|
|
Dari bagian 3 Namun tangis Lie Chun tetap keras terdengar sehingga semakin menambah
kepanikan dan kebingunganku saja. Akhirnya sembari membelai lembut
rambut Lie Chun akupun mati-matian menenangkannya. "Lie Chun.. Diam dong.. Kamu koq nangis sih.. Memang ada masalah apa..
Aku terus terang minta maaf kalau seandainya menyakitimu," ujarku
sembari berusaha menenangkannya. Kata-kata itu dan beberapa kata-kata lainnyaku ucapkan berulang kali
agar ia tenang dan mau meredakan tangisnya. Syukurlah perlahan-lahan
tangis Lie Chun pun mereda. Akhirnya ia hanya terisak-isak perlahan
saja dengan wajah yang masih dibenamkan di dalam bantal. Aku hanya diam
sambil terus membelai rambutnya agar ia semakin tenang.
Setelah beberapa menit kemudian, nampaknya Lie Chun sudah bisa
tenang. Hanya sesekali ia sesungukan. Akan tetapi wajahnya masih belum
di angkat. Kupikir ia pasti merasa malu. Namun agar tidak menjatuhkan
mentalnya aku tetap diam duduk di sisi ranjang sembari terus mengelus
rambutnya yang wangi itu.
Cukup lama juga kami dalam posisi seperti itu di mana kami berdua
saling diam-diaman sembari aku tetap mengelus rambutnya dan ia tetap
membenamkan wajahnya di bantal yang sudah basah oleh air matanya.
Sampai akhirnya tangisnya berhenti dan ia perlahan mulai mengangkat
wajahnya.
Saat Lie Chun sudah mulai tenang dan menatap wajahku, kulihat
mukanya yang agak kemerahan karena habis menangis dengan mata masih
berkaca-kaca. Ia menatapku lama sekali dan agak dalam. Terus terang aku
lama-kelamaan menjadi jengah ditatap seperti itu. Agar suasana cair
akupun berusaha mengajaknya berbicara.
"Lie Chun, aku terus terang tidak mengerti atas apa yang baru saja
terjadi, dan aku meminta maaf kalau telah menyebabkan kamu menangis",
ujarku sambil menatapnya lembut.
"Sstt.. Kamu tidak salah Ndy, aku yang salah telah berharap banyak
dari kamu. Semestinya dari pertama aku menyadari tidak akan mungkin
bisa bersaing dengan Hera, karena kulihat tatapan matamu kepadanya
lebih dari sekedar teman biasa", ujar Lie Chun sambil menempelkan jari
telunjuknya ke bibirku.
Lalu tanpaku sadari perlahan Lie Chun mengecup lembut bibirku.
Mendapat perlakuan seperti itu aku awalnya hanya mendiamkan saja karena
kupikir kalau aku langsung melakukan penolakan suasana pasti akan
menjadi lebih buruk lagi. Namun kenyataannya Lie Chun justru seperti
mendapat angin segar, dan ia semakin menjadi-jadi dengan mulai
melakukan "French Kiss" dan mencium wajah serta leherku.
"Ohh Handy, kalau aku tidak bisa memilikimu tolong berikan kepadaku
kesempatan malam ini saja. Tolong jangan kecewakan aku, aku sungguh
sangat mencintaimu", ujar Lie Chun dengan semakin gencar menciumi
diriku dan mulai membuka paksa pakaianku. Aku terus terang mulai terdesak apalagi aku datang ke sana justru
dengan misi damai bukannya dengan maksud untuk melakukan perbuatan
laknat. Aku berusaha mendorong dirinya agar menjauhiku.
"Stop Lie Chun, tolong jangan paksa aku. Aku masih mencintai Hera.
Tolong jangan kau rusak hubungan kami berdua" ujarku sambil bangkit
dari ranjang dan menjauhinya.
"Handy, please.. Jangan begitu. Aku tidak bermaksud merusak
hubungan kalian berdua, tapi please berikan kepadaku kesempatan sekali
saja untuk bisa mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu dan sulit bagiku
untuk melupakanmu. Tolonglah Han, sekali saja malam ini. Aku janji
tidak akan menceritakan apa yang terjadi malam ini kepada siapapun",
ujar Lie Chun sambil menatap dengan tatapan memelas ke arahku. Sebetulnya Lie Chun tidaklah jelek, bahkan untuk ukuran cewek dari
Jakarta dia masih sangat cantik. Menurutku wajahnya lebih mirip
perpaduan bintang film Hongkong dengan bintang film Jepang sehingga
sangatlah menarik jika menatapku dengan wajah memelas begitu. Mungkin
seperti perpaduan Vivian Chow dengan Madoka Ozawa barangkali. Namun
tatapan memelas yang jelas-jelas dengan tujuan sex seperti ini
menurutku harus dihindari karena selain aku tidak yakin mampu bertahan
terhadap godaan yang ada, juga karena tidak sesuai dengan tujuanku
kemari. Oleh karena itu aku merapatkan tubuh ke arah pintu masuk dengan
tujuan untuk menghindari hal-hal tidak terduga.
Namun Lie Chun bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah. Ia justru
menyeringai tajam dan menatapku dalam-dalam sambil berkata, "Handy,
kalau kamu tidak bersedia menemaniku malam ini aku akan berteriak bahwa
kamu mencoba memperkosaku, apalagi kamu ada di dalam kamarku bukan?"
Terus terang aku agak panik dalam menghadapi serangan seperti ini. Namun aku berusaha tetap tenang.
