|
|
Dari Bagian 2 Pagi itu aku terbangun sekitar jam 05:45, dan aku merasa seluruh
badanku sangat pegal dan linu. Setelah beberapa saat mengembalikan
kesadaran, aku kembali teringat tentang malam hebat yang baru saja aku
lalui. Bahkan saat malam pertama bersama suami dulu pun aku tidak
merasakan kepuasan yang teramat sangat seperti ini. Bulu kudukku
meremang saat mengingat tiap detik kejadian tadi malam. Lalu aku
mencoba bangkit untuk duduk, tapi badanku tertahan.
Saat kuperhatikan, ternyata badanku tertahan oleh kedua lengan
Hasan. Tangan kanannya menjadi bantal untuk kepalaku dan sedang
menggenggam lemah salah satu payudaraku, sementara tangan kirinya
melingkar di pinggang dengan telapak tangan terjepit di antara kedua
belah pahaku. Lalu aku merasakan hembusan nafas hangat yang halus di
tengkukku, lalu aku menolehkan kepala sedikit. Aku melihat wajah Hasan
yang sedang tertidur tenang di sampingku, wajah itu seperti sedang
tersenyum puas. Siapa pun akan berwajah seperti itu jika habis ML,
batinku.
Saat aku mencoba melepaskan tangan kirinya, aku mendengar suara
Hasan yang bergumam di belakangku. Kutolehkan wajahku, perlahan dia
membuka kedua matanya lalu sebuah senyum tipis terlihat di wajahnya.
Bersamaan dengan itu aku merasakan tangan kanannya semakin erat
menggenggam payudaraku dan tangan kirinya mulai mengelus-elus pangkal
pahaku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu agak terkejut sehingga
tubuhku bergetar halus.
"Pagi Kak I'in tersayang", sapanya halus sambil mengecup leherku.
"Mmh.. Pagi san.. kamu.. mau.. ngapain..?", balasku sambil mencoba mengatasi pergerakan kedua tangan Hasan yang semakin aktif.
Lalu kecupannya mulai bergerak dari tengkuk menuju leher di bawah
telinga kemudian lidahnya menjilati belakang telingaku yang memang
sejak semalam mendapatkan rangsangan berkali-kali.
"Saan.. Kakak boleh nanya nggak?", ucapku sambil menikmati jilatannya.
"Masalah apa Kak?", balasnya sambil terus menjilat dan meremas.
"Kenapa kamu.. Mau sama Kak I'in yang sudah tua ini?".
Sejenak Hasan terdiam, lalu ia membalikkan tubuhku sehingga kini
aku berhadap-hadapan dengannya, kemudian dia mengecup bibirku lembut.
Lalu Hasan bercerita kalau dia sangat suka melihat keindahan tubuhku
yang tetap terjaga walaupun telah memiliki 2 orang anak. Selama ini dia
masih bisa menahan hasratnya, tapi saat melihat aku yang mengenakan
pakaian renang, Hasan tidak dapat lagi mengendalikan birahinya. Saat
aku menanyakan bagian mana dari tubuhku yang membuatnya sangat
terangsang. Hasan mengatakan bahwa pinggangku yang ramping terlihat
sangat seksi dari belakang. Terutama kalau mengenakan celana kain yang
ketat, tambahnya.
Aku cuma terdiam mendengar penuturannya, tak kusangka kalau selama
ini Hasan sangat memperhatikan diriku. Lalu dengan tenang Hasan mulai
meremas dadaku lagi, aku cuma diam menerima apa yang bakal dia lakukan.
Kedua jari-jari tangannya aktif meremas kedua payudaraku, apa lagi saat
jari-jari itu mulai memilin dan kemudian memelintir kedua puting
susuku. Rasa nikmat yang luar biasa dari dada itu menyebar ke seluruh
badanku, sehingga membuat tubuhku bergetar dan mengerang halus.
Tiba-tiba semua kenikmatan itu terhenti, tapi ada sesuatu yang hangat
di sekitar dadaku, terus berhenti di putingku. Aku membuka mata
sebentar, ternyata Hasan sedang asyik menjilati putingku dan sesekali
menghisap-hisapnya.
Aku terus meresapi setiap kenikmatan yang dihasilkan oleh permainan
lidah Hasan di dadaku, pelan-pelan kubuka mataku. Dan aku bisa
menyaksikan bagaimana Hasan menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Aku
mendesah panjang saat aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh
vaginaku. Rupanya jari-jari Hasan telah mengelus-elus vaginaku yang
sudah basah sekali. Sambil terus memainkan lidahnya di puting susuku
yang sudah sangat mengeras, seperti semalam sambil menghisap lidahnya
memutar-mutar puting susuku, sesekali dia menggigitnya sehingga aku
menjadi berkelojotan tak tertahankan. Saat aku terengah-engah mengambil
nafas, Hasan memindahkan serangannya ke arah selangkanganku.
