|
|
Dari bagian 1 Pekanbaru, ibukota propinsi Riau memang berkembang dengan pesatnya,
maklum dengan kandungan minyak serta gas alam yang melimpah dan potensi
hutan yang kaya dengan kayu untuk industri, maka tak heran bangunan
bangunan baru seperti kantor pemerintah, ruko dan malah plaza plaza
bermunculan dimana mana. Apalagi saat ini perkebunan kelapa sawit dalam
skala besar sudah mulai menghasilkan minyak yang pada dasarnya juga
akan ikut menaikkan PAD daerah dan memperkuat daya beli masyarakat.
Tetapi satu hal yang selalu menghantui fikiranku adalah" Apakah
warga Pekanbaru asli akan bernasib sama dengan saudaranya orang Betawi
yang tidak bisa menjadi tuan di tempat kelahirannya sendiri" Semoga
tidak demikian, karena factor budaya dan adat istiadat meraka sangat
berbeda, sehingga cara pandang mereka terhadap para pendatang juga
sangat berbeda.
"When a man love a woman" alunan lembut suara serak Michael Bolton
membuat fikir ku merasa rileks, apalagi didukung oleh tempat duduk yang
sangat nyaman. Kurebahkan sandaran bangku kebelakang, foot leg
kunaikkan selimut segera kututupkan kekaki karena dinginnya ac mulai
terasa dan bantal kecil kupeluk buat menghangatkan bagian perut yang
terasa kembung diterpa udara dingin
Wah aku betul betul surprise, nggak nyangka kalau ada bus yang
demikian bagusnya, sehingga tempat duduknya bisa dirubah menjadi tempat
tidur yang cukup memadai buat ditempati selama 36 jam kedepan. Pelan
tetapi pasti, seiring alunan lagu dan buaiyan lenggak lenggok bus dalam
menapaki setiap tikungan maka mataku mulai berat
"Tidur.. Ah.."
Aku nggak bisa ceritakan seperti apa aku tidur waktu itu.. He he
he, yang pasti tidurku begitu nyenyaknya sehingga sama sekali aku tidak
menyadari kalau disampingku sekarang telah duduk seorang gadis cantik
yang rupanya naik di Teratak Buluh.
"Maaf Bang kalau tidurnya terganggu"
"Oh.. Nggak"
Aku bangun sambil memastikan tidak ada setetes ilerpun yang tak
terkontrol sehingga keluar melampaui garis bibir dan dengan ujung
telunjuk kubersihkan taik mata yang mungkin nongol disudut sudut mata.
Syukur kali ini aku nggak tidur ngiler dan juga nggak ada taik mata,
berarti tubuhku masih bisa menjaga martabat tuannya di depan seorang
gadis cantik yang belum kukenal.
Kalaulah tadi aku tidur ngiler dan bangun dengan mata penuh dengan
ampas airmata, waduh.. ajegile, tentu sigadis disebelah akan hilang
selera buat kuajak berkenalan dan alangkah ruginya kalau sepanjang
perjalanan 1350 km cuma bengong dan tidur aja.
"Wah jam berapa ini" Aku bertanya pada sendiri sambil melihat jam tangan, ternyata aku tertidur selama dua jam limabelas menit.
"Sekarang sudah jam enam sperempat bang" Gadis disebelahku berbaik hati memberi tahu sambil memandang dengan matanya yang teduh.
"Oh iya, saya kurang tidur semalam dan perjalanan dari Duri ke Pekanbaru sangat melelahkan karena ac mobilnya mati"
Aku memberikan sedikit keterangan tanpa peduli dia butuh atau
tidak, hitung hitung balas jasalah karena dia sepertinya memberi
perhatian sama aku.
"Pantas tidur abang lelap sekali"
"Oh iya.. Nama saya Dodo, Dodo Djauhari" aku megulurkan tangan untuk berkenalan
"Saya Rostiana, abang boleh panggil Ina saja"
Kami berjabatan tangan, tiba tiba bus menikung kekiri dalam
kecepatan yang cukup tinggi akibatnya tubuh Ina terdorong ke arah ku,
untung pembatas jok antara kami masih terpasang sehingga hanya
kepalanya yang jatuh dalam dekapanku. Rambutnya hitam mengkilap dan
menebarkan aroma khas yang memicu mesiu syahwat untuk menggerakkan jiwa
dan vital kelelakianku agar bangkit dari tidurnya. Rambut itu begitu
terawat, panjangnya hampir mencapai pingul, tetapi dijalin dua ala
gadis tahun enampulahan.
