|
|
Dari bagian 1 First Contact, Akhir November 2002 Suatu sore seperti biasanya aku main ke kamar kerja Direktur Keuangan
dan Akunting yang merupakan salah satu orang asal Indonesia yang
bersama-sama kerja dengan ku di perusahaan yang sama. Pembicaraan
awalnya biasa-biasa saja hanya seputar masalah keuangan perusahaan,
produksi dan lain sebagainya. Mendadak mataku tertumbuk pada salah satu
form kartu kredit milik bank asing terkemuka di dunia, yang nampaknya
masih kosong tergeletak di meja kerjanya.
"Ini apaan Jack?" ujarku.
"Form apply credit card" ujarnya kalem.
"Oh, dapat dari mana? Bagi dong, susah nggak bikinnya" sahutku memberondong dengan banyak pertanyaan.
"Hahaha, ya minta aja di bikinin sama staff ku, ada tuh satu yang nawar-nawarin aplikasinya" ujarnya.
Lalu ia memanggil via interphone telepon internal ke departementnya
lalu datanglah salah satu staff accounting yang baru, sebentar kemudian
gadis itu sudah sibuk menerangkan segala macam syarat-syarat aplikasi
dan juga benefit dari masing-masing jenis kartu yang ada. Aku hanya
mengangguk-angguk lalu memilih jenis Gold Visa. Tidak berapa lama kawan
ku si Jack sudah memanggil salah satu staff nya lagi untuk membuatkan
surat keterangan gaji bagi diriku sebagai salah satu syarat pendaftaran
kartu kredit tersebut.
Keesokan harinya aku menemui staff kawan ku dan menyerahkan form
aplikasi yang telah ku isi lengkap beserta sejumlah fotokopi
persyaratan dari mulai passport, working permit, fotokopi rekening bank
dan lain sebagainya. Lalu gadis itu menjanjikan dalam waktu yang tidak
terlalu lama akan segera kuterima jawabannya dari Bank yang
bersangkutan.
Awal-Pertengahan Desember 2002 Aku kembali ke bagian accounting menemui gadis tersebut, karena
sudah cukup lama menunggu lebih dari dua minggu tapi masih belum ada
jawaban resmi dari Bank yang bersangkutan, padahal dengan bantuan kawan
ku si Jack, ia sudah merekomendasikan diri ku di surat keterangan gaji
dengan posisi sebagai Direktur Produksi dengan standard gaji yang di
lebih-lebihkan sedikit. Gadis itu berjanji akan menanyakan lagi ke Bank
tersebut karena yang punya hubungan dengan Bank tersebut adalah
kakaknya bukan dirinya.
Seminggu kemudian, di suatu sore menjelang malam, aku turun dari
mobil milik Direktur Produksi di tempat ku, sehabis menghadiri acara
farewell party salah seorang Marketing Manager dari klien kami yang
rencananya akan di mutasikan ke pabrik lain yang juga merupakan mitra
kerja klien kami. Sore itu suasana sangat mendung dan hujan turun
rintik-rintik, aku berlari-lari kecil ke arah parkiran mobilku dan
masuk ke dalam.
Kepala ku sebenarnya masih agak pusing akibat mabok meminum arak
Korea berusia 100 tahun, tapi handphone motorola ku yang baru saja
kubeli dari Indonesia ketika pulang cuti terus-menerus bergetar di
kantong celana ku. Saat kulihat nampak nomer handphone bukan nomer
fixed line lalu kuangkat dan terdengar suara wanita yang sangat ramah
dan lembut, wanita itu dalam bahasa Inggris bercampur aduk dengan
bahasa Thai mengabarkan bahwa aplikasi kartu kredit ku pada prinsipnya
sudah di setujui oleh Bank tersebut, hanya saja masih ada yang kurang
yakni tagihan telepon pribadi ku, karena statusku sebagai expatriate
tanpa tempat tinggal tetap/pribadi menyulitkan Bank untuk mendapatkan
quarantee alamatku ataupun ke mana harus menyelesaikan masalah jika
terjadi tunggakan pembayaran. Untung saja aku memiliki satu nomer GSM berlangganan atas nama pribadi
ku, sehingga yang perlu kulakukan adalah cukup mengirimkan fax tagihan
telepon selular ku ke Bank. Lalu ia pun memberikan nomer fax ke mana
aku harus mengirimkan fax yang bersangkutan.
