|
|
Dari bagian 2 Rupanya bus sudah sampai disebuah rumah makan di daerah Gunung Medan.
Ina rupanya terbangun karena silaunya cahaya lampu, mula mula matanya
terbuka setengahnya, dia melihat ke arahku tetapi tidak bicara apa apa,
sepertinya bengong.
"Hai bangun.. Kita harus makan dulu ntar kelaparan,"aku berkata sambil membelai rambutnya.
Dia kaget melihat posisi tidurnya yang sudah dalam pelukanku dan tangan kanannya masih tetap menekan penisku.
"Wah.. Aku kok jadi gini tidurnya"
"Tadi kamu rebah ke bahuku, aku mau bangunin tapi kulihat kamu nyeyak sekali.. Ya kubiarkan aja, kamu marah.."
Aku menerangkan apa yang terjadi, tapi tentu saja tidak semuanya,
karena soal siku mendarat di payudara harus ditutup rapat dulu.
"Oh.. Maaf ya bang, Ina jadi membebani Abang"dia menjawab sambil bangkit dan terus mengambil sisir.
Dalam hati aku berkata, "Nggak tahu dia, memang itu yang kuharap"
"Ok mari kita turun, Ina Abang tunggu diruang makan ya.., e.. e.. mandinya jangan lama lama!, busnya cuma berhenti 30 menit"
"Iya bang" Ina berlalu menuju kamar mandi perempuan.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan sopir yang sudah berganti dan
kulihat jam di dinding depan bus menunjukkan pukul 11 malam. Udara
didalam bus semakin terasa menusuk tulang, padahal ac sudah di set oleh
kondektur pada setting minimum. Namun yang pasti setelah makan malam
aku dan Ina sudah semakin akrab, malah sewaktu keluar dari rumah makan
dia sempat bergelayutan dipundakku.
Karena sama sama kedinginan secara reflex kami mulai saling merapatkan tubuh mencari kehangatan.
"Ina nggak bawa jaket," aku bertanya karena melihat dia sedikit mengigil kedinginan
"Lupa bang.. Padahal tadi sudah ditarok diatas meja, tapi tak apalah kan ada selimut hangat nih, Abang tak kedinginan"
"Sebetulnya dingin sih, Cuma jadi hangat karena duduk disamping Ina"
"Nah.. Jangan macam macam ya.. Kan sudah janji"dia seperti mengancam aku, tetapi justru duduknya semakin merapat.
"He he.."
Aku hanya menyeringai dan lansung meraih selimut buat menutupi
kakiku. Kulihat Ina juga melakukan hal yang sama, akhirnya selimut
tersebut bertaut menjadi satu menutupi bagian bawah tubuh kami. Lampu
interior satu demi satu dimatikan, hanya lampu di pintu toilet yang
masih menyala. Sungguh suasana yang sangat romantis, ditambah lagi
dengan alunan lembut suara penyanyi dari sound sytem mobil 'When a Man
Love a Woman'.
Kali ini jalan yang kami tempuh lebih banyak dalam kondisi lurus
serta mulus sehingga memuat sang sopir betul betul memaksimalkan
kecepatan busnya. Guncangan dan bantingan sudah jarang terjadi,
akibatnya hampir sebagian besar penumpang tertidur dengan pulasnya.
Tapi aku nggak bisa tidur, perasaanku begitu gelisah, hangatnya tubuh
Ina telah membangkitkan gairahku. Apa yang harus kulakukan, ini didalam
bus bukan dihotel! tapi bukanlah laki laki namanya kalau nggak berani
mencoba dan berusaha.
"Ina.."
"Ya bang"
"Ina kedinginan ya"
"Iya bang"
Oouup! satu kesempatan terbuka sudah, dengan hati hati kuletakkan
tanganku diatas pundak kirinya., lalu kutarik pelan tubuhnya sambil
berkata.
"Mungking dengan begini Ina akan lebih hangat.."
"Ah.. Abang"
Dia seperti enggan kupeluk tetapi juga tidak berusaha untuk
menolak, malu malu kucing kali. Sekarang tubuhnya telah dalam
pelukanku, kepalanya bersandar dipundak kiriku, wangi rambutnya kembali
membuka pintu syahwat seorang pejantan. Tangan kanannya kuraih dan
jemari nya kegenggam dengan erat, Ina diam.. Hanya nafasnya yang
terdengar menjadi lebih berat.
Kuremas tangan itu dan dia membalasya.. Wow.. Tubuhku seperti
dialiri ribuan watt birahi elektrik. Nafasku mulai memburu dan sesuatu
diselangkangan mulai mengejang, meregang tegang, akankah dia dapat
jatah kepuasan malam ini. Aku semakin berani, tangannya kuletakkan
dipahaku dan dia kurengkuh lebih erat. Aku ingin menciumnya tapi aku
mesti plengak plengok dulu.
