|
|
Aku teringat akan kisah yang terjadi 18 tahun
yang lalu, ketika aku masih di alam persekolahan. Kisah yang akan
kuceritakan ini mendatangkan kesan yang mendalam terhadap kehidupanku.
Umurku sekarang 30 tahun lebih.
Sewaktu berada di tingkat 5, di salah satu sekolah di Malaysia ini,
aku terkenal dengan sifatku yang pemalu dan takut terhadap wanita.
Ketakutanku itu bukan kerena takut seperti selayaknya orang melihat
hantu, tetapi adalah karena tidak adanya kekuatan dalam diriku untuk
berhadapan dan bergaul dengan mereka. Walau bagaimanapun, aku seorang
yang happy go lucky, suka bersenda gurau. Sekolahku tu pulak, sekolah laki-laki. Semua pelajarnya laki-laki, wanita yang ada hanyalah Dosen saja. Jadi semakin bertambahlah ketakutanku pada kaum hawa itu.
Walaupun aku tidak berani berhadapan dengan wanita, keinginanku untuk
bergaul dengan mereka sangat tinggi. Aku sering berangan-angan memiliki
pacar, dan aku juga suka cemburu melihat teman-temanku yang punya pacar
dan sering keluar bersama pacar mereka. Aku juga memilki tabiat yang
lain, yaitu gemas jika melihat wanita dewasa dan seksi, terutama yang keturunan Cina.
Bila aku pergi ke tempat renang, aku sering onani setelah melihat
cewek-cewek Cina yang seksi dan menggairahkan itu. Akibatnya aku jarang
sekali berenang. Di sekolahku, dosen wanitanya lebih banyak dari pada
dosen pria. Ada yang Cina, India, dan yang Melayu pun ada. Di antara
dosen perempuan tersebut, ada tiga orang yang setengah baya dan seksi.
Dua orang Cina dan seorang lagi Melayu. Dosen Cina yang dua orang ini
mengajar di semester 6, selalu menggunakan kaos saja jika datang ke
sekolah. Yang pertama namanya Miss Wong dan satunya lagi Madam Chong.
Madam Chong walaupun sudah memiliki tiga orang anak dan umurnya sudah
dekat 40 tahun, tetapi badannya masih seksi. Sedangkan Miss Wong masih
belum menikah, tetapi umurnya sudah cukup matang, kurang lebih 30
tahun. Tubuhnya masih montok. seperti biasa, cewek Cina memang punya
bentuk badan yang menarik. Sedangkan dosen wanita satunya itu adalah
dosen Melayu yang baru saja dipindahkan ke sekolah ini, dengar kabar
dia berasal dari Trengganu. Dia pindah sebab ikut suaminya yang pindah
kerja ke sini. Kami memanggilnya Dosen Hanizah yang berusia sekitar 25
tahun. Beliau baru saja menikah dan mempunyai seorang anak yang baru
berumur setahun lebih. Kabarnya, setelah lulus kuliahnya, dia terus
menikah. Tinggal di Kuala Trengganu selama setahun, terus pindah ke
sini. Suaminya bekerja sebagai Pegawai Pemerintahan.
Aku sangat suka melihat ketiga orang dosen ini, wajah mereka dan
badan mereka sungguh menawan, terutama dosen Hanizah. Walaupun dia
tidak berpakaian seksi, apalagi bertudung tetapi tetap menggairahkan.
Jika Miss Wong atau Madam Chong ingin pulang, atau baru sampai, aku
pasti mendekati ke arah mobil mereka. Bukannya mau menolong membawakan
buku mereka, tetapi ingin melihat paha seksi mereka ketika sedang duduk
di dalam mobil. Kemaluanku pun terangsang saat itu. Kalau Dosen Hanizah
agak susah dilihat keseksiannya, sebab dia berbaju kurung ke sekolah.
Jika dia memakai kebarung, baru kelihatan sedikit bentuk tubuhnya yang
montok dan molek itu. Apa yang aku sangat suka pada Dosen Hanizah
adalah wajahnya yang lembut dan menawan, suaranya manja bila berbicara.