Tiga hari kemudian aku mendapatkan telepon yang sama, menanyakan
masalah fax tagihan telepon genggam ku karena wanita tersebut belum
menerima sama sekali, aku saat itu meminta maaf karena lupa nomer fax
yang ia berikan, lalu ia memberikan sekali lagi dan saat itu juga aku
segera mengirimkan fax tagihan bulanan handphone karena khawatir lupa
kembali. Lalu beberapa hari kemudian seorang wanita dari bagian credit
approval menelfonku lewat nomer telepon bank mengabarkan bahwa
permohonan kartu kreditku telah disetujui oleh bank dan akan segera
diberikan ke alamatku.
Dua hari kemudian (menjelang akhir tahun 2002) aku menerima kiriman
kartu kredit gold visa dari Bank idamanku walaupun saat itu belum
menerima pin numbernya sehingga aku belum berani menggunakannya namun
tepat sehari menjelang akhir tahun aku menerima kiriman pin number
kartu kreditku sehingga dapat kupergunakan untuk merayakan libur akhir
tahun di Jakarta.
Love at First Sight, Awal January 2003 Penerbangan kembali ke Bkk dengan pesawat TG 433 di hari Minggu
tanggal 5 January terasa membosankan terutama karena merupakan
penerbangan nonstop selama tiga jam lebih. Begitu usai check baggage
dan keluar dari pintu bea cukai aku bergegas mencari supir kantor yang
telah menunggu di pintu keluar. Bergegas kumasukan barang-barang ke
dalam VW Caravelle milik pemegang saham dan mobil pun keluar dari
airport menuju kediamanku di Bangna.
Jum'at 10 January 2003 Minggu-minggu pertama kembali masuk kerja setelah seminggu penuh
mengambil cuti terasa sangat menjemukan mungkin ini penyakit awam bagi
para pekerja kantoran apalagi suasana masih diliputi oleh berbagai
perayaan tahun baru, baik di lingkungan condominium maupun lingkungan
kerja.
Namun ada satu hal yang terasa sangat mengganggu konsentrasi
kerjaku sejak sebelum tahun baru kemarin, suara ramah dan lemah lembut
yang menelefon ku di kala hujan tahun kemarin masih saja
terngiang-ngiang di telingaku. Ku timang-timang HP Motorola T720 ku,
kulihat di list memory received call, masih tertera di sana nomer HP
marketing Bank tersebut, aku ragu bagaimana harus memulai
pembicaraannya, bagaimana caranya agar aku bisa mengenal dia, bagaimana
agar aku tidak malu ataupun kehilangan muka di hadapan dia, bagaimana
agar ia tidak curiga dengan keinginanku untuk mengenalnya lebih lanjut.
Akhirnya muncul ide konyol dipikiran ku, perlahan kutulis di SMS HP
dalam bahasa Inggris yang sangat simple karena perkiraanku ia tidak
begitu mahir berbahasa Inggris seperti umumnya wanita Thailand yang
bersekolah di dalam negeri. Dalam SMS yang kutulis kuucapkan terima
kasih atas bantuannya sehingga aku bisa menerima kartu kredit tersebut.
Lalu sambil panas dingin aku menunggu sesorean itu reaksi yang akan
muncul, namun hingga sore hari bahkan malamnya tidak ada panggilan
masuk ataupun SMS balasan darinya.
