|
|
Pengantar:
Cerita dibuat lebih dahulu ketimbang "The Other Side of Horizon",
pembuatannya pada masa penulis masih tinggal di Indonesia antara
masa-masa penulis masih kuliah hingga awal tahun pertama penulis
tinggal di Bangkok Thailand. Kalau ada kemiripan tokoh, nama ataupun
lokasi, semua ini tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan
kehidupan anda, semua ini hanya fiksi rekaan belaka.
*****
Namaku sebut saja Handy (nama samaran) atau lebih sering disebut
sebagai Andy. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, orangtuaku
berasal dari daerah timur (Flores) sehingga maklum kalau penampilanku
berkesan hitam namun macho seksi dan gagah perkasa (setidaknya itu
kalimat pujian yang sering di ucapkan oleh para wanita yang pernah
tidur denganku). Tinggi tubuhku sekitar 185-an dengan berat sekitar 80
Kg lengkap dengan gumpalan otot yang keras di sekujur lengan, dada dan
bagian tubuhku yang lainnya, termasuk alat kelaminku yang berdiameter
besar dan sangat keras, kokoh dan berurat. Potongan rambutku tipis
klimis sehingga berkesan seperti Anggota ABRI saja, namun demikian aku
memotong rambutku tipis supaya tidak terlalu kentara potongan rambut
asliku yang agak keriting.
Aku adalah alumni salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di
kota kembang, dan aktif dalam perkumpulan pencinta alam tatkala tengah
menuntut ilmu pada masa perkuliahan dulu. Di ruang senat fakultasku,
aku sering menghabiskan waktuku dengan kegiatan keorganisasian
mahasiswa sekaligus untuk menjalin keakraban dengan para mahasiswi yang
memang cantik-cantik itu. Ya bisa dikata sambil menyelam minum
greenspot deh ha.. ha.. ha..
Di antara para mahasiswi itu aku mengenal beberapa yang tergolong
cantik dan sexy salah satunya bernama Hera dari FISIP dan satunya lagi
bernama Lie Chun anak Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi. Keduanya
tergolong makhluk langka di kampusku karena selain keturunan tionghoa
mereka juga sangat cantik, bertubuh sexy putih dan mulus, terlebih
bentuk tubuh mereka yang sangat kencang dan proporsional sehingga tidak
salah jika banyak jejaka yang berlomba untuk menaklukan hati mereka. Di
banding dengan fisikku, tubuh mereka berdua tergolong mungil meskipun
mereka sendiri memiliki tinggi tubuh sekitar 170-an. Hera memiliki face
dan fisik mirip seperti Kaori Shimamura sedangkan Lie Chun mirip
seperti Vivian Chow namun lebih lembut dan manis.
Pada suatu pagi cerah di bulan Juli sehari sesudah ujian
semesteran, kelompok pencinta alam di kampus kami mengadakan acara
pendakian dan kemping bersama untuk semua mahasiswa dan mahasiswi baik
yang ikut dalam kegiatan pencinta alam maupun bukan. Hera sebagai salah
satu aktivis organisasi pencinta alam di kampusku getol mengajak
teman-teman kostnya yang kebetulan satu kampus agar ikut dalam kegiatan
tersebut, Lie Chun sebagai salah satu mahasiswi perantauan asal Jakarta
(seperti Hera) nampaknya tertarik mengikuti acara tersebut. Hal ini
agak mengherankan karena berbeda dengan Hera, Lie Chun kurang akrab
dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, banyak yang mengatakan bahwa ia
tergolong anak Mami yang sehabis kuliah langsung pulang. Namun demikian aku selaku panitia koordinator acara tidak mempersoalkan
masalah tersebut, bahkan kuanggap hal itu membantu mensukseskan acara
tersebut karena otomatis peserta terutama kaum pria menjadi lebih
banyak yang mendaftar untuk ikut. Dan tepat seperti dugaanku, pagi itu
peserta yang datang membludak bahkan nyaris melampaui dari jumlah yang
telah kami perkirakan (karena ada beberapa yang terlambat mendaftar
sehingga kami salah menghitung kapasitas angkutan yang telah di
siapkan). Namun demikian berkat kesigapan panitia bagian transportasi,
segala urusan dapat di selesaikan dengan baik.
