|
|
Namaku Irma, tapi biasa dipanggil I'in oleh
orang di rumah. Aku sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan.
Saat ini usiaku 34 tahun dan adik bungsuku Tita 21 tahun. Aku sangat
menjaga bentuk tubuhku, dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 59
kg, tidak ada yang menyangka kalau aku sudah memiliki 2 orang anak
yaitu Echa 6 tahun dan Dita 3 tahun. Kalau menurut suamiku,
teman-temannya sering memuji tubuhku, terutama pada bagian pinggul dan
payudara yang terlihat sangat seksi jika sedang mengenakan baju yang
pressed body. Begini ceritaku..
*****
Kenaikan jabatan yang diterima oleh suamiku membuatnya harus berada
di luar daerah, dan hanya bisa pulang sebulan sekali. Otomatis
kebutuhan biologisku hanya bisa terpenuhi pada saat suamiku pulang
saja. Bahkan sering juga aku harus puasa sampai berbulan-bulan karena
pada saat suamiku pulang aku sedang kedatangan "tamu". Tapi itu tidak
terlalu kupedulikan, toh saat kami berhubungan, aku jarang sekali
mengalami orgasme karena suamiku biasanya sudah keluar duluan dan bila
sudah begitu pasti ia langsung tertidur dan membiarkanku menggantung
sendirian.
Sampai akhirnya terjadi peristiwa yang membuatku sangat malu pada
awalnya, namun menjadi ketagihan pada akhirnya. Orang yang membuatku
mabuk kepayang itu bernama Hasan yang tidak lain adalah pacar adikku
yang paling bungsu. Orangnya lumayan ganteng dengan bentuk tubuh yang
kekar karena ia adalah seorang atlit renang perwakilan daerah. Hasan
sudah berpacaran dengan adikku Tita selama 5 tahun sehingga hubungan
keluarga kami dengannya sudah sangat dekat, aku sendiri bahkan sudah
menganggapnya sebagai adik iparku demi melihat keseriusan hubungan
Hasan dan adikku.
Hasan juga sering datang ke rumah untuk mengantarkan aku pergi
karena aku tidak bisa naik motor, tentu saja sebelumnya aku selalu
memintanya tolong melalui Tita. Selama tidak sibuk dia pasti mau
menolongku sehingga kami menjadi lumayan dekat. Ia sering bercerita
tentang hubungannya dengan Tita adikku, sehingga aku jadi tahu kalau
dia adalah pemuda yang sangat menghormati wanita. Itu adalah
pandanganku sebelum terjadi affair antara kami berdua.
Sore itu aku berangkat dengan diantar Tita adikku untuk berenang di
sebuah hotel yang cukup besar di kota SMD. Setelah berganti dengan baju
renang, aku melangkahkan kaki ke tepi kolam. Beberapa pemuda melirikku
dengan pandangan nakal. Setelah melakukan pemanasan aku lalu turun ke
air. Setelah menyesuaikan diri dengan suhu air baru aku mulai berenang.
Setelah bolak-balik 3 kali putaran, aku beristirahat di pinggir kolam
sambil mengatur napas. Beberapa pemuda yang lewat menggodaku, aku hanya
tersenyum. Lalu aku terhanyut pada lamunanku yang sudah 3 bulan tidak
melakukan hubungan suami-istri.
"Sendirian saja Kak?" Suara yang ramah mengagetkanku dari belakang.
"I.. Iya" Jawabku sambil menoleh ke belakang.
Setelah melihat siapa yang menyapaku, aku menjadi tenang tetapi
sedikit risih karena ternyata ia adalah Hasan yang melihatku tanpa
berkedip. Sambil mengajakku mengobrol ia melakukan pemanasan. Sesekali
aku melirik untuk melihat tubuhnya yang kekar. Lalu mataku turun lagi
ke dadanya yang bidang dan perutnya yang sangat berotot. Saat mataku
sampai ke celana renangnya, dadaku berdegup kencang, celana itu
terlihat sangat menonjol pada bagian tengahnya. Pasti besar sekali,
mungkin bahkan lebih besar dari pada milik suamiku, batinku.
Lalu aku tercekat saat Hasan melompat terjun ke kolam renang dan
langsung meluncur. Setelah 7 kali bolak-balik ia menepi ke sampingku
untuk beristirahat. Ia meletakkan tangannya di sampingku sehingga
sikunya menyentuh paha kananku.
"Kesini pake apa Kak?" Tanyanya sambil menatapku dengan tajam.
"Diantar sama Tita" Jawabku sambil menghindari pandangan matanya.
