|
|
Dari bagian 4 Keesokan paginya aku bangun agak telat, mungkin karena masih syok. Lalu
aku segera mandi tanpa sarapan terlebih dahulu karena memang hari sudah
agak siang. Kupikir lebih baik makan di kampus saja tokh kalau tidak
ada dosen aku bisa makan pagi di kantin. Sampai di kampus, aku segera
masuk mengikuti kuliah Matematika IV yang merupakan salah satu mata
kuliah utama di Fakultas Arsitektur. Sambil mencatat segala jenis teori
matematika tersebut pikiranku melayang sejenak pada kejadian semalam. Hmm.. Apakah kejadian tersebut pantasku ceritakan selengkapnya pada
Hera atau tidak, karena menurutku meskipun aku tidak melakukan
perbuatan apapun pada Lie Chun namun sedikit banyak itu bisa membuat
gadis seperti Hera mengalami syok. Akhirnya kuputuskan siang nanti
untuk menemui Hera sambil menceritakan garis besarnya saja kupikir tokh
sepanjang Hera tidak menanyakan detilnya ia pasti masih bisa terima
sikap Lie Chun.
Tak terasa dua setengah jam kuliah matematika yang menjemukan itu
berakhir juga. Akhirnya aku keluar sembari melihat keadaan sekitar
mencari keberadaan Hera yang kemarin sore telah berjanji untuk
menemuiku. Karena sampai sekitar setengah jam belum ada juga akhirnya
kuputuskan untuk mencarinya di kantin utama kampusku. Namun anehnya di
sana sosok Hera tidak juga bisa kujumpai. Akhirnya aku memutuskan untuk
pergi ke perpustakaan untuk mencarinya karena Hera biasanya sering
pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan kuliah ataupun sekedar
meminjam novel-novel favoritnya. Nyaris lima belas menit aku mencari keberadaan dirinya di dalam
perpustakaan tersebut namun anehnya aku tetap tidak berjumpa juga.
Akhirnya aku keluar dari perpustakaan dengan langkah gontai. Pikirku
ada apa pula begitu sulit bagiku untuk bertemu dengannya. Apakah karena
tadi malam aku tidak segera melaporkan misiku. Namun saat hendak keluar
dari gerbang kampus aku bertemu dengan Meme (Mei-Mei) salah seorang
mahasiswi FISIP teman kuliah Hera. Ketika kutanyakan pada Meme ia hanya
menyatakan bahwa tadi seusai kuliah Antropologi, Hera langsung pulang
bersama dengan Lie Chun, setelah saat keluar dari ruang kuliah ia
ditemui oleh Lie Chun. Tentu saja mendengar hal itu aku sangatlah
keheranan.
"Koq bisa-bisanya hal itu terjadi dan mengapa pula ia mau pulang bersama dengan perempuan binal itu?" pikirku.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi menyusul ke kediaman Hera. Selain
untuk mengetahui apa sebenarnya yang tengah terjadi juga untuk
menjelaskan pada Hera mengenai peristiwa semalam. Setiba di tempat Hera
kulihat keadaan di luar sepi. Saat kupencet bel akhirnya keluar Surti
yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu di rumah tantenya Hera.
"Ehh.. Mas Handy, ayo masuk. Nak Hera ada di dalam tuh sama
temannya. Masuk aja Mas", ujarnya mempersilakan diriku untuk masuk.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam saja, karena tokh pembantu
tantenya Hera mempersilakan diriku untuk langsung saja ke dalam.
Setiba di dalam, aku tertegun saat menyaksikan Hera dan Lie Chun
sedang berbicara serius sambil.. Astaga memegang sapu tanganku. Ya
Tuhan ternyata semalam sapu tanganku tertinggal saat menghapus air mata
Lie Chun. Betapa bodohnya aku. Bisa saja dengan benda itu ia bercerita
macam-macam. Dan apa yang kutakutkan ternyata benar-benar terjadi, saat
menyadari kedatanganku mereka berdua menatapku. Lie Chun terlihat agak
sedikit kaget namun yang membuat tubuhku sejenak terasa dingin adalah
tatapan Hera. Ya ia menatapku sangat tajam dan dingin seolah menyimpan
dendam padaku.
"Hera.. Aku.." belum selesai aku berkata-kata, Hera sudah menyela perkataanku sambil menatap tajam dan bersuara dingin.
"Handy, tidak kusangka engkau benar-benar lelaki bajingan,
tega-teganya kau berniat memperkosa sahabatku sendiri. Kau benar-benar
lelaki brengsek, mencoba membius temanku dengan sapu tanganmu ini. Kau
kira aku tidak tahu ini milik siapa?!!" Terus terang aku terkejut. Namun aku mencoba membela diri.
"Dengar Hera, beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Aku tidak membius.."
Belum pula aku selesai berbicara kembali Hera memutus perkataanku.
"Jangan berdusta Handy.. Cukup sudah aku kau bohongi, kau kira ini bau
apaan hah!!" sambil berkata demikian Hera melempar sapu tanganku ke
wajahku. Sesaat tercium bau Khlorofom yang sangat keras pada sapu tanganku.
Astaga.. Darimana bau ini berasal? Seingatku semalam aku tidak menaruh
apa-apa pada sapu tangan itu lantas bagaimana bisa begini, hmm..
Pastilah ini perbuatan keji Lie Chun pikirku.
"Demi Tuhan, Hera, aku tidak menaruh apa-apa pada sapu tangan ini lagipula aku.."
