|
|
Reaksinya seperti yang kukira. Ia sangat kaget.
Dan dengan merajuk dipeganginya tanganku sambil berucap, "Rin Bibi
minta tolong. Kamu jangan cerita sama siapa-siapa apalagi pada Pak Was.
Tolong ya Rin. Nanti Bibi lah yang belikan sate,"
"Aku tidak kepingin sate kok Bi. Tetapi kepingin begituan sama Bi
Nah," aku menandaskan. Ia terperanjat, tetapi cuma sesaat. Beberapa
saat ia terdiam sambil menatapiku, sampai akhirnya, "Kalau maumu
begitu, nanti kamu boleh melakukannya sepuasmu," katanya dan kembali
membonceng sepedaku.
Sepanjang perjalanan ia banyak bertanya. Soal apakah aku pernah
berhubungan dengan perempuan lain dan sebagaimanya. Bahkan tangannya
sempat iseng menggerayang ke selangkanganku dan membelai-belai milikku.
"Rupanya punya kamu besar juga ya Rin. Belum berdiri saja sudah begini
besar." Aku senang dengan pujian Bi Nah. Pedal sepeda kukayuh kencang
agar cepat sampai dan dapat melakukan segala yang ingin kulakukan.
Di rumah, Bi Nah langsung menarikku ke kamarnya. Tetapi aku jadi
bingung harus memulai dari mana. Canggung karena belum pernah punya
pengalaman intim dengan wanita. Apalagi perbedaan usia kami yang cukup
jauh karena saat itu aku belum genap 19 tahun. Hingga aku cuma duduk
tercenung di tepian ranjang, sedang Bi Nah duduk di sisi yang lain
mengawasiku. Mungkin ia menunggu reaksi dan keberanianku.
Lama aku tak bergeming, Bi Nah akhirnya mengambil insiatif. Ia
turun dari ranjang dan mulai mepreteli sendiri pakaiannya. Setelah
melepasi kancing-kancingnya, dipelorotkannya daster lusuh yang
dikenakannya. Terjatuh dan dibiarkannya teronggok di lantai. Busung
dadanya yang besar nampak menggunung karena masih tersangga oleh kutang
hitam yang dipakai. Namun begitu BH-nya dilepas, ketahuan bahwa bukit
kembar itu telah agak melorot. Putingnya yang coklat kehitaman nampak
mencuat menantang. Aku jadi ingat adegan penari striptease dalam film
porno karena Bi Nah seperti sengaja mempertontonkan bagian-bagian
tubuhnya yang merangsang secara perlahan.
Aku menjadi tidak sabar untuk melihat semuanya karena setelah
membuka kutangnya, Bi Nah tidak segera melanjutkan dengan membuka
celana dalamnya. Ia asyik meraba dan meremasi sendiri buah dadanya. Ia
tahu mataku mulai tertuju gundukan di selangkangannya yang masih
terbungkus celana dalam. Namun seperti sengaja ia tidak segera
memelorotkan celana dalamnya yang berwarna hitam itu. "Kalau ingin
melihat yang ini, kamu harus membuka sendiri celana dalam Bi Nah,"
ujarnya tersenyum sambil merabai sendiri kemaluannya dari luar CD-nya.
Bi Nah mendekatiku yang tetap duduk di bibir ranjang. Di hadapanku,
dalam jarak yang sangat dekat, sepasang buah dadanya nyaris menyentuh
wajahku. Maka aku langsung menyambutnya dengan mengecup salah satu
puting dari susu montok itu. Lalu dengan rakus kukulum dan kupermainkan
dengan lidahku. "Ssshh.., aahh.., ookkhh..," Bi Nah mendesah, ketika
aku mulai menghisapnya. Tubuhnya kian merapat dan diraihnya kepalaku
untuk dibenamkan di kehangatan payudaranya.