Aku menarik nafas dalam-dalam sewaktu lidahnya yang basah dan
hangat pelan-pelan menyentuh vaginaku, aku mendesah tertahan saat
lidahnya naik ke klitorisku dan menyentuhnya. Kemudian dengan lihainya
Hasan memelintir klitorisku dengan bibir hingga benar-benar membuatku
merem-melek keenakan. Aku seperti tersetrum karena tidak tahan, melihat
itu Hasan semakin ganas memelintir klitorisku.
"Euh.. Ah.. Ah.. Ach.. Aw.."
Aku sudah tidak tahu bagaimana keadaanku waktu itu, yang jelas
mataku buram, semua serasa memutar-mutar. Badanku lemas dan nafasku
seperti orang yang baru lari marathon. Aku benar-benar pusing, terus
aku memejamkan mataku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku yang
bermula dari selangkangan merambat ke pinggul lalu bergerak ke dada dan
akhirnya membuat badanku kejang-kejang tanpa bisa kukendalikan.
Hasan memandangi wajahku yang sedang menikmati puncak kenikmatan
yang telah dia berikan, sesungging senyum terlintas di sana. Aku
mencoba mengatur nafasku, dan sewaktu aku telah mulai tenang Hasan
menyodorkan penisnya yang.. wow, ternyata 2 kali lebih besar daripada
milik suamiku.
Kini penisnya yang telah hampir maksimal berdiri di depan mukaku,
tangan kanannya digunakan untuk memegang batang penis itu sementara
tangan kirinya membelai rambutku dengan lembut. Aku tahu dia mau
dioral. Sudah 2 tahun aku tidak melakukannya sehingga ada rasa jijik
sedikit. Tapi rasanya tidak adil, dia sudah memuaskan aku, masa aku
tolak keinginannya.
Aku buka mulutku dan kujilat sedikit kepala penisnya, terasa hangat
dan membuatku ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi terus dan
terus. Hasan duduk di ranjang, kedua kakinya dibiarkannya telentang.
Aku juga duduk di ranjang, lalu aku membungkuk sedikit, aku pegang
batang penisnya yang 2 kali lebih besar daripada milik suamiku itu
dengan tangan kiri dan tangan kananku menahan badanku agar tidak jatuh
saat mulutku sedang bekerja.
Mula-mula cuma menjilati, terus aku mulai kulum kepala penisnya.
Aku hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku tapi sayang
tidak bisa masuk semuanya. Kepala penisnya sudah menyodok ujung mulutku
tapi masih ada sisa beberapa centi lagi. Aku tidak mau memaksakannya,
aku gerakkan naik turun sambil aku hisap dan sesekali aku gosok batang
penisnya memakai tangan kiriku.
Hasan sepertinya puas dengan permainanku, dia memperhatikan
bagaimana asyiknya aku mengkaraoke batang penisnya, sesekali dia
membuka mulut sambil sedikit mendesah. Sekitar 10 menit kemudian, masih
juga belum ada tanda-tanda kalau dia akan keluar. Lalu dia melepaskan
batang penisnya dari mulutku yang masih penasaran. Lalu Hasan berdiri
dan mendorong tubuhku ke ranjang sampai aku telentang.
Lalu dibukanya pahaku agak lebar dan dijilatinya lagi vaginaku yang
sudah kebanjiran. Terus dipegangnya penisnya yang sudah berukuran
maksimal, kemudian Hasan mengarahkan batang penisnya ke vaginaku, tapi
tidak langsung dia masukkan. Dia gosok-gosokkan kepala penisnya
terlebih dulu ke bibir vaginaku, baru beberapa detik kemudian dia
dorong batang penisnya ke dalam.
Terasa sesuatu yang keras padat hangat dan besar memaksa masuk ke
dalam vaginaku, menggesek dindingnya yang sudah berlendir. Aku mulai
berkejap-kejap lagi merasakan bagaimana penisnya menggosok-gosok
dinding vaginaku hingga rasa nikmat yang luar biasa kembali menjalari
tubuhku. Tiba-tiba penis Hasan memaksa masuk terus melesak ke dalam
vaginaku hingga membuat tubuhku berkelojotan tak karuan menahan nikmat.
Lalu Hasan mulai menggerakkan pinggangnya naik turun. Penisnya
menggesek-gesek vaginaku, mula-mula lambat lalu semakin lama semakin
cepat. Ada rasa nikmat luar biasa setiap kali Hasan menusukkan penisnya
dan menarik penis itu lagi. Hasan semakin cepat dan semakin keras
mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan
nikmat yang terus mengalir dari dalam vaginaku.
Saat rasa nikmat itu semakin menggumpal dan hampir tumpah keluar,
tiba-tiba Hasan mencabut penisnya dari vaginaku. Dia tengkurap
diatasku, walau sudah lemas tapi aku tahu apa yang ingin Hasan lakukan.
