|
|
Sambungan Dari Bagian 1
Dan dengan lembut dia membersihkan air mani yang berleleran di penisku dan vaginanya dengan daster yang tadi dikenakannya.
"Sebentar aku bikin kopi dulu ya, biar kamu semangat lagi,"
Dia keluar dari kamarku sambil membawa dasternya yang telah kotor.
Rupanya ia menyempatkan ke kamar mandi, karena kudengar ia menyiram dan
membasuh tubuhnya. Cukup lama ia melakukan itu di kamar mandi. Baru ia
kembali ke kamarku dengan membawa segelas besar kopi panas kesukaanku
yang dibuatnya. Ia mengenakan kain panjang yang dililitkan sebatas
dadanya. Namun satu-satunya pembungkus tubuhnya itu langsung
dilepaskannya setelah menaruh gelas kopi dan mengunci kembali pintu
kamarku.
"Kopinya saya minum dulu ya bu,"
"Oh ya, ya. Silahkan diminum nanti keburu dingin,"
Menyeruput beberapa tegukan kopi panas buatannya membuatku kembali
bergairah. Aku menyempatkan diri mencuci rudalku di kamar mandi.
Kendati tadi sudah dibersihkan olehnya, tetapi rasanya kurang bersih
dan agak kaku. Mungkin karena sperma yang mengering.
Ketika aku kembali ke kamar, Dia langsung menggenggam penisku yang
masih layu. Mungkin ia sudah ingin gairahnya tertuntaskan dan bermaksud
membangkitkan kejantananku dengan mengelus dan meremas-remasnya. Tetapi
dengan halus kutepis tangannya.
"Aku telentang saja,..," kataku.
Dia naik atas ranjang dan aku segera menyusulnya. Ia yang telah
tiduran dengan posisi mengangkang, kudekati bagian bawah tubuhnya tepat
di antara kedua pahanya. Ah, liang sanggamanya sudah banyak kerutan
terutama di bagian bibir kemaluannya. Warnanya coklat kehitaman. Bahkan
ada bagian dagingnya yang menggelambir keluar. Ia mencoba menutupi
kemaluannya dengan tangannya. Mungkin ia malu bagian paling rahasia
miliknya dipelototi begitu. Tetapi segera kusingkirkan tangannya. Dan
ketika tanganku mulai melakukan sentuhan di sana, ia mandah saja.
Bahkan saat telunjuk jari tanganku mulai mencoloknya, ia mendesah. Tak
puas hanya memasukkan satu jari, jari tengahku menyusul masuk
mencoloknya. Dan aku mulai mengkorek-koreknya dengan mengeluar-masukkan
kedua jariku itu. Akibatnya ia menggelinjang dan mendesah.
Kedua jariku semakin basah oleh cairan vaginanya. Baunya sangat
khas, entah mirip bau apa, sulit kucarikan padanannya. Hanya yang
pasti, bau vaginanya tidak membuatku jijik. Hidungku semakin kudekatkan
untuk lebih membauinya. Tetapi ketika lidahku mulai kugunakan untuk
menyapu bagian luar bibir vaginanya ia memberontak.
"Hii, jangan Tris, ah,.. ah.. jorok ah. Kamu nggak jijik? Shh,.. akhh.. shh,..shh,"
Ia mencoba menolakkan kepalaku menjauhkan mulutku dari lubang
nikmatnya. Aku tetap nekad, mulut dan lidahku tambah liar menggeremusi
dengan gemas liang sanggamanya itu. Hingga ia kian menggelepar dan
menggelinjang. Mulutnya mendesis seperti orang kepedasan. Mulut dan
lidahku yang meliar ke bagian dalam vaginanya menimbulkan sensasi
tersendiri. Berkali-kali ia mengangkat pantatnya dan membuat lidah dan
mulutku semakin menekan dan menekan ke kedalamannya. Ludahku yang
bercampur dengan cairan vaginanya menjadikan lubang nikmatnya terasa
sangat basah. Tetapi, ketika lidahku mulai melakukan sapuan ke lubang
duburnya dengan cara mengangkat sedikit pantatnya, ia kembali berontak.
