Namaku Rudy, berasal dari kawasan Indonesia
Timur. Usiaku 23 tahun. Sejak tahun 1998 aku hijrah ke Surabaya untuk
meneruskan studi di sebuah PTN terkenal. Dari daerahku yang agak
terkebelakang aku beralih ke pergaulan metropolis. Teman-teman
mahasiswi yang cantik manis ternyata mudah diajak bergaul. Namun, aku
menyimpan obsesi. Apa itu? Ingin kurasakan seperti apa nikmatnya
bersetubuh dengan wanita dari berbagai daerah. Siapa kira obsesiku itu
agak dengan mudah terpenuhi? Berikut kisahku dengan tiga wanita dari 3
daerah berbeda.
Hari Sabtu, kira-kira pukul delapan pagi. Aku masih di tempat tidur ketika teleponku berdering. Dengan agak malas kuangkat.
"Haloo.. Rudy di sini", kataku.
"Hi, Rud!", suara wanita. "Ini Warsih. Gimana khabarnya?"
Mataku sepenuhnya terbuka sekarang. Di pelupuk mataku segera
terbayang wajah manis wanita Jawa berusia tiga puluh tiga tahun
tersebut.
"Hi.." aku jadi bersemangat. "Baik-baik. Ada apa?"
"Mau nggak, sore ini nemenin aku ke Pacet?" tanyanya.
Hatiku bersorak. Tentu saja aku mau.
"Aku menjemputmu sekitar jam empat di Jl. Darmo, seperti biasa.
Suamiku lagi ke Solo menghantar Dodi dan Novi ke kakek neneknya. Pulang
Senin siang. Aku jadi punya waktu untuk bersantai. OK?"
Aku hanya tertawa. Bersantai? Tentu saja di ranjang Villa
keluarganya di Pacet sana. Lelaki normal mana yang mau menolak undangan
seperti ini?
Sejak diperkenalkan Ibu Shirley kepadaku, sudah belasan kali ia
merasakan kejantananku. Kesempatan itu datang lagi. Terbayang di mataku
pergumulan hangat yang akan terjadi. Akan kugeluti tubuh montok itu,
akan kusetubuhi dia sampai puas. Ibu Suwarsih sangat menarik walau
sudah beranak dua. Tubuhnya sintal, tinggi dengan rambut lurus sedikit
dibawah pundak. Buah dadanya besar menantang, putih dan ranum dengan
putingnya yang berwarna merah jambu menonjol ke depan dengan seksinya
seakan-akan belum diteteki seorang anakpun. Perutnya masih rata dan
mulus dengan pinggang yang cukup langsing, digantungi oleh bongkahan
pantatnya yang besar. Paha dan betisnya serasi dengan pantatnya. Dan
terutama, kemaluannya yang berbulu hitam lebat berwarna
kemerah-merahan, sudah sering kugenjot sampai ia menjerit-jerit. Aku
tersenyum membayangkan kenikmatan yang akan kureguk.
Kurang lima menit pukul empat sore, aku berdiri di pinggir Jl.
Darmo. Sebuah mobil kijang biru berkaca raiban berhenti. Pintu terbuka
dan aku pun masuk. Ia tersenym dengan bibirnya yang merah merekah,
menatapku tanpa berkata apa-apa namun dengan sorot mata penuh birahi
yang perlu dipuaskan. Kututup pintu dan segera kulumat bibirnya yang
basah menggairahkan.
"Ayo kita berangkat", kataku melepaskan bibirnya.
Ia mengangguk dan melarikan mobil. Selama di perjalanan, tanganku
tak henti-hentinya menari-nari di lekak lekuk tubuhnya. Ia tidak
menolak sedikitpun malahan bergerak-gerak memberiku keleluasaan
menjarah rayah tubuhnya. Di lereng sebuah bukit kuminta ia menghentikan
mobil. Walau agak heran ia berhenti juga. Tanganku mulai beraksi
mencopoti pakaiannya. Dadanya terbuka. Sebuah BH kecil berwarna cream
menutupi seperempat buah dadanya. Segera mulutku menerkam kedua gunung
kembar yang mulus itu. Ia mengerang-ngerang. Tanganku sibuk mencopoti
rok pendek yang dikenakannya. CD cream kecil menutupi kemaluannya.
Kugeluti dia di atas jok mobil itu. Ia melenguh semakin hebat dan
mencari-cari reseluiting celanaku. Ditariknya ke bawah dan jemarinya
yang halus menyusupi CD-ku dan meremas batang kemaluanku. Ia sudah siap
untuk disetubuhi tetapi kutahan diri.
