|
|
"Kamu nggak mau di hisap dulu?" Tanyaku berbisik.
"Nggak usah.. hh udah basah nih.." jawabnya penuh nafsu.
Perlahan batang kemaluanku memasuki lubang vaginanya. Benar saja,
lubangnya telah basah oleh cairannya sendiri, sehingga meskipun agak
lambat, batangku masuk dengan lancar. Betapa nikmat kurasakan. Batangku
terasa diurut dan dihisap kemaluannya. Dengan berpegang ke meja di
hadapannya ia mengangkat badannya. Perlahan batang kemaluanku keluar
dari lubang vaginya. Kembali batangku terasa ditarik lembut oleh
kemaluannya. Tak lama kemudian ia pun turun naik dengan lancar di atas
batang kemaluanku yang tegak bagai tiang bendera. Begitu bersemangatnya
Srini, sampai meja makan di depan kami ikut bergeser dan berbunyi di
atas lantai kayu yang licin dan dingin.
Mulutnya mengerang tak henti-hentinya, menandakan ia terbawa dalam
kenikmatan hebat. Ketika tengah mengayuh hebat, Srini berhenti sejenak.
Lalu berdiri dan berbalik menghadapku. Dengan mengangkangkan kakinya ia
kembali menurunkan badannya. Dengan satu tangan diantara tubuh kami,
dituntunnya galah dagingku ke arah kemaluannya. "Bless.." Zakarku
kembali masuk dengan ganas. Mulut Srini mulai mencari mulutku. Aku
tidak tinggal diam. Segera kusambut mulutnya yang tetap ranum walaupun
tidak memakai lipstik itu, dengan ciuman yang panas dan bergelora. Kami
saling menjilat, mengulum dan tekadang menggigit. Erangan Srini makin
hebat. Goyangan pantatnyapun makin hebat. Nampaknya ia mau orgasme.
Betul saja. Ia memagut bibirku dengan kasar dan kedua tangannya memeluk
badanku erat-erat. Seiring enjotannya berhenti, badannya mengejang.
Serr.. srr.. crot! crot! Air maninya mnyembur batangku yang tengah
tenggelam di lubang nikmatnya.
Ia mengangkat pantatnya sekali dan menurunkannya. Nampaknya untuk
memaksimalkan kenikmatan yang ia dapatkan. Badannya kini berkeringat,
padahal cuaca di masih dingin, maklum di puncak. Kemudian ia terkulai
menyender di badanku, padahal batangku masih tegak dan keras tertanam
di lubang kewanitaannya. Biasanya bila aku bersetubuh pagi hari, aku
memang agak susah untuk orgasme dengan cepat. Srini memandangku manja.
Ia mencium pipiku.
"Belum keluar?"
"Belum"
Ia lalu mengangkat pantatnya sehingga batangku keluar dari
lubangnya. Tegak dan penuh cairan nikmat yang diberikan vagina Srini.
Dengan satu tangan Srini mengambil cairan dari batangku dan
mengoleskannya di sekitar liang duburnya. Lalu ia mengangkat pantatnya
kembali dan menurunkannya di atas batang zakarku. Kali ini ia menuntun
batangku ke arah duburnya.
"Sri.."
"Ssstt.." Ia meletakkan telunjuknya di bibirku sebagai tanda bagiku untuk tidak bicara.
"Just do it.." katanya, "it is special for you.."
Ia pun menurunkan kembali pantatnya. Ketika kepala batangku
menyentuh lubang duburnya, aku merasa betapa kecil lubang itu. Tapi
Srini seakan tidak perduli. Ia terus menekan pantatnya ke arah batang
dagingku. Matanya terpejanm sambil merasakan apa yang terjadi di bagian
duburnya. Ketika ujung batangku mulai menyeruak lubang pantatnya, ia
menyeringai. Tapi ia terus menkan pantatnya, sehingga kepala batangku
masuk. Aku merasakan nikmat luar biasa. Batangku serasa terjepit hebat
oleh lubang daging yang sempit.
Ia mengangkat pantatnya. Lalu diturunkannya lagi kali ini setengah
batangku masuk. Ditariknya lagi. Lalu ditekannya lagi sehingga batang
kemaluanku amblas tertelan lubang duburnya itu. Tak terkatakan rasa
nikmat yang kudapatkan dengan batang dagingku yang dipilin-pilin oleh
lubang sempit ini. Apalagi ia kemudian dengan lancar turun naik dan
menggoyang pantatnya kiri-kanan. Cewek ini begitu hebat dalam bercinta.
Dan betapa beruntungnya aku karena ia memberikan sesuatu yang khusus
buatku, yang ia tidak berikan pada suaminya.
"Ahh.. teruss.. ahh.. uh! Uh! ..aww"
"Ohh.. awh! awh!nikh.. matthh.. ohh.."