"Oh.. Alangkah indahnya kalau rambut itu dibiarkan tergerai bebas dipunggung putih telanjang," pikiran ngeresku mulai keluar.
Kami sama sama tertawa.
"Ha ha.. Ina, sebaiknya pembatas ini kita angkat aja ya, agar bukan
hanya kepala Ina yang bisa abang peluk!" Aku menggodanya sambil
mendorong pelan tangannya agar dia bisa duduk dengan benar.
"Wah enak di abang nggak enak di Ina dong" Dia menanggapi godaanku sambil tersenyum.
"Tapi kalau abang berjanji nggak macam-macam, ok lah kita akan angkat pembatas ini.
"Abang janji lah.. Dek, abang tak akan macam macam," aku sengaja mengucapkan kata kata dek agar mendapat kesan lebih intim.
"Kalau begitu abang akat lah.. Masak Ina pula yang mesti angkat! logat Melayunya masih cukup kental."
Aku mengangkat balok busa yang memisahkan kursi kami berdua.
"Nah sekarang bangku kita jadi lebih lega kan"
"Betul bang.. Tapi abang sudah janjikan tidak akan macam-macam"
"Abang nih orang baik baik dek, pasti abang nggak bakalan macam macam, karena abang suka yang manis manis".
Ina tertawa keras sekali, dia merasa lucu dengan kata kataku yang
sebetulnya nggak nyambung, tapi pengertiannya benar. Sebagian orang di
pulau Sumatera menyebut rasa asam dengan macam.
"Oh.. Jadi abang tuh sukakan manisan ya!"
"Nggak juga.. Abang hanya suka gadis manis seperti dek Ina.."
Rudal rayuan mulai kulepas, dengan sasaran lubuk hati dan benteng
cinta si Ina. Melihat gelagat dan cara penerimaan dan sikapnya yang
lepas bebas begitu, aku yakin tinggal dalam hitungan jam kedepan aku
akan berhasil mengakuisisi gadis manis ini.
"Sudah.. Mulai tuh merayu".
Dia berkata sambil melirik, wah.. Mata itu begitu bening dan teduh,
aku berkata dalam hati, pasti akan sangat menyenangkan melihat mata itu
dikala pemiliknya mulai horny. Sayu, teduh dan mengisyaratkan
kepasrahan serta kenikmatan surgawi yang ingin segera dia reguk.
"Tidak.. Yang abang katakan benar adanya, kamu memang manis dan cantik kok"
"Ina tahu.. Lelaki tuh kalau sudah merayu pasti ada maunya"
"So pasti itu.."
"Terus terang aja Abang tuh maukan apa"
"Begini dek Ina, abang tadi dari Duri jam 11 pagi, karena buru buru
abang minta sopir taksi untuk lansung tancap gas ke Pekanbaru."
"Sudah.. Jangan berbelit belit gitu lah, terus terang aja"
Tanpa sengaja tangannya menepuk pahaku, oh.. Tangan itu begitu halus membuat aku ingin ditepuk beribu kali lagi.
"Jadi abang tidak sempat makan siang! ha ha ha" Ina tertawa berderai sambil menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya.
"Ina tahu sudah maksud abang, abang hendakkan kueh nih kan"
"Semoga Tuhan memberikan hidayahNya kepada orang orang yang mau memberikan makanan, ketika orang lain sedang lapar.. Amin"
Aku berpura pura berdoa sambil membentangkan kedua telapak tanganku.
"Wah menyenangkan sekali punya teman perjalanan seperti abang Dodo
nih, kocak rupanya" Ina tersenyum sambil memberikan sepotong bolu
gulung dengan selai nanas, yang aku rasa begitu nikmatnya, "Apa karena
lapar kali ya!"
Hanya dalam hitungan detik bolu tersebut ludes sudah, tapi rupanya
Ina betul betul mempersiapkan makanan yang cukup buat melakukan
perjalanan jauh, dan seperti bisa membaca jalan fikiranku dia berkata.
"Bang kita nih kan mau menempuh perjalanan hapir dua hari, kalau
mobil nih rusak di tengah hutan kemana kita nak cari makan! makanya Ina
sudah siapkan rupa rupa penganan nih".
"Terimakasih Ina,".. Ya Tuhan kasihilah orang orang yang selalu
membawa makanan yang banyak dalam tasnya dan dengan senang hati berbagi
dengan orang disebelahnya" aku kembali pura pura berdoa.
"Sudahlah bang, aku sudah tahu abang nih banyak kali akal nya, nih
yang terakhir buat cuci mulut." Ina memberikan sebuah jeruk yang cukup
besar dan manis sekali, sepertinya ini adalah jeruk lokal tetapi
rasanya begitu segar.