Dengan bentuk badan yang kecil molek, kulit yang putih akan memukau
mata siapa saja yang memandang. Tetapi sayang seribu kali sayang karena
ketiga dari mereka tidak ditakdirkan mengajar di kelasku. Aku hanya
dapat melihat mereka pada waktu istirahat, waktu rapat bersama ataupun
di ruang guru saja. Jarang sekali kesempatan yang mengijinkanku bersama
dengan mereka.
Entah bulan berapa, aku tidak ingat, kalau tidak salah dalam bulan
Maret, dosen metematikaku pindah ke sekolah lain, alasan pindahnya aku
tidak ingat. Jadi, selama 2 minggu kami tidak belajar matematika.
Memasuki minggu yang ketiga, waktu pelajaran matematika, Dosen Hanizah
masuk ke kelas kami. Kami semua keheranan, apakah dia masuk untuk
mengganti sementara atau mengajar mata pelajaran ini untuk menggantikan
dosen lama. Dosen Hanizah yang melihat kami keheranan, menjelaskan
bahwa dia akan mengajar matematika untuk kelas ini menggantikan dosen
lama. Dengan tidak disangka, semua siswa dalam kelas bersorak gembira
termasuk aku. Aku tidak tahu mereka gembira karena mendapat dosen baru
atau gembira karena hal lain. Yang pasti, aku gembira sebab dosen yang
paling cantik, yang selalu kudambakan akan masuk mengajar di kelas ini.
Ini berarti aku dapat melihat dia lebih sering.
Mulai hari itu, Dosen Hanizah yang mengajar matematika. Aku pun
jadi menyukai pelajaran ini, walaupun aku tidak pernah lulus matematika
sebelumnya. Aku sering tanya dan menemui dia, bertanya masalah
matematika. Dari situ, pengetahuan matematikaku bertambah, aku lulus
juga akhirnya dalam ujian bulanan walaupun hanya mendapatkan nilai yang
cukup. Oleh kerena terlalu menyukai Dosen Hanizah, aku jadi sedikit
banyak mengetahui latar belakangnya. Kapan tanggal lahirnya, tinggal
dimana dan bagaimana keadaan keluarganya.
Dalam bulan Juni, Dosen Hanizah ulang tahun, aku mengajak teman
satu kelas untuk mengucapkan "Selamat Hari Ulang Tahun" bila dia masuk
nanti. Ketika Dosen Hanizah masuk ke kelas, ketua kelas mengucapkan
"Selamat Hari Ulang Tahun Dosen" dan diikuti oleh kami semua. Dia
terperanjat, dan bertanya dari mana kami semua tahu tanggal ulang
tahunnya. Anak-anak yang lain menunjuk aku, mereka bilang kalau aku
yang memberitahu.
Dosen Hanizah bertanya, "Dari mana kamu mengetahuinya..?"
"Ada lah.." jawabku, setelah itu dia tidak bertanya lagi.
Dosen Hanizah tinggal di rumah teres yang bersebelahan
dengan komplek dekat tempat tinggalku, kurang lebih 2 km jaraknya dari
rumahku. Waktu liburan, aku selalu berkeliling dengan sepeda ke komplek
perumahan tempat tinggalnya. Aku tahu rumahnya dan selalu mampir di
situ. Pernah sekali itu, waktu sedang bersepeda, Dosen Hanizah sedang
memasukkan sampah ke dalam tong di luar rumah. Dia melihatku, dan terus
memanggilku. Aku pun segera pergi ke arahnya. Dia tidak memakai tudung,
terurailah rambutnya yang lurus sebahu itu. Sungguh ayu aku melihatnya
sore itu.
"Azlan, rumahmu dekat sini ya..?" tanyanya dalam logat Kedah.
"Tidak juga." balasku, "Tapi memang tidak terlalu jauh sih."
"Anda tinggal di sini..?" aku tanya padanya meskipun aku sudah tahu.
"Iya.."
"Sendirian aja? Mana suaminya?"
"Ada di dalam, dengan anak saya."
