|
|
Dari bagian 4 Kukecup leher Ina.. "Bang.. Hati hati.. Jangan dicupang, ntar kelihatan"
"I.. ya, jangan kua.. tiir"
Aku terus mengembara dengan bibirku, kecupan demi kecupan telah membuat
Ina memejamkan matanya karena nikmat. Kugeser kepala ku sedikit kebawah
dan oh.. Payudara itu demikian ranumnya. Semalam memang aku sudah
meremas dan dan menghisapnya, tetapi baru kali ini aku dapat melihat
bentuknya dengan jelas.
Payudara Ina putih sekali, saking putihnya aku dapat melihat urat
urat kecil bewarna merah dan biru seperti menempel dipermukaan
kulitnya. Putingnya kecil, runcing dan memanjang (pantas semalam enak
banget ketika dikenyot) sekitar puting berwarna coklat muda dan di
payudara kiri masih tersisa sedikit warna merah bekas kecupanku tadi
malam.
Segera kubenamkan kepalaku diantara dua bukit indah tersebut, Ohh..
sungguh nikmat menancapkap bibir serta lidah di daging kenyal itu.
Pelan kubelai pangakal payudara itu, terus, terus memutar pelan menuju
putingnya. Tubuh Ina menggelinjang dan sekarang dia telentang,
telanjang, mengangkang dan mengerang sambil menantang.
"Bang.. Ina.. Nggak tahan, sekarang terserah Abang aja."
"Iya sayang"
"Tetapi kenapa Ina bohong sama Abang"
Aku coba mencari tahu sambil terus turun menjilati perut dan pusarnya.
"Auh.. Abang.. ge.. geli.. Tapi.. Terus bang"
Pantat Ina mulai bergerak liar, membuat penisku tambah tegang dan mulai mengeluarkan lendir puith di ujungnya.
"Ina benci selalu dibilang masih kecil.. Sama bapak tiri Ina"
"Terus"
"Katanya sama Ibu, Anakmu itu kan masih kecil, ayo nggak apa apa
kita main aja aku sudah nggak sabar kalau mesti nunggu dia tidur"
"Apa maksudnya dengan main ajaa.." kata kataku sedikit terputus karena aku berusaha melepaskan celana pendekku.
"Maksudnya, mereka langsung begituan, padahal kamarku cuma dibatasin triplek tanpa loteng"
Ina sekarang semakin erat memelukku, dibagian bawah aku dapat
merasakan penisku tepat berada diatas bulu bulu halus vagina Ina yang
tumbuh belum sempurna, geli dan.. sangat merangsang.
"Jadi Ina ngintip mereka"
"Mula mula nggak sih bang, tapi.. lama lama Ina dengar Ibu
mengerang-mengerang dan berkata ou.. ou.. ou.. jangan dulu, jangan
dulu. Oh.. aku nggak tahan.. ouh."
Sekarang batang penisku persis dibelahan vagina Ina. Vaginanya terasa hangat dan mulai berlendir.
"Ina penasaran. Eh rupanya Ibu telanjang dan diatasnya kulihat
bapak tiriku lagi asyik menghisap puting payudara Ibu dan Ina mendegar
bunyi aneh.. Klepok, klepok tiap kali pantat dan pinggul mereka beradu"
"Oh.. Ina yang mereka lakukan sama seperti apa yang sekarang kita rasakan"
"Iya Bang.. Ina bukan anak kecil lagi kan. Buktinya sekarang Ina sudah bisa kayak Ibu telanjang dan Abang diatas Ina."
"Iya sayang"
Bibirku sampai diperbukitan paling indah yang pernah aku lihat.
Bulu vagina Ina masih sangat jarang, warnanyapun masih kemerah merahan.
Semalam aku mengira dia mencukur bulu bulu itu, tetapi rupa rupanya
bulu itu memang belum tumbuh dengan sempurna.
Kukecup bulu itu, turun menuju belahan vaginanya, ah.. warna merah
muda menyembul ketika bibir vagina Ina kusibak dengan jariku. Bibir
kiri dan kanan vaginanya sedikit bergelambir atau seperti ada sayatan
kulit tipis persis dipinggir mulut vagina, segera kuhisap pelan
clitorisnya.
