|
|
Dari bagian 1 Begini nih ceritanya..
Setelah selesai mandi, Tika aku gandeng ke meja makan dan ternyata
Intan sudah mulai mencicipi sarapan paginya. Aku lihat di meja makan
sudah ada makanan lengkap dan aku pikir pasti Mbok Inemku yang masak
dari bahan-bahan yang ada di kulkas.
"Selamat pagi.., Intan..".
"Pagi om..". Oh iya, Intan ini memang agak lain, dia memanggilku
dengan sebutan om dan kalau aku perhatikan, Intan ini sedikit lebih
dewasa dibandingkan Tika. Tika memang sifatnya agak sedikit manja.
"Intan.., mana Ibu kamu, kok nggak kelihatan..".
"Ibu lagi mandi om.., Mbak Tika makan yuk bareng Intan..".
"Iya dik.., Mbak Tika juga udah lapar banget..".
Aku dengar memang di kamar mandi belakang ada suara orang yang lagi
mandi. Aku ke kamarku untuk ambil handuk buat Mbok Inemku. Terus aku
menuju ke belakang dan kuketuk pintunya. Mbok Inemku mungkin mengira
yang mengetuk pintu adalah Tika sehingga pintunya dibuka lebar-lebar.
"Aaa.. deen..".
Mbok Inemku berteriak keras banget sampai aku kaget. Dan yang bikin
aku lebih kaget lagi adalah tubuh polosnya. Kepala Mbok Inem hanya bisa
menunduk dengan wajah kemerahan menunjukkan rasa malu yang luar biasa.
Tangan kanannya berusaha menutupi kedua payudara namun tidak bisa
menampung semua kedua gundukan daging yang ada didadanya. Sedangkan
tangan kirinya berusaha menutupi kemaluannya yang dipenuhi jembut yang
luar biasa lebatnya.
Aku sendiri tidak beranjak dari pintu dan terus saja kuperhatikan
Mbok Inemku ini. Adegan ini berlansung agak lama, sampai Mbok Inemku
sendiri nggak tahan aku liatin terus.
"Aaa.. deen..".
Sambil berkata itu, Mbok Inemku membalikkan badan berusaha menutupi
bagian tubuh depannya. Aku sendiri tambah terpana setelah melihat
bongkahan pantat Mbok Inemku. Aku terus berusaha untuk tidak meremas
pantatnya dan memang aku berhasil.
Aku yakin kalau pembaca yang berada diposisiku, pasti sudah nggak tahan untuk menjamah tubuh montok Mbok Inemku.
Pembaca: "Uh.. dasar penulis sombong..".
Eh.. bukannya aku sombong, memang aku sudah lama BERUSAHA latihan
mengendalikan emosiku dengan meditasi. Kalau pembaca berusaha latihan
terus, aku yakin pasti juga bisa seperti aku.
Tetapi pembaca sedikit benar kok tentang aku. Aku akhirnya melakukannya juga. Tetapi tidak sampai yang macem-macem lho.
Aku hanya mencubit pantatnya saja, nggak lebih dari itu.
"Aaa.. deenn..". Mbok Inemku kaget sekali, tetapi dia tidak bergerak dan tetap dalam posisi membelakangiku.
Aku akhirnya punya ide yang sangat cemerlang. Aku yakin pembaca tidak akan mampu menciptakan ide sehebat ideku.
Pembaca: "Uuh.. dasar penulis sombong.. sok pinter..".
Begini nih ideku. Tapi pembaca jangan nyontek ideku ya, sebab sudah
aku hak patenkan, ya walaupun belum masuk MURI. Disaat dia masih terus
membelakangiku, baju dan CDnya yang sudah lusuh aku ambil dari
gantungan tanpa sepengetahuannya dan aku bawa kekamarku. Dikamar,
ketika aku cium CDnya yang sudah tidak berbentuk itu, aduuh bau
kewanitaannya sangat menyengat dan lagi-lagi aku mau muntah. Mungkin
sudah berhari-hari tidak dicuci, ya karena hanya itu baju dan CDnya
sehingga tidak ada gantinya.