"Ayo kita berangkat lagi", kataku.
"Kok tidak diteruskan", katanya dengan nafas panjang. Sorot matanya menerawang penuh nafsu.
"Belum saatnya", sahutku menggoda. "Nanti di villa saja."
Maka sambil tersenyum ia kembali menyetir. Tembok pagar villa yang
tinggi menjadi pelindung yang aman. Sambil berpelukan kami memasuki
villa dan terus melangkah ke kamar tidur karena pertarungan ronde
pertama akan segera dimulai. Kupelorot setiap helai kain yang melekat
di tubuhnya sehingga ia berdiri di hadapanku telanjang bulat. Kucopot
pakaianku dalam hitungan detik dan langsung menerkam tubuhnya yang
bahenol. Kami berjatuhan ke atas ranjang yang empuk dengan nafas
memburu, sepenuhnya dikuasai nafsu birahi yang minta dipuaskan.
Bibirku beradu dengan bibirnya. Mulutku terbuka membiarkan lidahnya
menjulur masuk mempermainkan lidahku, sementara kedua tanganku asyik
bermain di kedua payudaranya. Puas mempermainkan bibirnya, kurayapi
pipi dan dagunya. Di bawah sana, tangannya yang lembut mengelus dan
meremas-remas kemaluanku. Aku mengerang nikmat. Mulutku beralih ke
kedua payudaranya yang mengeras. Kurasakan denyut jantungnya yang
semakin cepat dan nafasnya yang memburu.
Mulutku terus turun merayapi perutnya. Tubuhnya menggelinjang
menahan nafsu birahi yang semakin memuncak. Bibirku semakin mendekati
kemaluannya yang berbulu lebat dan mulai meneteskan cairan bening.
Pahanya membuka seiring dengan mulutku yang lincah bermain mendekati
lubang surgawinya. Pantatnya mulai berguncang-guncang hebat. Ia sudah
kehilangan pegangan sama sekali. Kuisap pangkal pahanya dan sesekali
mendengus di bulu-bulu lebat kemaluannya. Ia semakin keras mengerang.
Akhirnya kubenamkan mulutku di lubang kemaluannya. Lidahku menjulur
masuk. Ia tersentak dan menekan kepalaku lebih dalam menyusupi
selangkangnya. Kuisap klitorisnya. Erangan itu berubah menjadi jeritan.
Kupikir inilah saat yang tepat.
Kurebahkan dia ke atas kasur dan dengan cepat menindih tubuh molek
itu. Kemaluanku yang sudah keras tegak itu dengan menggebu mencari
sasarannya. Kugenjot sekali, salah. Kugenjot kedua kali. Kurasakan
kemaluanku menyusup masuk membelah lubang kemaluannya yang hangat
berlendir. Ia membuka paha lebar-lebar sehingga dengan gampang aku
menyuruk masuk lebih dalam.
"Aaachh..", ia menjerit panjang.
Kugerakan pantatku naik turun untuk memberikan rasa nikmat
kepadanya. Dia menjerit-jerit tanpa arah. Nafasku memburu. Mulutku
sibuk melumat kedua buah dadanya. Tiba-tiba tubuhnya mengejang. Ia
menghentakkan pantatnya ke atas dan menelah penuh kejantananku. Aku
tahu, dia sudah mencapai orgasme. Suara jeritannya keras membelah
dinginnya malam. Pahanya ketat membelit pinggangku. Tubuhnya
menggeletar menahan rasa nikmat. Tapi aku tak mau menyerah. Setelah
beberapa menit diam membatu membiarkannya mereguk kenikmatan itu, aku
mulai menggerakkan pantatku lagi. Kembali ia menggeliat-geliat.
Terpikir olehku untuk memberikan satu sensasi baru baginya.
Kucabut kemaluanku yang masih tegang itu. Kutarik tubuhnya turun
dari ranjang. Dengan tubuh yang gemetaran karena menahan rasa nikmat ia
menuruti kemauanku. Dalam posisi berdiri kubuka pahanya dan berusaha
memasuki lubang kemaluannya. Ia melengkungkan pantatnya ke belakang
menekan birahinya yang menggila. Kuraih pundaknya dengan tangan kiriku
dan menekannya ke arah dadaku, sementara tangan kananku menjangkau
pantatnya yang besar itu. Kusentakkan pantat yang lembut itu ke arah
kemaluanku. Meluncurlah batang kemaluanku membelah lubang kemaluannya,
lancar seperti jalan tol.
"Aaachh..", sekali lagi terdengar jeritannya panjang membelah malam.