"Bang.. Terus.. Bang.. oouueenak Bang"
Pinggul Ina mulai bergoyang dan pahanya terasa menjepit kepalaku
sedangkan kedua tangannya mendorong agar kepalaku lebih dalam terbenam
ke dalam vaginanya. Segera kujilat klitorisnya dan pelan pelan lobang
vaginanya juga kujilat dengan ujung lidahku, cairan putih bening mulai
mengalir dari dalam vagina yang masih tertutup rapat karena masih
perawan.
"Ina, coba pahanya direnggangkan dikit"
Aku merubah posisiku sedikit lebih tegak dengan bertumpu pada kasur
agar penisku bisa lebih leluasa bergerak dipermukaan vagina Ina.
"Abang, mau diapain Bang"
"Oh tolong payudara Abang dibelai belai, ayo sayang"
Oh.. Kenikmatan luar biasa segera menjalari setiap ruang pori
poriku ketika payudaraku diplintir lembut oleh Ina, tidak itu saja,
tiba tiba dia bangkit, sambil bergelantungan dipundakku Ina menghisap
kedua tetekku bergantian.
"Oh.. Ina.. Pelan pelan sayang. Abang jadi nggak tahan"."
Kedua paha Ina sekarang terpentang lebar, vaginanya terbuka dan
siap menerima tusukan tusukan penis yang menegang. Kugeser pinggulku ke
atas dan kebawah lembut berirama, penisku bergerak seperti mencongkel
clitoris Ina, Ina makin teransang. Sekarang tercapai sudah keinginanku
melihat kedua mata sayu itu dalam keadaan horny, memang indah dan
sangat merangsang.
Lendir semakin membasahi kedua kelamin kami, gerakan penisku
semakin lancar dan lincah diatas permukaan licin vagina Ina. Tiba tiba
dia memeluk erat pinggulku.
"Bang Ina ingin sekali jadi wanita yang sempurna"
"Maksud Ina"
"Ina mau, Abang masukkan penis Abang. Tapi Ina juga masih takut kehilangan perawan Ina, gimana nih bang, Ina nggak tahan"
Ina meminta dengan pasrah, kulihat bibirnya setengah terbuka
menunggu lumatan dan matanya sayu terpejam lemah. Aku dapat merasakan
getaran tubuhnya yang dahsyat karena itu gerakan pinggulku semakin
kupercepat. Setelah 6 sampai 8 kali ujung penisku melindas clitorisnya
Ina menjerit.
"A.. a.. a.. Abang, Ina lepaass lagi"
Pelukannya demikian erat dan pada saat itu pula penisku berdenyut
keras sekali, air itu bergerak liar dari selangkanganku, kepangkal paha
terus menuju batang penis yang berdiri tegak dan oh.. dia menyembur
keluar.. lepas.. lepas..
Kupegang kepala penisku yang masih berdenyut dan menyemprot
terpatah patah, kujepitkan diantara kedua payudara Ina, Ina senang
sekali. Kedua teteknya dia jepit dengan tangannya sehingga menimbun
hilang semua batang penis dipangkal payudara tambun itu.
"Bang, kenapa tadi Abang nggak masukkan aja"
"Ina, masa depanmu masih panjang sayang.. Kamu masih muda. Dunia
memang berlaku tidak adil terhadap kaummu. Kami para lelaki dengan
gampang bisa membuang keperjakaan dimana saja, di tempat lacur, di
kamar mandi dikandang binatang, ya dimana saja kami suka. Tidak ada
yang ribut."
"Maksud Abang?" Ina melap keringat yang menepel didahiku..
"Kebanyakan lelaki masih saja menuntut kamu perawan sampai ke malam
pertama, Abang tahu ini sangat berat buat kalian para perempuan.
Lihatlah godaan itu begitu banyak hampir disetiap sisi kehidupan."
