|
|
Dari Bagian 2 Lidahku terus bergerak menyapu seluruh permukaan kulit Neng Shinta. Dan
begitu sampai ke gundukan bukit kemaluannya yang membusung, lidahku
segera menyeruak masuk ke dalam celah sempit yang tadi kulihat berwarna
merah jingga. Segera lidahku merasakan ada cairan yang terasa sedikit
asin namun nikmat! Tanpa rasa jijik segera saja kusedot bibir kemaluan
Neng Shinta dengan gemas. Kutelan habis cairan yang keluar membasahi
permukaan liang kemaluan Neng Shinta tanpa rasa jijik. Pantat Neng
Shinta terangkat seolah menyambut juluran lidahku hingga wajahku
semakin ketat menempel di selangkangannya.
Lidahku menyusup semakin dalam ke lubang kemaluan Neng Shinta yang
pantatnya terangkat-angkat seolah menyambut juluran lidahku. Mulut Neng
Shinta tak henti-hentinya mendesis-desis dan entah disadari atau tidak,
kedua tangan Neng Shinta mulai menjambak-jambak rambutku dan kedua
kakinya mengait leherku dan menekankannya ke arah selangkangannya.
Pantatnya terus diangkat-angkat seolah-olah memintaku lebih dalam
memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya. Aku yang memang ingin
memberikan sensasi lain kepada majikanku segera bertindak.
Kedua ibu jari tanganku mencoba membentangkan bibir kemaluan Neng
Shinta agar terbuka lebih lebar dan kugesekkan mulutku dengan liar pada
gundukan bukit kemaluan Neng Shinta yang membusung. Reaksinya sungguh
luar biasa. Neng Shinta semakin liar menggerak-gerakkan pantatnya dan
kakinya semakin ketat menjepit leherku. Erangannya semakin keras dan
tubuhnya terhentak-hentak. Tubuhnya terus berkelojotan selama beberapa
saat lalu gerakannya semakin melemah dan akhirnya kedua pahanya
terkulai lemah menyandar di punggungku. Aku tahu kalau Neng Shinta
telah mencapai klimaks yang kedua kalinya di malam menjelang pagi ini.
Aku yang belum mengalami orgasme segera saja menempatkan diriku
sejajar dengan tubuh Neng Shinta. Tubuh telanjangku menindih tubuhnya.
Kontolku yang ukurannya biasa saja seperti ukuran pria kebanyakan,
sudah sangat keras dan siap tempur. Ukurannya sebetulnya biasa saja,
tetapi yang membanggakanku adalah bentuknya yang agak membengkok saat
ereksi. Jadi kalau dilihat sepintas mirip-mirip pisang Ambon yang
bentuknya agak melengkung.
Dengan perlahan kutusukkan ujung kepala kontolku (palkon) ke
tengah-tengah gundukan bukit kemaluan Neng Shinta yang munjung itu.
Lubang kemaluan Neng Shinta yang sudah sangat licin memudahkan ujung
palkonku tergelincir masuk. Napasku terasa sesak saat kepala kontolku
mulai terjepit kehangatan bibir kemaluan Neng Shinta. Sambil menahan
napas, kudorong pantatku pelan-pelan hingga sedikit demi sedikit batang
kontolku melesak ke dalam lubang kemaluan Neng Shinta. Hangat sekali
rasanya. Apalagi lubang kemaluan Neng Shinta sudah basah oleh lendir
akibat orgasmenya tadi.
"Shh.. Ohh.. Mm.. Aangghh" mulut Neng Shinta tak henti-hentinya merintih saat batang kontolku menerobos lubang kemaluannya.
Aku tahu Neng Shinta mungkin agak menyesal karena telah terjerumus
dalam jebakan nafsuku. Neng Shinta hanya pasrah dan dengan terpaksa ia
menikmati rahimnya aku tusuk dengan batang kontolku berulang kali. Aku
tahu ia amat menyesali atas apa yang terjadi malam itu, terlihat dari
air matanya yang keluar saat aku berpesta di atas tubuhnya yang
telanjang.