Lalu aku angkat pantatku ke atas, aku tahan pakai lututku dan kubuka
pahaku sedikit sementara tanganku menahan badanku agar tidak ambruk dan
aku bersiap untuk ditusuk olehnya dari belakang.
Hasan memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang, terus dia
kocok lagi vaginaku. Dari belakang kocokan Hasan tidak terlalu keras,
tapi semakin cepat. Aku sudah sekuat tenaga menahan badanku agar tidak
ambruk, dan aku rasakan tangan Hasan meremas-remas dadaku dari
belakang, terus jari-jarinya menggosok-gosok puting susuku hingga ini
membuatku merasa seperti diserang dari dua arah, depan dan belakang.
Hasan kembali mengeluarkan penisnya dari vaginaku, kali ini
dimasukkannya ke dalam anusku. Dia benar-benar memaksakan penisnya
masuk, padahal inilah pertama kalinya ada batang penis yang menjelajahi
lubang anusku. Hasan sepertinya tidak peduli, dia mengocok anusku
seperti mengocok vaginaku, kali ini cuma tangan kirinya yang meremas
dadaku sedangkan tangan kanannya sibuk bermain-main di selangkanganku,
dia masukkan jari tengahnya di vaginaku dan jempolnya menggosok
klitorisku.
Aku benar-benar melayang, tubuhku bergerak-gerak tak karuan dan
mataku berkejap-kejap keenakan. Anusku dikocok-kocok, klitorisku
digosok-gosok, dadaku diremas-remas dan putingnya dipelintir-pelintir
dan vaginaku dikocok-kocok juga pakai jari tengah. Aku benar-benar
tidak kuat lagi, serasa seperti ada aliran setrum yang menyerang
tubuhku dan menyebar ke segala arah. Bersamaan dengan itu aku merasa
kepala penis Hasan membesar di dalam lubang anusku. Secara bersamaan
aku menjerit halus dan ambruk ke atas kasur, batang penisnya sudah
tidak bergerak-gerak lagi tapi kedua tangannya tetap aktif bergerak
membantuku meresapi setiap detik kenikmatan di setiap sendi tubuhku.
Hasan lalu membalikkan tubuhku kemudian menjilati kedua puting susuku.
Sambil menikmati sisa-sisa gelombang orgasme yang masih terus
menjalar, aku pegang rambut Hasan yang lumayan panjang dan kujambak.
Setelah itu aku melangkahkan kaki ke kamar mandi yang terletak di dalam
kamar kostnya. Guyuran air yang dingin mengembalikan kesegaran tubuhku
yang terasa linu di sana-sini. Saat sedang asyik menikmati semua itu,
ada ketokan halus dari arah pintu. Kubuka pintu kamar mandi dan Hasan
tampak terkesima menyaksikan tubuhku yang telanjang bulat dengan rambut
yang basah. Dia masuk dan langsung merangkul tubuhku.
"Mandi dulu dong", pintaku berbisik di telinganya.
Ternyata dia mau menurut dan langsung mengguyur badannya dengan
air, kemudian Hasan menyabuni tubuhnya dengan sabun cair. Melihat tubuh
kekar yang berotot itu basah oleh air, gairahku mulai naik kembali.
Selama ini aku belum pernah bercinta sambil mandi dengan suamiku,
mungkin inilah kesempatan untukku, batinku. Kudekati tubuh Hasan,
kuambil sedikit sabun cair lalu kuoleskan ke telapak tanganku. Setelah
itu kusabuni tubuhnya, pertama ke dadanya yang bidang, lalu turun ke
perutnya yang berotot dan akhirnya ke arah batang penisnya yang sudah
berdiri tegak kembali.
Melihat batang kejantanannya yang membesar dan mengeras itu
membuatku bergidik dan gemas. Pelan-pelan kuoleskan sabun ke penisnya
lalu kuusap-usap lembut batang penis yang perkasa itu. Kulihat Hasan
mulai gelisah, sehingga kutingkatkan gerakan tanganku menjadi sebuah
kocokan tapi tetap lembut. Kulihat gerakan tubuh Hasan semakin tidak
beraturan, mau keluar rupanya dia, batinku.
Tiba-tiba Hasan menarik tanganku dan melepaskannya dari batang
penisnya. Lalu Hasan ganti menyabuni tubuhku, mula-mula dia menggosok
kedua tanganku terus kedua kakiku. Sampailah gerakan menyabunnya pada
daerahku yang vital. Lalu Hasan berdiri di belakangku. Kemudian dia
merangkulku dan mulai menyabuni kedua payudaraku dengan telapak
tangannya yang besar dan lebar. Aku berusaha bertahan agar tidak
mengeluarkan suara desahan, tapi apa mau dikata saat dia mulai
memelintir puting susuku sebuah desahan panjang keluar juga dari
bibirku.