Akhirnya setelah menunggu kurang lebih selama satu jam rombongan
pun dapat segera berangkat menggunakan beberapa truk carteran milik
salah satu kesatuan militer yang berada di daerah Bandung. Selama
perjalanan tak henti-hentinya candaan dan senda gurau riuh rendah
memenuhi truk-truk tersebut apalagi dalam perjalanan tersebut rombongan
antara mahasiswi dan mahasiswa bercampur baur dengan alasan agar ada
yang dapat menjaga keselamatan para mahasiswi tersebut dan juga agar
perjalanan tidak terasa jenuh.
Sesampainya di kaki gunung, rombongan mendapat petunjuk singkat
dari diriku selaku panitia dan sesudahnya kami pun segera berangkat
menuju salah satu bumi perkemahan yang terletak tak jauh dari lokasi
tempat kendaraan kami berhenti. Sesudah selesai mendirikan tenda, kami
pun beristirahat dan berbenah serta bersenda gurau guna menghilangkan
kepenatan selama dalam perjalanan. Kesempatan ituku pergunakan guna
berbincang-bincang dengan para panitia lainnya termasuk Hera guna
mengkoordinir langkah selanjutnya yang akan ditempuh. Setelah segala
urusan kepanitiaan tersebut usai, kami para panitia pun membubarkan
diri dan turut beristirahat. Aku sengaja beristirahat agak jauh dari
yang lainnya karena selain tidak ingin terganggu, juga karena agak
lelah akibat perjalanan dan persiapan acara tersebut.
Sedang asyik-asyiknya aku duduk santai di depan tenda besar
milikku, tiba-tiba Hera datang menghampiri diriku. Dan menyodorkan
makanan kecil ke hadapanku. "And, ini gue ada cemilan kamu mau nggak?"
Aku yang sudah agak sedikit lapar langsung saja memasukkan tanganku dan
meraup agak banyak potatoes chips tersebut. Hera pun lantas ikut duduk
di sisiku di atas tikar yang kugelar di depan tenda. Sambil asyik
makan, sesekali Hera menoleh mengamati diriku, meskipun aku agak cuek
terhadap dirinya, namun lantaran terus di amati demikian aku pun merasa
risih, lantas aku pun bertanya.
"Ada apa sich Ra? Koq kamu ngeliatinnya seolah-olah aku ini makhluk
planet gitu? Dari tadi kamu terus ngamatin aku, emang gue manimal yach
yang lagi ganti-ganti wujud?" ujarku sambil tersenyum. Hera pun turut tersenyum, lantas berkata, "Ah.. Enggak koq And. Nggak
ada apa-apa koq, gue cuman takjub aja kalau kamu bisa cool gitu,
biasanya cowok tuh kalau ada banyak cewek ngumpul suka gimana gitu,
rada-rada over acting lah, ini kamu malah asyik sendiri di kejauhan".
"Ohh.. Itu sich emang aku yang kurang suka begitu koq, lagian aku juga rada capek" ujarku.
Lalu kami terdiam agak lama. Lantas tiba-tiba Hera memecah
kesunyian sambil berkata, "And, kamu.. Sebenarnya sudah punya cewek
belum sich? Koq anak-anak banyak yang naksir kamu, tapi kamunya cuek
bebek githu?" ujarnya sambil menatap dalam wajahku. Aku menoleh padanya lantas berkata, "Ahh.. Enggak ah.. Emang aku lagi
malas koq mikirin urusan gituan, lagian mana ada waktu lagi buat urusan
kampus kalau sudah punya cewek, berapa banyak sich cewek yang bisa
ngerti kesibukanku Ra? Paling-paling pertamanya aja bilang ngerti,
nanti kalau dach lamaan dikit juga nuntut ini-itu dan mulai
larang-larang." sahutku asal-asalan. Mendadak obrolan kami terpecahkan oleh kehadiran Lie Chun dari belakang
tendaku yang terletak agak naik sedikit ke arah bukit, rupanya anak itu
habis jalan-jalan ke atas sebentar.
