|
|
Dari Bagian 1 Tiba-tiba saat mereka sarapan itu aku dipanggil. Suaminya bilang padaku
bahwa ia akan tugas keluar kota mungkin selama 2 minggu karena ada
masalah di kantornya. Suaminya titip padaku untuk menjaga rumah dan
istrinya padaku. Dengan patuh aku sanggupi permintaan suaminya itu. Dan
sejak saat itu pun aku semakin bertambah tugas dengan memastikan
keadaan majikan putri itu.
Beberapa hari ini aku jadi kehilangan kesempatan untuk melihat
aktifitas kamar majikan putri itu. Aku jadi susah tidur, padahal aku
setiap hari sebelumnya selalu melihat aktifitas di kamar itu dan sempat
bermasturbasi barulah aku tertidur. Memang aku akui di usiaku yang
tidak muda lagi ini libidoku sering timbul. Namun kepada siapa aku akan
menyalurkannya, sedang istriku di Sumatera bersama anakku.
Untuk memenuhi hasrat libidoku, pada malam yang dingin itu aku
mengintip majikanku itu di kamarnya. Rupanya ia masih belum tidur dan
hanya berbaring di ranjang. Tampaknya ia sedang merindukan belaian dari
suaminya. Namun karena suaminya sedang tidak tidak ada ia menjadi
kelihatan gelisah di tempat tidurnya. Aku memperhatikan Neng Shinta
selalu menggeser geserkan guling di ranjangnya yang luas itu ke arah
kemaluannya.
Aku tahu saat itu Neng Shinta ingin kehangatan. Apalagi hawa dingin
AC di kamarnya membuatnya tampak kehausan. Tak lama kemudian kulihat
tangan Neng Shinta mulai meraba-raba bagian selangkangannya dari luar
gaun tidurnya yang sudah mulai awut-awutan dan menyingkapkan pahanya
yang mulus. Aku jadi terangsang dan ingin melihat terus apa yang hendak
dilakukannya.
Saat sedang asyik-asyiknya memperhatikan tingkah laku anak
perempuan majikanku itu aku dikejutkan oleh suara benda terjatuh dan
ada bunyi 'krasak kresek'. Aku yang saat itu berada dalam kegelapan
dapat dengan leluasa mengintai ke arah datangnya suara itu. Ohh..
Alangkah kagetnya aku. Aku melihat ada 3 orang yang mengendap endap
akan masuk ke rumah ini. Mereka telah melompati pintu pagar dan sedang
berjalan ke arah rumah.
Sebagai seorang bekas tentara yang telah banyak pengalaman di medan
perang, aku lalu menuju arah suara itu dan dengan samuraiku aku bacok
si penjahat itu tanpa tanya lagi. Mereka meringis kesakitan dan minta
ampun padaku. Mereka akhirnya lari dan berusaha menghindar dari kejaran
masyarakat yang tahu akan tindakan mereka. Malam itu akhirnya rumah
majikanku ini selamat dari upaya pencurian dan perampokan. Majikanku
Shinta akhirnya terbangun dan keluar rumah menemuiku. Aku pun
menerangkan kejadian yang sesungguhnya dengan lengkap. Ia pun akhirnya
berterima kasih dan minta aku untuk menyelesaikan masalah itu dengan
aparat terkait malam itu.
Setelah memberikan laporan secukupnya, malam itu pun aku pulang ke
rumah dan disambut majikanku Neng Shinta, yang saat itu mengenakan baju
kimono tidur. Ia amat mengkhawatirkan keadaanku malam itu. Iapun telah
sempat menelepon suami dan kedua orang tuanya. Dan akupun lalu
ditelepon suami dan kedua orangtua Shinta agar bisa menjaga Shinta
dengan hati hati. Sempat aku lihat wajah kecemasan di rona muka Shinta
malam itu. Wajahnya yang putih bersih itu terlihat takjub dan khawatir,
namun dengan lambat aku terangkan kepadanya supaya jangan cemas seperti
itu.