Aku langsung ke meja makan ikut menikmati sarapanku bersama Tika
dan Intan. Sambil menyantap hidangan di meja, aku arahkan pandangan
mataku ke kamar mandi belakang dan aku masih bisa mendengar suara Mbok
Inemku yang melanjutkan acara mandinya. Selang beberapa saat aku lihat
kamar mandi sedikit terbuka dan aku perhatikan Mbok Inemku kelihatan
binggung mencari bajunya. Disaat Mbok Inem menuju ke kamarnya, aku
berdiri menuju ke arahnya dan dia kaget sekali, terus dialari ke arah
garasi dalam keadaan telanjang bulat, bugiil.. giil.. giil.. giil!
Bener lho pembaca..!
Pembaca: "Iya.. iya.. aku tahu.. bikin aku ikut horny saja..".
Terus aku ikuti dia dan aku lihat Mbok Inemku binggung mau sembunyi
dimana. Aku terus mendekat dan Mbok Inemku semakin tambah nervous dan
tanpa pikir panjang lagi langsung masuk ke mobilku. Aku tanpa basa-basi
lagi langsung membuka pintu belakang dan aku lihat Mbok Inemku duduk di
jok belakang sambil memeluk kedua kakinya untuk menyembunyikan bagian
sensitifnya.
Disaat aku ikut masuk dan duduk disebelahnya, Mbok Inemku mau lari
keluar. Langsung saja aku tarik tangannya dan aku peluk Mbok Inemku dan
aku belai lembut rambut panjangnya yang masih basah.
"Adeen.. si Mbok mau diapain Den.., si Mbok takuut..".
"Kenapa musti takut Mbok.., aku nggak akan menyakitimu kok Mbok..". Aku lihat Mbok Inemku mulai menangis.
"Si Mbok malu Den.., si Mbok kan nggak pakai baju..".
Kemudian aku pegangi wajahnya dan aku mulai hapus air mata yang
terus saja menetes. Setelah mulai agak reda tangisnya, aku angkat
dagunya, terus aku lumat bibirnya yang terlihat masih sangat seksi.
Mbok Inemku berontak lagi sehingga aku harus memeluknya lagi dan aku
jelaskan kalau aku tidak akan menyakitinya. Setelah agak tenang, aku
mulai lagi mengulum bibirnya dan tangan kananku mulai meremas bongkahan
payudaranya. Mbok Inemku hanya bisa mendesah dalam kuluman mulutku dan
ketika tanganku mulai mengusap-usap vaginanya, Mbok Inemku berontak
lagi dan bisa lari ke kursi depan dan berusaha membuka pintu. Usahanya
sia-sia, karena pintunya sudah aku central lock.
Aku ikut ke depan dan sandaran kursi yang diduduki Mbok Inem aku
tarik kebelakang sehingga Mbok Inemku jatuh telentang dikursinya. Aku
lansung menindih tubuh Mbok Inemku dan berusaha melepas celana pendek
dan CDku.
"Deen.., jangan Den.., si Mbok takut Den..".
"Nggak apa-apa kok Mbok.., jangan nangis gitu dong mbook..".
"Jangan perkosa si Mbok deenn.., si Mbok khan sudah tua deen..".
"Kamu masih cantik kok Nem..".
Aku sendiri sudah mulai kurang ajar dengan hanya memanggil namanya
saja. Terus kuregangkan kedua kakinya, penisku yang sudah semakin
keras, secara pelan pelan aku dorong menembus bibir vaginanya. Lalu
kutekan lagi memeknya sampai kedua kakinya bergetar ketika penisku
masuk semuanya kedalam lobang kelaminnya.
