Sambungan dari bagian 03 Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras, pinggulnya
menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan yang kuberikan pada alat
kelaminnya. Aku benar-benar puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas
dan kucengkeram kuat bulatan bokongnya yang kenyal agar jangan bergerak
terlalu liar, seolah tak ingin melepaskan pagutannya, mukaku sedikit
kuangkat kembali sembari menghirup udara segar lalu lidahku kujulurkan
sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan bukit
kemaluan lunaknya yang putih merangsang. Mulutku tak henti-hentinya
mengecup gemas bukit terlarang milik Tante Vivi itu.
"oouuhh.., nngghhnngghh.., ngghh..", mulut Tante Vivi merintih dan
mengerang tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya
digoyang-goyang kiri kanan, sesekali kurasakan kedua pahanya yang kini
menjepit kepalaku sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin
memuntahkan cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya demikian,
lidahku yang sesekali menelusup masuk ke dalam liang vaginanya sambil
menyentil gemas daging clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil
yang mengalir deras. Sementara tangan kiriku masih mencengkeram
bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan dengan jemari tangan kananku
bibir kemaluannya yang tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih
tak percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu lunak, hangat
dan basah ketika jemari tanganku secara perlahan menyibakkan bibir
kemaluannya mengintip keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang
ternyata berwarna kemerahan.
oohh.., kulihat.., liang vaginanya yang terletak sedikit di atas
lubang duburnya, begitu kecil dan terlihat sempit sembari mengalirkan
keluar cairan lendir kemaluannya yang berwarna bening. Agak di sebelah
atas liang kewanitaannya itu kulihat bulatan daging kecil clitorisnya
yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. Aku sedikit heran, karena
liang vagina milik Tante Vivi ini kecilnya hampir sama dengan liang
vagina milik Dina. Aahh.., batang penisku yang sudah berdiri tegak
menunggu giliran untuk take over jadi makin cenat-cenut.., teng-teng tidak karuan.., tidak tahan nih
kalau sempitnya seperti ini.., bisa-bisa tidak sampai digenjot 5 menit
air maniku sudah muncrat keluar.., seperti yang aku rasakan bersama
Dina akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa sewaktu aku
dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan dan jepitan liang vaginanya
sampai 20 menit, tapi akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai
10 menit saja itu sudah lumayan. Mungkin saja aku terlalu terangsang
saat menggagahi Dina. Entahlah.
"A.. Aarr.., Lagi sayangghh..", Tante Vivi berbisik sedikit serak.
Aku sejenak tersadar dari lamunan.., He.. He.., aku jadi geli juga..,
di saat lagi asyik masyuk seperti itu masih bisa juga aku ngelamun..,
ngeres lagi.., he.., he..".
Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik Tante
Vivi yang berkeringat agak kusut sekilas, lalu kutundukkan muka,
lidahku dengan liar penuh rasa gemas kembali menjilati kedua belah
permukaan labia mayoranya, kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat
kekiri lalu dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu, mengulum,
memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan Tante Vivi secara bergantian
atas dan bawah, seperti kalau kami berdua berciuman mulut.
mm.., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger McDonald atau Wendys tapi yang pasti ada semacam feel great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan tersendiri yang tak bisa
diungkapkan kata-kata begitu indah rasanya mengulum dan mengecup bibir
kemaluan wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya dan
juga suara erangan nikmatnya.
mm.., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai berulang
kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua belah pahanya yang putih
seksi, sambil tak henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih
panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.
"Aahh.., nnggngghghh.., ngghghnhgghh..", rintih Tante Vivi berulang kali.
Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir labia
mayoranya dengan mulutku lalu dengan nakal kembali kusibakkan sedikit
lebih lebar bibir vaginanya dan dengan cepat kujulurkan lidahku
mengusap lembut celah merah diantara bibir kemaluannya.., menyentil
mulut liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh detik lalu
kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante Vivi sampai
menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa nikmat. Saat bibir dan lidahku
secara bersamaan menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai
pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik keras dan akhirnya
mendesah panjang.., pinggulnya sontak diangkat ke atas seolah tak kuat
menahan rasa nikmat dan mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat
kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari tangan kiriku yang kini
terasa bebas, mengusap mesra kedua belah bulatan bokong Tante Vivi dan
meremas-remas lembut.
