|
|
Dari bagian 2 Sesampai di rumah aku segera masuk ke kamar mandi dan membasuh muka
yang terasa sangat kotor dan lengket terutama karena tadi bersama
dengan Bram aku kebagian helm yang tidak ada kaca penutupnya (helm
chips) seperti yang dipakai polantas. Jadi maklum aja kalau keringat
bercampur debu di jalan harus segera dibasuh bersih kalau tidak bisa
tambah hancur aja penampilanku terkena jerawat akibat debu dan kotoran
yang menyumbat pori-pori muka. Selagi asyik membasuh wajah mendadak
telfon dari ruang tengah berdering. Sambil agak sedikit mengomel aku
berjalan menghampiri masih dengan waslap (lap pembersih untuk mandi) di
tangan aku mengangkat gagang telfon.
"Ya hallo, selamat sore," ujarku.
"Sore, maaf bisa bicara dengan Handy, Mas?" ujar suara lembut dan empuk yang tidak asing lagi di telingaku.
"Ya saya sendiri," ujarku dengan nada riang karena mengetahui Hera menelefonku.
"Ohh.. Ini kamu ya And? Tumben koq suaranya agak lain?"
"Iya nih Ra.. Abis sambil bersihin muka sih," ujarku.
"Ohh sorry baru pulang ya. Gini And, tadi siang si Lie Chun nelfon.
Dia bilang kamu ngikutin dia pulang ya, katanya dia takut sekali.
Sepertinya kamu hendak berbuat sesuatu kepadanya. Katanya dia sampai
berlari melompat ke dalam angkot yang sedang melaju?". Nah loh apa-apaan lagi nih.. Skenario macam apa yang tengah digarap
oleh Lie Chun pikirku. Wah jangan-jangan dia bermaksud membuat
hubunganku dengan Hera bubar pikirku.
"Hah? Memangnya dia ngomong begitu ya Ra?" ujarku dengan agak jengkel.
Namun tak urung aku agak khawatir juga takut-takut Hera sampai
percaya dengan omongan Lie Chun. Maklumlah hubunganku dengan Hera belum
lama masih terhitung baru sedangkan Hera dan Lie Chun telah kenal
lumayan lama semenjak di bangku SMP sih kalau tidak salah.
"Iya sih, maka dari itu aku nelfon ke kamu, soalnya aku tidak
percaya. Lagipula buat apa kamu ngejar-ngejar dia iya nggak? Lagian dia
khan tidak ikut aktif di senat jadi ada keperluan apa kamu ngejar dia.
Begitu pikiranku Ndy. Jadi aku konfirm ke kamu takutnya kamu tidak tahu
omongan apa yang terjadi di belakang," ujar Hera.
"Syukurlah Tuhan, Hera tidak terpengaruh," ucapku dalam hati.
Puji syukur juga punya pacar yang baik dan pengertian seperti Hera
ini yach; mana cantik and sexy lagi. Wah kupikir tak akan kulepas deh,
semoga jadi istri nantinya harapku dalam hati.
"Ra, aku juga terus terang tidak mengerti kenapa dia ngomong begitu
sama kamu. Terus terang tadi di kelas aku cuman menyapanya dan kulihat
ia malah menghindar dan bergegas pergi. Kupikir ada masalah apa. Tapi
waktu kudekati ia malah semakin cepat melangkah dan malah sampai
separuh berlari. Terus terang aku nggak enak ia bersikap demikian. Kamu
kan sendiri tahu sikap dia belakangan terhadap kita bagaimana. Jadi aku
menegur dia ya untuk mengetahui duduk permasalahannya," ujarku berusaha
meyakinkan Hera.
