|
|
Hujan turun demikian derasnya, Jakarta kembali kebanjiran akibatnya macet dimana mana.
Jam baru menunjukkan pukul 15 lewat 20 menit, antrian di depan pintu
toll Rawamangun sudah hampir mencapai lampu merah Hutan kayu. Tidak ada
lagi yang dapat aku lakukan untuk keluar dari lingkaran kemacetan ini,
karena posisi mobilku sudah ditengah, kiri kanan.. Kena, begitu juga
depan dan belakang.
Persis diantrian sebelah kiri kulihat seorang gadis dengan rambut
dikepang 2 memandangi kemacetan dengan senyum dikulum. Mungkin bagi dia
tidak ada yang perlu dipermasalahkan, tinggal duduk enak dikursi bus
yang empuk sambil menikmati musik dan menonton tayangan video. Lain
halnya dengan aku yang harus terus menerus menginjak kopleng dan rem
serta stress takut bersenggolan dengan kendaraan lain, betul betul
capek lahir bathin.
Jakarta-Pekanbaru PP, demikian yang tertulis dikaca depan bus
tersebut. Ini adalah salah satu bus terbaik yang masih setia melayani
trayeknya walaupun terus menerus digempur dengan tarif super murah oleh
perusahaan penerbangan.
Dengan sedikit mengangkat kepala aku dapat melihat keseluruhan dari
bus tersebut, warnanya kombinasi kuning, hijau dan dipermanis dengan
garis garis warna ungu dibahagian belakangnya.
Isinya hanya 6 orang, berarti 3 awak bus plus 3 penumpangnya.
Sungguh saat ini adalah masa masa sulit buat pengusaha bus jarak jauh,
apalagi dengan trayek dari Jakarta ke kota kota di pulau Sumatera.
Harga tiket pesawat adakalanya lebih rendah dari pada harga karcis bus
executive. Tidak cukup dengan derita itu saja, jalan jalan disepanjang
lintas Sumatra kondisinya betul betul menggenaskan. Kita tidak bisa
lagi memilih" Jalan mana yang akan ditempuh, tetapi mesti memilih
lobang mana yang akan dimasuki" yang tersisa bukan lagi jalan tetapi
lobang yang sambung menyambung dengan panjang ribuan kilometer.
Sorry nglantur..!, bus dan gadis tersebut tiba tiba mengusik
kenangan lamaku dengan seorang gadis dari Pekanbaru. Apalagi dari
station FM yang kustel sebagai penghilang jemu, berkumandang lagu lama"
When a man love a woman" oleh Michael Bolton. Lengkaplah sudah pemicu
layar kenangan tersebut, semua tiba tiba tergambar dengan jelas di
depan mata.
Kejadiannya terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu musim
kemarau sedang berada dipuncaknya. Disepanjang pulau Kalimantan dan
pulau Sumatera terjadi kebakaran hutan yang maha hebat. Asap
menyelimuti hampir sepertiga dari wilayah Indonesia malah sampai
menyeberangi selat Melaka, dengan menutup rata Singapura serta membuat
hilangnya cahaya matahari di beberapa negara bahagian di Malaysia.
Pelabuhan udara Sultan Syarief Kasim, Pekanbaru sudah 1 mingu
ditutup karena jarak pandang yang hanya beberapa meter saja. Jangankan
buat pilot pesawat yang butuh jarak pandang yang jauh, para pengemudi
kendaraan bermotorpun sudah sangat kesulitan untuk melaju dengan aman
di jalan raya.
Aku baru saja menyelesaikan tugas di salah satu perusahaan minyak
di Duri dan harus segera kembali ke Jakarta, tidak ada kamus menunggu
dalam pelaksaan tugas dari kantorku. Apa boleh buat aku mesti kembali
dengan menumpang bus antar Kota dan antar Propinsi. Aku sudah
membayangkan ketidaknyamanan yang akan dialami selama lebih kurang 36
jam diatas bus dengan menelusuri jalan lintas sumatera sepanjang 1350
km dan melintasi 4 propinsi di lintas tengah.
Tetapi rupanya bayangan tidaklah selalu sejalan dengan kenyataan.
Jam 2 siang aku tiba di loket sebuah perusahaan bus jarak jauh yang
direkomendasikan oleh salah seorang teman sebagai salah satu perusahaan
bus yang memiliki armada dan pelayanan terbaik di Indonesia.