"Trus.. Sekarang Titanya kemana?" Sahut Hasan melirik sekeliling.
"Langsung pulang jagain Dita sama Echa.." Sebelum ia sempat menanyaiku lagi, aku langsung melompat terjun.
Setelah menyeberang, aku lansung naik karena ingin segera pulang.
Sebelumnya aku tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang
mengenalku di kolam ini. Dan yang bertemu denganku ternyata Hasan,
terlebih lagi aku hanya mengenakan baju renang hingga otomatis
menampakkan sebagian tubuhku. Aku tidak mau menoleh ke belakang karena
aku takut Hasan akan berbicara lagi denganku. Setelah memakai rok
setinggi lutut, aku mengenakan pakaian yang lumayan ketat sehingga
memamerkan garis tubuhku yang masih terbentuk.
Saat melangkahkan kaki menuju jalan raya untuk mencari angkot, ada
motor yang memotong jalanku. Aku kaget bukan kepalang, terlebih lagi
saat melihat siapa yang menaikinya, lagi-lagi ternyata Hasan.
"Saya antar ya Kak?" Tawar Hasan dengan sopan.
Aku berpikir sejenak, sebelum aku sempat menjawab Hasan sudah
menyodorkan helm. Dengan ragu aku menerima helm itu, setelah
mengenakannya aku lalu duduk menyamping di belakang dengan tangan
kananku melingkar di pinggangnya. Sebenarnya hal ini sudah sangat
sering kulakukan, tapi untuk saat ini aku merasa sangat serba salah.
Perasaanku semakin tidak enak saat ia mengarahkan motornya ke arah yang
berlawanan dengan arah ke rumahku. Bodohnya, aku cuma diam saja sampai
akhirnya Hasan menghentikan motornya di depan sebuah bioskop yang cukup
terkenal di kota SMD.
"Nonton dulu ya Kak?" Pintanya sopan.
"Aduh gimana ya San.. Ini kan sudah sore" Jawabku panik.
"Please Kak.. Ini film yang pengen banget aku tonton, lagian ini
hari pemutarannya yang terakhir" Sahut Hasan dengan tatapan yang
memohon.
"Iya deh.. Tapi habis itu langsung pulang" tegasku. Hasan tersenyum dengan penuh kemenangan.
Setelah memesan tiket, kami pun masuk ke dalam dan ternyata yang
menonton sangat sedikit. Setelah mendapatkan tempat duduk, kami berdua
mulai menikmati film yang diputar. Belum lama berselang, aku tercekat
kaget saat tangan Hasan merangkul bahuku. Aku berusaha untuk tenang dan
tak bereaksi apa-apa. Melihat aku diam saja Hasan semakin berani,
mukanya didekatkan ke wajahku hingga sontak aku menolak saat ia mencoba
mencium bibirku. Tapi malah bertambah parah karena yang dia cium adalah
telinga dan leherku, padahal itu termasuk daerah sensitifku.
Aku menjadi deg-degan, dan sepertinya Hasan mengetahui kalau aku
mulai memakan umpan yang ia berikan. Tangannya mulai turun ke dadaku
dari bahu. Ternyata tangannya sangat lihai meskipun dari luar
putaran-putaran jarinya mampu membuatku sesak karena buah dadaku yang
telah mengeras. Tangannya terus aku pegang. Tangannya yang satu
berhasil kutahan semantara yang lain berhasil lolos dan semakin aktif.
Dia berhasil membuka kancing-kancing bajuku bagian atas lalu
tangannya bermutar-mutar di atas BH-ku yang tipis. Malu juga rasanya
kalau Hasan tahu bahwa putingku sudah keras sekali. Bibirnya yang
bermain di leherku mulai turun ke bahu dan entah bagaimana caranya,
ternyata Hasan telah menurunkan tali BH dan bajuku sampai ke pinggang
lalu bibirnya bermain diatas BH-ku dan sekali renggut buah dadaku telah
terekspos pada bibirnya.
Aku menjadi semakin lupa diri, lupa pada suami dan anak-anakku, dan
lupa kalau Hasan adalah kekasih adikku dan kemungkinan besar akan
menjadi iparku kelak. Begitu buah dadaku terekspos, Hasan tidak
langsung mencaplok tapi putingku yang keras dirangsang dulu dengan
hidungnya. Nafasnya yang hangat sudah bisa membuat putingku semakin
mengeras. Lalu dia ciumi pelan-pelan buah dadaku yang berukuran 34B
itu, mula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua
bagian buah dadaku dicium dengan lembut olehnya. Belum puas menggodaku,
lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas buah dadaku. Akhirnya
pertahananku pun jebol hingga aku mulai mendesah halus. Akhirnya apa
yang kukhawatirkan terjadi, lidahnya mulai menyapu sekitar puting dan
akhirnya..
