Suatu ketika rumahnya sedang kosong cuma
tinggal Tante Juliet bertiga dengan anak asuhnya yang masih berumur 3
tahun dan pembantunya. Tante Juliet meneleponku untuk meminta tolong
membetulkan kran kamar mandinya. Tentu saja kupenuhi karena aku baginya
sudah dianggap seperti keluarga di rumahnya dengan sendirinya cepat
saja kupenuhi permintaan itu. Aku datang dengan segera tapi kran rusak
ternyata hanya alasan saja melainkan diminta untuk menemani sambil
membantu memijiti kakinya yang katanya sedang kram. Di ruang tengah
Tante waktu itu duduk di sofa panjang sedang menonton acara telenovela
di televisi.
"Abis kalo nggak pake alesan betulin keran nanti nggak enak
didengar keluargamu. Sini dong Son, Sony bisa bantuin mijetin kaki
Tante, nggak? kaki Tante agak keram sedikit.." begitu katanya
menyambutku dan langsung meminta bantuanku.
Aku mengangguk dan mendekat berlutut di depannya akan mulai memijit sebelah kakinya di bagian bawah tapi rupanya bukan di situ.
"Oo bukan di situ Son.. Di sini, di selangkangan ini. Nggak apa ya
Tante begini, nggak usah kikuk, Sony kan udah kayak anak Tante sendiri.
" katanya sambil menyingkap roknya ke atas menunjukkan daerah yang
harus kupijit yaitu di selangkangan pahanya.
Tidak tanggung-tanggung, rok itu disingkap sampai di atas celana
dalamnya sehingga mau tak mau terpandang juga gundukan vaginanya
menerawang dari balik kain tipis celana dalamnya itu. Tentu saja,
biarpun sudah dipesan lebih dulu agar aku tidak usah kikuk-kikuk, tidak
urung mukaku langsung berubah merah malu dengan pemandangan yang
seronok ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang kurasakan, dia
menyuruh aku mendekat masuk di tengah selangkangannya dan mengambil
kedua tanganku, meletakan di masing-masing paha atasnya persis di tepi
gundukan bukit vaginanya. Dia minta bagian yang katanya sering pegal
itu kutekan pelan-pelan dan waktu kumulai agak bergetaran juga tanganku
mengerjainya sementara Tante Juliet memejamkan matanya pura-pura
menikmati pijitanku. Padahal sungguh, aku sama sekali tidak tahu bahwa
aku sedang diperangkap olehnya.
"Iya di situ sering pegel Son, tapi ntar dulu.. Kurang pas yang
itu, Tante naikin kaki dulu.. Ya.. "katanya. Berikutnya dengan alasan
kurang puas Tante menaikan kedua telapaknya ke atas tepi sofa di mana
dia sekarang minta aku memijit lebih ke dalam lagi sehingga boleh
dibilang aku hanya memijit-mijit otot seputar kemaluannya saja.
Pikiranku mulai terganggu karena bagaimanapun meremas-remas tepi bukit
yang sedang terkangkang menganga ini mau tidak mau membuat nafasku
memburu juga. Maklum, meskipun masih remaja tapi aku sudah kenal tidur
dengan perempuan sehingga jelas mengenal rasa yang bisa diberikan bukit
menggembung di depanku. Apalagi dalam pemandangan yang merangsang
seperti ini. Nah, di tengah-tengah kecamuk lamunan seperti ini Tante
semakin jauh menggodaku.
"Ngomong-ngomong Sony udah pernah maen ama cewek, belum?" katanya agak genit.
"Ngg.. Maen cewek maksud Tante pacaran?" kataku balik bertanya pura-pura tidak mengerti.
"Maksudnya tidur sama cewek, ngerasain ininya," katanya sambil menunjuk vaginanya.
Ditanya begini wajahku merah lagi, jadi gugup aku menjawab, "Ngmm..
Belum pernah Tan.." jawabku berbohong. Mungkin aku salah menjawab
begini karena kesempatan ini justru dipakai tante makin menggodaku.
"Ah masak sih, coba Tante pegang dulu.." begitu selesai bicara dia
sudah menarikku lebih dekat lagi dengan menjulurkan kedua tangannya,
satu dipakai untuk menggantol di leherku menahan tubuhnya tegak dari
sandaran sofa, satu lagi dipakai untuk meraba jendulan penisku.
