|
|
Aku sungguh berterima kasih atas respons
pembaca atas cerita-ceritaku sebelumnya. Banyak pertanyaan yang intinya
menanyakan kebenaran kisahku. Supaya tidak ada keraguan, aku tegaskan
di sini bahwa semua ceritaku benar adanya. Tetapi aku mengolahnya
sedemikian rupa untuk menyamarkan identitas dan setting peristiwa
sesungguhnya.
Bagi yang belum mengenalku, aku adalah Fire Maker. Berusia dua
puluh tahunan. Untuk identitasku lainnya, silakan baca di
cerita-ceritaku sebelumnya. Melalui halaman ini pula, aku memohon
rekan-rekan pembaca untuk tidak mengirimkan email yang berisi file yang
mengandung virus, trojan, worm dan spam. Alangkah baiknya jika email
itu berisi komentar dan ajakan berkenalan. Dengan senang hati pasti
kubalas.
Silakan kirim email untuk bisa menjalin persahabatan denganku. Aku
sangat membutuhkan informasi dari para wanita khususnya, apakah sex
merupakan hal yang paling utama bagi wanita? Terima kasih sebelumnya.
*****
Sewaktu aku pertama kali mengenalnya, Tante Yeni berusia 35 tahun.
Sudah menikah dan mempunyai tiga orang anak, dua laki-laki bernama Edy
dan Johan serta si bungsu Cynthia. Waktu itu aku masih bekerja
freelance sebagai programmer. Tante Yeni adalah pengusaha mini market
dan dia menghubungiku untuk membuatkan sebuah program database yang
akan digunakan di mini marketnya.
Tante Yeni seorang keturunan chinese dan jawa. Orangnya mungil
dengan tinggi 155 cm dan berat 50 kg. Cukup seksi untuk seorang berusia
35 dengan tiga orang anak. Payudaranya berukuran 36A. Rambutnya lurus
dan berkacamata minus. Tante Yeni cukup cantik karena sebagai pengusaha
dia sangat memperhatikan penampilan dan kebugaran tubuhnya. Orangnya
teliti, tegas, agak acuh dan tipikal wanita yang mandiri
Setelah aku menyelesaikan program mini marketnya, aku
mengantarkannya ke rumahnya yang hanya berjarak sepuluh menit dari
rumahku. Tante Yeni tidak ada dan di rumahnya hanya ada si bungsu
Cynthia dan pembantunya, Mbak Ning. Cynthia yang masih kelas 4 SD
sedang bermain-main boneka. Aku sangat menyukai anak kecil. Melihat
Cynthia, aku jadi ingin bermain-main dengannya. Beralasan menunggu
Tante Yeni pulang, aku kemudian meluangkan waktuku untuk bercakap-cakap
dengan Mbak Ning dan bermain boneka dengan Cynthia.
Tak lama aku mulai akrab dengan Mbak Ning dan Cynthia. Mbak Ning
ini, biar pun pembantu rumah tangga, tetapi sikap dan cara berpikirnya
tidak seperti gadis desa. Dia cukup cerdas dan bagiku, hanya
kemiskinanlah yang membuatnya harus rela menjadi pembantu. Seharusnya
dia bisa menjadi lebih dari itu dengan kecerdasannya.
Setelah hampir satu jam aku di sana, Tante Yeni pulang. Kulihat dia
agak heran melihatku bermain-main dengan Cynthia dan mengobrol santai
dengan Mbak Ning.
"Kamu bisa akrab juga dengan Cynthia.. Padahal si Cynthia ini agak
sulit berinteraksi lho dengan orang baru.." sapa Tante Yeni ramah.
Harum tubuhnya membuatnya terlihat semakin cantik.
"Iya nih.. Mungkin Cynthia suka dengan Om Boy yang lucu.. Ya kan
Cynthia?" candaku sambil mengusap kepala Cynthia. Gadis kecil itu
tersenyum manis.
"Kau bawa programnya ya? Ada petunjuk pemakaiannya kan?"
"Ada dong. Tapi untuk mempercepat, sebaiknya aku menerangkan
langsung pada karyawanmu, Cie." Aku sengaja memanggil Tante Yeni dengan
panggilan "Cie" karena dia masih terlihat sebagai wanita Chinese.
Lagipula, panggilan "Cie" akan membuatnya merasa lebih muda.
Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan keluarga Tante Yeni.
Apalagi kemudian Tante Yeni memintaku untuk memberikan kursus privat
komputer pada Edy dan Johan, dua anaknya yang masing-masing kelas duduk
di kelas 1 SMP dan kelas 6 SD. Sedangkan untuk Cynthia, aku memberikan
privat piano klasik. Karena rumahnya dekat, aku mau saja. Lagi pula
Tante Yeni setuju membayarku tinggi.
