Peristiwa pertama,
DI TENGAH HUJAN Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi
akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang
makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan turun. Surti
adalah istri Iding keponakan Pakde Marto yang sejak kecil ikut
Pakde-nya. Pakde Marto ini adalah kakak bapaknya yang tidak mempunyai
anak sendiri. Dan sesudah menikah pasangan itu tetap mengikuti
Pakde-nya yang sangat sayang pada keponakannya. Sehari-hari mereka bahu
membahu mencari sesuap nasi membantu Pakde di sawah atau Budenya yang
buka warung kecil-kecilan di rumahnya. Seperti biasanya menjelang siang
Surti mengantarkan makanan dan minuman Pakde-nya yang kerja di sawah.
Hari itu kebetulan Iding pergi ke kota untuk membeli pupuk dan bibit
tanaman.
Rupanya hujan keburu turun sementara mereka masih di tengah
hamparan sawah desa yang sangat luas itu. Hujan ini luar biasa
lebatnya. Disertai dengan angin yang menggoyang keras dan nyaris
merubuhkan pohon-pohon di sawah hujan kali ini sungguh luar biasa
besarnya. Sebagai petani yang telah terbiasa denagn kejadian semacam
ini dengan enteng Pakde Marto membabat daun pisang yang lebar untuk
mereka gunakan sebagai payung guna sedikit mengurangi terpaan air hujan
yang jatuh di wajah mereka yang menghambat pandangan mata.
Sambil memanggul cangkulnya Pakde Marto merangkul bahu Surti
erat-erat agar payung daun pisangnya benar-benar bisa melindungi
mereka. Surti merasakan kehangatan tubuh Pakde-nya. Demikian pula Pakde
Marto merasakan kehangatan tubuh Surti yang istri keponakannya itu.
Jalan pematang langsung menjadi licin sehingga mereka berdua tidak bisa
bergerak cepat. Sementara pelukan mereka juga bertambah erat karena
Pakde Marto khawatir Surti jatuh dari pematang. Kadang-kadang terjadi
pergantian, satu saat Surti yang memeluki pinggang Pakde-nya. Tiba-tiba
ada "setan lewat" yang melihat mereka dan langsung menyambar ke duanya.
Saat Pakde Marto memeluk bahu Surti tanpa sengaja beberapa kali
menyentuh payudaranya. Pada awalnya hal itu tidak mempengaruhi Pakde,
tetapi hawa dingin yang menyertai hujan itu ternyata mendatangkan
gelisah di hatinya. Kegelisahan yang bisa merubah perasaannya. Saat
pertama kali Pakde Marto tanpa sengaja menyentuh payudara istri
keponakannya dia agak kaget, khawatir Surti menganggap dirinya berlaku
tidak sopan. Tetapi saat yang kedua kali dan kemudian dengan sadar
menyentuhnya kembali untuk yang ketiga kalinya dia tidak melihat adanya
reaksi menolak dari Surti, pikiran Pakde mulai dirasuki "setan lewat"
tadi. Dan pelan-pelan tetapi pasti kontol di balik kolornya mulai
menghangat dan bangun. Toh rasa ke-imanan Pakde Marto masih berusaha
bilang "jangan" walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya dia
mengharapkan sesuatu keajaiban, mungkin semacam sinyal, yang datang
dari Surti.
Demikian pula Surti yang merasakan beberapa kali payudaranya
tersentuh, pada awalnya dia tidak sepenuhnya menyadari. Tetapi saat
tersentuh untuk yang kedua kalinya dia mulai mengingat sentuhan yang
sama yang sering dilakukan oleh suaminya Iding. Biasanya kalau Iding
menyentuh macam itu pasti ada maunya. Pikiran lugu Surti langsung
disambar "setan lewat" lagi. Adakah macam kemauan suaminya itu juga
melanda kemauan Pakde-nya di hari hujan yang dingin ini? Tetapi
sebagaimana Pakde Marto, Surti juga berusaha menepis pikiran buruknya
dan berkata dalam hatinya "nggak mungkin, ah". Walaupun dibalik
sanggahannya sendiri itu bersemi di hati kecilnya, akankah datang
sebuah keajaiban yang membuat tangan Pakde-nya menyentuh payudaranya
lagi? Maka, ketika pelukkan Pakde Marto pada bahu Surti yang semakin
mengetat dan menyebabkan sentuhan ke tiga benar-benar hadir, hal itu
sudah merupakan awal kemenangan sang "setan lewat" tadi.
