|
|
Sambungan dari bagian 01 Sementara itu, kupeluk tubuh Mbak Limah dengan gemas sambil memainkan
buah dadanya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut. Mulutnya
kukecup sambil lidahnya kumainkan. Kami memang sudah sangat bernafsu
dan terangsang.
Lalu kemudian aku bertanya dengan suara lembut, "Mau
diteruskan..?". Mbak Limah membuka matanya. Di bibirnya terlihat senyum
manis yang menggairahkan.
Kutekan penisku ke dalam. Kemudian kutarik ke belakang
perlahan-lahan. Kuhentakkan perlahan-lahan. Memang sempit kemaluan Mbak
Limah, mencengkram seluruh batang penisku. Penisku terasa seperti
tersedot di dalam vagina Mbak Limah. Kami mulai terangsang!
Penisku mulai memasuki kemaluan Mbak Limah lebih lancar. Terasa
hangatnya sungguh menggairahkan. Mata Mbak Limah terbuka menatapku
dengan pandangan yang sayu ketika penisku mulai kukeluar-masukkan.
Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakanku
selanjutnya.
Sedikit demi sedikit penisku masuk sampai ke pangkalnya. Mbak Limah
mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya penisku di
kemaluannya. Kadang-kadang punggung Mbak Limah terangkat-angkat
menyambut penisku yang sudah melekat di kemaluannya.
Berpuluh-puluh kali kumaju-mundurkan penisku seiring dengan nafas
kami yang tidak teratur lagi. Suatu ketika aku merasakan badan Mbak
Limah mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk
erat-erat pinggangku. Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan
berat keluar dari mulutnya secara pelan. Denyutan di kemaluannya terasa
kuat seakan melumatkan penisku yang tertanam di dalamnya.
Goyanganku semakin kuat. Kasur Mbak Limah bergoyang mengeluarkan
bunyi berdecit-decit. Leher Mbak Limah kurengkuh erat sambil badanku
rapat menindih badannya. Ketika itu seolah-olah aku merasakan ada
denyutan yang menandakan air maniku akan keluar. Denyutan yang semakin
keras membuat penisku semakin menegang keras. Mbak Limah mengimbanginya
dengan menggoyangkan pinggulnya.
Goyanganku semakin kencang. Kemaluan Mbak Limah semakin keras
menjepit penisku. Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Dia diam saja.
Bersandar pada tubuhku, Mbak Limah lunglai seperti tidak bertenaga.
Kugoyang terus hingga tubuh Mbak Limah seperti terguncang-guncang. Dia
membiarkan saja perlakuanku itu. Nafasnya semakin kencang.
Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak.
Air maniku muncrat ke dalam kemaluan Mbak Limah. Bergetar badanku saat
maniku muncrat. Mbak Limah mengait pahaku dengan kakinya. Matanya
terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir dan giginya
dicibirkan. Nafasnya terengah-engah. Dia mengerang agak kuat.
Waktu aku memuntahkan lahar maniku, tusukanku dengan kuat
menghunjam masuk ke dalam. Kulihat Mbak Limah menggelepar-gelepar.
Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak ke belakang. Aku lupa
segala-galanya. Untuk beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu.
Beberapa tusukan tadi memang membuat kami sampai ke puncak
bersama-sama. Memang hebat. Sungguh puas.
Memang inilah pertama kalinya aku melakukan senggama. Mbak Limah
lah wanita pertama yang mendapatkan air perjakaku. Walaupun dia seorang
janda, bagiku dia adalah wanita yang sangat cantik. Waktu kami
melakukan senggama tadi, kami berkhayal entah kemana. Mbak Limah memang
hebat dalam permainannya. Sebagai seorang yang tidak pernah merasakan
kenikmatan persetubuhan, bagiku Mbak Limah betul-betul memberiku surga
dunia.
Aku terbaring lemas di sisi Mbak Limah. Mataku terpejam rapat
seolah tidak ada tenaga untuk membukanya. Dalam hati aku puas karena
dapat mengimbangi permainan ranjang Mbak Limah. Kulihat Mbak Limah
tertidur di sebelahku. Kejadian yang tidak pernah kuimpikan, terjadi
tanpa dapat dielakkan. Mbak Limah juga telentang dengan mata tertutup
seperti kelelahan, mungkin lelah setelah dapat menghilangkan keinginan
batinnya sejak menjanda 6 tahun yang lalu.