"Aagghh.., aoohh.., sshhghffhhghh.."
Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang meregang menuju
puncak kenikmatan.., Sedetik.., 2 detik.., 3 detik.., aku merasakan
kedua belah pahanya yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai
bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan cairan lendir
kenikmatannya segera tumpah keluar.., orgasmee.
Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan hisapan mulutku
pada daging clitorisnya dan dengan kuat kedua tanganku membuka kedua
belah pahanya yang masih menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap
aku merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil Tante Vivi.
Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya seolah sedang
menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar kenikmatan yang ia inginkan
tak tercapai.., kedua matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot
memandang selangkangannya yang kosong.., dan Tante Vivi mendapati
diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum penuh kemenangan.
Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan
sesuatu, bibir bawahnya digigit keras seperti geram, kedua matanya yang
sedikit merah memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum
lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi.., rupanya ia jengkel
karena hampir saja aku membuatnya orgasme namun justru aku malah
menghentikannya ditengah jalan.
"K.., kkamu.., benar-benar nakal sekali Arr.., hh.., teganya kamu
Sayang..", bisiknya dengan bibir gemetar. Lalu dengan cepat tanpa
kuduga sama sekali, Tante Vivi menggulingkan tubuh montok seksinya yang
putih mulus ke atas menaiki tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan
kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu kenyal dan tanpa
ampun menduduki buah zakarku sementara bukit kemaluannya yang besar
terasa begitu empuk menekan batang penisku yang sudah sangat tegang..,
ooh.., nikmatnya.
Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi memandangku seolah ingin menelanku.
"Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr..", bisiknya pelan. Aku yang
masih terkaget menyaksikan ulahnya tadi hanya bisa melongo sambil
menikmati sentuhan tubuh montoknya pada alat kejantananku sambil
memandangi kedua buah payudara besarnya yang mengacung kencang ke depan
memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan sedikit membesar
keras dan berwarna coklat kemerahan.
Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika dengan cepat
Tante Vivi mengangkat pinggulnya yang ramping ke atas, kedua belah
pahanya yang putih mulus kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas
saat jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas batang
penisku.., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya sebelah bawah.., ke
depan mulut liang vaginanya.., oohh.., aku mendesah pelan menyaksikan
semua itu. Aku tidak menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa
perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu ngebet dan liang
vaginanya sudah gatal kepingin disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti
sukar sekali memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan
besar mirip punya Rocco Siffredi.
Kuluruskan kedua pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak terlalu
kesulitan menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele.., sambil
menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya terurai indah, kulihat
Tante Vivi sejenak berkutat masih mengarahkan batang penisku ke pintu
liang vaginanya lalu dengan perlahan pinggulnya diturunkan.
Oogghh.., Aahh.., aku mendelik dan mengerang nikmat saat dengan
mata kepalaku sendiri kulihat bibir kemaluannya yang tebal itu vaginaar
lebar menerima tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah
dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala penisku yang secara
perlahan-lahan mili demi mili mulut daging liang vaginanya semakin
melebar sesuai ukuran kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke
dalam liang vagina Tante Vivi.
"Oougghhghh.., nngngnghhaahh..", pekikku keras menahan rasa nikmat
yang luar biasa saat kepala penisku dalam 5 detik telah berhasil
memasuki liang vaginanya yang ketat. aahh.., di dalam situ kurasakan
daging vaginanya seolah sudah menjepit sedemikian kuat seolah
diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut keenakan.
Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang penisku,
kini kedua tangannya diletakkan di atas dadaku sambil setengah
membungkuk untuk menyangga tubuhnya bagian bawah yang masih melakukan
penetrasi. Ia kini memandangku dengan senyuman manisnya kembali,
bibirnya yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar dan
kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.
