|
|
Dari Bagian 1 Saat aku sampai di depan pintu kamar kostnya yang terbuka, aku terdiam
sejenak. Keraguan besar mendadak menyerangku, dan itu ternyata
ditangkap oleh Hasan. Dengan tenang dia menangkap bahuku dari belakang
dan dengan pelan dia mendorongku masuk ke dalam. Setelah menutup pintu
dan menguncinya, lalu tangannya turun ke pinggulku dan kemudian memutar
tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan untuk pertama kalinya
sejak dari kolam renang.
Kami berhadapan sejenak, lalu Hasan tersenyum dan kembali bibirnya
mengecup bibir bawah dan atasku bergantian dan berusaha membangkitkan
gairahku lagi. Aku mendesah kecil ketika tangannya turun ke bokongku
kemudian meremasnya lalu menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Bibirnya
perlahan mengecup bibirku, bibirnya merambat di antara dua bibirku yang
tanpa sadar merekah menyambutnya.
Lidah itu begitu lihai bermain di antara kedua bibirku
mengorek-ngorek lidahku agar keluar. Sapuan lidahnya menimbulkan
sensasi-sensasi nikmat yang belum pernah aku rasakan, sehingga dengan
perlahan lidahku dengan malu-malu mengikuti gerakan lidahnya mencari
dan mengikuti kemana lidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur
memasuki mulutnya, dengan sigap Hasan menyambutnya dengan lembut dan
menjepit lidahku di antara langit-langit dan lidahnya. Tubuhku
menggeliat menahan nikmat yang timbul, itulah ciuman ternikmat yang
pernah kurasakan dalam hidupku.
Pada saat itulah aku merasa Hasan membuka kancing-kancing bajuku.
Tubuhku sedikit menggigil ketika udara malam yang dingin menerpa
tubuhku yang perlahan-lahan terbuka ketika Hasan berhasil memerosotkan
bajuku ke lantai. Kemudian tangannya menjulur lagi ke pinggul, kemudian
berhenti di bokong untuk meraih retsleting yang ada di rokku lalu
menariknya ke bawah dan menanggalkan rokku ke lantai.
Aku lalu membuka mataku perlahan-lahan dan kulihat Hasan sedang
menatapku dengan tajam tanpa berkedip. Dia tampak tertegun melihat
tubuh mulusku yang hanya terbungkus oleh BH dan CD yang ketat. Sorotan
matanya yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan,
pandangannya agak lama berhenti pada bagian dadaku yang kencang
membusung. BH-ku yang berukuran 34B memang hampir tak sanggup menampung
bongkahan dadaku, sehingga menampilkan pemandangan yang mengundang
syahwat lelaki, apa lagi darah muda seperti Hasan.
Tatapan matanya cukup membuatku merasa hangat, dan dalam hati
kecilku ada perasaan senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan
penuh kekaguman sperti itu. Rasanya semua usahaku selama ini untuk
menjaga kekencangan tubuh tidak sia-sia. Aku terseret maju ketika
lengan kekar Hasan kembali merangkul pinggangku yang ramping dan
menariknya merapat ke tubuhnya. Tanganku terkulai lemas ketika sambil
memelukku, Hasan mengecup bagian-bagian leherku sambil tak
henti-hentinya membisikkan pujian-pujian akan kecantikan bagian-bagian
tubuhku. Akhirnya kecupannya sampai ke daerah telingaku dan lidahnya
secara lembut menyapu bagian belakang telingaku.
Aku menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil
lepas dari kedua bibirku. Hasan telah menyerang salah satu bagian
sensitifku dan dia mengetahui sehingga ia melakukannya berulang kali.
"Kak I'in.. Aku ingin menghabiskan malam ini bersama kamu.., jangan menolak ya.. please.." bisiknya dengan penuh pesona.
Kemudian bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku hingga
pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku terasa ringan dan
tanpa sadar tanganku kulingkarkan ke lehernya. Rupanya bahasa tubuhku
telah cukup dimengerti oleh Hasan sehingga dia menjadi lebih berani.
Tangannya telah membuka kaitan BH-ku dan dalam sekejap BH itu sudah
tergeletak di lantai.
Tubuhku serasa melayang. Ternyata Hasan telah mengangkat tubuhku,
dibopongnya ke tempat tidur dan dibaringkan secara perlahan. Kemudian
Hasan menjauhiku dan dengan perlahan mulai melepaskan pakaiannya. Aku
sangat menikmati pemandangan ini. Tubuh Hasan yang kekar dan berotot
itu tanpa lemak hingga menimbulkan gairah tersendiri untukku. Dengan
hanya mengenakan celana dalam, Hasan duduk di ujung ranjang. Aku
berusaha menduga-duga apa yang akan dilakukannya. Kemudian dia
membungkuk dan mulai menciumi ujung jariku kakiku. Aku merintih
kegelian dan berusaha mencegahnya, namun Hasan memohon agar dia dapat
melakukannya dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang
ditimbulkannya, akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan
mengulum jari-jari kakiku.
Aku merasa geli, tersanjung sekaligus terpancing untuk terus
melanjutkan kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang
menurutnya sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan dengan
perlahan tapi pasti bibirnya semakin bergerak ke atas menyusuri paha
bagian dalamku. Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuatku lupa
diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka. Hasan dengan mudah
memposisikan tubuhnya di antara kedua pahaku. Aku berteriak tertahan
ketika Hasan mendaratkan bibirnya di atas gundukan vaginaku yang masih
terbungkus CD. Tanpa mempedulikan masih adanya celana dalam, Hasan
terus melumat gundukan tersebut dengan bibirnya seperti saat sedang
menciumku.