Mengangkang lebar ia membiarkan aku dengan leluasa menggenjot
kemaluannya. Keringatku mulai bercucuran menyatu dengan keringatnya.
Matanya terpejam. Rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku
mendesakku untuk mengakhiri pertarungan ronde pertama ini. Kukencangkan
otot perutku. Kemaluanku semakin mengeras dan memanjang. Ia mengerang
keras. Bobot badannya merosot tak sanggup ditopang sendi lututnya yang
goyah karena rasa nikmat yang tak terkira. Aku terus menggerak-gerakkan
pantatku maju mundur sambil mendengar suara kecipak lendir yang
membanjiri kemaluannya. Cairan itu sudah mulai turun dan membasahi
pahaku. Akhirnya dengan mengerahkan sisa tenagaku kusentakkan pantatku
keras ke depan untuk membenamkan kemaluanku sedalam-dalamnya di lubang
kemaluannya. Ia menjerit keras dan sejalan dengan itu tubuh kami yang
menyatu bergulingan ke lantai berkarpet itu. Pahanya ketat membelit
pinggangku. Pantatnya yang besar itu berguncang-guncang hebat.
Tangannya ketat memelukku. Giginya terbenam di bahuku sehingga jeritan
kenikmatannya tersekat di sana. Kurasakan gelombang kenikmatan orgasme
merayapi tubuhku. Tubuh kami yang menyatu diam membatu mereguk
sisa-sisa kenikmatan. Sekitar dua puluh menit berlalu.
"Terima kasih, jantanku", kata dia sambil membelai wajahku. "Aku puas sekali!"
"Aku juga puas sekali", sahutku. "Kamu luar biasa malam ini."
Kami beralih ke kamar mandi. Acara mandi air hangat di bathtub
dipenuhi dengan elusan, remasan dan rabaan. Dengan leluasa aku merayapi
semua lekuk liku tubuhnya, demikian pun sebaliknya. Ketika rabaan dan
usapan itu semakin memanas, ketika gejolak nafsu semakin tak
terkendali, kembali aku bersatu dengan tubuh bahenol nan sexy itu.
Kecipak air yang tertumpah ke lantai kamar mandi tak lagi dihiraukan.
Yang ada hanyalah pertarungan seru dua jenis manusia, pertarungan tanpa
senjata. Pertarungan untuk mencari kenikmatan badaniah. Ia
mendesah-desah nikmat dengan mulut terbuka seperti ikan yang kehabisan
air. Tangannya ketat merangkulku sementara pahanya mengangkang lebar
sehingga aku leluasa memainkan kemaluanku di lubang kemaluannya.
Tanpa merasa perlu berpakaian kami menikmati makan malam. Sementara
mulutku menikmati hidangan least itu, mataku dapat terus menikmati
kemolekan kedua payudaranya atau kemulusan pahanya. Rasanya sangat
nikmat ketika sebelah tangan menyuapkan makanan ke mulut sementara
tangan yang lain bergerilya di sekitar lekukan buah dadanya. Demikian
pun sebaliknya. Tangan dia pun tak henti-hentinya mempermainkan batang
kejantananku sehingga senjata kebangganku itu dengan cepat berdiri
kembali, siap untuk memberikan kenikmatan yang lebih hebat lagi
kepadanya.
Selesai makan ia beranjak ke ruang tengah. Aku mengikutinya dari
belakang, menikmati goyangan pantatnya yang menawan. Kuperhatikan kedua
pinggulnya yang bulat dan padat namun lembut, bergoyang-goyang naik
turun bergantian, indah sekali. Tak sanggup menahan diri, kuterkam ia
dari belakang. Ia menjerit kecil lalu dia diam, membiarkan diriku
menikmati setiap jengkal tubuhnya. Kuremas sejenak kedua belah
pantatnya yang besar itu lalu kupeluk dia dari belakang. Kedua tanganku
melekat erat di kedua buah dadanya sementara kemaluanku yang sudah
menegang menusuk-nusuk pantatnya yang bergetar-getar lembut.
"Nonton video, yuk", ajak dia.
Aku duduk di sofa sementara ia menyetel videonya sementara aku
duduk di sofa. Adegan-adegan hot pun mulai muncul dari BF yang
dipilihnya. Sepasang manusia dengan penuh gairah bersetubuh nampak di
layar televisi. Dia menghampiriku, membuka pahaku dan duduk di lantai
di antara kedua kakiku. Lehernya yang jenjang disandarkannya tepat di
atas kemaluanku. Kemaluanku yang sudah tegang itu bergetar-getar. Ia
tertawa kegelian. Di layar TV adegan persetubuhan itu semakin panas. Si
lelaki berbaring lurus dan sang wanita yang berpantat besar itu
merebahkan diri di atasnya. Pantatnya diangkat dan diturunkan
perlahan-lahan. Matanya membeliak menikmati masuknya kemaluan si lelaki
itu ke kemaluannya.