Malam itu pun lalu kami tidak tidur dan hanya berbicara saja di
ruang tamu rumah besar itu. Neng Shinta kelihatan masih shock atas
kejadian itu dan akupun tidak sampai hati meninggalkannya sendirian di
ruang tamu malam itu. Aku menemaninya dan sesekali mataku yang nakal
mencuri-curi pandang ke arah sekujur tubuhnya yang terbalut kimono
tidur saat itu. Mata nakalku sempat memperhatikan gundukan bukit
dadanya yang sekal dan berukuran 34B hingga amat menggodaku. Aku tahu
nomor itu karena saat mencuci dan menjemur aku sempat melihatnya dengan
seksama jenis dan wangi celana dalam Neng Shinta.
"Neng.. Sudah malam tidur aja dulu.. Biar Mamang jaga di sini"
kuanjurkan Neng Shinta agar segera tidur karena waktu sudah hampir
pukul 2 pagi.
"Ahh.. Enggak Mang.. Shinta masih takut dengan kejadian tadi!
Mamang mau kan jagain Shinta di kamar" pinta Neng Shinta dengan wajah
yang masih nampak pucat.
"Wahh.. Mamang enggak berani lancang neng.." aku terkejut dan
spontan menolak karena enggak enak harus masuk kamar majikanku ini.
"Enggak apa-apa kok Mang.. Soalnya aku takut sendirian.." katanya memelas.
Aku jadi tidak tega melihatnya. Entah kenapa malam itupun aku
diajaknya ke kamarnya untuk sekedar berbincang bincang. Katanya ia
masih takut dan trauma. Jika saja ada suaminya ia mungkin tidak akan
mengizinkan aku ke kamarnya. Namun hal tabu yang slalu aku jaga slama
ini malam itu luntur. Aku masuk ke kamarnya yang dingin dan harum
semerbak itu sekedar hanya untuk menemani anak majikanku itu. Sebagai
laki-laki aku telah memasuki wilayah pribadi putri majikanku itu.
Dengan sedikit berdebar aku mengikuti Neng Shinta masuk ke kamarnya
dan duduk di kursi yang ada di kamar Neng Shinta. Niat isengku mulai
timbul saat kulirik tubuh Neng Shinta yang sintal terbaring indah di
tempat tidurnya. Dengan sedikit kurang ajar aku mulai berusaha
mempengaruhi jiwa dan mental putri majikanku itu dengan cerita cerita
seram tentang perampokan dan horor. Sebagai wanita yang hanya seorang
diri malam itu tentunya ia merasa takut dan amat membutuhkan bantuanku.
Neng Shinta tidak jadi tidur dan semakin merasa ketakutan. Ia memintaku
menemaninya duduk di atas tempat tidurnya. Inilah saatnya insting
kelelakianku bermain.
Dengan tambahan cerita seram akhirnya dengan tanpa paksaan Neng
Shinta aku raih dan kupeluk malam itu di kamarnya. Ia yang menganggapku
sebagai orangtuanya hanya mandah saja saat tubuhnya kudekap di atas
tempat tidurnya. Aku yang sudah banyak makan asam-garam sebagai
laki-laki tidak terlalu sulit untuk menundukkannya. Dengan terus
menceritakan hal-hal seram, tanganku mulai mengelus lengan Neng Shinta.
Aku tahu Neng Shinta sudah mulai tunduk dan takluk padaku. Hal ini
kuketahui dari berdirinya bulu-bulu lembut di lengannya saat kuraba.
Nafas Neng Shinta pun mulai memburu.
Aku mulai memberanikan diri mencium leher bagian belakang telinga
Neng Shinta. Tubuhnya mulai sedikit bergetar atas ciuman dan rangsangan
di wilayah peka tubuhnya yang mulus itu. Aku tahu saat itu Neng Shinta
sedang membutuhkan belaian laki laki. Namun Neng Shinta memang wanita
dan seorang istri yang baik. Ia tidak begitu saja larut akan alunan
gairah yang aku pancarkan saat itu. Ia berusaha menolakku dan
melepaskan pelukanku. Namun malam itu apalah daya seorang wanita
seperti Neng Shinta dibandingkan aku yang bekas prajurit dan memiliki
pengalaman yang lumayan di saat perang.