Demikian pula saat hujan yang semakin deras dan jalan yang semakin
licin hingga mengharuskan mereka menyesuaikan dan mengganti posisi
pelukan agar tidak jatuh dari pematang, pelukan Surti dari arah
punggung pada pinggang dan dada Pakde-nya mendorong lajunya bisikkan
"setan lewat" tadi. Buah dada Surti yang empuk menempel hangat di
punggung dan tangan halus Surti yang menyentuh perut dan dada, membuat
kontol Pakde-nya benar-benar tidak tahu diri. Keras mencuat ke depan
seperti cengkal kayu yang menonjol pada sarung anak yang disunat.
Untung Surti berada di belakangnya sehingga gangguan teknis itu tidak
terlihat olehnya. Pakde Marto mulai mencari-cari apa jalan keluarnya?
Demikian pula yang dirasakan Surti saat memeluki Pakde-nya dari
belakang. Tangannya yang ketat memeluk perut dan dada Pakde-nya membuat
buah dadanya demikian gatal saat tergosok-gosok punggung Pakde yang
tidak mungkin terdiam karena setiap langkah kaki Pakde-nya pasti akan
menggoncang seluruh bagian-bagian tubuhnya. Kegatalan macam itu menjadi
terasa nikmat saat Surti mengingat bagaimana Iding suaminya sering
menggosokkan wajahnya ke payudaranya. Mudah-mudahan Pakde-nya tidak
keberatan dengan pelukannya, demikian pikiran lugu Surti. Kemudian sang
"setan lewat" kembali membisikkan ke dalam pikirannya, mudah-mudahan
rumahnya semakin menjauh dan hujannya semakin menderas, yang disusul
dengan seringai gigi taringnya karena gembira melihat usahanya telah
meraih kemenangannya secara mutlak. Sekarang tinggal menggiring Pakde
dan keponakkan mantunya ini menuju ke ke sentuhan setannya yang
terakhir.
Hujan yang demikian hebat ini membuat jam 2 siang hari bolong itu
gelap serasa menjelang maghrib. Awan gelap masih memenuhi langit. Dan
lebih seram lagi kilat dan petir ikut menyambar-nyambar. Pikiran Pakde
Marto dan Surti sekarang adalah mencari tempat berteduh. Pakde Marto
tidak kehilangan arah. Dia tahu persis kini berada di petak sawah milik
Sarmin tetangganya. Kalau dia belok sedikit ke kanan dia akan menjumpai
dangau untuk berteduh. Dan benar, begitu Pakde Marto yang dalam pelukan
Surti belok kekanan nampak bayangan kehitaman berdiri tegak di depan
jalannya. Mereka berdua memutuskan untuk berhenti dulu menunggu hujan
sedikit reda.
Surti bisa menurunkan beban gendongannya ke amben bambu yang ada di
situ. Kini mereka saling memandang. Surti memandang kaos oblong
Pakde-nya yang basah kuyup lengket di tubuhnya dan menunjukkan bayangan
dadanya yang gempal berotot. Sementara Pakde Marto melihat kebaya dan
kain di tubuh Surti yang istri keponakannya basah kuyup dan membuat
bayangan tubuhnya yang sintal dengan payudaranya yang menggembung ke
depan. Dengan setengah mati Pakde Marto berusaha menyembunyikan
tonjolan kontolnya pada celana kolornya.
Pakde Marto memperkirakan jarak dangau itu ke dusunnya kira-kira
"se-udut"-an, sebuah perhitungan yang biasa dipakai orang desa mengenai
jarak dekat atau jauh diukur dari sebatang rokok yang dinyalakan
(dihisap). Mungkin sekitar 6 s/d 8 menit orang jalan kaki. Sementara
itu tak bisa diharapkan akan ada orang lewat sawah ini dalam keadaan
hujan macam begini. Pandangan mata secara jelas ke depan tidak lebih
dari 5 meter, selebihnya kabut hujan yang menyelimuti seluruh hamparan
sawah itu.
Dalam usaha menghindar percikan hujan di dangau Pakde Marto dan
Surti harus duduk meringkuk ketengah amben yang relatip sangat sempit
yang tersedia. Artinya seluruh anggota tubuh harus naik ke amben
sehingga mau tidak mau mereka harus kembali berhimpitan. Dan sang
"setan lewat" kembali hadir menawarkan berbagai pertimbangan dan
keputusan.
Surti yang ditimpa hujan dan hawa dingin menggigil. Demikian juga
Pakde Marto. Untuk menunjukkan rasa iba pada istri keponakannya Pakde
meraih pundak Surti dan membagikan kehangatan tubuhnya. Dan untuk
menghormati maksud baik Pakde-nya Surti menyenderkan kepalanya pada
dadanya. Walaupun pakaian mereka serba basah tetapi saat tubuh-tubuh
mereka nempel kehangatan itu terjadi juga. Dan pelukan yang ini sudah
berbeda dengan pelukan saat awal Pakde Marto membagi payung daun
pisangnya tadi. Pelukan yang sekarang ini sudah terkontaminasi secara
akumulatip oleh campur tangan sang "setan lewat" tadi.