"Aduuh deen.., memek si Mbok sakiit deen..". Ya mungkin sudah lama sekali bibir memeknya tidak dimasuki penis lelaki.
Setelah agak lama aku memompa memeknya, tiba-tiba ada suatu
kekuatan besar yang hendak keluar dari penisku. Dan beberapa saat
kemudian, tubuhku meregang, dan.. "croott.. croott.. creep..
cruuoott.." Spermaku muncrat kedalam rahim Mbok Inemku. Tubuhnya pun
iku mengejang ngejang pertanda dia juga sudah orgasme. Aku terus
perhatikan wajahnya yang masih menikmati gelombang orgasmenya. Setelah
agak tenang, barulah Mbok Inemku tersadar dari orgasmenya. Mbok Inem
langsung menutup wajahnya menyembunyikan rasa malunya.
"Mbook.., teteknya kok nggak ditutupin..". Aku memang sengaja menggodanya.
Dan secara reflek, dia berusaha menutupi payudaranya dengan kedua
tangannya. Sehingga aku dengan leluasa menikmati wajah cantiknya.
Merasa aku perhatikan terus, wajahnya mulai memerah menahan malu. Aku
sendiri yang masih menindih tubuhnya, merasa kasihan dan aku cabut
kontolku yang masih betah menancap di memeknya. Lalu aku keluar dari
mobil untuk mengambilkan bajunya. Dan aku masih sempat melihat ada air
mata yang membasahi pipinya.
Setelah Mbok Inem mamakai baju dan ikut duduk di sofa tengah, aku
pamit kepadanya untuk mengajak Tika dan Intan belanja baju di mall.
Hampir 1 jam aku belanja di mall untuk membelikan baju Intan, Tika dan
Mbok Inemku. Masing-masing aku belikan 4 stel baju. Tika dan Intan aku
belikan juga CD, dan bra-nya tidak, karena aku pikir nanti hanya akan
menghambat pertumbuhan payudaranya. Sedangkan Mbok Inemku tidak aku
belikan CD dan bra karena aku belum tahu ukurannya.
Ketika aku serahkan bajunya, Mbok Inemku kelihatan bahagia sekali
dan aku minta untuk mencobanya. Mbok Inemku langsung lari kekamarnya,
sedangkan Tika dan Intan tanpa malu-malu mencoba satu-persatu bajunya
di depanku. Aku sempat perhatikan bibir memek Tika sudah agak membelah
sedangkan memeknya Intan hanya membentuk garis vertikal. Tetapi untuk
kemulusan kulitnya,
si Intan sedikit lebih putih dibandingkan Tika.
Aku sendiri merasa ikut senang bisa membahagiakannya. Disaat aku
sedang memperhatikan Tika dan Intan, dari arah kamar belakang muncul
Mbok Inemku dengan daster barunya. Aku sempat terpana, melihat
lekuk-lekuk tubuhnya dibalik dasternya yang agak diatas dengkul dan pas
banget dibadannya. Bongkahan bokongnya sangat sekal dan kedua tonjolan
payudaranya sangat menantang untuk diremas.
Aku juga sempat melihat Mbok Inemku menangis bahagia melihat kedua anaknya senang.
"Matur nuwun deen.., si Mbok sudah dibelikan baju..".
"Iya Mbok.., sini duduk di sofa dekat aku..".
Sedangkan Tika dan Intan sendiri sudah sibuk menonton film kartun dari vCD yang aku belikan tadi.
"Mbook.., maaf ya aku belum sempat membelikan CD dan bra buat kamu.., aku khan belum tahu ukurannya..".
"Nggak apa-apa Den.., CD si Mbok yang lama mana Den.., si Mbok mau pakai lagi..".
"Ada di kamarku Mbok.., ambil saja sendiri..".
Aku ikuti dia dari belakang, dan Mbok Inem menemukan CDnya
diranjangku dan mulai memakainya. Baru sampai dipahanya, aku masuk dan
dia kaget sekali.
