|
|
Dari bagian 2 Dibasuhnya badan mereka dengan handuk masing-masing menggunakan air
Aqua yang mereka bawa, dan mereka saling membersihkan dan sisa air
itupun mereka minum berdua sebagai pengobat hausnya. Sambil duduk
menunggu 'sunset' merekapun mendengarkan lagu pop kesayangan mereka
sambil saling memeluk dan mencium berpangutan kembali. Syahdu rasanya,
dalam dekapan satu sama lain menikmati asmara mereka dibawah kolong
langit yang memerah jingga, menjelang tenggelamnya matahari di ufuk
barat, kemudian benar meluncur jatuh kedalam Cakrawala nan damai.
Matahari telah keperaduan, dan gelap malampun berganti, didekapnya
sekali lagi Gina, mata hatinya, dan diulurkannya tangannya mengajak
Gina beranjak pulang. Dibimbingnya Gina keluar dari bedengan dan
diangkatnya dia dan diputerkannya dia dalam pelukan, Ginapun menjerit,
ketika kakinya memutar diudara mengikuti badannya yang di ayun dan
diputar oleh Rama yang kokoh kekar itu.
Dicium, berpagut mereka mengakhiri hari yang indah untuk mereka
berdua di pantai itu. Merekapun berjalan dipasir putih menuju
kekendaraannya untuk pulang di bungalow orang tua Gina. Untuk sampai di
bungalownya, mereka harus melalui bangunan bungalow lainnya yang memang
relative berdekatan disekitar itu, merupakan sebuah compound, namun
tetap dipertahankan privasinya masing-masing, sedang jarak menuju
kepantai itu tak terlalu jauh, kira 5 menit mengendarai mobil.
Segera mobil berhenti, Ramapun turun dan membukakan pintu Gina dan
menuntun dan merangkulnya, tiba-tiba Ramapun menggendongnya berjalan
masuk kebungalow. Ginapun memekik sambil merangkul leher Rama yang
kuat, dalam dekapan gendongan Rama dia merasa ada sesuatu aneh mendera
perasaannya hingga dia harus memalingkan pandangan lurus kebelakang,
ternyata seorang laki-laki berdiri tegak memperhatikan adegan dirinya
dengan Rama, semenjak keluar dari mobil, dia tersenyum dengan diiringi
mata sayu tajam memandang kearahnya.
Cepat Ginapun senyum sedikit, mengalihkan pandangannya kembali dan
mencium pipi Rama, ditempelkannya kuat-kuat bibirnya menekan pipi
Rama.. Mereka kemudian tergulung dalam canda sambil menuju kekamar
mandi membersihkan badan mereka bersama untuk segera makan malam yang
telah mereka persiapkan berdua.
Selesai makan malam merekapun memutar lagu-lagu kesayangan mereka,
Rama duduk dikarpet dengan hanya mengenakan PJ pendek dan Ginapun
mengenakan pakaian tidur minim, karena 'heat' di pantai, yang cukup
melelehkan keringat dibadannya, walaupun mereka memakai air
conditioning.
Malam semakin pekat, Gina menidurkan kepalanya diatas paha Rama
yang duduk disofa panjang di ruang tamu, dan mulailah Rama mematikan
lagu-lagunnya dan mengganti piringannya dengan BF yang mereka bawa.
Mereka menikmati adegan demi adegan, sambil Rama mengelus-elus paha
Gina. Secara reflek dirinya teraliri gelongbang birahi dengan cepat,
segera jantung mendetup kencang; secepat itu pula 'dudle'nya mendongkak
mengeras, nafas Ramapun memburu.
"Gina sayang, adakah kau merasakan getaran dalam tubuhmu, seperti ditubuhku ini sayang?"
"Ya Rama, 'pussy'ku berdenyut dan membasah"
Mata Rama semakin sayu, dia ingin sekali meminta diservice lagi
'dudle'nya, namun juga ngak tega memintanya ke Gina, demi melihat
lelehan cairan kenikmatan Gina bercampur darah sewaktu dia bersihkan
Gina dengan handuk tadi sore.