"Enaak.., Arr..", bisik Tante Vivi tanpa malu-malu padaku.
"I.., iiyaa tantee..", sahutku gemetar menahan rasa nikmat.
"Mm.., milikmu besar juga sayangg..", bisiknya lagi. Lalu dengan
perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan pinggulnya kebawah lagi
sambil memejamkan mata. Namun mulutnya yang indah itu malah tersenyum
seolah ikut menikmati apa yang sedang kurasakan sekarang.
"Aahhgghh..", erangku keenakan saat daging liang vaginanya yang
luar biasa sempit itu mili demi mili secara perlahan terus menjepit
kuat dan menenggelamkan batang penisku yang masih tersisa sekitar 11
centi lagi. Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat kusaksikan
terus proses penetrasi itu, urat-urat di seluruh batang penisku sampai
menonjol keluar membentuk guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan
penis menahan jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang terus
berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku itu. Mili demi mili
kini berganti centi demi centi.., dengan tanpa hambatan berarti walau
terasa begitu sesak dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan
ritme semakin cepat kedalam liang vaginanya.
"Mm.., aahh.., mm", Tante Vivi hanya mendesah dan merintih kecil
saat batang penisku yang besar dengan perlahan telah hampir seluruhnya
tenggelam ke dalam bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya
tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih tersisa di luar
liang vaginanya. Kedua mataku sudah merem melek keenakan, kedua pahaku
sampai gemetaran saking hebatnya rasa nikmat itu.
"oowww.."
"Aaghghghh.."
Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat penetrasi yang
terakhir berlangsung. Kulihat sekilas bukit kemaluan milik Tante Vivi
itu sedikit menggembung lebih besar karena seluruh batang penisku yang
tebal sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam liang
vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat kemaluan milik kami berdua
yang telah menyatu padu. Selain jepitannya yang luar biasa ketat,
kurasakan daging vagina Tante Vivi yang terasa hangat dan licin itu
seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut. Woowww..' ujung jemari
kakiku sampai gemetaran keenakkan.
"mm.., Bagaimana sayang..", bisik Tante Vivi pelan sambil memandangku mesra sekali.
"Aahhghghg.., Nikmat sek.., kali Vii..", sahutku gemetar.
Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, sementara
pinggulnya menempel selangkanganku dengan ketat. Bokongnya yang kenyal
menduduki kedua buah bola zakarku.
"Air maniku.., mau keluar Tante..", bisikku menahan nikmat sambil setengah menggodanya.
"Iihh.., Awas yaa kamu Ar..", sahutnya sambil tersenyum. Ia seolah
mengerti batang penisku tidak bakalan lama bertahan dijepit liang
vagina miliknya seketat itu.
"Ar.., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini.., mm.., tahan
ya sayang.., tunggu Tante yaa..", bisiknya begitu genit sekali.
Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan pinggulnya naik
turun secara perlahan menggesekkan daging liang vagina sempitnya dengan
batang penisku yang sudah tegak tak terkira. Seolah tidak ada hambatan
walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika kedua alat kelamin
kami saling beradu dan bergesekan.
"Uuhh.., uhh.., uhh..", Tante Vivi merintih kecil saat setiap kali
pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali batang penisku yang besar
dan keras ke dalam liang vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang
lembut seiring dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan di atas
selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi
dan menikmati persenggamaan yang benar-benar luar biasa indah ini.
Kedua buah dadanya yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah
kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang menyangga dan menekan
lembut dadaku menghentak-hentak pelan setiap kali pinggul Tante Vivi
bergoyang pelan naik turun secara teratur.
Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini sendirian.
Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari
yang begitu montok dan seksi, begitu putih dan mulus dan kini malah
sedang asyik menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas
selangkanganku menikmati alat kejantananku.