Kulihat air mata mulai mengembang di pelupuk matanya. Namun
semuanya telah terlambat. Kontolku sudah telanjur memasuki lubang yang
seharusnya hanya menjadi hak suaminya. Aku pun tak peduli, bagiku yang
terpenting adalah melepaskan desakan napsu yang terus mendesak-desak
dari dalam tubuhku. Di atas ranjang kamarnya yang mewah itu, aku
berhasil membenamkan kemaluanku yang lumayan masih cukup perkasa ke
dalam rahimnya yang masih sempit itu.
"Hkkhh.." napasku tertahan saat seluruh kontolku dari ujung hingga
pangkal telah terbenam seluruhnya di dalam jepitan lubang kemaluan Neng
Shinta.
Air mata Neng Shinta sudah mulai jatuh satu persatu. Namun aku tak
peduli. Kehangatan yang aku rasakan pada kemaluanku saat masuk kedalam
tubuh Neng Shinta amat membuatku lupa diri. Perlahan-lahan kutarik
pantatku hingga batang kontolku tertarik keluar dan hanya ujungnya saja
yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluan Neng Shinta. Lalu
dengan kuat kudorong pantatku yang otomatis batang kontolku melesak
dalam-dalam ke dalam lubang kemaluannya.
"Ughh.." tanpa sadar Neng Shinta mendengus saat ujung kepala
kontolku seperti menumbuk sesuatu yang empuk dan hangat di dalam sana.
Aku terus menarik dan mendorong pantatku di atas tubuh Neng Shinta.
Perlahan-lahan kurasakan Neng Shinta mulai ikut mengimbangi gerakanku.
Secara perlahan pantatnya bergerak memutar mengikuti irama ayunan
pantatku. Batang kontolku serasa diurut dan diremas-remas dalam jepitan
lubang kemaluan Neng Shinta yang sempit. Rupanya Neng Shinta sudah
mulai terangsang lagi. Rasa sedih yang ditandai dengan melelehnya air
matanya seakan-akan sirna dengan goyangannya mengiringi ayunan
pantatku.
Bibir Neng Shinta kembali mendesis-desis dan mengerang. Aku yang
sudah tidak tahan segera menyergap bibirnya yang setengah terbuka dan
menyusupkan lidahku ke dalam mulutnya. Lidahku mengorek-ngorek mulutnya
mencari-cari lidahnya. Sungguh sangat segar rasanya bibir perempuan
muda. Aku serasa kembali menjadi muda lagi. Semangat baru seolah
terpompa dalam darahku. Aku semakin bersemangat menggenjot pantatku
menghunjamkan batang kontolku ke dalam lubang kemaluannya. Gerakan
pantat Neng Shinta semakin kencang. Pantatnya bergoyang ke kanan dan ke
kiri seirama dengan ayunan pantatku.
"Shh.. Mmaangg.. Hh shh.. Oohh.." antara sadar dan tidak Neng Shinta merintih-rintih menambah gairahku semakin membara.
Aku merasa betapa jari-jari Neng Shinta mencengkeram kulit
punggungku yang sudah mulai keriput dimakan usia. Agak sakit memang,
tetapi apalah artinya bagiku dibanding keberhasilanku menggauli dan
menikmati kemolekan tubuh anak majikanku itu. Lidahku yang masuk jauh
ke dalam mulut Neng Shinta mulai menemukan perlawanan dari lidah Neng
Shinta. Lidahku didorong-dorong oleh lidahnya.
Perlahan gairah dalam tubuhku mulai mendesak-desak dan menggelegak.
Lalu gerakan ayunan pantatku kuhentikan sesaat untuk mengambil bantal
dan mengganjal pantat Neng Shinta agar lebih tinggi. Dengan posisi
terganjal bantal, batang kontolku terasa masuk hingga maksimal. Aku
juga semakin leluasa menghunjamkan batang kontolku ke dalam lubang
kemaluannya.