Maka dirundukkannya mukanya menggapai bibir Gina, dan dilumatnya
kencang bibir bawahnya, serta diceruakkan kedalam lidahnya ke rongga
mulut Gina, yang ternyata Ginapun menyambutnya dengan hangat dan liar,
sambil tangannya meraba 'dudle' Rama yang sudah mengeras, tergoda ia
ingin mengeluarkannya dari piyama Rama dan katanya, "Rama, nafsumu
membakar lagi, 'dudle'mu sudah tegang mengeras lagi, boleh ya Rama aku
keluarkan"
Mata Rama memandang sayu hanya menganggukkan kepala sambil
meneruskan melumat bibir Gina. Tanpa dikomando dilepaskannya tautan
ciuman panas itu, sembari mengelus-elus 'dudle' Rama yang merah
mengkilat kepalanya. Penasaran rasanya melihat 'dudle' buah hatinya
itu, dia mendaratkan bibirnya kekepala 'dudle' hangat di tangannya,
digesek-gesekkan bibirnya yang sensual, menikmati kehangatnya batang
'dudle' Rama, dan ditekan-tekannya lubang air seni dikepala 'dudle'
itu, sesekali di hisapnya dengan birahinya yang menggelora. Dikulumnya
kepala 'dudle' itu, dijelajahinya semua permukaan; kembali seluruh
simpul-simpul syaraf yang sangat sensitive digelitiknya. Ramapun
mendesis dan menggigit bibir bawahnya sedang matanya hanya kuasa melek
merem, menikmati dera perlakuan Gina kekasihnya, seraya merebahkan
tubuhnya disisi kaki Gina, sambil mengangkat kakinya diatas sofa, serta
merta merahih CD Gina yang terpampang didepanya.
Tanpa melepas CD tersebut, hanya dibukanya dari samping, jemari
tangan kanannya membuka belahan gundukan segitiga diatara kedua pangkal
paha Gina, dirabanya klitorisnya dan disapu dan dimainkannya dengan
jarinya, kemudian diceruakkan lidahkya kedalam belahan vagina yang
tebal dan bersih itu, aroma kewanitaannya pun merangsang jiwa kelakian
Rama, dalam posisi 69 ini, disapunya seluruh bermukaan vagina itu
dengan cermat dan hati-hati; karena sayangnya Rama kepada Gina, tak
ingin Gina merasakan sakit atau tidak nyaman akan perbuatannya.
Rama sendiri menikmati dera kenikmatan di'dudle'nya, bara
nafsunyapun membakar semangatnya untuk lebih giat mengelomoti liang
kenikmatan Gina, ditusuk-tusukkannya lidahnya dalam liang sempit yang
tadi sore dia ulek pakai tongkat keramatnya yang gagah itu.
Berulang-ulang mereka lakukan, nyeri, ngilu silih berganti mendera
sukma dan birahinya, bagaikan dikayuh diayun diatas jentera yang
bertali panjang berputar-putar di angkasa raya. Rintihan mereka semakin
lama semakin keras mengalunkan suara kenikmatannya dan achirnya mereka
berdua mendapatkan ejakulasinya bersamaan.
"Acchh aachh, Rama enak sekali, lidah kasarmu, Gina mau keluar lagi ini"
"Yaa aacchh sshheett, aku juga Gina, kau pandai sekali mempermainkan kontolku Gina."
Dan kembali, sperma Rama muncrat dalam mulut Gina, chhrreett,
chreet, chreett. Robohlah mereka, dan tertidurlah diatas sofa ruang
tamu yang didesign seperti rumah-rumah diSpanyol, ruang tamunya jauh
lebih dalam dibandingkan lantai lainnya dengan dihubungkan dengan
telundakan-telundakan mengelilingi ruang tamu itu.
Pagi harinya, Rama masuk kamar mandi, dan Gina mau mengambil
'Toilet paper' untuk Rama, dan beberapa barang dibagasi belakang
mobilnya. Ternyata, beberapa barang yang dia keluarin dari bagasi itu
ada yang terjatuh. Gina kewalahan membawanya.
Tiba-tiba pemuda yang kemarin tersenyum padanya telah didekatnya
dan membantu memunguti beberapa 'toilet paper' yang menggeludung agak
jauh dibawah mobil, dipungutnya note book kecil kepunyaan Gina,
kemudiaan masukkannya kedalam sakunya tanpa meminta izin Gina.
"Namaku Dharma, coba kutolong adik membawakan ke teras vilamu itu,
bawalah sebisamu, ini semua terlalu banyak untuk adik bawa sendiri."
Gina pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali berterima kasih dan
menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangannya, "Namaku Gina, Regina,
terimakasih atas pertologan anda Dharma"
Sekejap setelah menolong Dharmapun lenyap dari pandangannya setelah
minta diri kepada Gina. Ada sebuah perasaan aneh pada diri Gina,
mengapa tiba-tiba Dharma muncul dimana dia sedang membutuhkannya; semua
perasaan ini dia tekan dan berusaha melupakannya. Diberikannya Toilet
tissue kepada Rama, tanpa mengatakan mengenai pertemuan dengan Dharma
kepada Rama.