"Deen..".
"Mbok CDnya kan sudah bau.., jangan dipakai lagi yaa.., nanti aku belikan yang baru..".
Kemudian aku dudukkan dia di tepi ranjangku.
"Aku lepasin lagi ya Mbok CDnya..".
Tanpa seijinnya, aku singkap dasternya dan CD yang baru sampai dipahanya itu mulai aku tarik kebawah sampai terlepas.
Kemudian aku duduk disebelahnya dan mulai memeluk dia.
"Deen.., jangan Den.., si Mbok sudah tua deen..".
Mbok Inemku ini usianya memang sudah 42 tahun, tetapi dibandingkan
teman-teman kerjaku ataupun mahasiswi-mahasiswi kenalanku, mereka semua
nggak ada apa-apanya.
"Siapa bilang Mbok.., kamu masih cantik kok.., dan juga badan Mbok masih seksi kok..".
Akupun mulai membelai rambut dan wajahnya dan aku lihat dia hanya
memejamkan matanya. Aku angkat dagunya dan aku mulai melumat bibirnya
dengan rakus. Mbok Inemku sempat berontak dan setelah aku beri
pengertian, dia mulai pasrah. Ini membuat saya sedikit lebih berani
untuk meremas tonjolan payudaranya. Saya mencoba untuk melakukannya
lebih jauh lagi. Kali ini tangan saya perlahan-lahan saya arahkan ke
bagian selangkangannya. Dia masih tidak menolak, jadi saya bisa
merasakan lembutnya bibir kemaluannya.
Kepasrahannya semakin melambungkan kekurangajaran saya. Tangan saya
mulai menyelinap ke balik pakaiannya. Saya kembali meremas-remas
payudaranya secara langsung. Kali ini langsung menyentuh permukaan
kulitnya. Saya lakukan sambil mencium lehernya dengan lembut. Suara
desahan lembut mulai terdengar dari bibirnya. Disaat saya mulai meremas
belahan memeknya,
agak sulit memang mencari lubang vaginanya karena jembutnya sangat
lebat. Jari tengahku, saya tekan sedikit demi sedikit dan perlahan ke
belahan kemaluannya. Saat itulah dia tersentak dan berusaha menahan
tangan saya. Dia menatap mata saya.
"Deen.., si Mbok malu deenn..".
"Tenang saja Mbok.., Mbok boleh aku panggil namamu saja..". Dia cuma diam saja.
"Oh.. iya nem.., aku cukur ya jembut kamu biar bersih..". Dia juga cuma diam saja.
Memang Inemku ini sifatnya agak pemalu. Aku ambil silet cukur dan
menyuruhnya untuk tiduran. Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan
mulailah aku singkap daster yang dipakainya sampai ke pinggang. Setelah
pahanya aku kangkangkan, dibalik jembut lebatnya itu terdapat bongkahan
daging merah dengan celah yang sempit dan dari situ tersembul seonggok
daging kecil seperti kacang merah merekah yang mencuat keluar.
Aku pun mulai mencukur habis jembut Inemku sampai bersih dan aku cuci memeknya sampai bersih.
"Nem.., dasternya dibuka ya.., aku mau cukur sekalian bulu ketek kamu..".
"Nggak usah deen.., si Mbok malu..".
"Nggak usah malu nem.., ayo berdiri sini..".
Terus aku angkat dia dan dasternya mulai aku lucuti sampai
terlepas. Inemku langsung menutupi payudara dan vaginanya. Dengan
sedikit paksa, akhirnya aku berhasil mencukur habis bulu keteknya.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
980,545 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
867,074 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
550,618 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
518,664 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
333,978 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,184 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,383 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
230,554 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,216 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,147 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,112 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
193,995 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,101 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,123 |
| Nikmatnya Ibu Kostku (2) |
marsissantoso@hotmail.com |
159,235 |
|
|
|
|
|
|
|