Aku dan Tante Yeni sering ber-SMS ria, terutama kalau ada tebakan
dan SMS lucu. Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu kali aku bermaksud
mengirim SMS ke Ria yang isinya, "Hai say.. Lg ngapain? I miz u. Pengen
deh sayang-sayangan ama u lagi.. Aku pengen kita bercinta lagi.."
Karena waktu itu aku juga baru saja ber-SMS dengan Tante Yeni,
refleks tanganku mengirimkan SMS itu ke Tante Yeni! Aku sama sekali
belum sadar telah salah kirim sampai kemudian report di HP-ku datang:
Delivered to Ms. Yeni! Astaga! Aku langsung memikirkan alasan jika
Tante Yeni menanyakan SMS itu. Benar! Tak lama kemudian Tante Yeni
membalas SMS salah sasaran itu.
"Wah.. Ini SMS ke siapa ya kok romantis begini.." Wah, untung aku
dan Tante Yeni sudah akrab. Jadi walaupun nakalku ketahuan, tidak
masalah.
"Maaf, Cie. Aku salah kirim. Pas lagi horny nih. :p Maaf ya Cie.."
balasku. Aku sengaja berterus terang tentang 'horny'ku karena ingin
tahu reaksi Tante Yeni.
"Wah.. Kamu ternyata sudah berani begituan ya! SMS itu buat pacarmu ya?"
"Bukan Cie. Itu TTH-ku. Teman Tapi Hot.. Hahaha.. Tidak ada ikatan kok, Cie.."
Beberapa menit kemudian, Tante Yeni tidak membalas SMS-ku. Mungkin sedang sibuk. Oh, tidak, ternyata Tante Yeni meneleponku.
"Lagi dimana Boy?" Tanya Tante Yeni. Suaranya lebih akrab daripada biasanya.
"Di kamar sendirian, Cie. Maaf ya tadi SMS-ku salah kirim. Jadi
ketahuan deh aku lagi pengen.." jawabku. Kudengar Tante Yeni tertawa
lepas. Baru kali ini aku mendengarnya tertawa sebebas ini.
"Aku tadi kaget sekali. Kupikir si Boy ini anaknya alim, dan tidak mengerti begitu-begituan. Ternyata.. Hot sekali!"
"Hm.. Tapi memang aku alim lho, Cie.." kataku bercanda.
"Wee.. Alim tapi ngajak bercinta.. Siapa tuh cewek?"
"Ya teman lama, Cie. Partner sex-ku yang pertama." Aku bicara
blak-blakan. Bagiku sudah kepalang tanggung. Aku rasa Tante Yeni bisa
mengerti aku.
"Wah.. Kok dia mau ya tanpa ikatan denganmu?" tanyanya heran. Aku
yang dulu juga sering heran. Tetapi memang pada kenyataannya, sex tanpa
ikatan sudah bukan hal baru di jaman ini.
"Kami bersahabat baik, Cie. Sex hanya sebagian kecil dari hubungan kami." Jawabku apa adanya.
Aku tidak mengada-ada. Dalam beberapa bulan kami berteman, aku baru
satu kali bercinta dengan Ria. Jauh lebih banyak kami saling bercerita,
menasehati dan mendukung.
"Wah.. Baru tahu aku ada yang seperti itu di dunia ini. Kalau kalian memang cocok, kenapa tidak pacaran saja?"
"Kami belum ingin terikat. Terkadang pacaran malah membuat
batasan-batasan tertentu. Ada aturan, ada tuntutan, ada konsekuensi
yang harus ditanggung. Dan kami belum menginginkan itu."
"Lalu, apa partnermu cuma si Ria dan partner Ria cuma kamu?" selidik Tante Yeni.
"Kalau tentang Ria aku tidak tahu. Tapi tidak masalah bagiku dia
bercinta dengan pria lain. Aku pun begitu. Tapi tentu saja kami
sama-sama bertanggung jawab untuk berhati-hati. Kami sangat selektif
dalam bercinta. Takut penyakit, Cie."
"Oh.. Safe Sex ya? "
"Yup! Oh ya dari tadi aku seperti obyek wawancara. Tante sendiri
bagaimana dengan Om? Kapan terakhir berhubungan sex?" tanyaku melangkah
lebih jauh. Kudengar Tante Yeni menarik nafas panjang. Wah.. Ada
apa-apa nih, pikirku.
"Udah kira-kira 2 bulan yang lalu, Boy." Jawabnya.
Lama sekali. Pasti ada yang tidak wajar. Aku jadi ingin tahu lebih banyak lagi.
"Ko Fery Impotent ya Cie?"