Dijepit oleh lubang yang swmpit seperti itu, batang kemaluanku jadi
tak tahan. Aku ikut memegang pinggangnya dan menaik-turunkan pantatnya
agar gesekkan terhadap batangku semakin cepat. Akhirnya kuangkat
pantatnya dan kukeluarkan batangku. Kini giliranku mencapai puncak
kenikmatan Ahh.. Cret! Cret! Creett! Serr.. Serr.. Air maniku muncrat
dengan kencang ke atas meja dan lantai di bawahnya. Aku memeluk tubuh
telanjangnya dengan erat. Keringat membasahi tubuhku dan Srini
mengusapnya dengan manja. "Enak?!" tanyanya.
"Luar biasa.. koq pinter sih..?!"
"Kursus dong.."
"Dimana..?! Emangnya ada kursus begituan..?!"
"Ada.. film tripel?!"
"Suka nonton yach..!? Pantes.." Kami terdiam sejenak.
"Pinter goyang begini koq sering dianggurin, kan sayang.."
"Makanya kalau Mas mau kita bisa janjian.."
"Astaga. Aku nggak berani ah.."
"Kan bisa diatur.. Aku juga nggak sembarangan.."
Aku diam. Aku berpikir, kesempatan seperti ini memang langka dan
tidak mungkin terulang. Selain jauh dari Jakarta, kebetulan semua orang
lagi nggak ada. Nah kalau di Jakarta? Kalau semua orang di kantor tahu
bagaimana?
"Kita lihat saja nanti deh.. Kan kamu yang punya kesempatan"
"benarr yaa. Nanti kalau lagi kosong aku telepon."
Kami kemudian sarapan. Aku minum STMJ yang memang dibawakan oleh
teman-teman panitia dalam bentuk sachet ketika berangkat. Jam di
dinding menunjukkan pukul delapan. Tiba-tiba telepon di samping TV
berdering. Aku menjawabnya.
"Hallo.."
"Halo, dengan Pak Riki..?"
"Ya, saya sendiri.."
"Kami petugas front office. Ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani bapak sebelum bapak pulang."
"O ya, nanti saya ke sana sekitar jam sembilan."
"Baik, terima kasih pak."
Aku akan bergerak mandi, tetapi Srini minta duluan. Akhirnya,
sambil berselimut aku nonton TV. Terdengar suara Srini memanggilku dari
dalam kamar mandi.
"Ada apa?" tanyaku dari depan pintu kamar mandi.
"Tolong ambilkan lulurku dong, di atas" katanya.
"Di tas?"
"Ya, di kantong luar"
Aku segera berlari ke kamar atas dan turun lagi dengan membawa lulur mandinya.
"Nih" kataku tanpa membuka pintu kamar mandi.
"Masuk aja Mas, nggak dikunci koq."
Aku masuk dan mendapatinya sedang telanjang bulat. Ia memandangku
sambil tersenyum. Aku jadi membuang muka. "Lulurkan ke badanku dong."
"Hah?! Nggak ah.."
"Ayo dong mas, kapan lagi.." Ia memelas.
Akhirnya akupun menuruti kemauannya. Ia memang benar, kapan lagi
aku bisa bersamanya dalam suasana seperti ini. Tidak ada jarak, tidak
ada penghalang, walau sehelai benangpun. Akupun mengoleskan lulur itu
mulai dari punggungnya, pinggangnya, dan pantatnya. Sementara ia
berdiri tegak membelakangiku.
"Depannya juga dong.." katanya sambil memutar badannya.
Aku mengoleskan lulur mulai dari lehernya, lalu dadanya-sambil
meremas dan membelanya tentunya-, terus ke perutnya dan
selangkangannya. Ia membawa tanganku ke kemaluannya. Aku tidak menolak,
membelainya dengan jariku. Tangan kanannya mengikuti tanganku sedangkan
matanya memandangku, sayu. Ia mendekatkan bibirnya, lalu mencium
bibirku lembut. Batang kemaluanku mulai bergerak naik.
"Mas.."
"Hmm.."
"Kakinya juga dong"
"Oh ya, sorry.." Aku lalu mengolesi kedua pahanya, lututnya dan telapak kakinya.
"Gantian, sini aku lulurkan.." Katanya setelah aku selesai.
Akupun membuka selimut yang melilit badanku, lalu berdiri
membelakanginya. Ia mengoleskan lulur ke seluruh tubuhkku, sama yang
kulakukan terhadapnya. Bedanya, ketika ia mengoleskan lulur ke bagian
depan tubuhku, ia tinggalkan batang kemaluanku. Baru setelah selesai
semua, ia menjilati batang kemaluanku dan menghisapnya. Batang
kemaluanku yang setengah tegang itu kini malah jadi keras lagi karena
kulumannya. Setelah puas mengulum dan menjilati batang kemaluanku, ia
mengolesinya dengan lulur dan mengocok dengan tangannya. Ia pun berdiri
dan memandangku.