"Ada yang ngintip nggak ya!".
Orang orang disekelilingku ternyata sudah tidur semua, bunyi
dengkur mereka bersahut sahutan, ada yang hanya mendesis laksana kobra,
ada pula yang mencicit kayak bunyi tikus dan ada pula yang berat
menderam seperti bunyi knalpot Honda tiger, atau jangan jangan sudah
pada ngiler kali.
Wah kayaknya situasi sudah aman terkendali, sekaranglah saat yang
tepat untuk memulai perang gerilya menyusuri bukit, lembah dan hutan
lindungnya si Ina. Bahu kanannya kurengkuh lagi, sekarang wajah kami
saling berhadapan, desahan nafas saling menghempas dan mata kami
bertatapan dalam remang cahaya lampu mobil yang berpapasan.
"Ina.. Kalau Abang minta sesuatu.. Ina mau nggak!"
Aku berfikir, kalau menghadapi gadis yang bersifat terbuka seperti
si Ina ini, lebih baik menerapkan strategi terus terang daripada terus
tembak. Kalau terus tembak dan dia menolak, celaka lah kita.. Nggak
bakal bisa diapa apain lagi. Tapi kalau kita minta dia nggak kasih.. Ya
tinggal dirayu aja, toh masih ada waktu 29 jam lagi, masak nggak dapat
sih!
"Abang mau minta apa, kue lagi"
"I yya.. Tapi kuenya lain"
"Kue apa yang Abang maksud..!"
Dia mengangkat kepala dan sorot matanya demikian seriusnya menanti jawabanku.
"Abang mau kan kue-kue itu tuh.."
Aku sengaja menurunkan tangan kananku sehingga menyentuh payudaranya.
"Kue yang mana bang?"
Dia lebih mendekatkan wajahnya kemukaku karena penasaran, saking
dekatnya aku dapat mencium wangi bedak yang dia pakai, uh.. Libidoku
laksana api disiram bensin, berkobar dan makin berkobar, oh akankah dia
mau memadamkan gelora api asmara itu.
"Yang ini.. Ah"
Aku sengaja mengosokkan tangan kananku kepermukaan kedua payudaranya.
"Tuh kan.. Betul Abang mulai macam macam kan"
Dia berkata sambil mengerutkan jidatnya, tapi posisi tubuhnya sama
sekali tidak berubah. Biasa.. Gadis gadis biasanya tidak akan
mengatakan 'mau' ketika kita minta, hanya feeling sebagai lelakilah
yang dapat menentukan dia mau atau menolak! Malam ini sepertinya salah
satu malam keberungtungan dalam hidupku, aku tahu dengan pasti bahwa si
Ina sudah jatuh dalam pelukanku. Aku makin mendekatkan wajah ku
sehingga bibir kami saling bertemu. Kurasakan tubuhnya bergetar,
nafasnya mulai sesak dan dia menarik tubuhnya kebelakang menjauhiku.
"Kenapa Ina"!"
Aku bertanya untuk menghilangkan kegugupannya
"Nggak papa bang.. Maaf ini baru pertama bibir Ina disentuh laki laki"
"Oh.."
Dalam hati aku berkata 'Hore' dapat perawan lagi nih.
"Abang juga minta maaf ya"
Aku memang minta maaf tapi pelukan semakin kupererat, sekarang
bibirnya bukan hanya kusentuh tetapi mulai kukecup dengan lembut. Mula
mula Ina diam saja, bibirnya bergetar tapi masih tertutup rapat.
Kusentuhkan ujung lidahku diantara belahan bibirnya yang merah merekah
tiba tiba.
"Oohh bang.. Ina"
Kata katanya tak terucap karena bibirnya mulai terbuka dan tanpa buang waktu segera kulumat dengan penuh perasaan.
"Bang.. Jangan.."
"Kenapa.. Sayang"
"Malu ntar dilihat orang"
"Kalau nggak ada yang lihat!"
"Ah.. Abang.."
"Ina.. Semua penumpang sudah tidur kok.. Nggak usah kawatir"
Kembali bibir kami berpagutan, lidahku segera kuberi tugas untuk
melakukan penetrasi ke mulut Ina dan melakukan liukan demi liukan
pemancing serta pembangkit nafsu si Ina. Ina mulai sedikit terangsang,
kalau tadi dia cuma diam dan pasrah, sekarang pelan tapi masih malu
malu ujung lidahnya terasa melayani lidahku, mereka beradu dan saling
melilit, semakin membakar gairah kami. Tanganku mulai turun meraba
payudara kanannya, kurasakan hentakan pada tubuh Ina ketika jari
jemariku berhasil menyusup diantara branya. Oh.. Teteknya begitu kenyal
dan halus.