Kami masih berpelukan. Kemudian Mbak Limah terasa seperti mengusap
mukaku. Kubuka mataku. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Seolah-olah kami
tidak merasa aneh berpelukan tanpa sehelai benang pun di tubuh kami.
Dia mencium bibirku.
Dia berbisik ketelingaku, "Terima kasih ya Mad. Mbak.." Belum
sempat dia menghabiskan kata-katanya, aku bertanya, "Mbak puas..?". Dia
tersenyum dan mengangguk. "Dua kali!", jawabnya ringkas.
"Mad kamu memang hebat, penismu juga besar! Panjang!", katanya.
Sementara itu ia mengocokkan batang penisku. Suaranya membangkitkan gairahku.
"Mbak suka?", tanyaku. Dia tersenyum. Dia mengangguk tanda suka.
Saat itu juga tanganku memegang buah dadanya. Tangannya mengocok terus
penisku. Penisku tegang lagi. Kami jadi terangsang lagi.
"Mbak mau lagi?", tanyaku dengan suara manja. Dia tersenyum manis.
Apa yang kuimpikan kini benar-benar menjadi kenyataan. Perlahan-lahan
kubuka selimutnya. Kulihat kaki Mbak Limah sudah mengejang. Sedikit
demi sedikit terus kutarik selimutnya ke bawah. Segunduk daging mulai
terlihat. Uff.., detak jantungku kembali berdegup kencang. Kunikmati
kembali tubuh Mbak Limah tanpa perlawanan. Gundukan bukit kecil yang
bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya,
tampak berkilat di depanku.
Kurentangkan kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di
balik gundukan bukit Mbak Limah. Kedua belahan bibir mungil kemaluannya
kubuka. Melalui celah itu kulihat semua rahasia di dalamnya. Aku
menelan air liurku sendiri sambil melihat kenikmatan yang telah
menanti. Kudekatkan kepalaku untuk meneliti pemandangan yang lebih
jelas. Memang indah membangkitkan birahi. Tak mampu aku menahan ledakan
birahi yang menghambat nafasku. Segera kudekatkan mulutku sambil
mengecup bibir kemaluan Mbak Limah dengan bibir dan lidahku.
Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian kemaluan Mbak Limah.
Terasa seperti tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan yang
dihidangkannya. Setiap kali lidahku menekan keras ke bagian daging
kecil yang menonjol di mulut vaginanya, Mbak Limah mendesis dan
mendesah keenakan. Lidah dan bibirku menjilat dan mengecup perlahan.
Beberapa kali kulihat Mbak Limah mengejangkan kakinya.
Aku tak peduli bau khas dari liang kemaluan Mbak Limah memenuhi
relung hidungku. Malah membuat lidahku bergerak semakin menggila.
Kutekan lidahku ke lubang kemaluan Mbak Limah yang kini sedikit
terbuka. Rasanya ingin kumasukkan lebih dalam lagi, tapi tidak bisa.
Mungkin karena lidahku kurang keras. Tetapi, kelunakan lidahku itu
membuat Mbak Limah beberapa kali mengerang karena nikmat.
Dalam keadaan sudah terangsang, kutarik tubuh Mbak Limah ke posisi
menungging. Ia menuruti permintaanku dan bertanya dengan nada manja.
"Mad mau diapakan badan Mbak?", bisiknya.
Aku rasa dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya
dulu. Aku diam saja. Kuatur posisinya. Tangannya meremas sprei hingga
kusut. Air mani Mbak Limah sudah membasahi kemaluannya. Kubuka pintu
kemaluannya. Kulihat dan perhatikan dengan seksama. Memang aku tidak
pernah melihat kemaluan wanita serapat itu. Kucium kemaluan Mbak Limah.
Bau anyir dan bau air maniku bercampur dengan bau asli vagina Mbak
Limah yang merangsang. Bau vagina seorang wanita!
Jelas semua! Bulu kemaluan Mbak Limah yang lembab dan melekat
berserakan di sekitar vaginanya. Kusibakkan sedikit untuk memberi
ruang. Kumasukkan jari telunjukku ke dalam lubang vaginanya.
Kumain-mainkan di dalamnya. Kulihat Mbak Limah menggoyang punggungnya.
Kucium dan kugigit daging kenyal punggungnya yang putih bersih itu.
Kemudan kurangkul pinggangnya. Kumasukkan penisku ke liang vaginanya.