Begitu memasuki loket aku mulai ragu" masih ada tempat nggak" aku
bergumam dalam hati, soalnya penumpang sudah begitu ramainya, maklum
disamping karena bandara ditutup, hari itu juga bertepatan dengan hari
pertama libur sekolah secara nasional.. Semua bangku diruang tunggu
penuh terisi. Disetiap sudut terlihat koper dan kardus yang berisikan
barang bawaan calon penumpang semrawut, bergeletakan dan membuat kaki
sulit dilangkahkan.
"Abang mau kemana bang," suara lembut petugas loket menyambut
kedatanganku. Dia duduk dibelakang meja panjang yang berbentuk siku
siku, sehingga sekaligus menjadi pemisah antara petugas dengan para
penumpang.
"Ke Jakarta dik, masih ada tempat nggak," aku menjawab sambil
melirik belahan bajunnya yang sedikit terbuka. Persis di payudara
kirinya tertulis namanya 'Sulistyowati'. Dik Sulis ini berwajah asli
solo dengan kulit kuning langsat dan sangat serasi dengan seragam yang
dia pakai yaitu kombinasi hijau, kuning dan ungu.
"Wah.. Abang sungguh beruntung"
"Maksudnya.."
"Tuh.. Ibu itu baru saja membatalkan keberangkatannya, kalau tidak,
Abang kena menunggu tiga hari untuk dapat tiket," dia berkata sambil
menujuk pada seorang Ibu yang baru saja lewat disampingku.
"Oh.. Terimakasih Dik Sulis," aku berkata sambil lebih
mebungkukkan badan untuk dapat lebih jelas melihat belahan bajunya.
Wouw dia punya payudara cukup subur, mungkin 36B kali.
"Nih tiketnya bang," dia menyerahkan tiket sambil menyebutkan ongkos yang mesti kubayar.
Cukup mahal memang, tetapi dibandingkan dengan tarif pesawat
harganya tidaklah sampai tiga puluh persennya. Aku segera membayar
harga tiket dan berlalu untuk mecari tempat duduk. Kulepaskan pandangan
kesekeliling ruangan, tetapi semua bangku penuh, dan orang orang yang
berdiri justru lebih banyak dari yang kebagian tempat duduk. Dalam hati
aku berkata,
"Aduh.. Ini baru jam setengah tiga sedangkan jadwal busku jam empat, berdiri 1 jam setengah lumayan juga"
Aku mengoyang goyangkan kaki sambil mengamati tiketku. Rupanya bus
yang akan kutumpangi betul betul bus yang istimewa. Mereka menamakannya
bus" Super Executive". Sebuah sebutan yang pantas menurutku. Di jajaran
sebelah kiri hanya ada satu tempat duduk berjejer kebelakang sedangkan
disebelah kanan terdiri dari dua buah tempat duduk.
Bangku bangkunya dilengkapi dengan foot leg dan berbusa empuk
persis seperti kursi executive class di pesawat. Di antara sisi tempat
duduk dan kaca jendela dijepitkan beberapa bantal kecil berwarna biru
muda. Disandaran kepala terdapat selimut hangat dengan warna mirip
bendera Italy, merah, putih dan hijau. Persis diatas kepala terdapat
dua buah ventilasi ac yang dapat dirubah baik volume maupun arah
semprotannya.
Melengkapi itu semua adalah sebuah TV 17 inchi tergantung diplatfon
disebelah kiri pengemudi, sehingga memungkinkan semua penumpang
melihatnya dengan jelas. Audionya keluaran salah satu pabrik di Jerman,
suaranya jernih dan lembut karena dilengkapi dengan subwoover.
Dibelakang tersedia sebuah toilet yang dilengkapi dengan tissue,
air, gayung dan sebuah cermin kecil didindingnya, tetapi ini 'Hanya
Untuk Buang Air Kecil' demikian sederet tulisan di depan pintu masuk.
Tak lupa mereka juga memanjakan para perokok dengan menyediakan ruang
khusus untuk merokok atau smoking area.
"Para penumpang jurusan Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya
dipersilahkan menaiki kendaraan, karena bus anda akan segera
diberangkatkan"
Lamunanku terputus dikejutkan oleh suara halus dari pengeras suara
dan aku bergegas meninggalkan foto besar yang memamerkan interior bus
yang tergantung didinding. Tiba tiba semua penumpang berdiri serentak
dan suara suara yang keluar dari mulut mereka sungguh beraneka ragam.
"Oi capeklah baok barang tu.. A" Itu pasti orang Minang, yang populasinya didaerah Riau cukup besar.
"Wes sampeyan naek dulu.." Ini kayaknya dari Surabaya, orangnya
kalem berjaket kulit warna hitam, sedangkan temannya memakai kaos warna
hijau Persebaya dengan dua gigi emas yang sangat menonjol.