Gerakan pantat Neng Shinta seperti kesetanan. Jeritannya semakin
keras dan menggairahkan. Kedua tanganku segera kutempatkan di bawah
kedua bongkahan pantat Neng Shinta dan meremas-remasnya sambil terus
mengayunkan pantatku naik turun. Aku merasa betapa desakan gejolak
meletup-letup dari bagian bawah perutku. Perutku terasa mulai kejang
karena menahan desakan yang terus menggelora.
"Ohh.. Shh.. Nenggh.. Ter.. Ruhhsshh oohh.. Neengghh!"
Tanpa sadar aku menggeram dan merintih meminta Neng Shinta agar
terus menggoyangkan pantatnya kencang-kencang. Neng Shinta pun rupanya
sudah hampir mencapai orgasmenya. Gerakan pantatnya sudah tidak
terkendali. Cengkeraman kuku jarinya semakin kencang di kulit
punggungku.
"Aakhh.. Ouchh.. Shh.. Oohh.."
Dengan diiringi desisan yang panjang akhirnya tubuh Neng Shinta
terhentak. Pantatnya terangkat dan mengejat-ngejat. Dadanya terguncang
hebat menandakan ia sudah tidak mampu menahan orgasmenya. Kurasakan
betapa batang kontolku terjepit kencang dan lubang kemaluannya
mengedut-ngedut. Tubuh Neng Shinta bergetar hebat dan berkelojotan
selama beberapa saat.
"Ter.. Rushh.. Neenghh.. Aarrghh"
Akhirnya tubuhku ikut terguncang. Seluruh tubuhku terasa kejang dan
mataku mulai nanar. Cratt.. Cratt.. Cratt.. Cratt.. Crrt.. Crrtt..!!
Akhirnya tanpa dapat kutahan lagi batang kontolku menyemburkan air
maniku yang sangat kental dan banyak sekali ke dalam lubang kemaluan
Neng Shinta hingga sebagian tumpah keluar saking banyaknya. Ya aku
telah mencapai puncak kenikmatanku setelah sekian lama berpuasa dan
hanya onani. Tubuhku berkejat-kejat di atas perut Neng Shinta lalu
ambruk menindih tubuh telanjangnya.
Neng Shinta amat sempurna saat ia berada di bawah tubuhku saat aku
genjot tadi. Memang benar kata orang orang bahwa seorang wanita baru
terlihat cantik dan menawan jika ia telah berada di bawah tubuh
laki-laki saat kemaluannya di masuki kemaluan pria. Keringat kami pun
akhirnya menyatu dan kain sprei yang kami pakai akhirnya lembab karena
basah oleh percampuran keringat dan juga air mata Neng Shinta ditambah
lelehan spermaku yang tumpah tadi.
Aku benar-benar merasa puas sekali telah berhasil menikmati
kemulusan tubuh majikanku yang cantik ini. Neng Shinta rupanya terlalu
capai hingga ia membiarkan saja tubuh telanjangnya kupeluk. Ia telah
tertidur karena kecapaian setelah pergumulan tadi.
Saat itu jam di kamar Neng Shinta sudah menunjukkan hampir pukul
04.30. Kamar Neng Shinta yang dingin karena AC membuat tubuhku
menggigil soalnya aku tidak terbiasa tidur dengan AC. Apalagi saat itu
aku masih telanjang bulat dan di sisiku tergolek tubuh telanjang Neng
Shinta yang sudah mendengkur halus. Cantik sekali wajah Neng Shinta
saat dalam kondisi tidur seperti itu. Wajahnya kelihatan begitu damai
dalam tidurnya. Aku sendiri sejak tadi belum mampu memejamkan mataku
sepicingpun.
Melihat tubuh telanjang Neng Shinta yang telentang tanpa sehelai
benang pun menutupi tubuhnya yang mulus, gairah kelelakianku kembali
bangkit. Batang kontolku mulai menggeliat bangun. Sungguh pemandangan
yang terpampang di depanku begitu mempesona. Kulit Neng Shinta yang
putih mulus begitu mengundang gairah lelaki manapun yang memandangnya.
