaanku mulai menjalari
seluruh tubuhku, tanda bahwa puncak orgasme mulai merasuki tubuhku.
Sementara Hasan nampak berusaha keras untuk bertahan, padahal
tubuhnya juga mulai mengejang-ngejang tak karuan. Aku merasa kalau dia
juga hampir mencapai klimaks. Pinggulku meliuk-liuk semakin liar,
sementara pantat Hasan mengaduk-ngaduk kewanitaanku semakin cepat.
Semakin cepat tak beraturan, sehingga aku yakin kalau dia akan segera
mengeluarkan sperma hangatnya dalam liang kenikmatanku.
Tetapi secara tiba-tiba saja aliran kencang berdesir dalam tubuhku.
Nampaknya tubuhku juga sudah hampir tidak tahan menerima rangsangan
Hasan terus-menerus. Liang kenikmatanku terasa merekah semakin lebar,
kedua ujung puting susuku semakin mengeras, mencuat berdiri tegak.
Bibir Hasan langsung menangkapnya, dan menyedot kuat-kuat kemudian
menjilatinya dengan penuh nafsu. Aku membusungkan dadaku sebisa mungkin
dan oohh.. Rasanya aku tak kuat lagi bertahan.
"Ssaann..! Cepat keluarin doonng..!" teriakku sambil menekan
pantatnya kuat-kuat agar kejantanannya lebih masuk ke selangkanganku.
Beberapa detik kemudian tubuhku bergetar hebat, diiringi oleh
gelombang rasa nikmat tak terhingga saat cairan hangat menyembur dari
liang kewanitaanku. Bersamaan dengan itu, tubuh Hasan bergetar keras
yang diiringi semprotan cairan hangat dari batang kejantanannya di
dalam liang kewanitaanku.
Hasan langsung memeluk tubuhku erat-erat, dengan penuh perasaan aku
membalas pelukan itu. Kami lalu bergulingan di ranjang merasakan
kenikmatan puncak permainan cinta ini dengan penuh kepuasan. Kami
merasakan dan meresapinya bersama-sama, peluh yang membasahi tubuh kami
berdua menjadi satu dan tak kami pedulikan lagi. Bantal dan guling
berjatuhan ke lantai. Sprei berantakan tak karuan terlepas dari
ikatannya.
Eranganku, jeritan nikmatku saling bersahutan dengan geraman Hasan.
Kakiku melingkar di sekitar pinggangnya, sementara bibirnya terus
menghujani sekujur wajah dan leherku dengan ciuman-ciuman lembut. Aku
masih bisa merasakan kedutan-kedutan batang kejantanan Hasan yang
perkasa menggesek dinding vaginaku. Nikmat sekali permainan cinta yang
penuh dengan gelora nafsu birahi ini.
Aku termenung merasakan sisa-sisa akhir kenikmatan ini. Tak
kusangka kalau aku akan berhubungan badan dengan Hasan di kamar orang
tuaku. Dia memang seorang laki-laki jantan yang selalu memberi kejutan
setiap kali kami bercinta. Setelah itu kami berdua tertidur dengan
posisi aku menindih tubuhnya, sementara batang kejantanannya masih
menancap di dalam liang kewanitaanku.
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,555 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,601 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,851 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,200 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,229 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,354 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,618 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,313 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,441 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,286 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,231 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,119 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,199 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,284 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,235 |
|
|
|
|
|
|
|