"Tante pengen tau kalo bangunnya cepet berarti betul belum pernah.." lanjutnya lagi.
Entah artinya yang sengaja dibolak-balik atau memang ini bagian
dari kelihaiannya membujukku, namanya aku masih berdarah muda biarpun
sudah terbiasa menghadapi perempuan tapi dirangsang dalam suasana
begini tentu saja cepat batangku naik mengeras. Kalau sudah sampai di
sini sudah lebih gampang lagi buat dia.
"Wihh, memang cepet bener bangunnya.. Tapi coba Son, Tante kok jadi
penasaran kayaknya ada yang aneh punyamu.." katanya tanpa menunggu
persetujuanku dia sudah langsung bekerja membuka celanaku membebaskan
penisku. Aku sulit menolak karena kupikir dia betul-betul sekedar
penasaran ingin melihat keluarbiasaan penisku. Memang, waktu batangku
terbuka bebas matanya setengah heran setengah kagum melihat ukuran
penisku.
"Buukan maen Sonyy.. Keras banget punyamu.." katanya memuji kagum
tapi justru melihat yang begini makin memburu niatnya ingin cepat
menjeratku.
"Tapi masak sih yang begini belum pernah dipake ke cewek. Kalo
gitu sini Tante kenalin rasa sedikit, deket lagi biar bisa Tante
tempelin di sini.." lanjutnya, lagi-lagi tanpa menunggu komentarku dia
memegang batangku dan menarikku lebih merapat kepadanya.
Apa yang dimaksudkannya adalah dengan sebelah tangan bekerja cepat
sekedar menyingkap sebelah kaki celana dalamnya membebaskan vaginanya,
lalu sebelah lagi membawa penisku menempelkan kepala batangku di mulut
lubang vaginanya. Di situ digosok-gosokannya ujung penisku di celah
liangnya beberapa saat dulu baru kemudian menguji perasaanku.
"Gimana, enak nggak digosok-gosokin gini?" katanya tambah super genit.
Tentu, jangan bilang lagi kalau sudah begini aku yang sudah tegang
dengan sinar mata redup sudah sulit untuk melepaskan diri, berat
rasanya menolak kesempatan seperti ini. Aku cuma mengiyakan dengan
mengangguk dan Tante Juliet meningkat lebih jauh lagi.
"Kalo gitu Sony yang nyoba sendiri biar bisa tahu gimana rasanya,
tapi tunggu Tante buka aja sekalian supaya nggak ngalangin.." lanjutnya
dengan cepat melepas celana dalamnya untuk kemudian kembali lagi pada
posisi mengangkangnya.
Menggosok-gosokan sendiri ujung kepala penisku di mulut lubang
vaginanya yang menganga tambah membuatku semakin tegang dalam nafsu,
tapi untuk menyesapkan masuk ke dalam aku masih tidak berani sebelum
mendapat ijinnya. Padahal itu justru yang diinginkan tante hanya saja
mengira aku benar-benar masih hijau dia masih memakai siasat halus
untuk menyeretku masuk.
"Ahh.. Kedaleman gosokinnya.." katanya menjerit geli memaksudkan
aku agak terlalu menusuk. Padahal rasanya aku masih mengikuti sesuai
anjurannya, tapi ini memang akal dia untuk masuk di siasat berikut,
"Tapi gini, supaya nggak keset sini Tante basahin dulu punyamu. "
katanya mengajak aku bangun berdiri.
Kali ini apa yang dimaksudkannya adalah dia langsung mengambil
penisku dan mulai menjilati seputar batangku, sambil sesekali mengulum
kepalanya. Kalau sudah sampai di sini rasanya aku bisa menebak ke mana
kelanjutannya. Dan memang, ketika dirasanya batangku sudah cukup basah
licin dia pun menarik lagi tubuhku berlutut dan kembali memasang
vaginanya siap untuk kumasuki. Dalam keadaan seperti itu aku
betul-betul sudah buntu pikiranku, terlupa bahwa dia adalah istri dari
Mas Fadli-kakak angkatku. Rangsangan nafsu sudah menuntut kelelakianku
untuk tersalurkan lewat dia.