Pagi itu mereka mandi sama-sama di bawah shower dan saling menyabun
dan mendekap dan saling memainkan alat vital mereka masing, dikulumnya
payudara Gina yang padat dan kenyat itu, mengelinjanglah kembali Gina,
dan membalas meraba dan memilin puting Rama ditangan kirinya dan tangan
kanannya memijat dan mengelus dudle Rama.
Serta merta, Rama memburu nafasnya dan membalikkan badan Gina dan
meminta dia menungging dengan berpegangan pada tiang besi 'shower
screen', maka diselipkannya batang 'dudle' Rama yang tegang itu
dibelahan 'pussy' Gina, dengan sebelumnya dimainkannya dulu dipermukaan
vagina untuk memberikan stimulasi pada lubang 'pussy' Gina, supaya mau
menerima kehadiran 'dudle' besarnya Rama.
"Gina, siap ya sayang, kumasukkan dari belakang ya, nikmatilah setiap gesekan dan tusukanku, jangan tegang ya sayang"
Maka diayunkannya pantatnya kedepan dan bless, masuklah separo batang keramat nan perkasa itu kedalam relung nikmat Gina.
Gina menjungkit refleks dan mengaduh; segera dihentikan lagi
penetrasinya. Dibungkukkannya badan Rama dan diraihnya payudara Gina
yang tergantung-gantung, diremas-remasnya penuh birahi asmara, separo
'dudle' digoyangkan hingga mengalir lembut air nikmat membasahi kepala
'dudle'nya.
Sekali lagi dia hentakkan pantatnya dengan tiba-tiba, dan bleess
masuk semua dalam relung nikmat Gina yang sangat sempit menghimpit.
Terasa sekali memberikan sensasi yang nikmat sekali, sewaktu batang
pusaka kebanggaan laki-laki ini berada didalam liang nikmat.
Nafasnyapun segera memburu ingin cepat menyelesaikan hasrat
syahwatnya, namun ia ingat tugas utamanya adalah membahagiakan
pasangannya yang ia cintai ini. Maka digoyangkannya maju mundur, kekiri
kekanan mengaduk seluruh relung nikmat itu dengan penuh bara cinta dan
nafsunya.
Desah dan desis, lenguhan Gina semakin intense dari satu sodokan
sodokan yang lain, dan dia menengok kepalanya kebelakang dan
disambutnya dengan bibir Rama yang menganga menikmati denyutan relung
nikmat Gina yang tersa banyak sembulan-sembulan berenjolan diseluruh
lorong nikmat "Pussy' nya, merata berirama menghimpit dan memijit
batang kejantanan Rama.
Keduanya sudah dibalut bara api asmara dan birahi yang melambungkan
jiwa mereka melayang menuju ke Nirwana, seolah mereka menari di angkasa
dibantu oleh arakan mega-mega menyelubungi tubuh mereka, anginpun tak
tinggal diam ikut sibuk menghantarkan mereka dari gumpalan mega satu
kemega lainnya, berputar mengelilingi jagad raya; seolah mereka
bagaikan 'Shyiwa' yang sedang memadu cinta diangkasa dangan 'Nandhi'
kerbaunya sebagai kendaraannya. Air nikmat Gina berceceran jatuh,
hujamanpun bertalu tiada redanya;
Gina melengking dan mengerang merasakan terpaan rasa ngilu di dalam
relung nikmatnya bagaikan lonceng yang bertalu-talu mendera sukmanya,
sampai achirnya tak tahan Gina dibuatnya, hingga dia harus
melengkingkan pekikan nikmatnya.
"Rama aku tak tahan lagi ngiluu nikmat Rama, aku keluaarr, aku orgasmee sayang"
"Ya Gina nikmatilah kudekap kau dari belakang kucium punggungmu
sayang", sambil Rama menggapai payudara Gina yang terguncang, karena
hujaman yang semakin kencang dari Rama diremas-remasnya payudara Kenyal
itu diperlintirnya putingnya.
Dibiarkannya Gina menikmati orgasmenya yang panjang, dan Ramapun
menikmati denyutan relung nikmat Gina yang terasa bagaikan seorang yang
memainkan 'harmonika' ditiup dan disedotnya merata diseluruh batang
kemaluannya yang terrendam didalamnya.
Ke bagian 4
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,594 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,952 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,676 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,103 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,688 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,200 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,748 |
|
|
|
|
|
|
|