"Jadi gimana dong bang. Aku kan kepingin nyoba juga"
"Ya.. Itu bukan berarti kamu nggak bisa mencobanya, kamu bisa
melakukan dan merasakan kenikmatan sex itu tanpa harus kehilangan
keperawananmu"
"Oh iya. Ina ngerti sekarang, thank you bang. Abang telah ngajarin
Ina mencicipi kenikmatan itu dan Ina toh masih tetap perawan kan"
"Iya, tapi kamu mesti hati hati, kamu hanya boleh melakukannya
dengan orang yang sudah bisa mengontrol emosinya, jangan lakukan dengan
pacarmu yang sebaya"
"Emang kenapa bang.."
"Kalau saja tadi Abang nggak bisa menahan diri, ya.. Sekarang kamu
sudah nggak gadis lagi, perawanmu tinggal kenangan.. He he.. he.." Aku
mencium bibirnya yang setengah terbuka karena mau komplain.
"Jadi kalau gitu, Ina mesti lakukan dengan siapa dong kalau lagi kepengen"
"Ya sama Abanglah, jangan sama yang lain he.. he.. he"
Cubitan bertubi tubi mendarat dipingangku membuat aku harus lari
dari tempat tidur ke kamar mandi dalam keadaan telanjang lancip eeh
bulat.
"Ina"
"Ya.. Bang"
"Coba dengar lagu itu"
Saat itu kami berada didalam taksi menuju ke rumah saudaranya Ina
di Depok, kebetulan dari radio terdengar sebuah lagu lama Crisye yang
diaransement baru.
"Anak sekolah datang kembali dua atau tiga tahun lagi"
"Bang. Bang. Tukar aja stationnya bang"
Ina cemberut karena nggak mau dibilangin masih kecil
"Iya dik.."
"Eh Bang aku sudah besar tauk, jangan dipanggil dik, semalam aja aku sudah bisa"
Mulutnya langsung kubekap dengan tangan kananku, takut dia malah
buka rahasia kami semalam. Sopir taksi cuma mesem mesem sambil
memindahkan gelombang radio ke station lain.
"Ok para listener dimana saja anda berada, kami tahu sore ini macet
terjadi dimana mana, kami minta anda bersabar dan untuk menemani
perjalanan anda berikut sebuah nomor lama, 'When a Man Love a Wooman'"
"Tet.. tet.. Titt.. eh.. maju.. Oi.. Jangan tidur.."
Macet dipintu tol Rawamangun mulai mencair, kulihat gadis berkepang
dua melambaikan tangannya dari atas bus dan masih saja senyum dikulum.
Buat dia tidak ada yang perlu dipermasaalahkan tinggal duduk di bangku
empuk bus super executive sambil menonton tayangan video. Lagu Michahel
Bolton dan teriakan, serta suara gaduh klakson mobil telah merenggut
khayalan indahku dengan si Ina. Semenjak itu aku hanya dapat berita
bahwa dia pindah ke Surabaya ikut dengan Ibunya yang sudah bercerai
dari bapak tirinya.
Buat adik adikku yang masih SMP atau SMU kalian boleh saja
menikmati semua vasilitas atau fitur fitur sex yang ada pada tubuh
kalian, tapi ingat masih banyak lelaki yang akan menuntut keperawanan
disaat MP dengan kalian kelak. Namun itu tidak berarti kalian tidak
bisa, toh seperti aku dan Ina". Kami sama sama puas dan bisa menikmati
kebersamaan kami, tetapi itu bisa terjadi karena aku sudah
berpengalaman dan bisa mengontrol diri.
Nah kalau kalian punya pengalaman seru seperti itu atau yang mirip
mirip tapi nggak bisa bikin ceritanya, email aja aku, nanti kubuatkan
cerita yang bagus buat kalian. Atau kalau ada yang sekalian mau belajar
menikmati sex seperti si Ina. Dengan senag hati akan dilayani. he..
he..he.
Jakarta May 2004
E N D
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,593 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,951 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,674 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,103 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,688 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,200 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,747 |
|
|
|
|
|
|
|