Pinggang Mbak Limah seperti terhentak.
Perlahan-lahan kutusukkan penisku yang besar panjang ke lubang
vaginanya dengan posisi "doggy-style". Tusukanku semakin kencang. Nafsu
syahwatku kembali sangat terangsang. Kali ini berkali-kali aku
mendorong dan menarik penisku. Hentakanku memang kasar dan ganas.
Kuraih pinggang Mbak Limah. Kemudian beralih ke buah dadanya.
Kuremas-remas semauku, bebas. Rambutnya acak-acakan.
Lama juga Mbak Limah menahan lampiasan nafsuku kali ini. Hampir
setengah jam. Maklumlah ini adalah kedua kalinya dalam waktu singkat.
Tusukanku memang hebat. Kadang cepat, kadang pelan. Kudorong-dorong
tubuh Mbak Limah. Dia melenguh. Dengusan dari hidungnya memanjang.
Berkali-kali. Seperti orang terengah-engah kecapaian. "Ehh.. ek, Ekh,
Ekh."
Akirnya aku merasakan air maniku hampir muntah lagi. Waktu itu
kurangkul kedua bahu Mbak Limah sambil menusukkan penisku ke dalam.
Tenggelam semuanya hingga ke pangkalnya. Waktu itulah kumuntahkan
spermaku. Kutarik lagi, dan kuhunjamkan lagi ke dalam. Tiga empat kali
kugoyang seperti itu. Mbak Limah terlihat pasrah mengikuti hentakanku.
Kemudian kupeluk tubuhnya walaupun penisku masih tertancap di dalam
kemaluannya. Kuelus-elus buah dadanya. Kudekati mukanya. Kami
berciuman. Begitu lama hingga terasa penisku kembali normal. Mbak Limah
sepertinya kelelahan. Keringat bercucuran di dahi kami. Kami telentang
miring sambil berpelukan. Mbak Limah terlihat lemas lalu tertidur.
Melihat Mbak Limah begitu, dan hujan masih belum reda, birahiku
bangkit kembali. Kurangkul tubuh Mbak Limah dan aku bermain sekali
lagi. Kali ini Mbak Limah menyerah. Dia tampak menyerah dan tidak
menolak. Kumainkan kemaluannya sampai puas. Bau di kamar ini adalah bau
air mani kami. Bunyi tempat tidur pun berdecit-cit. "Ahh.. argharaah."
Sesudah itu perlahan-lahan aku berdiri dan memakai kembali
pakaianku. Aku keluar dari kamar Mbak Limah menuju ke ruang depan.
Sewaktu aku keluar, barulah aku sadar pintu kamar Mbak Limah tidak
tertutup rapat.
Rupa-rupanya kakak iparku sudah pulang. Mendadak aku pucat
kalau-kalau kejadian tadi disaksikan oleh kakak iparku. Aku keluar
sambil mencoba berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian aku
duduk di sofa. Sebentar kemudian kakak iparku datang membawa minuman.
Kulihat mukanya. Mukanya terlihat biasa saja. Kuyakinkan diriku bahwa
kakak iparku tidak tahu apa yang telah terjadi tadi antara aku dengan
Mbak Limah.
Aku bertanya, "Abang tidak pulang sama Mbak?"
"Tidak. Dia ke Singapore 4 hari!", jawabnya. Dia tersenyum.
"Minumlah!", dia mempersilakanku.
Kemudian dia berjalan menuju ke kamarnya. Aku duduk dan menonton
film "Airforce One". "Mbak sebentar lagi mau pergi, ambil mobil di
sana. Nanti malam kamu tidur di sini, sekilan jaga rumah!", katanya
pendek.
Memang bagitulah biasanya. Kalau abangku tidak ada, aku yang jadi
sopir kakak iparku untuk membawa Mercedez-nya ke mana-mana. Malam itu
aku tidak pulang ke flatku. Tidur di rumah abangku! Memang ada kamar
khusus untukku di rumahnya yang cukup besar itu. Tapi yang lebih
special lagi bagiku adalah tidur dalam pelukan Mbak Limah.
Kiriman dari Malaysia
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
1,061,860 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
1,051,553 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
667,398 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
660,008 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
356,505 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
300,147 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
297,105 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
278,646 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
247,419 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
216,271 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
211,269 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
205,859 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
192,230 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
184,178 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
178,184 |
|
|
|
|
|
|
|