"Abang.. Jangan.. Bang"
Ina mengeluh tanpa membuka matanya, aku tahu dia tidak sungguh
sunguh berkata jangan. Bisa saja yang diamaksud dengan kata jangan
adalah 'jangan berhenti bang'. Dalam keremangan aku menemukan pengait
bra si Ina, rupanya bra itu punya pengait dibagian depan.
"Bret"
Sekali tarik pengait itu lepas dan oh.. dalam keremangan cahaya
yang romatis, aku dapat melihat dengan jelas dua bulatan lonjong
memanjang, tergantung didada Ina dengan anggunnya. Bajunya segera
kusingkap ke atas dan tanpa dapat ditahan lagi bibir ku sudah mendarat
diputing susunya.
"Ah.. Abang, jangan.. Bang.. Jangan.."
Hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Ina ketika teteknya
kuremas dan putingnya kuhisap sambil kujilat. Aku jadi begitu sibuk
berpindah dari payudara kiri ke payudara kanan, meremas, membelai,
menghisap, memlintir putingnya dan yang terdengar hanya erangan Ina
serta bunyi cpet, cput sshh dari mulut ku yang bermain dipermukaan
payudara si Ina.
Kuangkat kedua selimut kami agar tetap menutupi semua gerakan yang
sedang kami lakukan. Mata sayu Ina sekarang semakin sayu dan redup,
bebirnya merekah menunggu sergapan cinta birahiku. Pelan pelan tanganku
mulai turun mencari ujung roknya, sambil membelai pahaya rok itu ku
sibak sedikit demi sedikit. Ina tidak menyadari kalau tangan ku sudah
tiba dipangkal pahanya, karena dia begitu terhanyut oleh nikmatnya
hisapan bibirku diputing susunya. Permukaan tanganku sudah dapat
merasakan cairan hangat yang menutupi permukaan vaginanya. Lembut
vagina itu kusentuh dengan ujung telunjukku dan,
"Ah.. Abang jangan sentuh itu.. Bang.. Tolong jangan bang"
"Nggak apa apa kok sayang, Abang hanya menyentuhnya nggak lebih kok"
Karena kurasakan tidak ada penolakan dari Ina, aku semakin berani
menggarap vaginanya. Aku meremasnya dengan penuh irama dan dari mulut
Ina hanya lenguhan kenikmatan yang dapat kudengar.
"Ah.. Abang nakal sih"
"Iya Abang memang nakal, tapi Ina sukakan..!"
"Ah.. Jangan dibuka Bang, nanti.."
Kata katanya terputus karena clitorisnya kusentuh, tubuhnya kembali
bergetar hebat dan pinggulnya mulai bergerak mengikuti irama jari
jariku dipermukaan vaginanya. Pahanya sedikit kurenggangkan agar vagina
Ina lebih terbuka. Ina tidak lagi peduli dengan orang orang
disekitarnya, erangannya makin lama makin keras terdengar.
"Ina.. suaranya ditahan dikit.."
"Abang sih, nakal.."
Dia menjawab sambil melumat habis bibirku. Jariku mulai menyibak
belahan vaginanya yang hangat dan terasa licin karena basah. Aku tahu
dia masih perawan karena itu aku hanya membiarkan jari telunjukku
membujur menutupi lobang vaginanya. Sesekali kugerakkan agar dapat
menyentuh clitorisnya.
Erangan demi erangan lamat lamat terus terdengar dari mulut Ina,
tapi sekarang tiba tiba dia diam menahan nafas, tubuhnya mengigil,
tangannya erat merangkul pundakku.
"Kenapa Ina," aku bertanya.
"Bang.. Ina nggak tahan, sepertinya mau pipis, oh.. Enak bang.. Terus.. Sentuh lagi Bang, terus"
Aku dapat merasakan kalau Ina sudah mendekati orgasmenya yang
pertama, jari jemariku semakin lincah bermain di permukaan vaginanya,
puting susunya terus kuhisap dan kujilat, sedangkan tangan kiriku tak
henti meremas payudara kirinya.
"Oh.. Abang.. Ina.. nggak.. Tahan"
Cengkraman tangannya terasa begitu kuat di pundakku, pinggulnya
bergoyang hebat, matanya mendelik sehingga hanya putihnya yang
kelihatan. Sementara itu tangan ku basah disirami tetes tetes cairan
kenikmatan ketika Ina mencapai klimaksnya. Sekarang dia terdiam dengan
nafas yang memburu, kepalanya tersandar didadaku. Gejolak birahiku
makin menjadi, sambil menciumi rambut kepangnya aku membuka ruesleting
celanaku. Tangan Ina kuraih dan kutuntun agar memegang penisku yang
sudah tegang menantang.
Ke bagian 4
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,593 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,951 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,674 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,103 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,688 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,200 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,747 |
|
|
|
|
|
|
|