Sambil terus melumati puting susunya bergantian kiri dan kanan,
tanganku meliar ke bagian lain tubuh bahenolnya. Kuraba-raba pinggulnya
dan kemudian beralih dengan meremasi pantatnya. Sedikit demi sedikit
kuturunkan celana dalamnya yang juga berwarna hitam. Celana dalam Bi
Nah sangat longgar, mungkin karena terlalu sering dipakai. Maka setelah
karetnya melewati pinggul dan bongkahan bokongnya, celana dalam itu
merosot turun dengan sendirinya.
Benar rambut kemaluan istri Pak Was itu tumbuh sangat lebat.
Terdengar bunyi kemerisik saat telapak tanganku mengusap-usapnya.
Mungkin karena gesekan tanganku pada rambut lebat dan keriting
kecil-kecil itu. Perhatianku jadi beralih ke vaginanya. Turun dari
ranjang, aku langsung berjongkok. Sementara Bi Nah mengangkat salah
satu kakinya untuk bertumpu pada bibir ranjang. Dalam posisi seperti
aku jadi bisa melihat memeknya sampai ke detilnya. Lubangnya yang
sedikit menganga dengan bibir kemaluan yang telah berkerut-kerut, juga
tonjolan daging kelentitnya. Berbeda dengan bibir luar memeknya yang
berwarna kehitaman, di bagian dalam lubang nikmatnya nampak memerah.
"Ayo Rin.., memek Bi Nah bukan tontonan. Jangan cuma dilihati saja.
Kamu bisa menjilati atau menghisapnya," ujarnya tak sabar. Maka kembali
kuturuti perintahnya. Tanpa diminta, sebenarnya aku sudah mau
melakukannya.
Dengan penuh nafsu kujilati memek wanita setengah baya itu. Baunya
sangat khas, sulit kutemukan padanannya. Ketika lidahku menyapu lebih
ke dalam bagian lubang nikmatnya, sedikit terasa asin dan berlendir.
Tetapi tidak kupedulikan. Lidahku terus kugunakan untuk menyapu sampai
ke bagian yang dapat dijangkau. Bahkan kelentitnya yang menonjol
berkali-kali kuhisap. "aahhkkhh.., enak sekali Rin. Ternyata kamu
sangat pintar. Ya.., ya.. begitu.., aahh.., sshh,.. oohh,"
Bi Nah memintaku melanjutkan adegan itu sambil berbaring di
ranjangnya. Tetapi sebelumnya dibantunya aku melepasi pakaianku. Dan
atas perintahnya posisi kepalaku diminta berada di bagian bawah
tubuhnya dengan bagian tubuhku yang lain berada dekat kepalanya.
Seperti membentuk hurup 69. Rupanya dengan posisi itu, kami jadi
sama-sama memperoleh nikmat. Aku bisa tetap menilat dan menghisapi
kemaluannya, namun ia juga bisa mengulum dan menjilati kontolku
sekaligus. Lidah Bi Nah yang menyapu ujung kepala penisku terasa panas,
namun sangat nikmat. Terlebih saat mulutnya mulai mengulum dan
menghisap-hisapnya. Maka setelah ia telentang dalam posisi mengangkang,
aku segera menubruknya dan kembali menjilati kemaluannya.
Cukup lama kami tenggelam dalam kenikmatan posisi 69. Seperti
menari lidahku menyapu dan menjilat di kebasahan memek Bi Nah.
Menimbulkan bunyi kecipak yang sangat khas, craap.., croop.., srusuup..
Bi Nah terengah, aku pun sesekali mengerang manahan nikmat karena
sedotan-sedotan mulut wanita itu pada penisku. Terlebih saat ia
mengulum dan melumasi biji pelirku dari luar kantongnya. Sampai
akhirnya, tubuh wanita itu mengajang dan kepalaku dijepitnya kencang
dihimpit kedua pahanya. "Aahh..ahh..aauuhh, enak sekali Rin, akhh Bi
Nah sudah keluar Rin,..sshh..aahhkkhh," rintihnya sambil menggoyang
pantat dan pinggulnya. Ia telah mendapatkan puncak kepuasannya.
Dan tak lama berselang, aku pun mulai merasakan dorongan sangat
kuat di penisku. Dorongan yang telah lama kutahan agar tidak jebol.
