|
|
Dari bagian 5 Namun aku tetap nekad. Biar bagaimanapun aku harus bisa meraih kembali cinta kami yang terputus oleh ulah Lie Chun.
"Ra, maafkan aku kalau aku telah menyakiti hatimu, tapi aku sungguh
tidak pernah ada maksud apalagi sampai berbuat yang menyakiti hatimu.
Terus terang ini hanya salah paham belaka. Tolong berikan aku
kesempatan untuk menjelaskannya. Biar bagaimanapun aku ingin masalah
ini jelas, Hera. Terserah bagaimana keputusanmu nanti, tapi berikanlah
aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepada dirimu," sahutku
panjang lebar sambil agak panas dingin menunggu reaksinya.
Lama diam tidak ada suara di antara kami berdua, akhirnya setelah
sekian lama menunggu akhirnya Hera terdengar bergumam tanpa menoleh ke
belakang, "Tunggu aku di Taman "S" Minggu Pagi besok," lalu ia bergegas
bangkit dan pergi meninggalkan diriku yang masih terbengong-bengong.
Namun sejenak aku sadar bahwa aku masih memiliki kesempatan. Lantas,
tanpa menunggu acara selesai aku pun bergegas pulang. Yang ada di
benakku adalah secercah harap dan rencana untuk menyusun rencana sebaik
mungkin agar dapat menjumpai Hera dan bertemu dengannya.
Pagi itu suasana Taman S yang sejuk dan asri karena dikelilingi
pemukiman mewah agak sedikit ramai. Mungkin berhubung hari minggu pagi
jadi dimanfaatkan oleh warga sekitar maupun penduduk dari daerah lain
untuk berolah raga sekaligus berekreasi. Aku sengaja menunggu dengan
pakaian yang biasa kukenakan yakni celana Jeans dan kaos Polo berkerah.
Itu memang pakaian favorit yang selalu kukenakan dipadu dengan sepatu
kets berkulit hitam (Adidas Stansmith), jadi tetap resmi untuk dipakai
ke gereja namun nyaman untuk berjalan-jalan sepulang dari sana.
Biasanya Hera mengimbangi dengan juga berpakaian celana Jeans namun
dipadu dengan kemeja bermotif lengan pendek. Namun entahlah apakah Hera
kali ini akan mengenakan pakaian yang sama dengan yang kukenakan atau
tidak, aku tidak tahu. Namun yang jelas jika ia datang dengan
mengenakan pakaian kebangsaan kami berdua berarti aku punya harapan
positif. Namun bukan berarti jika ia berpakaian beda berarti aku tidak
punya peluang.
Lama aku menunggu di bangku taman yang berada di pinggir kolam
besar di tengah taman. Terus terang agak gelisah juga, apalagi hari
minggu itu banyak pasangan muda-mudi yang saling bermesraan membuat
orang yang lagi patah hati jadi merasa sirik. Sedang asik-asiknya
menunggu dan melihat bebek-bebek yang berenang di tengah kolam,
akhirnya aku mendengar suara lembut yang telah lama kunantikan.
"Handy.."
Lantas aku menoleh ke belakang. Ternyata aku lihat Hera sedang
berdiri di belakangku dengan gaun putih yang indah seperti yang
dikenakan pada malam Valentine beberapa waktu yang lalu.
"Ahh, betapa cantiknya dia," gumamku dalam hati.
Di sinilah baru terlihat bahwa Hera benar-benar cantik seperti
bidadari, apalagi dia juga mengenakan sepatu putih seperti sepatunya
cinderella. Benar-benar wanita impian. Namun yang membuatku benar-benar
kagum adalah Hera tidak seperti biasanya. Jika tidak berdandan kali ini
ia memakai lipstik merah dengan sapuan tipis ditambah sapuan bedak yang
sangat tipis dan halus, sehingga memancarkan aura kecantikannya yang
tiada tara. Rasanya semua model-model bugil Jepang maupun Korea dan
Chinese dari halaman website yang sering kukunjungi tidak ada satupun
yang secantik dia.
