|
|
Dari bagian 1 "Ih.. ka.. ta.. nya sudah selesai" Dia melihatku agak terperanjat.
Raut mukanya tampak kelihatan merah. Dia agak tersipu setelah melihatku
hanya memakai celana dalam. Aku bisa melihat dari ujung matanya dia
melirik pada selangkanganku yang disitu tampak tercetak jelas penisku
yang sudah tegang dari tadi seakan meronta keluar.
"Sana mandi di dalam masih ada airnya kok" Dia menyambung.
"Iya Bu Anis" jawabku sambil masuk ke bilik.
Perasaanku puas dapat memperlihatkan kejantananku pada wanita paruh
baya ini. Tapi hasratku untuk bertindak lebih jauh semakin berkecamuk.
Kebetulan sekali jam tangan Bu Anis tertinggal di dalam bilik bambu
ini.
"Bu Anis jam tangan Ibu tertinggal nih." Aku berkata kepadanya dari dalam bilik.
Aku menanti Bu Anis masuk ke dalam bilik dan penis celana dalamku semakin tidak bisa memuat penisku yang semakin membesar.
"Tolong ambikan Dod masak aku harus masuk kan kamu sudah telanjang to" Bu Anis berkata dari luar bilik.
"Ah Bu Anis nggak mau saya nggak masuk ndak saya ambilkan" Aku semakin berani menggodanya.
"Ih kamu kok masih nakal to dari dulu" Dia berkata.
"Pakai handuk dulu saya akan masuk" Dia menyambung.
Semakin terbuka kesempatan mencari kepuasan hasratku yang semakin
menggebu-gebu ini. Aku lepas celan dalam ku hingga aku menjadi
telanjang bulat tanpa sehelai benang menanti Bu Anis masuk kedalam
bilik.
Bu Anis masuk kedalam bilik dan langsung setengah menjerit dia berkata, "Dod.. kamu.. nga.. nga.. pain"
Pandangannya terbelalak melihat aku telanjang apalagi melihat penisku mengacung bebas.
"Itu Bu Anis jamnya ambil sendiri ya" Aku mencoba santai.
Aku lihat mukanya yang merah padam namun matanya tadi melirik ke
arah batang zakarku yang sudah tegang. Dia melangkah menuju kearah jam
tangannya yang tertinggal. Pikiran mesumku semakin menjadi-jadi maka
dengan cepat aku tutup pintu bilik.
Melihat perilaku itu Bu Anis kaget sambil menatapku dia berkata, "Dod apa-apaan ini".
"Maaf Bu Anis.. ta.. pi.. Ibu sangat menarik bagi saya" aku semakin berani tanpa memikirkan akibatnya.
"Kamu.. sudah gila ya.." Dia berkata.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia kembali menyahut.
"Aku sudah menduga kamu dari kejadian tadi malam, tapi kamu harus
tahu bahwa Ibu sudah bersuami dan lagi Ibu kan sudah tua" Dia mencoba
menyadarkan aku.
"Tapi wajah dan tubuh Ibu tidak mencerminkan usia Ibu" Aku beralasan.
"Apa sudah kau pikirkan benar-benar" Dia menyahut.
"Su.. dah Ibu" aku berkata tanpa pikir panjang.
"Da.. sar.. kamu" Dia berkata lagi.
Aku mendekat dan mencoba mencium bibirnya. Diluar dugaanku di tidak
menghindar atau meronta namun sebaliknya dia menyambut ciuman hangatku
dan membalasnya. Ciuman kami semakin dalam lidah kami saling bertautan
tanganku bergerilya menjamah buah dadanya yang sekal dan meremas-remas
bokongnya.
Tiba-tiba dia berusaha melepaskan melepaskan pelukan sambil berkata, "Sabar Dod.. jangan terlalu bernapsu"
Dia mendorongku aku terduduk di pinggiran bak semen. Dia masih
berdiri sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing bajunya.
Perlahan dan pasti aku melihat dua bukit kembar yang masih tampah
sekal.
Kini tinggal beliau hanya mengenakan kutang dan rok aku bangkit namun dia berkata, "Duduk dulu".