Demikianlah awal perkanalanku dengan Ina, katanya dia baru saja
menamatkan sekolahnya disalah satu SLTA di Pekanbaru dan bermaksuk
melanjutkan pendidikan disalah satu perguruan tinggi di Jakarta. Tapi
aku sedikit ragu dengan apa yang dia bilang. Memang teteknya telah
tumbuh dengan sempurna tetapi sikap kekanak kanakannya masih jelas
tersisa, begitu juga dengan wajahnya masih begitu polos dan segar
layaknya gadis kelas tiga SMP.
Hari itu dia hanya mengenakan baju kaos tanpa kerah berwarna putih
dan ada strip coklat yang pas melewati kedua bukit indah di dadanya.
Aku bertanya tanya dalam hati, "Kenapa dia tidak pakai celana jean tapi
cuma pakai rok hitam setinggi lutut, padahal ac di mobil cukup dingin.
Tetapi justru hal tersebut sangat menguntungkan aku beberapa jam
kemudian.
TV sudah dinyalakan dan kondektur memutar sebuah video yang
bercerita tentang hantu didalam sebuah mobil. Ina demikian ketakukan
menyaksikan hantu tersebut sehingga tanpa sadar kadang kadang dia
memeluk tubuhku. Kesempatan itu tidak kusia sia kan, semakin aku
menakut nakuti dia dengan hantu itu semakin erat pula pelukannya. Pelan
tapi pasti siku kiriku mulai merangsek menekan payudara kanannya. Ina
seperti tak peduli dengan tanganku, setiap kali hantu itu keluar di
layar TV maka dia akan memelukku, dan saat itu pula siku ku dapat
menikmati kenyalnya payudara muda miliknya. Belahan dadanya begitu
menonjol, karena dia mempunyai perut yang rata dan pinggang yang kecil,
tetapi pantatnya bundar dan padat.. Betul betul seksi.
Jam demi jam terus berlalu, mungkin karena capek Ina tertidur
pulas. Pada awalnya posisi tidurnya masih bersandar dengan mantap di
sandaran bangku, tetapi akibat goyangan bus ketika melewati tikunungan,
pelan pelan kepalanya mulai rebah kekanan dan akhinya mendarat dengan
lembut di bahuku.
Nafasnya pelan tapi teratur, menandakan tidurnya sudah lelap
sekali. Kembali siku kiriku kugeser sedikit demi sedikit agar tepat
mengenai ujung lancip payudaranya dan aku menutup mata, pura pura
tidur. Setiap kali mobil terguncang, tekanan siku ku semakin mantap,
sehingga dapat kurasakan kehangatan yang mulai menjalari setiap nadiku
dan membuat sesuatu bergerak secara otomatis, makin keras, makin keras
dan oh.. Penisku sudah bangun.
Dengan lembut dan peerllahann.. Sekali kuraih tangan kanannya dan
kuletak kan disela sela pahaku. Tangannya yang lembut tepat menimpa
kejantananku dan aku terus berdoa agar bus lebih sering masuk lobang
lobang kecil yang akan menimbulkan goncangan ketangan Ina, dan penisku
bisa merasakan gesekan hangat tangannya.
Tubuh Ina tiba tiba bergerak dan mulutnya mengeluarkan gigauan yang
tidak bisa kutangkap maknanya, tetapi tangannya mencengkram seperti mau
memegang sesuatu dan oohh"yang dia pegang justru batang penisku yang
sudah demikian tegangnya. Aku yakin Ina tidak sadar akan itu semua,
tetapi bagaimanapun justru secara tak sengaja dia telah membangkitkan
gairah birahiku yang paling dalam. Pantatku mulai kugerakkan turun naik
agar batang penisku dapat merasakan sentuhan tangannya walaupun hanya
dari balik celana.
Oh.. Makin lama semakin keras penisku dan aku mulai merasakan
denyutan airbah spermaku mengalir dari zakar menuju batang penis dan
terus ohh.. Aku mau keluar. Tiba tiba aku dikagetkan oleh lampu
interior bus menyala serentak membuat suasana jadi terang benderang.
"Istirahat, istirahat, bagi yang mau mandi, sholat dan makan, kami sediakan waktu yang cukup"
Dalam hati aku mengumpat, "Sial.. Sudah mau orgasme jadi.. Terputus deh"
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,593 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,951 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,674 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,103 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,688 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,200 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,747 |
|
|
|
|
|
|
|