Ketika kami asyik berbicara, suaminya keluar, menggendong anak
perempuan mereka. Terus aku diperkenalkan kepada suaminya. Aku berjabat
tangan dan menegur anaknya, sekedar menunjukkan rasa hormatku. Suaminya
tidak terlalu ganteng, tetapi terlihat bergaya, maklumlah pegawai.
Setelah agak lama, aku minta diri untuk pulang.
Sudah 6 bulan Dosen Hanizah mengajar kami, aku bertambah pandai
dalam matematika. Dan selama itulah aku sering berada di kelasnya. Aku
sering membayangkan keadaan Dosen Hanizah tanpa sehelai benang pun di
tubuhnya, pasti indah sekali. Dengan bentuk tubuh yang montok, kecil,
pinggang yang ramping serta kulit yang cerah, jika telanjang pasti
membuat orang yang melihatnya ingin segera menerkam tanpa berpikir dua
kali. Tetapi, aku hanya dapat melihat rambutnya saja di sore itu.
Hari ini libur, libur karena memperingati peristiwa Sukan Tahunan.
Aku tidak tahu hendak kemana, aku lelah bersepeda dan mengayuh tanpa
arah tujuan. Agak jauh kali ini aku berkeliling, ketika ingin pulang
aku melewati kawasan perumahan Dosen Hanizah, waktu itu langit gelap
dan kelihatannya ingin hujan. Aku berharap bisa tiba di rumah sebelum
kehujanan. Tetapi belum sampai di kawasan rumah Dosen Hanizah, hujan
mulai turun, dan lama-lama semakin lebat. Pakaianku basah kuyup. Aku
tidak berhenti, terus saja mengayuh sepedaku. Aku tidak sadar ternyata
ban sepedaku semakin kempes, seharusnya aku memompa dulu sebelum keluar
tadi. walaupun sebentar lagi akan tiba di kawasan rumah Dosen Hanizah,
aku tidak boleh menaiki sepedaku lagi, karena kalau dinaiki juga, akan
semakin rusak ban sepedaku. Kemudian aku menuntun sepeda sampai ke
rumah Dosen Hanizah. Niatnya aku akan meminjam pompa sepeda kepadanya.
Ketika tiba di depan pintu pagar rumahnya, aku tekan bel rumahnya.
Tidak lama kemudian, pintu rumah dibuka, dari jauh terlihat Dosen
Hanizah menggunakan kain batik dan berbaju T-Shirt sedang
memperhatikanku.
"Dosen..!" jeritku.
"Ada apa Azlan..?" tanyanya keheranan melihat aku yang basah kuyup dalam hujan lebat dengan kilat yang sabung menyabung.
"Saya mau pinjam pompam, ban sepeda saya kempes."
"Tunggu sebentar..!" jeritnya.
Dosen Hanizah masuk kembali ke rumah dan keluar membawa payung. Dia
membukakan kunci pintu pagar dan memintaku untuk masuk. Ketika menuntun
sepeda masuk, mataku memperhatikan Dosen Hanizah yang berada di depan,
melenggang-lenggok berjalan menuju ke dalam. Dari belakang,
kerampingannya terlihat jelas, dengan t-shirt yang agak ketat dan kain
batik yang dililit memperlihatkan bentuk badannya yang menarik.
Punggungnya yang montok dan pejal itu membangkitkan gairahku ketika dia
berjalan. Kemaluanku langsung menegak dalam kebasahan.
"Memangnya dari mana saja kamu, kok naik sepeda hujan-hujanan?" tanyanya ketika tiba di depan pintu.
"Jalan-jalan saja, sudah mau pulang tetapi ban sepeda saya kurang angin," jelasku. "Anda punya pompa ngga..?"
"Saya lihat dulu di gudang. Masuklah dulu." menawarkan kepadaku.
"Ngga apa-apa kok, nanti malah basah pula rumah Anda."
"Tunggu dulu.." Dosen Hanizah pun meninggalkanku kedinginan di
situ, dia terus pergi ke dalam. Sebentar kemudian dia keluar membawakan
pompa dan handuk.
"Nah.. ini.." diulurkannya pompa itu ke arahku.