"Iya sih. Maka dari itu aku nelfon kamu salah satunya juga untuk
minta tolong agar kamu berusaha meluruskan masalah ini. Soalnya aku
jadi nggak enak masa hanya karena kita jadian sampai harus kehilangan
teman lama. Tolong deh kamu ke kostnya kalau sempat. Oke deh aku mau
mandi dulu ya, bye Andy", ujar Hera mengakhiri topik pembicaraan, lalu
setelah saling mengecup mesra lewat telfon kami pun segera mengakhiri
pembicaraan.
Akhirnya sore itu setelah beristirahat sejenak dan seusai mandi sore akupun berangkat ke tempat kost Lie Chun selepas magrib.
Setibanya aku di tempat Lie Chun hari telah mulai gelap (benarnya
sih dah gelap banget), tapi berhubung sudah di niatin ya tetap saja aku
nekat bertandang. Aku turun dari MB Brabus S73 (CL600 Body) milik
pamanku (karena aku kost di rumahnya). Padahal amit-amit seumur hidup
aku belum pernah naik mobil setan itu (karena larinya seperti setan dan
harganya mungkin cuman untuk orang yang sekaya setan). Lagipula aku
terbiasa berangkat kuliah naik angkot jadi rada kagok juga. Tapi
berhubung udah malam dan mulai jarang ada angkot yang lewat serta
kebetulan mobil yang ada cuman itu jadi kupinjam saja dengan alasan isi
bensin.
Perlahan kubuka pagar pekarangan tempat kostnya yang terletak di kawasan elit kota Bandung.
"Hmm nampaknya tidak di kunci nih" pikirku, lalu perlahan aku berjalan masuk.
Sebenarnya sih rada ragu-ragu juga apalagi di pintu pagar depan di
tempel tulisan "Awas Anjing Galak" lengkap dengan gambar herder yang
lidahnya menjulur seperti kena rabies. Tapi kupikir masuk sajalah tokh
pengalamanku bertandang ke rumah Hera yang pagar depannya ada gambar
serupa juga ternyata cuman bohong-bohongan belaka. Akan tetapi kalau
Hera sih memang si Blecky udah mati di culik sama orang Lapo Tuak dekat
rumahnya.. Kemana lagi kalau nggak udah jadi ampasnya orang Batak, he..
he.. he.. (sorry buat yang Batak aku masih ada keturunan Batak juga
koq).
"Hmm.. Terus terang perkarangan rumahnya terlihat sepi, waduhh
kacau juga nih.. Nggak ada orang entar dikirain rampok lagi," runtuk
diriku.
Tapi karena ada cahaya yang lumayan benderang dari dalam rumah
berarsitektur Belanda tersebut jadi ya aku terus saja berjalan masuk.
Pintu masuk yang terbuat dari kayu kuno yang sangat besar tersebut
tampak kokoh dan terkunci rapat. Perlahan kuketok..
"Waduh keras juga nih, dari kayu jati rupanya", pikirku.
Lama tak ada tanggapan. Lalu perlahanku dengar langkah kaki
setengah agak di seret seperti orang malas berjalan ke arah pintu..
Lalu dengan suara agak berderit pintu di tarik terbuka.. Dan alangkah
terkejutnya orang tersebut karena melihat yang datang adalah aku.
Akupun tidak kalah terkejut karena yang membuka ternyata adalah Lie
Chun sendiri. Sejenak kami saling terlongo dan terdiam tidak tahu harus berkata apa.
Mungkin lebih kayak dua orang yang sama-sama naksir dan nggak nyangka
ketemuan. Tapi terus terang ini keadaannya beda karena aku dan Lie Chun
bukan sepasang kekasih ataupun orang yang diam-diam sedang kasmaran
tapi malu-malu meskipun di salah satu pihak ada rasa cinta.
Lantas aku berinisiatif terlebih dahulu membuka suara. Kupikir tokh
mendingan ngomong duluan daripada dianya keburu banting pintu. Apalagi
dalam pikiranku Lie Chun belum cukup dewasa terutama dalam menerima
kenyataan hidup.
"Lie.. Aku datang ke sini untuk.."