Akh.. putingku tersapu lidahnya.. Perlahan mula-mula, semakin lama
semakin sering dan akhirnya putingku dikulumnya. Ketika aku merasa
nikmat, ia melepaskannya dan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi
lagi. Perlahan mendaki ke atas dan kembali ditangkapnya putingku. Kali
ini putingku digigitnya perlahan sementara lidahnya berputar-putar
menyapu putingku. Sensasi yang ditimbulkannya sungguh luar biasa, semua
keinginan yang kupendam selama 3 bulan ini serasa terpancing keluar dan
berontak untuk segera dipuaskan.
Melihatku mendesah, Hasan semakin berani. Selain menggigit-gigit
kecil putingku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai bermain
di lututku. Perasaan yang kupendam selama ini kelihatannya mulai
bergejolak. Hal itu membuatku membiarkan tangannya menggerayangi lutut
dan masuk menyelusup ke dalam rokku untuk mengelus pahaku. Dia tahu
bahwa tubuhku merinding menahan nikmat dan dengan lihai tangannya mulai
mendaki dan kini berada di selangkanganku.
Dengan lembut Hasan mengusap pangkal pahaku di pinggiran CD-ku. Hal
ini menimbulkan sensasi dan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat duduk
tenang lagi, sebentar-bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi
menyembunyikan kenikmatan yang kualami, hal ini bisa dia ketahui dengan
telah lembabnya CD-ku. Jarinya yang besar itu akhirnya tak mampu
kutahan ketika dia memaksa menyelinap ke balik CD-ku dan langsung
menuju clitku. Dengan lembut dia memainkan jarinya sehingga aku
terpaksa menutup bibirku agar lenguhanku yang keluar tak terdengar oleh
penonton yang lain. Jarinya dengan lembut menyentuh clitku dan
gerakannya yang memutar membuat tubuhku serasa ringan dan melayang.
Akhirnya pertahananku jebol, cairan kental mulai keluar dari
vaginaku dan Hasan mengetahuinya hingga semakin mengintensifkan
serangannya. Akhirnya puncak itu datang, kupeluk kepalanya dengan erat
dan kuhunjamkan bibirku ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Hasan dengan
sabar mengelus clitku hingga membuatku bergetar-getar seolah tak
berhenti. Lubang vaginaku yang basah dimanfaatkan dengan baik olehnya.
Sementara jari jempolnya tetap memainkan clitku, jari tengahnya
mengorek-ngorek lubangku mensimulasi apa yang dilakukan laki-laki pada
wanita. Aku megap-megap dibuatnya, entah berapa lama Hasan membuatku
seperti itu dan sudah berapa kali aku mengalami orgasme.
Aku lalu memberanikan diri, kujulurkan tanganku ke arah
selangkangannya. Di sana jemariku menemukan gundukan yang mulai
mengeras. Begitu tersapu oleh belaianku, gundukan itu berubah menjadi
batang hangat yang mengeras. Jariku terus membelai turun naik sepanjang
batang itu yang menurutku sangat besar untuk ukuran seorang pemuda
berusia 21 tahun. Secara perlahan batang tersebut bertambah panjang dan
besar hingga menimbulkan getaran-getaran yang membuatku kembali
mencapai orgasme. Saat orgasme, tanganku secara tak sengaja
meremas-remas bolanya sehingga Hasan pun terangsang.
"Kita ke tempat kosku ya Kak.." bisiknya kemudian sambil mengecup daun telingaku.
Aku mengangguk, dan setelah merapikan pakaian yang aku kenakan,
Hasan menarikku sehingga aku berjalan mengikutinya. Setelah 10 menit
naik motor, kami mulai memasuki sebuah bangunan yang besar dan agak
sepi. Saat dia menggandeng pinggulku menuju kamarnya, beberapa orang
anak kost di sana tampak menatap kami dengan pandangan penuh
pengertian. Tapi itu tetap tak mengurangi rasa kikuk dan canggung yang
menyerangku. Apa yang sedang kulakukan di sini, batinku.
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,555 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,601 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,851 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,199 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,229 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,354 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,618 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,313 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,441 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,286 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,231 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,119 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,199 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,284 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,234 |
|
|
|
|
|
|
|