Aku tak mau mangsa yang sudah di depan mata terlepas begitu saja.
Aku harus menuntaskannya. Karena kalau tidak maka habislah riwayatku.
Aku harus mampu menundukannya. Neng Shinta yang menggeliat berusaha
melepaskan pelukanku, semakin kupeluk erat. Tanganku semakin berani
mengelusnya. Kali ini tanganku mengelus perutnya tepat di atas
selangkangannya. Mulutku yang sedang menciumi bagian belakang
telinganya semakin liar bergerak turun ke lehernya. Bulu kuduknya telah
berdiri semua. Tubuhnya semakin menggelinjang dalam pelukanku. Lalu
dengan sedikit paksaan, kurebahkan tubuh Neng Shinta dan mulai kutindih
dan kucumbu.
Tubuhku yang menindih tubuh Neng Shinta segera menekan bagian
selangkangannya. Kedua kakinya kupentangkan lebar-lebar sehingga aku
semakin leluasa menempatkan tubuhku di antara kedua pahanya. Batang
kemaluanku yang sudah mulai mengeras menempel ketat ke selangkangan
Neng Shinta yang hangat itu. Aku yang sudah sangat lama tidak melakukan
hubungan badan semakin tak terkendali. Mulutku dengan rakus segera
menyerbu gundukan bukit payudara Neng Shinta dari luar kimono tidurnya.
Puting payudaranya yang mulai mengeras di balik beha-nya segera saja
menjadi santapan mulutku yang rakus.
"Ohh.. Mmaangg.. Jangg.. Annhh" Neng Shinta merintih memohon agar
aku menghentikan gerakanku. Namun aku yang sudah kesetanan tak mau
berhenti begitu saja. Tanganku yang liar segera bergerak ke bawah dan
menyingkap kimononya dan mengusap-usap pahanya bagian dalam yang sangat
mulus. Tanganku terus merayap ke atas dan akhirnya mulai mengelus-elus
gundukan di balik celana dalam Neng Shinta yang sudah mulai basah. Aku
tahu Neng Shinta sudah mulai terangsang. Walaupun mulutnya bilang
jangan, namun aku tahu ia tak mungkin dapat menghentikanku.
Tanganku segera menyusup ke balik celana dalamnya yang tipis dan
mulai meraba rambut di selangkangan Neng Shinta. Tanganku segera
menyentuh cairan lendir hangat yang mulai membasahi selangkangannya.
Aku yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini segera saja
mencari-cari tonjolan di sela-sela lubang kemaluan Neng Shinta. Karena
disitulah titik kelemahan wanita. Jari tanganku segera mempermainkan
tonjolan daging kecil di celah lubang kemaluan Neng Shinta yang sudah
sangat licin dan basah. Mulut Neng Shinta tidak lagi menolakku.
Tubuh Neng Shinta semakin bergetar saat jariku yang lincah bergerak
memutar-mutar di atas tonjolan daging di sela-sela lubang kemaluannya.
Napas Neng Shinta semakin megap-megap. Pantatnya mulai terangkat
sehingga bukit kemaluannya semakin ketat menempel batang kemaluanku
yang semakin mengeras. Tak berapa lama kemudian Neng Shinta merintih
panjang. Tubuhnya berkelojotan di bawah tindihanku. Aku tahu Neng
Shinta sudah orgasme atas permainan jari-jariku yang sudah
berpengalaman. Namun aku terus saja meneruskan permainan ini. Tanganku
tetap meremas dan meraba bukit kemaluannya selama beberapa saat.