"Apa-apaan ini, hii,.. jangan ah kotor. Uhh,..ahh,..shh,..shh,"
Aku sering melihat film BF, saat wanita dijilati lubang anusnya, ia
tambah menggelinjang dan merintih. Berarti lubang dubur sangat peka
oleh sentuhan. Dan memang terbukti, Dia tambah merintih dan mengerang.
Hanya baru beberapa saat sapuan kulakukan, tubuhnya telah mengejang.
Kedua pahanya menjepit kencang kepalaku disusul dengan mengejutnya
dubur dan lubang vaginanya.
"Ohh, aku sudah enak Tris. Kamu sih menjilat-jilat di situ. Kamu sudah sering ya melakukan dengan wanita,"
"Tidak bu,"
"Kok kamu tahu yang seperti itu,"
"Saya hanya ikut-ikutan adegan film BF" Ujarku. "
Bapaknya Titi (panggilan Nastiti, anaknya) sih jangankan menjilat dubur. Menjilati vagina aku saja tidak pernah," katanya.
Kubiarkan ia sesaat meredakan nafasnya yang memburu. Lalu aku mulai
menindih tubuhnya ketika ia menyatakan siap untuk melakukan permainan
berikutnya. penisku mulai naik-turun keluar-masuk dari liang
sanggamanya. Bunyinya sangat khas dan membuatku tambah bergairah.
Sementara tanganku tak henti-hentinya meremasi susu-susunya. Pentil
susunya yang besar dan mengeras kusedot-sedot dengan mulutku. Itu
membuatnya keenakan dan kembali mendesah. Ia tak mau kalah. Pinggulnya
mulai digoyang. Pantat besarnya dijadikan landasan untuk menggoyang.
Jadilah benda bulat panjang milikku yang berada di dalamnya mulai
merasakan nikmat oleh gesekan dinding vaginanya. Goyangan pinggul dan
naik-turunnya tubuhku di bagian bawah sepertinya seirama. Terasa syuur,
dan ah, nikmat. Tak lupa, sesekali bibirnya kucium. Ia membalasnya
lebih hangat. Lidahku disedotnya nikmat. Jadilah kami bak sepasang
kekasih yang tengah meluahkan gairah. Saling berpacu dan saling memberi
kenikmatan. Aku tak peduli lagi bahwa yang tengah kusetubuhi adalah ibu
kostku. Wanita yang jauh lebih tua usianya dan selama ini kuhormati
karena penampilannya yang selalu nampak santun. Tak kusangka ia
menyimpan bara yang siap melelehkan. Liang nikmat Dia mulai
berdenyut-denyut kembali. Mungkin ia akan kembali orgasme seperti yang
juga tengah kurasakan. Goyangan pinggulnya semakin kencang tetapi tidak
teratur. Maka sodokan penisku ke lubang nikmatnya semakin garang.
Menghujam dan kian menghujam seolah hendak membelah bagian bawah
tubuhnya.
Puncaknya, ketika Dia mulai merintih dan kian mendesah, tanganku
mulai menyelinap ke pinggulnya dan menyelusup ke pantatnya. Di sana aku
meremas dan mencari celah agar dapat menyentuh duburnya. Dan setelah
terpegang, jari telunjukku mencolek-colek lubang anusnya. Akibatnya
matanya seperti membelalak dan hanya menampakkan warna putihnya.
Dirangsang di dua lubangnya sekaligus membuatnya seperti cacing
kepanasan. Maka ketika tubuhnya semakin mengejang, dan tubuhku
dipeluknya erat. Jari telunjukku kupaksa masuk ke lubang duburnya.
Sedang penisku kubenamkan sekuatnya di vaginanya. Jadilah pertahanan
wanita itu ambrol, vaginanya kian berdenyut dan menjepit sementara
erangannya semakin kencang dan bahkan memekik. Sedang dari rudalku,
menyembur sebanyak-sebanyaknya sperma ke lubang nikmatnya. Karena
banyaknya sperma yang mengguyur, kurasakan ada yang meleleh keluar dari
mulut kemaluannya yang masih terterobos oleh penisku.