Saat kepala Surti terasa pasrah bersender pada dada, jantung Pakde
Marto langsung tidak berjalan normal. Dan tonjolan di celananya membuat
susah memposisikan duduknya. Demikian pula bagi Surti. Saat Pakde-nya
meraih bahunya untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya dia merasakan
seakan Iding yang meraihnya. Dengan wajahnya yang mendongak pasrah
menatap ke wajah Pakde-nya Surti semakin menggigil hingga kedengaran
giginya yang gemelutuk beradu. Dan inilah saatnya "sang setan" lewat
melemparkan bisikan racunnya yang terakhir kepada Pakde Marto.
"Ambil!, Ambil!, Ambil!, Ambil!", dan Pakde tahu persis maksudnya.
Seperti bunga layu yang jatuh dari tangkainya, wajah Pakde Marto
langsung jatuh merunduk. Bibirnya menjemput bibir Surti yang istri
keponakkannya itu. Dan desah-desah lembut dari dua insan manusia itu,
membuat seluruh rasa dingin dari baju yang basah dan tiupan angin
menderu akibat hujan lebat itu musnah seketika dari persada Pakde Marto
maupun persada Surti. Mereka kini saling melumat. Sang "setan lewat"
cepat berlalu untuk menghadap atasannya dengan laporan bahwa
otomatisasi setannya sudah ditinggal dan terpasang dalam posisi "ON"
pada setiap dada korbannya. Kini dia berhak menerima bintang kehormatan
para setan.
Dan lumatan lembut menjadi pagutan liar. Kini lidah dan bibir
mereka saling berebut jilatan, isepan dan kecupan. Dan bukan hanya
sebatas bibir. Jilatan, isepan dan kecupan itu merambah dan menghujan
ke segala arah. Keduanya menggelinjang dalam gelombang dahsyat birahi.
Surti menggeliatkan tubuhnya minta agar Pakde-nya cepat merangkulnya.
Pakde Marto sendiri langsung memeluki dada Surti. Wajahnya merangsek
buah dadanya. Dikenyotnya baju basah penutup buah dadanya. Surti
langsung mengerang keras-keras mengalahkan suara hujan. Kaki-kakinya
menginjak tepian amben sebagai tumpuan untuk mengangkat-angkat
pantatnya sebagai sinyal untuk Pakde-nya bahwa dia sudah menunggu
tindak lanjut operasi cepat Pakde-nya.
Pakde Marto memang mau segalanya berjalan cepat. Waktu mereka tidak
banyak. Segalanya harus bisa diraih sebelum hujan reda. Dan operasi ini
tidak memerlukan prosedur formal. Kain penutup tubuh Surti cukup dia
singkap dengan tangannya hingga ke pinggang. Nonok Surti yang
menggembung nampak sangat ranum dalam bayangan jembutnya yang lembut
tipis. Kelentitnya nampak ngaceng mengeras menunggu lumatan lidahnya.
Tak ada yang ditunggu, wajah Pakde Marto langsung merangsek ke kemaluan
ranum itu. Bibir dan lidahnya melumat dan menghisap seluruh perangkat
kemaluan itu. Tangan Surti menangkap kepala Pakdenya, menekannya agar
lumatan dan jilatan Pakde-nya lebih meruyak masuk ke dalam vaginanya.
Cairan birahi yang asin hangat bercampur dengan air hujan dia sedot dan
telan untuk membasahi kerongkongannya yang kering kehausan. Itil Surti
dia lumat dan gigit dengan sepenuh gemasnya. Tekanan Surti pada
kepalanya berubah jadi jambakkan pada rambutnya. Pantat Surti terus
naik-naik menjemput bibir dan lidah Pakde-nya. Tetapi Pakde Marto tidak
akan mengikuti kemauan idealnya. Hitungan waktu mundurnya sudah
dimulai.
Kini Pakde Marto yang sudah meninggalkan celana kolornya di
rerumputan pematang merangkak ke atas dan memeluki tubuh basah hujan
Surti. Kontolnya berayun-ayun mencari sasarannya. Paha Surti yang
hangat langsung menjepit tubuh Pakde-nya dengan nonoknya yang tepat
terarah ke ujung kontol Pakde Marto. Untuk langkah lanjutannya, mereka
berdua, baik yang senior maupun yang yunior sudah terampil dengan
sendirinya. Ujung kontol Pakde Marto sudah tepat berada di lubang
vagina istri keponakannya. Mereka telah siap melakukan manuver akhir
sambil menunggu hujan reda. Dan saat mereka saling dorong, kemaluan
Pakde Marto langsung amblas ditelan vagina Surti. Sambil bibir-bibir
mereka saling melumat, Pakde Sastro mengayun dan Surti menggoyang.