Sehingga sekalipun Tante Juliet tidak lagi menyuruh dengan
kata-katanya, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan. Ujung penis mulai
kusesapkan di lubang vaginanya segera kuikuti dengan gerakan membor
untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri meskipun mimik mukanya agak
tegang, dia ikut membantu dengan jari-jari tangannya lebih menguakkan
bibir vaginanya menjadi semakin menganga, untuk lebih memudahkan usaha
masuk batangku. Tapi baru saja terjepit setengah, tiba-tiba Jul anak
asuhnya datang mengganggu konsentrasi teristimewa bagi Tante Juliet. Si
kecil yang belum mengerti apa-apa ini naik ke sofa langsung menunggangi
perut Tante seolah-olah ingin ikut bergabung dengan kami.
"Nanti dulu Dek, Mama lagi dicuntik Mas Sony.. Adek maen dulu sana,
ya?" agak kerepotan Tante membujuk SonJul untuk menyingkir dan kembali
bermain, sementara aku sendiri tetap sibuk membor dan menggesek keluar
masuk penisku untuk menanam sisa batang yang masih belum masuk. Di atas
dia repot meredam kelincahan SonJul, sedang di bawah dia juga repot
menyambut batangku. Sesekali merintih memintaku jangan terlalu kuat
menyodokkan penisku.
"Aashh.. Sonn.. Pelan Son.. Memek mama sakit.. Jangan dicuntik keras-kerass.." erangnya.
Untung berhasil Tante Juliet membujuk SonJul tepat pada saat
seluruh batangku habis terbenam. Lega wajahnya ketika SonJul sudah mau
turun kembali bermain.
"Naa, sekarang Mama Adek mau maen sama Mas Sony dulu, ya? Ayo Mas
Son.. Pindah ke bawah dulu, Mama Adek juga pengen ikutan ngerasain
enaknya.. " Tanpa melepas kemaluan masing-masing kami pun berpindah ke
karpet, Tante Juliet yang di bagian bawah. Di situ begitu posisi terasa
pas kami segera menikmati asyik gelut kedua kemaluan denganku memompa
dan Tante Juliet mengocok vaginanya.
Nikmat sanggama mulai meresap dan meskipun di tengah-tengah asyik
itu SonJul juga sering datang mengganggu, tapi kami sudah tidak peduli
karena masing-masing sedang berpacu menuju puncak kepuasan. Dan ini
ternyata bisa tercapai secara bersamaan. Agak terganggu dengan adanya
SonJul lagipula suasana kurang begitu bebas, tapi toh cukup memuaskan
akhir permainan itu bagi kami berdua. Kelanjutan hubungan kami memang
sulit mencari kesempatan yang lowong seperti itu lagi. Setelah yang
pertama ini masih sempat dua kali kami melakukan hubungan badan tapi
kemudian terputus.
Ada satu keasyikan tersendiri yang kurasakan jika sedang bercinta
dengan Tante Juliet yang bertubuh montok ini. Enak rasanya bergelut
dengan daging tebalnya, seperti menari-nari di atas kasur empuk
berbantalkan susunya yang juga montok dan besar itu. Rasanya dalam
sejarah percintaanku dengan para wanita yang kesemuanya cantik-cantik
lagi berlekak-lekuk padat menggiurkan, maka cuma dengan dia
satu-satunya yang berbeda. Tapi, inilah yang kusebut asyik tadi. Aku
sama sekali tidak merasa menyesal dan justru selalu merindukan untuk
mengulang kenangan bersama dia, hanya saja kesempatan sudah sulit
sekali untuk didapat.
Kesempatan kali keempat kudapat tiga tahun setelah itu yaitu ketika
aku diminta mengantar Tante Juliet untuk menghadiri upacara perkawinan
seorang keluarga mereka di Las Vegas. Waktu itu rencananya aku hanya
mengantar saja dan setelah acara selesai akan pulang langsung ke LA ke
tempat kuliahku, tapi rupanya Tante Juliet berubah pikiran ingin pulang
menumpang lagi denganku. Mau tak mau aku pun berputar melewati
Washington, DC untuk mengantarkan Tante Juliet ke rumahnya dulu sebelum
ke LA. Tante memang rupanya tidak ingin berlama-lama dalam
kunjungannya, itu sebabnya SonJul tidak diajak serta dan ditinggal
bersama pembantu serta suaminya di rumah.