"aa.., aku juga Bi. Akhh.. sshh.. auhh," aku merintih. Berbarengan
dengan itu, dari ujung penisku memancar kuat air maniku. Rupanya Bi Nah
terlambat mengeluarkan penisku dari mulutnya saat aku mendapatkan itu
hingga sebagian air maniku yang kental berwarna keputihan masuk ke
dalam mulutnya. Sebagian yang lainnya berleleran di wajahnya. Wajah Bi
Nah tampak puas dengan apa yang diperolehnya.
Sesuai dengan bentuk tubuhnya yang bongkok udang, nafsu Bi Nah
tergolong besar. Terbukti beberapa saat setelah itu, ia kembali
melancarkan serangannya. Kontolku yang kembali mengecil dan layu mulai
dihisap-hisapnya dengan mulutnya. Bahkan entah disengaja atau, tanpa
merasa jijik sapuan lidahnya sampai ke lubang anusku. Geli dan rasanya
sangat aneh, namun sungguh sangat nikmat.
Rudalku kembali mendongak tegak. Besar, keras dan siap tempur.
Senang karena hanya sesaat bisa membangkitkan kembali, dengan gemas
dikocok-kocoknya pelan tonggak daging milikku itu. Wajah Bi Nah tampak
puas, senyumnya terlihat mengembang. Adegan berikutnya, sesuatu yang
sangat kunanti akhirnya terjadi. Ia bangkit lalu mengambil posisi
berjongkok persis di atas pinggangku yang terbaring telentang. Tepatnya
persis pada posisi di atas batang zakarku yang mengacung. Saat itu, di
mataku, sosok Bi Nah menjadi sangat indah. Belahan memeknya nampak
terbuka di antara kaki dan kedua pahanya yang kekar menyangga.
Aku dibuatnya sedikit tegang dan berdebar saat dengan pelan ia
mulai menurunkan pantatnya. Ujung penisku terasa mulai menyentuh bukit
kemaluannya yang membusung. Sambil menggenggam batang penisku
diarahkannya ujungnya tepat di liang sanggamanya. Ssslleesseepp..,
bbllees..! Sedikit demi sedikit kontolku masuk di lubang memeknya.
Rasanya hangat dan basah. Aku mendesis menahan nikmat yang baru pertama
kali kurasakan.
"Enak Rin..," ujarnya.
Aku mengangguk. Terlebih saat ia mulai menggoyang pelan pantatnya.
Milikku serasa diremas-remas dalam kehangatan lubang memeknya. Sepasang
payudaranya yang besar dan menggelantung terlihat ikut bergoyang
mengundang. Menarikku untuk kembali memegang dan membelai susu-susunya
itu. Putingnya kupilin-pilin dan di saat yang lain kuremas-remasnya
daging yang terasa kenyal di tangkupan telapak tanganku.
"Ayo Rin.., remas terus susu Bi Nah.., ah.., ah,..shh akh, enaknya
kontolmu," ia terus mendesah sambil menggoyang-goyang pantatnya. Aku
jadi kian bersemangat. Saat posisinya kian membungkuk, langsung
kusambar putingnya dengan mulutku. Kujilat-jilat dan kuhisap dengan
rakus. Bi Nah tambah histeris. Goyangan pinggul dan pantatnya kian
menjadi. Keringatnya berleleran, ikut membasahi tubuhku. Baunya sangat
khas, bau wanita dewasa yang entah kenapa sangat kusuka.
Beberapa saat dalam posisi di atas, rupanya membuatnya cepat
kehabisan tenaga. Ia akhirnya meminta berganti posisi. "Gantian Rin,
kamu yang di atas. Mungkin karena Bi Nah sudah tua ya, jadi cepat
cape," katanya.
"Bi Nah belum tua, kok. Masih cantik dan montok..,"
"Ah bisa saja kamu,"
"Bener. Saya pengin terus bisa begini sama Bi Nah," kataku lagi.