Kemudian tanpa perlawanan berarti dari Neng Shinta aku berhasil
membuka seluruh kain penutup tubuhnya hingga Neng Shinta telanjang
bulat dalam pelukanku. Pemandangan yang sangat indah segera terpampang
di depan mataku. Tubuh Neng Shinta yang sangat mulus benar-benar
membuat jakunku naik turun. Kedua belah payudaranya yang putih sangat
mengkal dihiasi dua puting yang masih berwarna kemerahan sangat
menggairahkan. Perutnya tampak masih sangat rata karena memang belum
pernah melahirkan, jadi belum ada guratan sama sekali. Pinggulnya yang
lebar sangat serasi dengan pinggangnya yang ramping. Dan yang paling
membuat mataku terbelalak adalah guratan kecil berwarna merah yang
melintang di tengah-tengah gundukan bukit membusung di kemaluannya yang
lebat ditumbuhi rambut.
Lalu tanpa membuang waktu aku segera melepas kaus bututku dan
memerosotkan celana kolorku hingga aku pun telanjang bulat. Aku segera
menindihnya dan menggangkankan kedua kakinya lebar-lebar. Batang
kemaluanku yang sudah mengeras menempel ketat di selangkangan Neng
Shinta yang hangat. Mulutku segera menyergap kedua bukit payudaranya
yang indah itu dengan rakus. Kali ini tanpa dihalangi kain beha dan
kimono lagi. Lidahku segera menjilat kedua bukit payudara Neng Shinta
yang putih kenyal itu bergantian. Bibirku mengulum puting payudaranya
yang mencuat. Hal ini membuat mulut Neng Shinta mendesis-desis seperti
orang kepedasan. Tubuhnya mulai menggelinjang hingga aku merasa betapa
batang kemaluanku yang menempel ketat di selangkangannya mulai
tergesek-gesek daging hangat dan licin karena sudah sangat basah.
"Amm.. punhh Maangg.. jaangg.. aannhh.. Maangg.. ouchh.." desis
Neng Shinta antara menolak dan pasrah. Aku tak peduli. Dalam benakku
hanya ada tekad untuk menuntaskan hasratku. Aku tak peduli apapun juga.
Biarlah urusan dipikir belakangan! Yang penting tembak duluan! Ayo
blehh sikaatt! Demikian setan telah menari-nari membujukku untuk
menuntaskan napsuku.
Mulutku yang rakus terus menyusuri seluruh permukaan tubuh Neng
Shinta. Dari kedua puting payudaranya yang semakin keras, mulutku
bergeser ke samping ke arah ketiak Neng Shinta yang bersih tanpa
ditumbuhi rambut satu helai pun! Rupanya ia rajin mencabuti bulu
ketiaknya hingga tampak bersih. Lidahku segera menjilat-jilat ketiaknya
dengan gemas. Tubuh Neng Shinta semakin menggerinjal. Desisan tak
henti-hentinya keluar dari bibirnya.
Dari ketiak, mulutku terus bergeser turun menyusuri tulang rusuk
Neng Shinta hingga ke pinggangnya yang putih bersih. Lidahku
terusmenyapu-nyapu seluruh permukaan pinggangnya dengan diselingi
sesekali menyedotnya kuat-kuat hingga tubuh Neng Shinta terhenyak. Aku
semakin gemas menyedot-nyedot saat mulutku sampai ke bagian bawah perut
Neng Shinta yang rata. Rambut-rambut halus nampak menumbuhi perut
bagian bawah Neng Shinta yang semakin ke bawah semakin melebat. Lidahku
menyapu-nyapu bagian perut di antara selangkangannya dengan pangkal
pahanya. Tercium aroma khas perempuan! Sungguh sangat merangsang.
Rupanya Neng Shinta sangat menjaga kebersihan kawasan pribadinya ini.
Ke Bagian 3
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,504 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,499 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,800 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,118 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,216 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,351 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,605 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,273 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,425 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,280 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,226 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,114 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,195 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,280 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,226 |
|
|
|
|
|
|
|