"Lie Chun, apakah kamu tega berbuat seperti itu? Kalau kamu memang
sungguh mencintaiku, kamu akan membiarkanku pulang dan merestui
hubungan kami berdua. Bukankah cinta sejati adalah cinta yang mampu
memberikan kebahagiaan kepada orang yang dicintainya?" ujarku setengah
berfilsafat setengah memberikan nasehat.
"Persetan kamu Ndy!!", ujar Lie Chun setengah berteriak, "Kamu
jangan munafik. Aku tahu kamu bukan lelaki alim. Kamu kira aku tidak
tahu lelaki macam apa kamu, berani-beraninya menasehatiku seperti
itu!!" Sambil berkata begitu Lie Chun nekat membuka bajunya, dan ternyata di
balik kimono yang di kenakannya ia tidak mengenakan apa-apa lagi.
Terlihat jelas bentuk tubuhnya yang indah dengan kulitnya yang putih
susu khas wanita tionghoa.
Sejenak aku terlongo mendapat pemandangan indah dan gratis seperti
itu. Well harusku akui naluriku sebagai lelaki tidak dapat dikelabui
bahwa aku sebenarnya agak terangsang juga, namun aku tetap bersikukuh
untuk tidak melakukan affair dengannya. Lie Chun lalu dengan cepat
mendekatiku dan menempelkan tubuhnya yang wangi dan tanpa busana itu ke
arahku.
"Handy sayang, tolonglah Han, aku ingin malam ini menjadi malam
yang terindah bagiku. Biarlah selanjutnya aku menderita dan merana
karena tidak bisa memilikimu, namun bahagiakanlah aku malam ini Han",
ujar Lie Chun sembari tubuhnya menempel di busanaku dan tangannya sibuk
bergerak mengelus-elus selangkanganku, tepatnya di atas permukaan
celana tempat batanganku tersimpan.
Terus terang logikaku mulai agak kacau. Nafasku pun mulai memburu.
Tapi aku berusaha tetap tenang walaupun mendapat serangan-serangan
semacam itu, walaupun harus diakui wangi rambut dan tubuh Lie Chun
mulai membutakan mata hatiku. Sembari tanganku kiriku mencari-cari
pegangan pintu agar dapat segera kabur tangan kananku sibuk menahan
tubuh Lie Chun yang semakin mendesakku ke pintu kamar.
"Lie Chun, tolong.. Jangan Lie, aku khan pacar sahabatmu", ujarku menenangkannya.
"Tidak Ndy, aku tidak peduli. Aku ingin malam ini bersama denganmu,
dan kamu jangan coba-coba kabur!" ancam Lie Chun sambil merangkul
leherku dan memepetkan tubuh kami berdua ke dinding pintu kamar.
Hal ini tentu saja menyulitkan diriku untuk segera kabur. Namun
puji syukur aku segera menemukan gagang pintu yang aku cari. Segera aku
putar dan aku langsung memutar badan sekaligus melepaskan diri dari
rangkulan Lie Chun. Namun ia masih sempat memegang bajuku. Untung
bagiku dan sial baginya karena pintu kamar yang di buka ke arah dalam
membentur jidatnya sampai ia mengaduh keras sehingga langkahnya
tertahan dan aku dapat segera kabur. Untuk menghindari hal-hal lebih
parah lagi, aku langsung loncat dari tengah tangga ke bawah setelah
sebelumnya melompati setiap dua anak tangga sekaligus. Untunglah ilmu
bela diri yang kupelajari dari salah seorang pimpinan agama di desa
kelahiranku banyak membantu dalam situasi seperti ini sehingga aku
dapat mendarat di lantai bawah tanpa cidera. Begitupula di depan pintu depan langsung aku buka dan segera kabur
semberi menutupnya dengan agak membanting, lalu sembari merapal ajian
ringan tubuh aku melompat salto melewati pagar depan dan mendarat tepat
di samping kanan Mercy Sport Brabus S73 CL600 milik pamanku. Seandainya
ada yang melihat pasti aku langsung diteriaki maling tanpa tanya
terlebih dahulu, apalagi gayaku melompat tadi mirip seperti ninja di
film-film laga. Syukurlah malam itu angin sangat kencang dan gerimis
rintik-rintik di sertai halilintar menyebabkan daerah sekitar lokasi
tersebut sangat sepi. Tanpa banyak cincong aku langsung memutar badan
dan membuka alarm pintu dan masuk ke dalam. Segera kunyalakan mesin dan
langsung terdengar deruman penuh tenaga akibat aku menggasnya agak
dalam dan sembari diiringi suara decitan panjang aku langsung ngebut
melaju membelah malam.
Terus terang hatiku masih agak berdebar. Selain karena memang
jantung dan nafasku yang memang ngos-ngosan karena habis melakukan
aktifitas gila-gilaan seperti itu, juga karena aku sama sekali tidak
menyangka bahwa Lie Chun bisa segila itu. Aku lalu mencoba menyusun
kronologi jalan cerita yang tidak terlalu heboh agar sekiranya esok
Hera meminta kabar dariku ia tidak begitu syok mendengarnya. Lalu
sambil memperlambat laju kendaraan aku masuk ke arah tempat tinggal
pamanku yang terletak di pinggiran kota Bandung. Setiba di rumah pamanku aku segera masuk kamar dan tidur sembari
berharap semoga dapat melupakan peristiwa heboh yang baru saja terjadi.
Untung saja beliau sudah tidur kalau tidak aku harus menjelaskan
kepergianku "mengisi bensin" yang lumayan lama itu.
Ke bagian 5
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,595 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,952 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,678 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,104 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,689 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,201 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,748 |
|
|
|
|
|
|
|