Meskipun aku lelah tetapi langsung terus memompa angin ke dalam ban sepedaku.
"Ingin lansung pulang habis ini?"
"Yaa.. habis mompa terus pulang."
"Hujan selebat ini mau nekat pulang?"
"Tak apa-apa, sudah basah kuyup juga kok," jawabku lalu terbersin.
"Nah.., kan kelihatannya kamu mau kena selsema tuh."
"Hanya sedikit bersin kok," kataku lalu menyerahkan pompa kepadanya, "Terima kasih Bu.."
"Ada-ada saja kamu, handuk nih, handuki sampai kering dulu
badanmu.." katanya sambil memberikan aku handuk yang dipegangnya sejak
tadi.
Aku mengambil handuk itu dan mengelap rambut dan mukaku yang
basah. Aku dengan santainya berhandukan seperti di rumah sendiri, aku
buka baju di depan dia. Setelah itu, baru aku ingat kalau aku berada di
depan dosenku.
"Sori Bu.." kataku perlahan.
Dosen Hanizah pergi ke dalam. Kukira dia marah sebab aku buka baju
di depan dia, tetapi dia datang sambil membawakan sarung, T-Shirt dan
sebuah bakul.
"Nah, ganti bajumu pakai ini..!" katanya sambil memberikannya kepadaku, "Baju basahnya taruh dalam bakul ini."
Kulemparkan bajuku ke dalam bakul. Kubuka celanaku langsung di
depannya, tetapi dengan kusarungkan dulu tubuhku dengan sarung
pemberiannya. Setelah mengeluarkan dompetku, kumasukkan celana
panjangku yang basah itu ke dalam bakul, dan yang terakhir celana
dalamku.
"Masuk dulu, tunggu sampai hujan berhenti baru kau pulang.."
sambung Dosen Hanizah sambil mengambil bakul berisi pakaian basahku.
"Nanti dulu, saya keringkan baju ini dulu yah..?"
Aku pun mengikuti dia masuk. Setelah pintu dikunci, aku disuruh
duduk di ruang tamu dan Dosen Hanizah terus pergi ke dapur. Aku
melihat-lihat perhiasan rumahnya, agak mewah juga perabotan dan
perhiasannya. Ketika asyik melihat-lihat, Dosen Hanizah datang dengan
membawakan segelas minuman dan meletakkannya di atas meja, lalu dia
duduk berhadapan denganku.
"Minumlah. Bajumu lagi Saya keringkan di belakang."
Aku pun mengambil nescafe itu dan menghirupnya.
"Mana suami Anda?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Kerja.."
"Oh ya, hari ini kan hari kerja," balasku. "Anak..?""Sedang tidur.
Kamu duduklah dulu, saya ada kerjaan di belakang." katanya sambil
berdiri dan meninggalkanku.
"Oke.." ringkas jawabku.
Hujan di luar masih turun dengan lebat dan diikuti dengan bunyi
guruh yang memekakkan telinga. Aku melihat-lihat kalau ada buku yang
bisa kubaca dan ternyata ada. Aku ambil sebuah novel dan mulai
melihat-lihat. Sehelai demi sehelai kubuka isi novel itu, walaupun
tidak kubaca. Aku sebenarnya sedang tidak ingin membaca, tetapi
daripada tidak ada yang dapat kuperbuat, lihat-lihat saja juga lumayan.
Aku tidak tahu apa yang sedang Dosen Hanizah perbuat di belakang.
Ketika membaca halaman demi halaman, pikiranku jauh melayang
membayangkan gambaran fantasiku bersama Dosen Hanizah. Aku teringat
akan cerita-cerita X dan blue film yang kutonton dulu, bila kejadiannya
seperti ini, pasti akan berakhir dengan adegan asmara. Aku membayangkan
diriku akan berasmara dengan Dosen Hanizah, seperti di dalam film yang
pernah kutonton.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
1,061,825 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
1,051,536 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
667,374 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
659,994 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
356,497 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
300,140 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
297,080 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
278,641 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
247,414 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
216,269 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
211,265 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
205,853 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
192,225 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
184,173 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
178,180 |
|
|
|
|
|
|
|