"Oh tidak.. Entah kenapa, dia sepertinya tidak bergairah lagi
padaku. Padahal dia dulu sangat menyukai sex. Minimal satu minggu satu
kali kami berhubungan."
"Lho, Cie Yeni berhak minta dong. Itu kan nafkah batin. Setiap
orang membutuhkannya. Sudah pernah berterus terang, Cie?" tanyaku.
"Aku sih pernah memberinya tanda bahwa aku sedang ingin bercinta.
Tetapi dia kelihatannya sedang tidak mood. Aku tidak mau memaksa siapa
pun untuk bercinta denganku."
"Oh.. Kalau Boy sih tidak perlu dipaksa, juga mau dengan Cie
Yeni.." godaku asal saja. Toh kami sudah akrab dan ini memang waktu
yang tepat untuk mengarah ke sana.
"Boy, kamu itu cakep. Masa mau dengan orang seumuran aku? Suamiku saja tidak lagi tertarik denganku.."
"Cie Yeni serius? Aku tidak menyangka lho Cie Yeni bisa bicara
seperti ini. Cie Yeni masih muda. 35 tahun. Seksi dan modis. Kok
bisa-bisanya rendah diri ya? Padahal Cie Yeni terlihat sangat mandiri
di mataku.." aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Bagaimana
bisa, sebuah SMS salah sasaran, dalam waktu singkat bisa berubah
menjadi obrolan sex yang sangat terang-terangan seperti ini.
"Kamu lagi nganggur kan? Datang ke rumahku sekarang ya? Suamiku tidak ada di rumah kok. Dia masih di kantor."
Telepon ditutup. Darahku berdesir. Benarkah ini? Seperti mimpi.
Sangat cepat. Bahkan aku tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk
mendapatkan Tante Yeni. Selama ini aku sangat menghormatinya sebagai
clientku. Sebagai orang tua dari murid privatku.
Bergegas aku mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Tante Yeni.
Di sepanjang jalan aku masih tak habis pikir. Apakah benar nanti aku
akan bercinta dengan Tante Yeni? Rasanya mustahil. Ada Cynthia dan Mbak
Ning di rumahnya. Belum lagi kalau ternyata Edy dan Johan juga sudah
pulang dijemput sopirnya.
Sampai di rumah Tante Yeni, ternyata rumahnya sedang sepi. Cynthia
sedang tidur dan hanya Mbak Ning yang sedang santai menonton televisi.
"Di tunggu Ibu di ruang computer, Kak." Kata Mbak Ning. Dia memanggilku 'kakak' karena usiaku masih lebih tua darinya.
"Oh iya.. Terima kasih, Ning. Ada urusan sedikit dengan programnya
nih." Kataku memberikan alasan kalau-kalau Mbak Ning bertanya-tanya ada
apa aku datang.
Aku masuk ke ruang computer yang di dalamnya juga ada piano dan lemari berisi buku-buku koleksi Tante Yeni.
"Tutup saja pintunya, Boy." Kata Tante Yeni.
Tiba-tiba jantungku berdebar sangat keras. Entah mengapa, berbeda
dengan menghadapi Lucy, Ria dan Ita, aku merasa aneh berdiri di depan
seorang wanita mungil yang usianya di atasku. Setelah aku menutup
pintu, belum sempat aku duduk, Tante Yeni sudah melangkah
menghampiriku. Dia memelukku. Tingginya cuma sebahuku. Harum tubuhnya
segera membuatku berdesir. Pelukannya sangat lembut. Kepalanya
disandarkan ke dadaku.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Ini adalah pengalaman pertamaku
dengan wanita yang usianya di atasku. Aku takut salah. Apa aku harus
berdiam diri saja? Memeluknya? Menciumnya? Atau langsung saja
mengajaknya bercinta? Pikiranku saling memberi ide. Banyak ide
bermunculan di otakku. Beberapa saat lamanya aku bingung. Pusing tidak
tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku memilih tenang. Aku ingin tahu apa
yang Tante Yeni inginkan. Aku akan mengikutinya. Kali ini aku main safe
saja. No risk taking this time.
"Cie Yeni adalah masalah?" bisikku. Kurasakan pelukan Tante Yeni
semakin erat. Dia tidak menjawab. Aku juga diam. Benar-benar situasi
baru. Pengalaman baru. Kurasakan penisku tidak bergerak. Rupanya
pelukan Tante Yeni tidak membangkitkan gairahku.
"Aku cuma ingin memelukmu. Sudah lama aku tidak merasa senyaman
ini di pelukan seorang laki-laki. Kamu tidak keberatan kan aku
memelukmu?" akhirnya Tante Yeni berbicara.