"Bisa Rin, bisa. Pokoknya kalau lagi tidak ada Pak Was dan Pak Dal, Bi Nah pasti siap ngentot sama kamu kapan saja," ujarnya.
Masih di atas tempat tidur, kini aku bersiap menindih Bi Nah yang
telentang mengangkang. Namun tidak seperti sebelumnya, penisku kali ini
sulit masuk kendati telah kutekan ke lubang vaginanya. Ia memang sempat
menyeka dan membersihkan memeknya menggunakan kain sprei. Mungkin
karena itu lubang kemaluannya jadi kering dan menjadi sulit diterobos.
"Sini Rin kontolmu Bi Nah kulum dulu biar basah. Jadi nanti
masuknya mudah," kata Bi Nah setelah aku berkali tak berhasil menusuk
liang sanggamanya. Ia bangkit dan mulai mengulum batang penisku yang
keras dan berotot melingkar di sekujurnya. Oleh Bi Nah, sekujur batang
penisku seolah diguyurinya dengan ludah.
Hasilnya, saat kutusukkan, penis berlumur ludah itu jadi lebih
gampang masuk. Maka mulailah aku menggoyang dan memain-mainkan penisku
di lubang nikmatnya. Hempasan tubuhku yang mulai naik-turun di atas
tubuhnya menimbulkan bunyi seperti decakan karena kemaluan kami yang
beradu. Dan sambil melakukan itu, tidak puas-puasnya aku meremasi
sepasang susunya yang besar. Putingnya kujilati dan kusedot-sedot penuh
nikmat. Variasi sodokan kontolku dan remasan di payudaranya membuat Bi
Nah menggelinjang dan merintih.
"Aauuhh.., aauuhh.., oohh.., oohh enak sekali kontol kamu Rin. Ya..
terus sedot susu Bi Nah.., aahh.. ookkhh," rintihnya sambil menahan
nikmat yang dirasakan. Ia terus merintih dan mendesah setiap kali
batang penisku kusentakkan di lubang vaginanya.
Serangan balik Bi Nah tak kalah garang. Mengikuti irama turun naik
penisku di lubang memeknya, pantatnya kembali digoyang. Bahkan
dinding-dinding vaginanya seperti ikut bekerja. Menjepit dan meremas
mengikuti irama goyangannya. Akibatnya kami sama-sama terbuai dengan
kenikmatan yang tengah kami ciptakan. Kepala penisku mulai berdenyut
setiap menerima reaksi jepitan dinding vaginanya.
Sampai akhirnya, gerakan kami menjadi liar. Goyangan pinggul dan
pantat Bi Nah semakin cepat dan seolah kehilangan irama. Sama dengan
gerakan turun naik tubuhku yang kian terpacu. Dan puncaknya, pertahanan
kami sama-sama ambrol. Bi Nah memeluk erat tubuhku setelah mengejang
hebat dan cengkeraman di lubang memeknya berubah menjadi menyedot
dengan kuat. Maka seiring dengan itu, muncrat pula mani yang kutahan.
Kami sama-sama mengerang menahan nikmat yang tiada tara dan akhirnya
ambruk terkulai. Saat itu sungsum tulangku serasa dilolosi dan tenagaku
habis terkuras.
Sejak malam itu, seperti halnya Pak Dal, aku menjadi kekasih gelap
Bi Nah. Dan seperti janjinya, Bi Nah memang tidak pernah menolak setiap
aku meminta layanannya. Bahkan ia yang lebih sering mengajak bila
tengah tidak melayani Pak Was suaminya atau Pak Dal. Kami leluasa
melakukannya di siang hari saat keduanya mencari nafkah.
Hubunganku dengan Bi Nah terputus setelah aku merantau dan menetap di kota lain. Ah, Bi Nah..
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
1,061,815 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
1,051,531 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
667,361 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
659,990 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
356,495 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
300,140 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
297,076 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
278,635 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
247,413 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
216,269 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
211,262 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
205,853 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
192,223 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
184,173 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
178,179 |
|
|
|
|
|
|
|