Lama aku terbengong-bengong menatap kecantikan Hera sampai akhirnya
aku dikejutkan oleh dehemannya. Wajahku langsung terasa panas, mungkin
sudah terlihat memerah kali ya? Akhirnya aku memberanikan diri untuk
berbicara dengannya.
"Duduklah dulu di sini Hera, ada yang inginku bicarakan dengan mu,"
ujarku sambil memutar posisi duduk sehingga jadi berhadapan dengannya. Akhirnya Hera melangkah dengan anggun dan duduk di sisiku. Lama kami terdiam sejenak lalu aku membuka pembicaraan.
"Hera, sebenarnya aku ingin menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi
pada malam itu. Tapi apakah kamu mau mendengarkan alasanku atau tidak,
itu tergantung dari dirimu. Jika tidak, aku tidak akan menjelaskannya
karena pasti apapun alasanku kau tidak akan menerima. Sekarang maukah
kamu mendengarkan alasanku?"
Lama suasana hening, hanya terdengar sayup-sayup suara canda tawa
muda-mudi yang sedang asyik memadu kasih, sampai akhirnya terdengar
suara dari Hera, "Handy, bukankah aku sudah ada di sini? Tunggu
apalagi? Jika aku tidak ingin mendengarkan alasanmu, untuk apa aku
datang ke sini."
Sejenak aku tergagap, namun aku mampu menguasai diri, dan mulailah
mengalir kisah kejadian yang sebenarnya dari mulai malam itu hingga
keesokan harinya, di mana pada akhirnya Lie Chun berhasil menghasut
Hera. Sepanjang cerita Hera hanya terdiam saja, namun dengan serius
memperhatikan penjelasan dari diriku. Akhirnya cerita itupun berakhir,
dan Hera hanya menatapku lama sekali. Lantas..
"Handy, maafkan aku. Terus terang akupun sudah sempat salah menilai
dirimu. Biar bagaimanapun aku juga ikut khilaf. Aku ikut terbawa emosi
dan aku terlalu percaya kepada Lie Chun. Memang ia sahabat baikku
ketika kami sekolah dulu, tapi terus terang aku tidak menyangka kalau
ia akan tega berbuat hal itu terhadap dirimu maupun diriku untuk
memisahkan cinta kita berdua." Lantas suasana kembali hening namun dari sudut-sudut mata Hera tampak
mengalir air mata. Akupun tanpa disuruh dua kali lantas segera
merangkul dirinya dan membelai rambutnya. Lama kami saling berangkulan
tanpa kata-kata hingga akhirnya..
"Handy, kupikir lebih baik kita melupakan apa yang telah terjadi.
Aku menyesal telah khilaf menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku jika
telah menyakiti hatimu. Terus terang aku tidak menyangka bahwa Lie Chun
yang telah lama menjadi sahabatku sejak di bangku sekolah dulu telah
tega merusak hubungan kita," ujar Hera dengan mata masih basah. Aku pun berkata, "Sudahlah Hera. Yang sudah terjadi biarkanlah terjadi.
Yang penting ini menjadi pelajaran bagi kita berdua agar tidak mudah
mempercayai suatu berita tanpa disertai fakta yang kuat. Lagipula aku
sendiri kan masih terhitung orang baru dalam hidupmu. Jadi sudah
sewajarnya jika engkau lebih mempercayai Lie Chun." Aku mengatakan itu dengan nada sedikit di wibawa-wibawakan karena
kupikir kapan lagi menumbuhkan rasa cintanya agar semakin dalam
menyayangiku. Bukankah begitu pembaca?
Akhirnya kami berjalan pulang dari taman itu, dengan tangan saling
berpegangan layaknya orang yang baru jadian. Tapi begitulah memang
cinta, penuh dengan suka duka dan jatuh bangun. Namun belum lama kami
berjalan mendadak terdengar suara ban berdecit dan raungan keras suara
mesin mobil. Dan tiba-tiba di hadapan kami tepat di pinggir taman
tersebut berhenti sebuah mobil sedan Great Corolla merah berplat nomor
daerah kami. Lantas mendadak dari dalamnya turun Lie Chun. Astaga, terus terang aku
tidak pernah menyangka akan bertemu Lie Chun dalam keadaan seperti itu.