Aku kembali duduk sambil melihat dia melepaskan roknya. Setelah
roknya terlepas dia melepaskan kutang dan mencopot celana dalamnya. Dan
kini terpampang didepanku tubuh sintal yang aku angan-angankan.
Aku bangkit lagi namun dia kembali berkata, "Dod.. aku suka dengan caramu menjeratku tapi ini harus menjadi rahasia kita saja".
Dia berkata sambil meletakkan salah satu kakinya diatas bibir bak
semen itu. Dadaku semakin berdegub kencang melihat pemandangan indah
ini. Selangkangannya ditumbuhi rambut keriting yang hitam indah sekali.
"Tentu Bu Anis.." Aku menyahut.
Aku elus kakinya yang putih aku dekatkan wajahku dan mulai menciumi
betisnya sambil menjilatinya merambat naik ke atas. Lidahku menari
diatas pahanya dan diselingi dengan sedotan-sedotan kecil. Sampailah
aku pada hutan yang rimbun itu dan lidahku mencoba menyibak mencari
lobang yang paling dicari para lelaki.
Bilik bambu di tengah kebun menjadi saksi pergumulan nafsu dua anak manusia yang dipisahkan oleh status dan usia.
Aku jilati bibir vaginanya dengan penuh nafsu. Bu Anis mengerang
menahan kenikmatan yang melanda dirinya. Aku tak peduli dengan
keadaannya aku semakin gila mempermainkan lidahku didalam lobang
vaginanya. Tangan Bu Anis memegang erat-erat kepalaku dan menekan ke
selangkangannya solah-olah mempersilahkan diriku untuk menelan barang
berharga miliknya.
"Dod.. ka.. mu.. ma.. sih.. nakal.. seper.. ti.. dulu.. ah" Dia berkata sambil merintih menahan nikmat.
Tampaknya lututnya tidak bisa lagi bertahan. Beliau menarik
kepalaku agar aku menghentikan aktivitasku. Aku bangkit dan mendekatkan
mukaku ke buah dadanya yang disitu tertempel buah anggur yang berwarna
coklat muda tegang menantang. Aku sedoti seluruh permukaan payudaranya,
aku hisap putingnya yang indah. Bu Anis tampak merem-melek menikmati
permainanku ini. Tanganku meremas-remas bokong indahnya dan jariku
mencari lobang duburnya, setelah ketemu aku mempermainkan jariku
membuat tusukan-tusukan kecil dan mengobok-obok alat buang air
besarnya. Bu Anis mengerang-erang dan aku merasakan lobang anusnya
meyempit keras seolah ingin menjepit jariku yang tertanam di dalamnya.
Tampaknya Bu Anis ingin mengambil inisiatif, dia melepaskan pelukanku.
"Dod.. ber.. baring.. lah.. pa.. kai.. handuk.. mu.. untuk alas" Dia berkata kepadaku dengan nafas tersengal.
Bagai kerbau ditusuk hidungnya aku lakukan apa kehendaknya. Aku
berbaring dengan beralaskan handukku. Bu Anis berdiri mengangkang
diatasku dan perlahan jongkok tepat diatas kemaluanku yang mengacung
keatas. Tangannya membimbing penisku untuk memasuki lobang
kenikmatannya.
Dan setelah tepat dia menekan kebawah sehingga.. bles.. keinginanku
terlaksana untuk menikmati kehangatan benda yang terdapat di
selangkangan wanita paruh baya ini. Aku merasakan dinding kemaluannya
keluar cairan yang mempermudah penisku tertanam. Kepala Bu Anis
terdongak keatas dan kulihat bibir bawahnya. Tangannya yang satu
berpegangan pada pinggiran bak semen. Aku hanya bisa merem melek
menahan kenikmatan dari cengkeraman vaginanya.
Nafas Bu Anis semakin memburu seiring dengan gerakan erotis yang
dilakukannya naik turun diselingi dengan perputaran pantatnya. Aku
lihat buah dadanya terguncang-guncang. Pemandangan yang indah sekali.