"Sudah, aku tidak mau lagi mendengar apapun alasanmu, sebaiknya kau
segera pergi sebelum aku berteriak," nada suara Hera terdengar sangat
emosional saat mengusir diriku. Akhirnya aku melangkah pergi dengan lemas namun sebelum aku memutar
badan sempat kulihat tatapan dan senyuman sinis dari Lie Chun dan terus
terang aku agak ngeri melihat sinar matanya yang terlihat sangat jahat
itu. Namun aku berfikir untuk mengalah karena tokh tidak ada gunanya
berdebat dengan wanita, lebih baik menunggu suasana cooling down dulu.
(sorry loh ya buat yang wanita).
Waktu: Pukul 14.30 Siang, sepeninggal diriku
Lokasi: Kediaman tantenya Hera
"Sudahlah Hera, tidak perlu menangis. Aku mengerti ini pertama
kalinya engkau pacaran lagi. Kadang kita bisa saja salah menilai orang
apalagi setelah lama tidak berpacaran," ujar Lie Chun sambil mengelus
rambut Hera yang menangis di pangkuannya.
"Tapi aku terus terang tidak menyangka ia bisa begitu. Sungguh aku
tidak mengira ia jahanam yang tega berbuat itu terhadap temanku
sendiri, padahal dulu aku begitu kagum atas sikap coolnya dan okhh..
Aku benci sekali Lie.. Benci..," tangis Hera semakin hebat.
"Udah dong Hera.. Masa nangis terus sih.. Makanya dari dulu khan
aku bilang jangan pacaran sama cowok Tiko, kamu sih.. Khan masih banyak
cowok tajir dan keren di Jakarta, masa sama cowok gembel kayak githu
kamu mau aja sichh.." ujar Lie Chun sambil tangannya mengusap-usap
punggung dan rambut Hera. Akhirnya tangis Hera mulai mereda.
"Iya ya Lie, barangkali aku sebaiknya nurut saja sama papaku, aku menyesal Lie tertipu olehnya"
"Nahh githu dong, udah deh nanti aku carikan cowok yang lain ya?" ujar Lie Chun sambil memeluk Hera.
Sepulang dari tempat Hera hati dan pikiranku terasa sangat suntuk. Mau
belajar susah, mau makan susah, bahkan mau bermasturbasi pun tidak
bisa. Begitulah nasib orang yang sedang patah hati. Serba salah. Namun
aku bertekad untuk memperjuangkan cinta Hera. Bukan kenapa, tapi bagiku
Hera adalah wanita yang mampu mengisi hari-hariku dengan penuh gelora
dan semangat. Mungkin hanya Hera lah wanita yang mampu mengisi segala
anganku tentang wanita ideal, terlebih ia adalah tipe wanita dengan
pribadi yang ideal.
Namun rupanya Dewi Fortuna (bukan Fortuna Anwar loh) sedang
berpihak kepadaku. Kebetulan sebulan semenjak kejadian itu kampusku
mengadakan graduation night yang merupakan malam perpisahan dengan para
wisudawan yang biasa acaranya di isi oleh para adik-adik kelas untuk
menghibur para lulusan yang baru saja meraih gelar kesarjanaannya.
Memang bisa dikatakan inilah kesempatanku untuk meraih kembali cinta
Hera yang hilang karena sudah sebulan lamanya Hera selalu saja menolak
telefon dariku, bahkan cenderung menghindar berpapasan denganku. Bahkan
jika berpapasan saja ia selalu bersikap seolah-olah tidak melihat
kehadiranku. Hal ini tentu saja membuatku dongkol. Tapi apa mau dikata,
memang begitulah yang aku alami. Namun bukan cowok Flores namanya jika belum apa-apa kita sudah
menyerah, apalagi dari pihak ayahku aku masih memiliki sedikit campuran
darah batak (nenekku batak sedangkan ayah Flores campur Irian dan ibu
berdarah Timor campur Portugal). Jadi aku berusaha memanfaatkan
kesempatan ini sebaik-baiknya, apalagi aku tahu bahwa Hera tergolong
senang dengan berbagai acara kegiatan kampus. Mungkin karena anak
perantauan dan jauh dari keluarga sehingga daripada tidak ada kesibukan
lebih baik ikut kegiatan kampus yang positif.
Kenyataan memang sesuai dengan harapanku. Malam itu sehabis aku
membacakan kata sambutan pihak senat aku melihat Hera sedang berada di
pojokan belakang kampus, duduk bersama dengan Lie Chun. Saat turun dari
podium aku berjalan memutar bagian dalam lorong koridior auditorium dan
menuju ke arah belakang tempat Hera sedang duduk mengamati acara
bersama dengan Lie Chun. Namun untungnya tiba-tiba kulihat diam-diam
dari balik celah-celah koridor ternyata Lie Chun pergi meninggalkan
Hera, mungkin ke toilet, entahlah aku tidak tahu. Yang aku tahu bahwa
aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Perlahan aku pergi
menghampiri dirinya.
"Hera, apa khabar?" sahutku agak sedikit dekat di belakangnya.
Kulihat ekspresi Hera tetap tenang melihat acara pagelaran paduan
suara kampus kami yang terkenal karena selalu menang di berbagai
kejuaraan di luar negeri. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Hera agak
sedikit tegang, terlihat dari leher dan bahunya sedikit mengejang
walaupun ia tetap cuek melihat acara yang tengah berlangsung. Terus
terang lidahku terasa agak kelu untuk menyapanya karena kami sudah lama
tidak berkomunikasi. Bukan karena tidak sempat namun karena Hera selalu
menolak untuk berkomunikasi denganku. Ke bagian 6
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,595 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,952 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,678 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,104 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,689 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,201 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,748 |
|
|
|
|
|
|
|