"Ayo, Rud", kata dia. "Mau tunggu apa lagi!"
Serentak dengan itu ia memutar kepalanya dan melahap batang
kejantananku. Aku tersentak dan mengeram nikmat. Direbahkannya tubuhku
di atas lantai berkarpet. dia menidih tubuhku dengan tubuhknya yang
montok bahenol. Kedua tanganku dibawa ke kedua payudara montok itu. Aku
pun meremasnya sehingga ia mengerang. Tangannya yang halus menangkap
kemaluanku dan diremas-remasnya sejenak. Ia mengangkang di atasku.
Tangannya menuntun kemaluanku ke lubang kemaluannya. Di mulut
kemaluannya ia berhenti sejenak lalu dengan perlahan-lahan
diturunkannya pantatnya. Batang kemaluanku yang sudah keras itu dengan
lancar membelah lubang kemaluannya yang sudah basah.
"Aaahh..", erangnya.
Dia mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Semakin lama semakin
cepat gerakan itu, semakin keras pula lenguhannya. Buah dadanya
berguncang-guncang di telapak tanganku. Kepalanya terdongak ke atas
dengan mata terpejam dan mulut terbuka. Aku merasakan satu sensansi
yang luar biasa di kemaluanku yang semakin mengeras dan membesar.
Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya ke bawa. Matanya membeliak dan
tubuhnya menggelepar di atasku. Jeritannya tertahan di leherku. Aku
tahu ia mencapai puncak orgasmenya. Kubiarkan ia berbaring diam membatu
di atasku sampai sekitar sepuluh menit, lalu aku mulai beraksi lagi.
Aku mendorong tubuhnya ke samping. Ia menelentang lemas. Mataku
melirik ke layar TV. Adegan doggy sedang berlangsung. Si lelaki itu
sedang menyetubuhi si wanita bahenol itu dari belakang. Aku ingin
menirunya. Kutarik tubuhnya sehingga ia menungging. Aku memutar ke
belakangnya dan mulai menyerang. Mula-mula aku agak kesulitan mencapai
mulut kemaluannya karena pantatnya yang teramat besar itu. Tetapi aku
tidak berputus asa. Kulengkungkan pantatku ke bawah sambil mengangkat
pahanya sedikit ke atas. Tanganku lalu beralih menjangkau kedua buah
dadanya. Dan dengan satu gerakan yang manis, kemaluanku menerobos
kemaluannya yang sudah terbuka lebar dan basah oleh lendir. Kepalanya
mendongak sejenak dan terdengar erangan kecil. Lalu mulailah aku
menggerakkan pantatku maju mundur. Ia semakin keras mengerang dan
menggeliat-geliat menahan rasa nikmat yang tak terkira. Pantatnya
bergetar-getar dan berguncang hebat. Dunia sekitar sudah sama sekali
dilupakan.
Mendekati puncak aku ingin menikmatinya dengan tubuh lemas.
Kulepaskan pantatnya dan kubalik tubuhnya. dia menelentang dengan paha
yang terbuka lebar, siap untuk digenjot lagi. Kukencangkan otot
perutku, kemaluanku mengacung ke depan tegak lurus, besar dan
berlendir. Aku menurunkan pantatku. dia memejamkan matanya siap
menikmati penetrasi kemaluanku. Ketika kemaluanku meluncur memasuki
lubang kemaluannya, ia mendesah kecil. Dengan segera desahan itu
berubah menjadi erangan dan jeritan ketika aku mempercepat gerakan
pantatku. Tangannya bergerak-gerak tak tentu arah, demikian pula
kakinya yang terkangkang lebar itu.
"Aaahh.. Ooouu.. aauu..!" jeritnya membelah dinginnya udara malam.
Aku tak mempedulikan erangannya itu. Pantatku terus beraksi,
kemaluanku menerobos lorong kemaluannya, keluar masuk dengan ganasnya.
Kurasakan lahar di kemaluanku akan meledak. Maka kurangkul pundaknya.
Mulutku kutanamkan di lehernya. Dengan satu hentakan pantat yang keras,
kutanamkan kemaluanku sedalam-dalamnya di lubang kemaluannya. Pantatnya
bergetar-getar hebat menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya.
Pahanya ketat membelit pinggangku. Dan gelombang orgasme melanda
seluruh tubuhku.