"Nah yach berduaan aja, rupanya berduaan emang sudah janjian nich." ujarnya sambil tersenyum-senyum lucu.
Aku lantas tersenyum dan berkata, "Lie Chun, ayo duduk yok, nggak
usah malu-malu koq, aku kan sama Hera dach temenan lama, lagian kita
emang lagi ngobrol aja koq". Lie Chun pun ikut duduk sementara Hera diam saja.
Lantas Hera berkata, "And, aku balik dulu yach, mau tidur dulu ngantuk nich".
Aku menjawab, "Lho koq buru-buru Ra, tidur aja di dalam tendaku, lagian
nanti juga kita mesti kumpul lagi khan buat bikin permainan dan makan
malam? Toh kamu udah mandi sore khan?". Hera diam saja lantas sesaat kemudian bangkit dan masuk ke dalam
tendaku. Akhirnya setelah agak lama ngobrol sama Lie Chun, akupun
bangkit berdiri dan membangunkan Hera karena hari sudah mulai gelap dan
acara sebentar lagi akan di mulai.
Usai acara dan makan malam, aku lantas kembali ke arah tendaku dan
hendak santai tidur-tiduran pada acara santai yang tengah berlangsung
usai makan malam. Ketika tengah berbaring mendadak tendaku di buka dan
wajah Hera menyembul dari balik pintu masuk tendaku.
"Ndy sorry, aku numpang nongkrong yach di tempat kamu, soalnya
tenda panitianya agak rame sama anak-anak yang lain", sahut Hera. Aku agak bingung karena biasanya Hera sangat ceria dan antusias dengan
acara kumpul-kumpul berbeda dengan diriku yang walaupun aktif dalam
berbagai kegiatan organisasi namun untuk acara kumpul-kumpul dan
bersantainya aku lebih suka memilih duduk sendiri sambil menikmati
ketenangan ataupun keindahan alam.
Aku bertanya, "Tumben Ra, koq kamu nggak ikut ngumpul ikut acara biasanya kamu hobby ngumpul?".
"Nggak Ndy, aku lagi agak malas, nggak mood, lagian juga udah keramaian sich", ujarnya asal-asalan.
"Hayoo.. Rame apa rame nich.. Kepengen dekat-dekat dengan Bang Andy yach?" sahutku sambil menggodanya.
Mendengar itu Hera mencibir dan berkata "Huu.. Geer tuh" namun
kalimat itu di ucapkannya sambil sedikit menahan senyum. Terus terang
sebenarnya aku agak curiga apakah Hera memang memendam hati kepadaku
atau tidak, karena untuk tiap kegiatan organisasi yang aku ikuti dia
pasti ada namun untuk kegiatan yang tidak ada keberadaan diriku
walaupun dirinya diminta menjadi pengurus pun tetap ogah, lagipula
dalam tiap acara ia selalu memilih berada dekat dengan diriku. Namun
aku tidak mau di cap sebagai cowok geeran meskipunku akui bahwa akupun
sangat tertarik dengan dirinya, namun aku tidak mau jika ternyata salah
sangka sebab berbekal pengalaman terdahulu aku pernah salah sangka
dengan seorang wanita yang dekat kepadaku yang ternyata hanya
menganggapku sebagai kakaknya belaka.