Lalu "Plakk.." belum sempat kata-kataku selesai kurasakan pipiku
panas dan pedas di iringi kata-kata "Bangsat.." Dari bibir mungil milik
Lie Chun yang langsung berlari masuk ke dalam tanpa sempat menutup
pintu lagi.
Terus terang aku sempat terlongo-longo mendapat perlakuan seperti
itu. Belum pernah ada yang memaki aku seperti itu apalagi sampai
menampar segala, perempuan lagi. Namun kesadaranku segera pulih
terutama karena mengingat misiku ke tempat ini adalah untuk meluruskan
persoalan sekaligus memenuhi mandat dari Hera kekasihku yang
menginginkan agar hubungan kami bertiga pulih kembali seperti dulu saat
aku belum jadian dengan Hera. Aku segera mengejar masuk ke dalam
sembari menutup pintu agar tidak terlalu mencolok terlihat ke luar
kalau-kalau kebetulan ada yang melihat. Namun Lie Chun terus berlari ke
tangga utama dan naik ke atas.
"Rupa-rupanya kamarnya di atas nih," pikirku sambil berjalan cepat mengikutinya.
Namun ketika Lie Chun masuk ke dalam kamarnya ia segera membanting
pintu kamar tersebut sehingga langsung tertutup. Dalam hati aku menjadi
ragu.
"Di terusin nggak ya? Kalau di terusin terus entar teman-teman
kostnya teriak rampok bisa celaka aku, tapi kalau entar masalahnya
tambah kacau gimana?" pikirku dalam hati.
Sedang ragu berfikir demikian tiba-tiba aku mendengar isak tangis dari dalam kamar Lie Chun.
"Waduh celaka deh nih anak sudah pakai acara nangis segala," umpatku kesal dalam hati.
Lalu aku segera membuka pintu kamarnya secara perlahan-lahan agar
tidak terdengar dan kututup secara perlahan juga. Kulihat Lie Chun
sedang berlutut di tepi ranjang dengan kepala yang di benamkan ke dalam
bantal. Perlahan dengan tangan agak bergetar dan juga rasa ragu-ragu
kusentuh pundak Lie Chun. Namun ia malah semakin membenamkan wajahnya
dalam bantal dan menangis sekeras-kerasnya.
"Wah kalau sudah begini mampus deh", pikirku dalam hati.
Terus terang aku tidak punya pengalaman meredakan tangis wanita
terutama karena ibuku sendiri jarang menangis ataupun terlihat
menangis. Juga karena aku sebagai seorang anak lelaki pertama yang
memiliki jarak kelahiran yang cukup jauh dari adik-adikku. Jadi sebelum
mereka menjadi remaja aku sudah keburu merantau ikut paman sejak SMA.
Jujur saja aku sebenarnya sudah bingung sekali menghadapi ulah Lie
Chun apalagi di tambah pakai acara nangis bombay kayak gini. Mending
nonton film "Salam Bombay" daripada liat orang nangis bombay begini. Di
antara kebingunganku akhirnya kunekatkan untuk membelai rambut Lie Chun
yang kala itu sedang tidak di ikat atau di gulung ke atas seperti
biasanya. Rambut yang halus panjang terurai sebahu ituku belai-belai
dengan lembut. Tercium olehku semerbak harum rambutnya.
"Wahh koq malah jadi kayak begini sih" pikirku menyadari apa yang sedang kuperbuat.
Namun kurasa apa yang kuperbuat belum bisa di kategorikan sebagai
bentuk penyelewangan ataupun ngelaba, karena niatku benar-benar tulus
untuk meredakan tangisnya. Karena meskipun gahar dan macho begini aku
terus terang paling tidak kuat mendengar tangis perempuan. Rasanya
seperti mendengar ibu sendiri yang sedang menangis. Oke lanjut ke
cerita semula.
Ke bagian 4
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,595 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,952 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,678 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,104 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,689 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,201 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,154 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,748 |
|
|
|
|
|
|
|