Begitu, dalam perjalanan yang cuma kami berdua di mobil kami pun
ngobrol dengan akrab, dengan Tante Juliet yang lebih banyak
bertanya-tanya tentang keadaanku sementara aku sendiri sibuk mengemudi.
Sampai kemudian menyinggung tentang kegiatan seksku, Tante Juliet
memang bisa menduga bahwa aku tentu sudah banyak pengalaman
galang-gulung dengan perempuan.
"Ngomong-ngomong soal kita dulu kalo sekarang Sony udah kenal
banyak cewek cakep pasti kamu nyesel kenapa bikin gitu sama Tante waktu
hari itu, ya nggak Son?"
"Nyesel sih enggak Tan, gimanapun kan Tante yang pertama kali
ngenalin rasa sama Sony. Apalagi Sony juga punya kenangan manis dari
Tante.." jawabku menyinggung hubungan intimku waktu itu dengannya.
"Tapi itu kan duluu.. Sekarang dibanding-bandingin sama
kenalan-kenalanmu yang lebih muda pasti kamu mikir-mikir lagi, kok
mau-maunya aku sama Tante model gitu. Itupun waktu dulu, sekarang
apalagi.. Tambah nggak nafsu liatnya, ya nggak?" Aku langsung menoleh
dengan tidak enak hati.
"Jangan bilang gitu Tan, Sony nggak pernah nyesel soal yang dulu.
Malah kalo masih boleh dikasih sih sekarang pun Sony juga masih mau
kok."
"Jangan menghibur, ngeliat apanya sama Tante kok berani bilang gitu?"
"Lho kenyataan dong.. Tante emang sekarang gemukan tapi manisnya
nggak kurang. Malah tambah ngerangsang deh.." jawabku memuji apa
adanya.
Karena memang, sekalipun dia sekarang terlihat lebih gemuk dibanding dulu tapi wajahnya masih tetap terlihat manis.
"Ngerangsang apanya Son?" tanyanya penasaran.
"Ya ngerangsang pengen dikasih kayak dulu lagi. Soalnya tambah
montok kan tambah enak rasanya." jawabku dengan membuktikan langsung
meraba-raba buah dadanya yang besar itu, Tante Juliet langsung
menggelinjang kegelian.
"Aaa.. Kamu emang pinter ngerayu, bikin orang jadi ngira beneran aja." katanya mencandaiku.
"Lho Sony serius kok, kalo masih kepengen ngulang sama Tante.
Makanya tadi Sony nanya, kalo emang masih boleh dikasih sekarang juga
Sony belokin nyari hotel, nih?" Lagi-lagi dia tertawa geli mendengar
candaku.
"Yang bilang nggak boleh siapa. Tapi dikasiHPun kamu pasti nggak selera lagi, kan percuma."
"Ya udah, kalo nggak percaya.. Tapi ngomong-ngomong sebentar lagi
udah gelap, Sony lupa kalo lampu mobil kemaren mati sebelah belum
sempat diganti. Gimana kalo kita nyari hotel aja Tan, besok baru
terusin lagi." kataku mengajukan usul karena kebetulan memang lampu
mobilku padam sebelah. Sebetulnya ada cadangan tapi ini kupakai alasan
untuk mengajaknya menginap.
"Duh kamu kok sembrono sih Son.. Ayo cari penginepan aja kalo gitu, dipaksa nerusin nanti malah bahaya di jalan.."
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
46,468 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
18,423 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
14,044 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
13,750 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
9,939 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
9,720 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
7,942 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
7,106 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
6,577 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
6,264 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
6,246 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
5,228 |
| Kompor Pembawa Berkah - 2 |
heruskw@hotmail.com |
5,213 |
| Nikmatnya Ibu Kostku (2) |
marsissantoso@hotmail.com |
4,632 |
| Gairah Tante Vivi 04 |
Cerita Saru |
3,923 |
|
|
|
|
|
|