"Crot.. crot.. crot..", spermaku memancar deras masuk ke liang kemaluannya mengiringi jeritan keras dari mulutnya.
Tubuh kami yang menyatu bergetar-getar kejang menahan rasa nikmat
yang tak terkira. Kami terus berpelukan dengan kemaluan yang menyatu.
Nafasku memburu bersatu dengan nafasnya. Tak ada kata yang dapat
menggambarkan rasa nikmat saat itu. Ketika itulah terdengar ayam jago
berkokok.
"Sudah pagi, jantanku", kata dia sambil membelai wajahku. Ia
tersenyum. "Terima kasih. Aku puas sekali. Belum pernah aku sepuas
malam ini."
"Kamu juga wanita luar biasa", sahutku. "Aku tak akan pernah melupakanmu. Maaf kalau aku agak kasar."
"Nggak.. nggak kasar, tapi jantan", sahutnya. "Lelaki macam kamu yang kucari."
Kukecup bibirnya lembut. Kini saatnya untuk beristirahat. Kubopong
tubuh bahenol itu ke kamar tidur dan membaringkannya di atas ranjang
lembut. Kuangkat selimut dan menutupi tubuh kami berdua. Tak lama
kemudian kamipun hanyut dalam mimpi. Tak ada kecemasan, tak ada hal
lain yang dipikirkan. Yang ada hanyalah gairah nafsu, gelora cinta dan
keinginan untuk saling memuaskan. Dunia di luar sana boleh
berteriak-teriak, tetapi di ranjang vila ini yang ada hanyalah
hentakan-hentakan birahi dua manusia berbeda jenis yang mencari
kepuasan badaniah.
Jam sembilan pagi aku terjaga. Kupandangi tubuh molek dia di
sebelahku. Mulutnya masih menyunggingkan senyum. Pahanya terbuka.
Kupandangi bulu kemaluannya yang menggumpal dibasahi oleh cairan
kemaluannya dan spermaku. Kemaluannya terbuka sehingga nampak dinding
dalamnya yang berwarna kemerah-merahan. Kedua buah dadanya yang
sepanjang malam menjadi santapanku mencuat ke atas dengan indahnya.
Kubiarkan ia menikmati tidurnya, biar menimba tenaga untuk persetubuhan
selanjutnya di hari ini.
Demikianlah hari itu terlewatkan dengan pergumulan penuh birahi.
Aku menyetubuhi dia di mana saja. Di dapur, di meja makan, di ruang
tengah, di teras, di kebun, di kamar mandi, di sofa, di ranjang, dll.
Hari itu sepenuhnya milik kami berdua. Perjalanan pulang sore itu
menjadi lebih santai. Nafsu birahi yang menyala-nyala telah terpuaskan.
Aku tahu pasti, ranjang birahi dia telah menjadi milikku.
"Aku tetap membutuhkan kejantananmu di lain hari", katanya ketika menurunkanku di Jl. Darmo.
Aku hanya tersenyum. Masih akan ada waktu untuk kembali menyetubuhi
si bahenol seksi yang berbuah dada dan berpantat teramat besar itu. Dia
milik suaminya, tetapi jelas tubuhnya itu telah menjadi milikku.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Hangatnya Tubuh Bibiku |
Agus Sumitro |
46,714 |
| Kisah Ngentot Bersama Ibu Muda |
Kuntilanak |
18,527 |
| Kisah Ngentot Ananda - 1 |
Herman AB |
14,133 |
| Kakak Kelasku Nina dan Ibu Kostnya |
Deny Doank |
13,835 |
| Sang Ibu Kepala Sekolah - 1 |
tyomarcel@eudoramail.com |
10,008 |
| Sensasi Selingkuh |
cemox_76@yahoo.com |
9,783 |
| Rahasia Tante-Tanteku |
sundel98@yahoo.com |
8,006 |
| Tetanggaku Nakal - 1 |
SonKen@Lovemail.com |
7,311 |
| Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu - 1 |
aris5885@yahoo.com |
7,156 |
| Tante Yeni Yang Kuhormati - 1 |
fire_maker24@yahoo.com |
6,627 |
| Oh, Tanteku |
birubmw@yahoo.com |
6,304 |
| Mbok Inemku Yang Pemalu - 2 |
tiyo6996@yahoo.com |
6,298 |
| Pengalaman Ngentot di Rumah Tante Yuni |
Jeki Velani |
5,347 |
| Kompor Pembawa Berkah - 2 |
heruskw@hotmail.com |
5,266 |
| Nikmatnya Ibu Kostku (2) |
marsissantoso@hotmail.com |
4,667 |
|
|
|
|
|
|