Wanita paruh baya ini ternyata pintar bermain sex. Aku merasakan
sensansi yang luar biasa. Rambutnya yang masih basah itu menjadi
acak-acakan. Aku mencoba untuk bertahan agar aku tidak kecolongan
keluar terlebih dahulu.
Gerakan erotis Bu Anis semakin cepat.
"Dod.. uh.. Ibu.. ma.. u.. sam.. pai.." Dia berkata tersengal.
Aku tidak menjawabnya, gerakannya semakin tidak teratur dan
akhirnya aku merasakan cengkeraman erat vaginanya, aku rasakan cairan
yang mengalir memenuhi lobang vaginanya. Nafasnya tersengal dan beliau
terkulai diatasku. Aku rasakan vaginanya yang masih berdenyut. Aku usap
punggung mantan guruku dan aku belai rambutnya yang terurai basah.
Tubuhnya yang hangat menempel erat.
"Bagai.. mana.. Bu Anis.." Aku berkata.
"Ka.. mu.. hebat.." Bu Anis menjawab.
Mendengar jawabannya aku merasa sebagai seorang lelaki yang perkasa
yang dapat membahagiakan seorang wanita. Perlahan beliau turun dari
atas tubuhku, beliau tahu bahwa aku belum mencapai puncak. Dia
berbaring disampingku, dia tersenyum kearahku. Aku mendekatkan wajahku
dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku bangkit, aku lihat dia
sudah mengangkangkan kaki tampaklah kemaluannya yang basah merekah
menanti benda tumpul yang aku miliki untuk masuk kedalamnya.
Perlahan namun pasti aku arahkan benda kebanggaan para lelaki yang
aku miliki. Dan.. bles.. masuklah penisku kedalam vaginanya, aku tekan
dalam dalam sampai pangkal kemaluanku. Bibir Bu Anis tampak terbuka
merasakan kenikmatan yang kedua kalinya, aku tarik perlahan kemudian
kemudian aku gerakan naik turun pantatku.
Gerakanku semakin aku percepat sehingga menimbulkan suara-sura
erotis. Aku kerahkan tenagaku untuk menyodok barang istimewa mantan
guruku ini. Oh.. nikmat sekali seakan melayang. Aku rasakan darahku
mengumpul di penisku seiring dengan gerakanku yang semakin aku
percepat. Buah dadanya yang sekal indah putih terguncang-guncang karena
sodokanku.
Akhirnya aku tidak dapat lagi menahan dan.. creet.. aku tancapkan
dalam-dalam, aku semprotkan spermaku di dalam vaginanya. Melihat aku
mencapai puncak Bu Anis melipat kakinya dan menekan pantatku erat-erat.
Oh.. seakan aku terbang. Nikmat sekali.. aku rasakan sensasi yang indah
sekali.
Serasa tulangku terlolosi lemas sekali aku terkulai diatas
tubuhnya. Dia tersenyum manja kearahku.Aku cium mesra bibirnya. Kami
berbaring berdampingan.
"Bu Anis.. Ibu masih hebat.. kapan.. kita.. lakukan lagi" Aku berkata kepadanya.
"Ih..", Dia mencubit hidungku.
"Nakal.. kamu.."
Kami lantas berpakaian kembali karena kami takut nanti perbuatan
kami diketahui oleh yang lain. Kami berjalan menuju kembali ke
perkemahan kami.
*****
Begitulah cerita yang masih aku ingat ketika pertama kali aku
bercinta dengan Bu Anis. Kami masih sering melakukannya setiap ada
kesempatan. Kami kencan di penginapan-penginapan yang ada di kotaku
bahkan pernah kami lakukan di kamar kost temanku.
Namun kini Bu Anis telah pergi mengikuti suaminya dinas kelain
kota. Aku tenggelam dengan kerinduanku terhadap Bu Anis. Bagi pembaca
wanita setengah baya yang kesepian aku menerima dengan tangan terbuka
kedatangan anda. Kirimkam email pasti aku balas.
E N D
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
1,061,800 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
1,051,525 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
667,338 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
659,980 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
356,491 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
300,140 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
297,063 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
278,632 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
247,410 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
216,267 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
211,257 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
205,853 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
192,222 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
184,171 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
178,178 |
|
|
|
|
|
|
|