"Sekali lagi ya..? Terakhir.." Aku tak menjawab, tetapi melingkarkan kedua tanganku kepinggangnya yang penuh lulur itu.
Dalam sekejap kamipun berciuman dengan ganas. Ia meletakkan kedua
tangannya memeluk leherku. Akupun memeluknya semakin ketat. Ia
menggesekkan dadanya ke dadaku, aku menggesekkan kemaluanku yang
berdiri tegak itu ke bawah perutnya. Kamar mandi yang dingin ini
berubah menjadi hangat karena nafsu birahi kami. Ia mendudukkanku pada
toilet duduk. Lalu berjongkok dihadapanku dan mulai mengocok batang
zakarku dengan cairan yang keluar dari. Lalu ia mendekatkan dadanya ke
batangku. Sambil memegang kedua payudaranya dari tepi ia meletakkan
batangku di tengah kedua payudaranya dan memaju-mundurkan dadanya.
Terasa geli campur nikmat memancar dari kemaluanku yang terjepit di
antara dadanya itu.
Cairan makin banyak keluar dari kepalanya. Srini terus memainkan
kemaluanku dengan kedua payudaranya yang putih dan montok itu. Aku
menyender pada toilet duduk itu sambil menikmati fantasi sex yang ia
ciptakan. Cewek ini bermain seakan tidak pernah puas. Nampaknya ia
ingin menikmati sepuas-puasnya kesempatan yang didapatkannya. Mungkin
suaminya sering keletihan pulang kerja sehingga tidak sempat
melayaninya di atas ranjang. Aku tersadar ketika ia menghentikan
permainan dadanya terhadap batangku. Lalu ia berdiri membelakangiku dan
kembali menurunkan pantatnya.
"Ini posisi favoritku.." katanya tanpa menunggu komentarku.
Segera ia menangkap batang zakarku yang sudah tegak itu dan
membimbingnya memasuki vaginanya. "Bless.." Dengan lancar kini batang
itu menerobos sarungnya.
"Ahh.. nikmaat.." katanya sambil menyenderkan badannya ke arahku.
Aku memeluknya sambil meremas kedua payudaranya dan mulutku mencari
bibirnya. Ia menyambutnya dengan mesra. Lalu dengan semangat membara ia
mulai mengayuh pantatnya, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan kanan. Aku
menimpalinya dengan menggenjot batangku ke atas keras-keras sehingga
timbul suara keplokan yang menambah indah suasana pagi ini.
Perjuangan mencari puncak kenikmatan kini dimulai lagi. Tidak puas
dengan posisi mendudukiku dari belakang, ia berbalik menghadapiku dan
mengangkangiku. Lalu sambil duduk ia menggenjot kemaluannya. Aku pun
tak berkeberatan dan ikut memainkan batangku sambil meremas-remas
pantatnya dan menjilati payudaranya. Srini lalu berdiri. Sambil
menyender ke dinding kamar mandi yang dingin ia minta agar aku
menyetubuhinya sambil berdiri. Aku menikmatinya bahkan mengangkat kedua
kakinya ke pinggangku. Srini tanpaknya merasa senang sekali aku
mengikuti semua gaya yang dimintanya tanpa komentar. Akhirnya ia minta
disetubuhi dengan gaya biasa, tidur telentang dengan kedua kakinya
diangkat ke pundakku. Pada posisi inilah ia mengalami orgasme.
Sedangkan aku terus menggenjotnya, sehingga ketika melakukan doggy
style aku baru bisa mencapai nikmatku yang kedua di pagi ini. Dan kali
ini ia tidak membiarkan kemaluanku muntah dalam vaginanya, tapi dalam
mulutnya. Ia tidak merasa jijik sedikitpun. Bahkan sebagian air maniku
ditelan begitu saja bagai menelan air minum!
* * * *
Selesai merapikan semuanya, aku menuju front office untuk
menyelesaikan seluruh administrasi. Tidak lama kemudian driver kantor
datang menjemput. Seolah tidak terjadi apa-apa, kamipun pulang ke
Jakarta. Dan sepanjang jalan kami tertidur kelelahan..
Srini menepati janjinya ketika di puncak. Sejak saat itu kami
sering membuat janji jika suaminya sedang sibuk dan tidak bisa pulang.
Kami bertemu di sebuah hotel dan mengulangi kepuasan yang kami dapatkan
ketika di puncak. Aku tidak tahu sampai kapan hubungan ini akan
berlanjut. Mudah-mudahan saja tidak membuat bencana bagi keluarga
masing-masing.
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
96,298 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
65,803 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
56,368 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
52,675 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
52,417 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
51,805 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
45,463 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
42,482 |
| Orgasme dengan Bertukar Pasangan 01 |
tante_mirna@yahoo.com |
40,552 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
39,162 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
38,892 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
36,563 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
36,246 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
35,820 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
34,960 |
|
|
|
|
|
|
|