"Ah, aku puas sekali Tris. Baru kali ini aku merasakan yang seperti ini," katanya.
Kami masih terkapar di ranjang. Ada rasa ngilu dan tulang-tulangku
seperti dilolosi. Tetapi sangat nikmat. Ada tiga ronde permainan yang
kulakukan malam itu. Dia mengaku sangat kecapaian ketika aku memintanya
kembali. Menjelang subuh, ia pamit untuk kembali ke kamarnya.
"Kalau kamu suka, aku siap melakukannya setiap waktu. Tetapi tolong jaga erat-erat rahasia kita ini," ujarnya berpesan.
Aku mengangguk setuju. Bahkan sebelum keluar dari kamarku ia
kuhadiahi ciuman panjang. Pantat besarnya kuremas-remas gemas dan
nyaris punyaku bangkit kembali.
"Sudah ah, besok malam bisa kita sambung lagi. Kamu Tris, besok harus kuliah kan," katanya.
Bergegas ia menyelinap keluar dari kamarku. Takut dengan gairahnya
yang kembali terpancing. Perselingkuhanku dengannya terus berlangsung.
Di setiap kesempatan, kalau tidak aku yang mengajaknya, ia yang
mengambil insiatif. Bahkan di siang hari, kalau aku lagi ngebet,
sengaja bolos dari kampus. Mampir ke warungnya dan memberi kode, lalu
ia akan pulang menyempatkan melayaniku di kamarku atau di kamarnya. Ia
memang tergolong wanita panas yang gampang terpicu hasrat seksualnya.
Seperti siang itu, karena hanya ada satu mata kuliah, aku pulang
agak siang dari kampus. Aku langsung ke warung untuk makan siang dan
bermaksud memberi kode pada ibu kostku. Tetapi ia tidak di sana.
" Ibu baru saja pulang, mungkin untuk istirahat," kata Yu Narsih, pembantunya yang ada menunggu warung melayani pembeli.
Jarak antara warung dengan rumah memang dekat tak lebih dari 50
meter. Maka setelah menyantap makan siangku, aku langsung ngabur ke
rumah. Dia tidak sedang tidur seperti yang kusangka. Ia sedang melipati
pakaian yang telah diambilnya dari jemuran duduk di ruang tengah. Maka
dasar sudah horny, kudekati ia dan kupeluk dari belakang.
"Kuliahnya bebas Tris," katanya.
"Cuma satu mata kuliah kok," jawabku.
Ia berkeringat, mungkin karena kesibukannya melayani pembeli sejak
pagi. Baunya khas, bau wanita dewasa. Tetapi tidak mengurangi gairahku
untuk memesrainya. Ia mulai menggelinjang ketika tanganku menyelusup ke
balik dasternya dan mencari gundukan buah dadanya. Kuremas-remas
susunya dan kupilin putingnya.
Aku jadi gemas karena ia tak bereaksi. Tetapi melanjutkan
pekerjaanya memberesi pakaian-pakaian yang telah dicucinya. Maka sambil
menciumi lehernya, tanganku terus merayap dan merayap sampai kutemukan
vaginanya yang masih tertutup CD. Baru ketika hendak kutarik CD nya ia
berontak.
"Kamu pengin Tris?,"
"Iya. Habis vaginanya enak sih," kataku.
Celana dalamnya berhasil kulepaskan tanpa membuka dasternya.
Sebenarnya ia mengajakku untuk main di kamarnya. Tetapi kutolak, aku
ingin ia melayaniku di sofa. Apalagi Nastiti tengah camping di
sekolahnya sejak dua hari lalu. Jadi aku tidak perlu takut ketahuan
anak gadisnya itu. Dan lagi aku cuma butuh pelepasan hajat secara
singkat karena harus menyelesaikan makalah yang harus jadi besok pagi.
Kalau main di kamar, pasti akan memakan waktu lama karena Dia pasti tak
mau cuma kusetubuhi sebentar.