Puas bermain di sekitar dada, usapannya merangkak ke bawah melewati
perutku dan terus turun hingga akhirnya sampai di liang senggamaku. Aku
kembali merintih saat Hasan mengusap liang vaginaku dengan lembut, busa
sabun hampir menutupi permukaan lubang vaginaku. Saat gerakanku semakin
liar, Hasan menarik tangannya dari bawah pahaku dan mengguyur tubuh
kami berdua dengan air yang dingin menyejukkan. Aku lalu membalikkan
tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan, tinggi badanku hanya
sampai kening Hasan.
Kucium bibirnya dan dia membalasnya, gerakan lidahnya yang liar
menari-nari di dalam rongga mulutku dan aku sangat menikmatinya. Tangan
kami pun tidak tingal diam, dia menyentuh payudaraku dan aku pun
menyentuh batang kejantanannya yang berdiri tegak perkasa. Terjadilah
perang gerakan tangan antara kami berdua, Hasan asyik meremas dan
memelintir sepasang puting susuku sambil sesekali menghisap dan
menggigitnya. Sementara aku mencoba mengimbanginya dengan terus aktif
mengocok batang penis Hasan yang sudah sangat keras. Desahan nafas dan
rintihan kenikmatan kami berdua memenuhi semua sudut kamar mandi itu.
Setelah kurasa cukup, secara perlahan kubimbing batang penisnya
untuk memasuki lubang vaginaku. Kulebarkan sedikit kakiku agar batang
kejantanan Hasan dapat lebih mudah memasuki liang vaginaku. Secara
perlahan batang penis itu mulai menerobos liang senggamaku yang seakan
menyedotnya. Kubiarkan sejenak rasa nikmat itu menjalari semua sendi
tubuhku, lalu kulilitkan tanganku ke lehernya. Lalu Hasan menggendongku
dan menyandarkan tubuhku ke dinding kamar mandi. Kemudian Hasan mulai
menggoyang pinggulnya yang membuat batang kejantanannya keluar masuk di
lubang vaginaku. Rasa nikmat luar biasa menderaku saat batang penis
Hasan menghunjam ke dalam liang senggamaku. Sekitar sepuluh menit
kemudian rasa nikmat itu mulai menjalari tubuhku, dan akhirnya sebuah
erangan panjang menyertai ledakan orgasme yang menghantam tubuhku.
Hasan berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan padaku menikmati
orgasme yang kesekian kalinya. Setelah melihat nafasku yang kembali
teratur, dia kembali melanjutkan gerakan pinggulnya yang semakin cepat
dan tajam. Aku tak menyangka kalau gerakannya itu bisa kembali
membuatku merasakan detik-detik menjelang orgasme. Saat Hasan menjerit
dan menumpahkan spermanya ke dalam lubang vaginaku, saat itulah aku
merasa tubuhku seakan disetrum dan kembali ledakan orgasme menderaku.
Padahal baru lima menit yang lalu aku mencapai klimaks. Setelah cukup
tenang, aku menarik wajah Hasan lalu menciumnya lembut.
"Saan.. Kakak boleh nanya nggak?", ucapku membuka pembicaraan.
"Apa itu Kakak sayang..?", bisiknya lembut di telingaku.
"Apa kamu sudah pernah melakukan ini dengan Tita.. Atau dengan
cewek lain?", tanyaku lembut. Dia tersenyum menatapku, lalu ia
memelintir kedua puting susuku sehingga aku mendesah kecil, lalu dia
berbisik..
"Kak I'in adalah orang pertama yang menikmati batang kejantananku".
Astaga, ternyata pada saat Hasan bercinta denganku dia masih
perjaka, tapi aku tidak begitu saja percaya dan sepertinya Hasan bisa
melihatnya dari air mukaku. Lalu ia berkata bahwa dia rajin membaca
buku dan cerita mengenai seks, selain itu dia juga sering menonton film
BF untuk mencari trik-trik baru. Dan saat bersamaku dia mengeluarkan
semua ilmu yang telah didapatnya, dan yang membuatku lebih kaget lagi
adalah dia mengatakan bahwa itu pun belum semua ilmunya dikeluarkan.
Tak salah lagi, Hasan memang seorang pejantan tangguh. Dan
beruntung sekali Tita adikku yang kelak akan menjadi istrinya. Tapi
sebelum itu dia akan kuberi pelajaran praktik dalam bercinta, dan
sebagai imbalannya dia harus memberikanku kepuasan yang sudah tidak
bisa lagi diberikan oleh suamiku tercinta.
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,555 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,601 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,851 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,201 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,229 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,354 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,618 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,313 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,441 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,286 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,231 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,119 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,199 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,284 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,235 |
|
|
|
|
|
|
|