Sabtu 11 January 2003 Sabtu sore hari, menjelang jam tiga sore tatkala export
barang-barang sudah hampir selesai, dan lot terakhir shipment sedang
masuk ke dalam container mendadak HP ku bergetar, sambil waswas kulihat
di layar kaca HP ku, ternyata berasal dari nomer yang kemarin kukirim
SMS, terdengar suara lembut itu menyapa ku dan menanyakan bagaimana
kabar ku, aku pun menjawab baik-baik saja dan mengucapkan terima kasih
bahwa kartu kredit sudah aku terima dan aku pergunakan selama liburan
di Jakarta. Sambil basa-basi aku menanyakan bagaimana kabarnya dan hal-hal lainnya
lalu pembicaraan mengalir lancar, dari sana aku tahu namanya (tapi saat
itu ia hanya memberitahu nama semasa kecilnya belum nama lengkapnya)
dan ia saat itu sedang berada di salah satu lobby cafe terkemuka
menikmati sore hari seorang diri begitu katanya. Lalu saat kurasakan
pembicaraan mulai melambat aku perlahan nekad mengajaknya untuk sekedar
lunch sebagai tanda terima kasihku atas bantuannya, tanganku terasa
dingin dan hatiku deg-degan biar bagaimanapun aku tetap takut di tolak
karena ini adalah pengalaman pertamaku nekad mengajak kencan seorang
wanita di jumpa pertama ini pun bahkan belum pernah bertemu muka hanya
sebatas lewat telepon.
Awalnya ia hanya terdiam sejenak, lalu beberapa saat ia menjawab
bagaimana kalau nanti saat tahun baru Cina di hari Sabtu tanggal 1
February. Aku saat itu ingin loncat berteriak kegirangan, lalu segera
menyetujui usulnya, lalu ia mengatakan akan memastikan sekali lagi
lokasi dan jamnya dan akan menelefonku kembali di sekitar hari
pertemuan nanti. Kemudian hubungan telepon pun berakhir. Hatiku
berdebar-debar menanti tanggal pertemuan, saat itu aku sama sekali
tidak berfikir ia akan tampil seperti apa dan berwujud bagaimana, hanya
saja hatiku terasa begitu exited mengharapkan perjumpaan yang akan
terjadi.
Kamis malam 30 January 2003 Handphone ku berbunyi bising dan bergetar-getar tatkala aku sedang
mandi di malam hari pukul delapan malam sepulang dari kantor. Aku
segera pontang-panting berlari mengambil handphone ku, kulihat nomer
yang tertera adalah nomer telepon fix line bukan nomer selular ternyata
dari Khun Anchelly gadis Bank yang akan berkencan dengan ku di tahun
baru cina nanti. Ia memastikan sekali lagi apakah aku benar-benar akan
bertemu dengannya, lalu aku mengiyakan. Sejenak kemudian ia menanyakan
di manakah lokasi yang menurutnya aku mau, aku hanya menyerahkan kepada
dia, karena saat itu aku belum begitu paham daerah Bangkok karena baru
saja pindah dari luar kota masuk ke dalam Bangkok. Ia diam sejenak lalu menanyakan apakah aku tahu daerah Sathorn, kujawab
hanya tahu sebatas Silom-Saladaeng yang di lalui oleh rute BTS
Skytrain. Kembali ia menanyakan di Silom Saladaeng manakah tempat yang
kira-kira aku tahu pasti, aku mengatakan Central Silom Saladaeng yang
terdapat BTS Skytrain Silom Saladaeng. Lalu ia menyetujui tempat
pertemuan kami, sementara lokasi restoran akan ia pilihkan belakangan.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
35,594 |
| Murid Baru |
brian_suck@yahoo.com |
30,480 |
| Birahi Jalang - 1 |
kontiki@yahoo.com |
26,178 |
| Dokter Shinta Bertugas Di Desa Terpencil – 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,952 |
| Antara Pekan Baru - Jakarta - 1 |
Omkusayang@yahoo.com |
16,678 |
| Birahi Jalang - 3 |
kontiki@yahoo.com |
15,884 |
| Pro Di Kelasnya |
dante_is_me@yahoo.co.uk |
15,104 |
| Misteri Akhir Pekan Mila |
ucd@toosexyforyou.com |
14,688 |
| Birahi Jalang - 2 |
kontiki@yahoo.com |
14,549 |
| Kisah X Satu |
Jeki Velani |
13,654 |
| Bumbu Rahasia 01 |
Bumbu Dapur |
12,283 |
| Tangisan Cintaku |
Gesby |
10,201 |
| Nina Temanku |
bowomdn@yahoo.com |
10,153 |
| Memori Dalam Tugas - 1 |
drinkmyjuice@hotmail.com |
10,139 |
| Kado Pernikahan - 1 |
Wisnu Wahyudi |
9,748 |
|
|
|
|
|
|
|