Aku berkali-kali merintih nikmat, dan perasaan yang lama telah
hilang dalam setahun ini muncul kembali. Getaran-getaran orgasme mulai
bergulung-gulung, tanganku meremas apa saja yang ditemuinya, sprei,
bantal, dan bahkan rambut Hasan. Tubuhku tak bisa diam bergetar
menggeliat dan gelisah, mulutku mendesis tanpa sengaja, pinggulku
meliuk-liuk erotis secara refleks dan beberapa kali terangkat mengikuti
kepala Hasan. Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi
dan pada saat itu Hasan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik
celana dalamku lepas. Aku agak tersentak tetapi puncak orgasme yang
makin dekat membuatku tak sempat berpikir untuk bertindak apa pun.
Bukit vaginaku yang sudah 3 bulan tak tersentuh suami terpampang di
depan mata Hasan.
Dengan perlahan lidah Hasan menyentuh belahannya, aku menjerit tak
tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan vaginaku,
puncak orgasmeku datang tanpa tertahankan. Tanganku memegang dan
meremas rambut Hasan, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak. Hasan
tetap bertahan pada posisinya, sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik
klitorisku ketika puncak kenikmatan itu datang. Aku merasa
dinding-dinding vaginaku telah melembab, dan kontraksi-kontraksi khas
pada lorong vaginaku mulai terasa. Itulah salah satu kelebihanku yaitu
lorong vaginaku secara refleks akan membuat gerakan-gerakan kontraksi
hingga membuat suamiku selalu tak bisa bertahan lama.
Hasan tampaknya bisa melihat kontraksi-kontraksi itu, sehingga
membuatnya semakin bernafsu. Kini lidahnya semakin ganas dan liar
menyapu habis daerah selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan
cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya mulai
memburu, aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku mencapai puncak
orgasme oleh permainan lidah dan bibirnya. Hasan kemudian bangkit.
Dengan posisi setengah duduk dia melepaskan celana dalamnya. Beberapa
saat kemudian aku merasa batang yang sangat besar itu mulai menyentuh
selangkanganku yang basah.
Hasan membuka kakiku lebih lebar dan mengarahkan kepala kemaluannya
ke bibir vaginaku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan
betapa keras dan besarnya milik Hasan. Dia mempermainkan kepala
penisnya di bibir kemaluanku, digerakkan ke atas dan ke bawah dengan
lembut untuk membasahinya. Tubuhku seperti tidak sabar untuk menanti
tindakan selanjutnya, lalu gerakan itu berhenti. Dan aku merasa sesuatu
yang hangat mulai mencoba menerobos lubang kemaluanku yang masih
sempit. Tetapi karena liang itu sudah cukup basah, kepala penis itu
dengan perlahan tapi pasti terbenam, semakin lama semakin dalam.
Aku merintih panjang ketika Hasan akhrinya membenamkan seluruh
batang kemaluannya. Aku merasa sesak tetapi sekaligus merasakan nikmat
yang luar biasa, seakan seluruh bagian sensitif dalam liang itu
tersentuh. Batang kemaluan yang keras dan padat itu disambut hangat
oleh dinding vaginaku yang sudah 3 bulan tidak tersentuh. Cairan-cairan
pelumas mengalir dari dinding-dindingnya dan vaginaku mulai berdenyut
hingga membuat Hasan membiarkan kemaluannya terbenam agak lama untuk
merasakan kenikmatan denyutan vaginaku. Kemudian Hasan mulai menariknya
keluar dengan perlahan dan mendorongnya lagi, semakin lama semakin
cepat.
Sodokan-sodokan yang sedemikian kuat dan buas membuat gelombang
orgasme kembali membumbung, dinding vaginaku kembali berdenyut.
Kombinasi gerakan kontraksi dan gerakan maju mundur membuat batang
kemaluan Hasan seakan diurut-urut, suatu kenikmatan yang tidak bisa
disembunyikan oleh Hasan hingga gerakannya semakin liar, mukanya
menegang dan keringat bertetesan dari dahinya. Melihat hal ini, timbul
keinginanku untuk membuatnya mencapai nikmat.
Pinggulku kuangkat sedikit dan membuat gerakan memutar manakala
Hasan melakukan gerakan menusuk. Hasan tampak terkejut dengan gerakan
'dangdut' ini hingga mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat,
batang kemaluannya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya
bertambah keras tetapi tetap lembut. Akhirnya pertahanannya pun bobol,
kemaluannya menghunjam keras ke dalam vaginaku, tubuhnya bergetar dan
mengejang ketika spermanya menyemprot keluar dalam vaginaku
berkali-kali. Aku pun melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya
puncak orgasmeku kembali tercapai.
Sesaat dia membiarkan batangnya di dalamku hingga nafasnya kembali
teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun kuakui kenikmatan yang
kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah kurasakan sebelumnya
selama aku telah 10 tahun menikah. Kami kemudian terlelap kecapaian
setelah bersama-sama mereguk kenikmatan.
Ke Bagian 3
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,557 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,602 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,852 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,206 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,229 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,354 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,620 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,314 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,441 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,286 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,231 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,119 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,199 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,284 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,235 |
|
|
|
|
|
|
|