Dadanya yang putih turun naik seiring dengan napasnya yang begitu
teratur. Tanpa dapat menahan diri lagi tanganku segera mengelus kedua
buah dada Neng Shinta yang lembut. Kupermainkan kedua puting
payudaranya dengan jemariku hingga sedikit-demi sedikit mulai mengeras.
"Mmhh.." hanya lenguhan kecil yang keluar dari mulut Neng Shinta
saat tanganku sibuk mempermainkan kedua puting payudaranya. Lalu
setelah tanganku puas bermain-main di kedua bukit payudaranya, mulutku
pun mengambil alih permainan. Kini mulutku mulai mengulum kedua puting
payudara Neng Shinta secara bergantian. Tanganku secara otomatis
bergerak turun ke arah selangkangan Neng Shinta yang terbuka lebar.
Tubuh Neng Shinta mulai menggeliat namun matanya masih tetap terpejam.
Mulutku terus bergerak menyapu setiap jengkal tubuh Neng Shinta.
Mulutku menjalar dari dada terus turun ke perut dan berakhir di
selangkangan Neng Shinta. Kembali lidahku menyeruak masuk ke dalam
gundukan bukit kemaluan Neng Shinta. Kedua pahanya semakin terbuka
lebar seolah mengundangku untuk semakin dalam memasukinya. Pagi itu aku
kembali menyetubuhi tubuh anak majikanku beberapa kali hingga aku
benar-benar puas.
Semenjak kejadian di malam itu. Neng Shinta mulai mengambil jarak
dariku dan tampaknya berusaha menghindariku. Suaminya tidak tahu
tentang peristiwa malam itu. Tampaknya Neng Shinta memang
merahasiakannya. Aku tahu diri dan tidak berupaya memperlihatkan kepada
Neng Shinta tentang bagaimana perasaanku padanya. Aku pun bertindak
seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara aku dengan
Neng Shinta.
Kadang saat malam aku rindu untuk mengulangi lagi saat kebersamaan
dengan Neng Shinta namun aku pendam saja. Dan sebagai pelampiasannya,
aku terus mengintip Neng Shinta bersebadan dengan suaminya. Tampaknya
Neng Shinta amat menikmati persetubuhan dengan suaminya itu. Aku jadi
merasa iri.
Suatu hari suami Neng Shinta pun kembali bertugas keluar kota lagi.
Tampaknya Neng Shinta biasa biasa saja. Ia tidak memberikan tanggapan
apa pun saat itu. Dan malam saat suaminya tugas, aku berusaha
mendatangi kamar Neng Shinta dan meminta berbicara. Neng Shinta
memberiku waktu bicara dan dengan kepintaranku, malam itupun akhirnya
aku pun kembali dapat menikmati kehangatan tubuhnya di kamarnya. Neng
Shinta pun semakin larut olehku. Ini terlihat saat suatu malam tanpa
aku duga ia mendatangi kamarku dan kami pun bersetubuh di kamarku
hingga beberapa kali malam itu.
Sampai saat ini pun di saat suaminya tidak ada di rumah, aku selalu
memberinya kenikmatan ragawi yang mungkin tidak ia dapati dari
suaminya. Aku pun setelah menikmati kemulusan dan kehangatan tubuh Neng
Shinta, punya keinginan untuk dapat merasakan kehangatan tubuh
saudaranya Neng Siska.
*****
Itulah pembaca, sekelumit cerita yang dialami salah satu pembacaku.
Aku sangat senang bisa membantu para pembaca yang mempunyai pengalaman
menarik namun sulit untuk menuangkannya agar dapat berbagi dengan
pembaca lain. Kalau ada pembaca yang mempunyai kisah unik dan merasa
kesulitan, kirim saja ke emailku. Aku dengan segala senang hati akan
membantu menuliskannya untuk anda.
E N D
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
981,504 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
869,500 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
551,801 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
520,121 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
334,216 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,351 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,605 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
231,274 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,425 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,280 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,226 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
194,114 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,195 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,280 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,226 |
|
|
|
|
|
|
|