Kontol dan vagina Surti bertemu dalam kehangatan seksual birahi ruang
luar, ditengah derasnya hujan, tiupan angin dan kilat serta petir yang
menyambar-nyambar dengan disaksikan oleh segenap dangau yang lengkap
dengan berisik ambennya, oleh belalang yang ikut berteduh di atapnya,
oleh kodok yang bersuka ria menyambut hujan, oleh wereng yang
berlindung di daunan padi yang sedang menguning, oleh baju-baju mereka
yang basah dan lengket di badan.
Pakde Marto mempercepat ayunan kontolnya pada lubang kemaluan
Surti. Walaupun dia sangat kagum sekaligus merasai nikmat yang sangat
dahsyat atas penetrasi kontolnya pada lubang vagina Surti yang serasa
perawan itu, dia tetap "concern" dengan waktu. Surti yang menikmati
legitnya kontol Pakde-nya menggelinjang dengan hebatnya. Dia juga ingin
selekasnya meraih orgasmenya. Genjotan kontol Pakde-nya yang semakin
cepat pada kemaluannya mempercepat dorongan untuk orgasmenya. Kini dia
merasakan segalanya telah siap berada di ujung perjalanan. Dan dengan
jambakan tangannya pada rambut Pakde Marto, bak kuda betina yang lepas
dari kandangnya Surti memacu seluruh saraf-saraf pekanya. Kedua kakinya
dia jejakkan keras-keras pada tepian amben dangau hingga pantatnya
terangkat tinggi untuk menelan seluruh batang kontol Pakde Marto dan
datanglah malaikat nikmat merangkum seluruh otot, daging dan tulang
belulang Surti. Cairan birahi Surti muncrat melebihi derasnya hujan
siang itu. Terus muncrat-muncrat yang diikuti dengan pantatnya yang
terus naik-naik menjemputi kontol Pakde Marto yang juga terus
mempercepat sodokkannya untuk mengejar kesempatan meraih orgasme secara
berbarengan dengan orgasme Surti.
Dan pada saat puncratan cairan vagina Surti mulai surut kontol
Pakde Marto yang masih kencang mengayun vagina Surti tiba-tiba berkedut
keras. Kedutan besar pertama menumpahkan bermili-mili liter air mani
yang kental lengket dari kantong spermanya. Dan kedutan berikutnya
merupakan kedutan pengiring yang menguras habis kandungan sperma dari
kantongnya. Sesaat kemudian bersamaan dengan surutnya hujan mereka
berdua Pakde Marto dan Surti yang istri keponakannya terengah-engah dan
rebah. Amben dangau itu nyaris terbongkar. Bambu-bambunya ada yang
lepas terjatuh. Mereka kini kegerahan dalam dinginnya sisa hujan.
Keringat mereka bercucuran rancu dengan air hujan yang membasahi
sebelumnya. Pakde Marto dan Surti telah meraih kepuasan yang sangat
dahsyat. Pelan-pelan mereka bangkit dari amben dan turun ke pematang
kembali. Surti membetulkan letak kain dan kebayanya. Pakde Marto
memakai celana kolornya yang basah jatuh di pematang dan kembali meraih
cangkulnya. Langit yang cepat cerah kembali nampak biru dengan sisa
awan yang berarak menyingkir. Pohon kelapa di dusunnya nampak
melambai-lambai menanti kepulangannya. Surti dan Pakde Sastro yakin
bahwa Bude maupun Iding pasti cemas pada mereka yang tertahan hujan
ini. Pakde sudah membayangkan pasti istrinya telah memasak air untuk
kopinya lengkap dengan singkong bakar kesukaannya. Dan dalam bayangan
Surti, Iding pasti telah sangat merindukannya untuk bercumbu di siang
hari. Suara kodok di sawah mengantarkan mereka pulang ke rumahnya.
(Diceritakan kembali oleh seseorang yang tak mau disebut namanya) Ke bagian 2
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
3,756 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
2,345 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,329 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
2,251 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
2,239 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
2,223 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,155 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
1,986 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
1,861 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
1,846 |
| Perselingkuhan Ibuku 02 |
dave_putu@yahoo.com |
1,681 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
1,495 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
1,457 |
| Perselingkuhan Ibuku 04 |
dave_putu@yahoo.com |
1,425 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
1,419 |
|
|
|
|
|
|