Raut mukanya terlihat aneh dan matanya menatap nanar ke arah kami.
Lantas mendadak terdengar suaranya sangat keras.
"Handy! Hera! Ternyata kalian semua pengkhianat. Kalian cuman bisa
menyakiti hatiku saja! Rasakan pembalasanku!" sambil berkata demikian
Lie Chun mengambil sesuatu dari tas kecilnya yang sedari tadi
ditentengnya. Lantas jelaslah semuanya bagiku. Ternyata Lie Chun
membawa sebuah pistol genggam semiotomatik. Mungkin dari tipe FN45 dan
segera membidikannya ke arah kami berdua.
"Lie Chun, tunggu dulu..!" seru Hera.
Namun terlambat, kekasihku itu tidak memperhitungkan kenekatan
temannya tersebut. Aku pun tidak sempat merapal ajian Tudung Dewa yang
bisa dipergunakan untuk melindungi diriku maupun Hera. Yang terjadi
hanyalah suara letupan halus dari pistol Lie Chun yang dilengkapi
dengan perendam suara dan erangan suara Hera yang tertahan. Selanjutnya
segalanya berlalu begitu cepat, aku secara refleks segera berkelit dan
melancarkan jurus aikidoku untuk memiting dan mengunci Lie Chun,
sehingga ia tidak sempat lagi untuk mengarahkan senjatanya kepadaku.
Dan untunglah orang-orang di sekitar taman bergerak menghampiriku dan
membantuku membekuk Lie Chun. Namun kulihat Hera nampak mengerang tak
berdaya.
"Handy.. Ohh, tolong aku," ujar Hera dengan suara yang sangat lemah.
"Hera, tenanglah sayang. Sebentar lagi ambulans akan datang."
"Sshh, sudahlah Han. Aku merasa waktuku sudah dekat. Berjanjilah
padaku sayang. Berjanjilah, bahwa engkau mau mengampuni Lie Chun dan
menikahinya. Aku merelakan ia untukmu," ujar Hera dengan nafas
tersengal-sengal.
"Tapi.. Hera, aku tidak mencintainya," sahutku ragu.
"Tidak. Berjanjilah padaku Handy. Berjanjilah, agar aku bisa meninggal dengan tenang,"
Suara Hera semakin lama semakin lemah dan parau, sementara darah semakin mengental di perutnya dan di pangkuanku.
"Baiklah Hera.." sahutku lemah.
"Terima kasih Han. Kamu memang kekasihku yang paling baik dalam
hidupku. Ya Bapa Ke Dalam Tangan Muku serahkan Jiwaku," ujar Hera
terbata-bata dan terdengar sangat lamat-lamat. Akhirnya Hera menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku, dalam
dekapanku, dengan penuh berlumuran darah. Aku yang biasanya begitu
tegar saat itu terasa sangat rapuh dan air mataku jatuh satu persatu di
atas wajah Hera yang tersenyum manis.
Penutup:
Tanah kuburan itu masih basah sehabis hujan di Minggu Pagi Paskah.
Cindy anakku meletakkan karangan bunganya di atas tanah kuburan Hera.
Sementara Lie Chun melihat dari kejauhan sambil bersender di sisi mobil
kami.
"Pa, tante Hera dulu pasti teman baik Papa dan mama. Kelihatannya
Papa dan mama tiap paskah selalu rajin mengunjungi kuburannya," ujar
anakku dengan lancar. Maklum ia sudah kelas 6 SD.
"Tentu ia orangnya sangat baik ya Pa?" ujarnya lagi menambahkan.
Sementara aku hanya bisa membelai rambutnya dan menghela nafas perlahan, "Ya sayang, ia memang sangat baik."
Lantas kami berjalan menuju Lie Chun dan masuk ke dalam mobil.
E N D
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,595 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,952 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,678 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,104 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,689 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,201 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,748 |
|
|
|
|
|
|
|