"Oohhaahh.., hahahhgghh..", erangku saking nikmatnya. Batang
penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan
oleh daging liang vaginanya yang luarbiasa sempit dan licin. Kedua
mataku merem-melek secara bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali
pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang penisku seakan
disedot kuat daging liang vaginanya namun begitu pinggulnya bergerak
turun ke bawah batang penisku seakan diremas dan dilumat hebat oleh
liang vaginanya.
Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.
"Vivi.., aagghh.., aahahhgghh..", erangku berulangkali keenakan.
Kedua tanganku berusaha menahan laju naik turun pinggulnya yang kurang
ajar itu. Namun jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat
bokongnya yang berat, dan tanpa ampun secara terus-menerus liang vagina
Tante Vivi dengan jepitannya yang luar biasa meluluh lantakkan seluruh
batang penisku seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan
dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan meredam rasa
nikmat seks yang luar biasa itu, air maniku sontak langsung mengalir
mendesak-desak hendak muncrat keluar. Tante Vivi seolah tak mau tahu
terus bergerak naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan batang
penisku ke dalam liang vagina sempitnya.
"Uuhh.., uuhh.., uu.., hh.., uuhh..", erangnya berulangkali
menikmati alat kejantananku yang sedang berada di dalam liang
vaginanya.
"aahahh..", aku mengerang panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak sampai muncrat keluar.
"uuh.., kamu mau keluar sayang..", bisik Tante Vivi genit.
"Iyyaa.., Vi..", sahutku gemas tanpa memanggilnya dengan sebutan Tante lagi
"ooh.., Aku bener-bener tidak tahan lagi."
"Hik.., hik.., oke Sayang.., kamu keluar duluan Ar.., Tante jepit
lebih keras yaa Sayang..", bisiknya semakin genit tanpa malu-malu. Aku
jadi makin gemas dibuatnya.
Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil menggoyang pinggul
semakin cepat naik turun, kurasakan daging liang vaginanya seolah
menjepit 2 kali lebih hebat, batang penisku seolah diremas dan
dikenyot-kenyot hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya
sekitar 4 centi saja.
oohh.., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah kalah.., aku tak
mampu menahan desakan air maniku yang sudah sampai di leher batang
penisku. Kuremas gemas kedua belah payudara Tante Vivi yang besar
terguncang dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras dan
melepas puncak kenikmatan seks.
"aagghhghghhgaahh..", Teriakku nikmat.., saat dengan hebatnya air
maniku muncrat keluar dengan tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.
"Craatt.., craatt.., Crraatt.., craatt.." ke dalam liang vagina Tante Vivi yang sempit licin dan hangat.
"uu.., mm.., uu.., mm.., oowww.., banyak sekali manimu sayangghh..,
uu..", desahnya lembut saat air maniku kutembakkan berulang kali dengan
sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vaginanya.
Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan.., begitu tinggi..,
terasa begitu nikmatnya, "Oohh..". Tubuhku seakan menggelepar dirajam
kenikmatan yang tak terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang
vagina Tante Vivi yang menyempit hebat menggesek semakin cepat pula
batang penisku yang sedang collapse.., ejakulasi, seakan milikku
diurut-urut mesra sembari memuntahkan air mani yang sangat banyak dan
kental.
Crraat.., crraatt.., crraatt.., creett..
Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabukkan. Aku masih terlena
diawan kenikmatan menikmati sisa-sisa semprotan air maniku yang masih
tersembur keluar di dalam liang vaginanya. Tante Vivi dengan masih
bersemangat menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh
lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat terkuras.
Jiwaku seakan kembali terhempas keatas tanah.., seolah terlempar dari
pusaran awan kenikmatan yang terasa begitu singkat.
Bersambung ke bagian 05
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
46,422 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
18,390 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
14,007 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
13,725 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
9,927 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
9,708 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
7,932 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
7,252 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
7,085 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
6,568 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
6,254 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
6,239 |
| Kompor Pembawa Berkah - 2 |
heruskw@hotmail.com |
5,204 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
5,200 |
| Nikmatnya Ibu Kostku (2) |
marsissantoso@hotmail.com |
4,616 |
|
|
|
|
|
|