Jadilah setelah sebentar menjilati vaginanya dan meremasi susunya,
hanya dengan menyingkap dasternya aku mulai menyetubuhinya. Dengan
posisi duduk di sofa ia kangkangkan kakinya hingga memudahkanku
memasukkan penis ke liang nikmatnya. Kugenjot pelan lalu mulai cepat,
karena nafsuku memang sudah naik ke ubun-ubun.
Namun pada saat aku memuncratkan sperma ke lubang vaginanya,
samar-samar kulihat seseorang melihati perbuatan kami. Ia adalah Yu
Narsih, pembantu aku. Kulihat ia mengintip dari balik gorden di pintu
dekat kamar mandi. Rupanya ia masuk dari pintu belakang rumah yang
memang tidak terkunci. Aku langsung berdiri dan melangkah ke arah
dapur.
"Dasar anak muda, kalau lagi ada mau nggak sabaran," katanya tersenyum melihat tingkahku.
Dibersihkannya sperma yang berleleran di sekitar kemaluannya dengan
daster yang dikenakannya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya aku tengah
mencoba mengejar Yu Narsih yang langsung menyelinap keluar setelah
perbuatanku dengan ibu kostku. Aku jadi panik, takut Yu Narsih akan
menceritakan peristiwa yang dilihatnya kepada para tetangga. Kuputuskan
untuk tidak menceritakan padanya ihwal Yu Narsih. Biarlah akan kucoba
meredamnya, pikirku.
Selepas sore kutemui Yu Narsih di rumahnya. Jarak rumah Yu Narsih
hanya sekitar 500 meter. Terpencil di tepi sawah. Aku memang sering
main ke rumahnya dan kenal baik dengan suaminya, Kang Sarjo yang
berprofesi sebagai tukang becak. Wanita berusia sekitar 35 tahun dan
berkulit agak gelap itu, cukup kaget ketika aku datang.
"Kang Sarjo mana Yu?"
"Oh, baru saja berangkat narik. Ada perlu dengan dia?"
Plong, lega rasa hatiku. Aku memang ragu, takut permasalahan yang
ingin kusampaikan ke Yu Narsih di dengar suaminya. Aku dipersilahkannya
duduk di balai, satu-satunya perabotan yang ada di ruang tamu rumah
berdinding pagar itu. Yu Narsih pun duduk menyebelahiku.
"Tidak. Aku malah perlu sama Yu Narsih kok," kataku.
Dengan pelan kusampaikan maksud kedatanganku. Aku meminta Yu Narsih
tidak menceritakan apa yang dilihatnya siang tadi kepada orang-orang.
Kasihan ibu kostku akan jadi bahan gunjingan orang. Dan sejauh ini Dia
tidak tahu kalau Yu Narsih sebenarnya telah memergoki perbuatan itu
hingga aku memintanya pula untuk tidak menegur ibu kostku. Ia cuma
terdiam membisu sampai aku menyelesaikan semua yang ingin kusampaikan.
"Ah, saya ndak apa-apa kok Mas Tris. Saya malah yang minta maaf, tadi nyelonong masuk," ujarnya.
"Tetapi saya tidak enak sama Yu Narsih. Yu Narsih jangan cerita sama siapa-siapa ya," kataku lebih menegaskan.
Seperti menghiba saat aku menyampaikan itu.
"Iya mas. Masak saya menjelek-jelekkan Mas Tris dan ibu sih,"
Mendengar kesungguhan dan ketulusannya itu aku merasakan beban
berat yang tadi menindihku berkurang. Akupun langsung pamit pulang.
Sejak itu aku dengan tenang dapat memuasi ibu kostku. Aku tinggal di
rumah ibu kostku sampai lulus kuliah dan telah memperoleh pekerjaan.
Bahkan, saat ini saya tengah dalam persiapan perkawinan dengan Nastiti,
putri tunggal ibu kostku, entah apa jadinya nanti,.. Apakah Dia akan
tetap meminta layananku bila aku telah menjadi menantunya?
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
313,620 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
164,081 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
137,636 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
121,903 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
113,128 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
103,907 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
83,172 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
79,517 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
76,929 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
66,884 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
65,612 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
62,829 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
60,314 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
60,187 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
59,553 |
|
|
|
|
|
|
|