"Tentu saja aku tidak keberatan, Cie. Peluk saja sepuas Cie Yeni.
Apapun yang Cie Yeni inginkan dariku, kalau aku mampu, aku akan
melakukannya." Kurasakan tangannya mencubitku.
"Sok romantis kamu, Boy. Aku bukan gadis remaja yang bisa melayang
mendengar kata-kata rayuanmu.. Wuih, apapun yang kau inginkan dariku..
Aku akan melakukannya.. Hahaha.. Gak usah pakai begituan. Aku sudah
sangat senang kalau kamu mau kupeluk begini.."
Benar juga kata Cie Yeni. Hari itu aku belajar menghadapi wanita
dewasa. Belajar apa yang mereka butuhkan. Bagi Tante Yeni, kata-kata
manis tidak diperlukan. Tapi tentu saja, aku tidak seratus persen
percaya. Bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pujian
dengan tulus. Perasaan wanita sangat peka. Wanita punya sense untuk
mencerna setiap kata-kata pria. Apakah rayuan, apakah pujian yang
tulus, atau hanya bunga bahasa untuk tujuan tertentu. Dan aku memilih
untuk memujinya dengan setulus hatiku.
"Cie Yeni, aku beruntung bisa dipeluk wanita sepertimu. Siapa
sangka SMS salah kirim bisa berhadiah pelukan?" candaku. Memang benar
aku merasa beruntung. Ini bukan bunga bahasa, bukan rayuan. Dan aku
yakin perasaan Cie Yeni akan menangkap ketulusanku.
"Yah.. Aku simpati denganmu yang bisa bergaul akrab dengan
anak-anakku. Kamu juga tidak merendahkan si Ning. Kulihat memang pantas
kau mendapatkan pelukanku, Boy.." bisik tante Yeni lagi. Kali ini
wajahnya mendongak menatapku. Ada senyum tipis menghias bibirnya. Ugh..
Aku jadi ingin menciumnya.
Di satu sisi aku tahu bahwa aku salah. Tante Yeni sudah berkeluarga
dan keluarganya harmonis. Tapi di sisi lainnya, sebagai cowok normal
aku menikmati pelukan itu. Bahkan aku ingin lebih dari sekedar pelukan.
Aku ingin menciumnya, melepaskan pakaiannya, dan memberinya sejuta
kenikmatan. Apalagi Tante Yeni sudah 2 bulan lebih tidak mendapatkan
nafkah batin. Pasti dia sangat haus sekarang. Aku mulai memperhitungkan
situasi. Kami dalam ruang tertutup yang walaupun tidak terkunci, cukup
aman untuk beberapa saat. Mbak Ning tidak mungkin masuk tanpa permisi.
Satu-satunya kemungkinan gangguan adalah Cynthia.
Perlahan aku memberanikan diri menyentuh wajah Tante Yeni. Dengan
dua buah jariku, aku membelai wajahnya lembut. Mataku menatapnya penuh
arti. Kulihat Tante Yeni gelisah, tetapi ia menikmati sentuhanku di
wajahnya. Aku menggerakkan wajahku menunduk mencari bibirnya. Sekejap
kami berciuman. Bibirnya sangat penuh. Sangat hangat. Baru beberapa
detik, ciuman kami terlepas. Tante Yeni menyandarkan kepalanya ke
dadaku.
"Aku salah, Boy. Aku mulai menyayangimu.." bisiknya nyaris tak kudengar.
Aku yang sudah merasakan ciumannya mendadak ingin lebih lagi. Dasar
cowok!, rutukku dalam hati. Apalagi aku sedang horny. Aku mencoba
mengangkat wajahnya lagi. Ada sedikit penolakan, tapi wajahnya
menatapku kembali. Aku tak berani menciumnya. Dan Tante Yeni menciumku,
menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku. Dan
akhirnya kami bercumbu dengan hasrat membara. Kami sama-sama kehausan..
Agh.. Aku tak peduli lagi. Wanita yang kuhormati ini sedang kupeluk dan
kucumbu. Dia membutuhkanku dan aku juga membutuhkannya. Yang lain
dipikirkan nanti saja. Nikmati saja dulu, pikirku cepat.
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
980,548 |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
867,079 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
550,626 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
518,667 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
333,979 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
281,186 |
| Pengalaman Pertamaku Dengan Tante Lily |
ferina.acc@gmail.com |
250,383 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
227,216 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
204,147 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
194,112 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
193,995 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
181,101 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
170,156 |
| Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1 |
garistubuhku45@yahoo.com |
167,123 |
| Nikmatnya Ibu Kostku (2) |
marsissantoso@hotmail.com |
159,235 |
|
|
|
|
|
|
|