"Tos.. Teteh naik di payun atuh," nggak salah lagi urang Sunda, mungkin mau ke Bandung.
Aku yang tadinya mau buru buru naik ke atas bus jadi terkesima
melihat kesibukan mereka. Ada yang bersalaman, berangkulan dan ada yang
saling menggeserkan pipi mereka, bersalaman gaya Arab..
"Silahkan Bang" Si Sulis tersenyum sambil merentangkan tangannya..
Aku melangkah naik ke atas bus dengan menginjak keranjang plastik
tempat teh botol sebagai alat bantu untuk mencapai tangga utama yang
cukup tinggi. Dalam hati aku bertanya,"Tempat dudukku nomor berapa ya"
memang dari tadi aku tidak sempat mencek hal itu. Rupanya aku harus
duduk di kursi no. 4C, berarti deretan ke empat dari depan berada
disisi sebelah kanan atau bangku dua dua dan persis dipinggir jendela.
Wah kebetulan ini adalah tempat duduk favouritku kalau naik bus, karena
dengan duduk disamping jendela aku bisa melepaskan pandangan kesegala
arah sehingga perjalanan tidak terlalu membosankan.
Aku meletakkan tas ku dirak tepat diatas kepala dan memasukkan
beberapa koran serta majalah ke dalam kantong pada bagian belakang,
bangku depan.
"Bapak bapak dan Ibu ibu selamat datang di atas bus super executive
kami, dan semoga perjalanan anda selamat sampai ditujuan". Sulis si
cewek bertetek besar memberikan kata sambutan persis kayak pramugari
dipesawat.
"Bus ini dilengkapi dengan AC, karena itu kami minta anda yang
merokok untuk hanya menikmati rokoknya di smoking area yang telah kami
sediakan."
Wah.. Si Sulis kembali melanjutkan kata pengantarnya sambil berjalan pelan ke arah tempat dudukku.
"Dibelakang juga tersedia toilet tetapi hanya dipergunakan untuk
buang air kecil saja, kecuali jika anda semua sepakat untuk bersama
sama menikmati bau e e.." Sulis tidak melanjutkan kalimatnya karena
hampir semua penumpang tertawa terbahak bahak.
"A.. Indak do, indak talok dek awak manahan baun nyo do"
Ibu ibu dibelakangku memberikan komentarnya dalam bahasa Minang.
"Baiklah para penumpang sekalian, terimakasih atas pilihan anda terhadap armada kami dan selamat jalan"
Sulis segera meminta tanda tangan pengemudi sebagai pengesahan
surat jalan dan meberikan beberapa copynya kepada kondektur untuk
disimpan, kemudian dia menghadiahkan sejumput senyum manis ke arahku
sambil melambaikan tangannya.
"Oh.. Sulis, seandainya aku punya sedikit waktu untuk bisa menginap
di Pekanbaru, maka aku yakin kesuburan gunung payudaramu akan dapat
kudaki, tetapi.. Yah.. Pekerjaan tidak mengenal waktu untuk menunggu"
Setelah kondektur bus selesai membagikan snack, kendaraan mulai
bergerak menuju Jakarta dan kulihat jam tanganku persis menunjukkan
pukul 4 sore. Wah.. Aku salut atas cara kerja yang profesional dari
segenap crew dan pengurus bus, yang dapat mengalahkan perusahaan
penerbangan dalam soal tepat waktu keberangkatan.
Lho ada yang aneh kok bangku disebelahku no. 4B masih kosong!!
"Bang ini bangku kosong ya" aku bertanya ke kondektur bus yang berseragam ungu kombinasi hijau.
"Tidaklah bang, mana ada tempat kosong sekarang ini, kayaknya
penumpang pesawat tumplek semua kesini, apalagi kan libur sekolah!" dia
berkata sambil membetulkan letak barang barang bawaan penumpang agar
tidak terjatuh selama dalam perjalanan.
"Tapi.. Ini kosong kok" aku penasaran sambil menepuk nepuk bangku tersebut dengan tangan kiriku.
"Penumpangnya naik di Teratak Buluh" (nama sebuah kampung diluar kota Pekanbaru)
"Oh.." Aku terdiam sambil mengamati deretan toko toko yang berlalu
satu persatu seiring dengan kecepatan bus yang makin meningkat.
Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,593 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,951 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,103 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,688 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,200 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,747 |
| Arti Sebuah Pertunangan - 2 |
pasopati55@yahoo.com |
9,299 |
|
|
|
|
|
|
|