Agak lama kami berdua sama-sama terdiam sambil memandang api
unggun, lantas mendadak Hera bertanya "Ndy, menurut kamu, kalau ada
cewek yang naksir sama kamu, kamunya gimana?". Terus terang aku sama sekali tidak menyangka bakal mendapat pertanyaan
semacam itu karena walaupun sebelumnya Hera pernah bertanya hal-hal
yang menyerempet ke arah sana terutama dengan pertanyaannya sore tadi,
namun untuk hal yang ini agak mengejutkan diriku karena aku sama sekali
tidak siap dengan jawabannya. Namun secara diplomatis aku menjawab, "Ya kalau dianya baik, dan
orangnya kebetulan termasuk tipeku, kenapa tidak di coba jalanin
bersama-sama?". Hal itu aku ucapkan sambil menatap lembut ke arahnya. Agaknya Hera
sedikit takjub dengan jawabanku dan dia menatap heran ke arahku, lantas
ia kembali bertanya, "And, memangnya tipe kamu tuh seperti apa sih?". Aku terdiam sejenak.. Lantas menarik nafas agak panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan..
"Ngghh.. Gimana ya Ra, tipeku tuh ya yang penting pengertian lah sama
diriku termasuk kesibukanku ini, mungkin kalau di tanya gimana nyari
cewek yang seperti itu ya aku palingan bisanya jawab ya sebisa mungkin
dapatnya dari anak yang juga aktif di dalam organisasi biar setidaknya
dia bisa lebih maklum barangkali anak yang aktif dalam organisasi
semacam kamu yang lebih mendekati kriteriaku" ujarku sedikit rada lega
karena akupun harus bisa berpura-pura tidak terpengaruh dengan
jawabannya.
Anyway sesudah mendapat jawaban seperti Hera tampaknya agak sedikit lega dan matanya terlihat bersinar-sinar..
Lama kami saling terdiam lantas aku berkata, "Memangnya kenapa kamu
nanya seperti itu Ra? Emang ada yang mau?" Terus terang ini jenis
stupid question karena yang ada cewek kalau di giniin bisa malah batal
jadiannya. Di tanya begitu Hera cuman menjawab "Ya enggak sih, cuman
mau nanya aja".
"Kalau aku sih Ra terus terang carinya yang seperti kamu, ya baik,
supel, aktif dalam organisasi dan pengertian" ujarku buru-buru untuk
menutup kekeliruanku. Hera tampaknya agak sedikit kaget dan menoleh ke arahku dan menatap
agak tajam ke mataku tampaknya seperti ingin menyelidiki kebenaran
jawabanku. Lantas aku sadar bahwa dalam acara begini sebagai cowok aku
mesti ambil inisiatif duluan kupikir daripada keburu lepas mendingan
buruan di jadiin apalagi momentnya udah tepat cuman berduaan di depan
api unggun di perkemahan yang jauh dari keramaian dan udaranya agak
dingin lagi. Akupun berkata "Ngghh.. Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu Ra,
tapi terus terang aku nggak tau isi hati kamu, terus terang aku
mencintai kamu" Wah kacau deh gara-gara keburu nafsu jadi salah strategi deh semua di
umbar gitu aja. Eh tapinya Hera cuman diam aja dan menatap ke wajahku
agak lama, lantas buru-buru aku menambahkan. "Terus terang aku kepingin kita lebih dari sekedar teman, tapi kalau
kamu keberatan, aku bersedia tetap menjadi teman kamu dan melupakan apa
yang barusan aku ucapkan"
Belum selesai aku berbicara Hera menempelkan telunjuknya yang
lentik itu ke bibirku dan berkata, "Sstt, nggak usah kamu ucapkan Ndy..
Hera juga sayang sama kamu.." Lantas tanpaku duga sama sekali ia mencium lembut pipiku terlebih
dahulu.. Diriku serasa melayang karena baru pertama kali ada gadis
menciumku selembut itu.
Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,595 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,952 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,678 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,104 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,689 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,201 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,748 |
|
|
|
|
|
|
|