|
|
Dari bagian 1 Peristiwa kedua,
PULANG MUDIK Sejak berkeluarga dan tinggal di Jakarta aku selalu sempatkan pulang
mudik menengok orang tua di Yogyakarta setiap hari raya Idul Fitri. Aku
paling suka mudik dengan mobil sendiri. Saat anak-anakku masih kecil
aku menyupir sendiri sampai ke rumah orang tua. Kemudian saat anakku
sudah besar dan dewasa, merekalah yang bawa mobil.
Kalau pulang mudik aku paling senang lewat jalur selatan yang tidak
begitu ramai dan jarang ada kemacetan. Dan yang paling aku suka adalah
saat aku melewati desa Redjo Legi menjelang masuk kota Purworejo.
Disitu tinggal pamanku, yang aku biasa panggil Pak Lik, dia adik sepupu
bapakku. Aku sangat akrab dengannya karena anaknya yang seumur denganku
indekost di rumahku. Kalau hari libur aku sering diajak pulang ke Redjo
Legi cari belut. Depan rumahnya yang hingga kini masih merupakan sawah
yang terbentang selalu ada belut untuk kami tangkap dan goreng.
Nostalgia macam itulah yang membuat aku selalu ingin mengenang
kembali masa kecilku dengan menyempatkan mampir kerumah Pak Lik setiap
aku pulang mudik. Dan ada yang tidak berubah di rumah Pak Lik sejak aku
kecil dulu, yaitu rumahnya yang berdinding gedek kulit bambu itu.
Indahnya gedek macam itu adalah fungsi sirkulasi udaranya sangat bagus
karena gedeknya itu bercelah-celah akibat jalinan bambu yang tidak
mungki bisa rapat benar. Dan saat pagi hari matahari akan menembusi
gedek itu sehingga panasnya cukup untuk membangunkan kami yang maunya
masih bermalas-malas di amben, istilah setempat untuk balai-balai yang
terbuat dari bambu. Kondisi dan suasana itulah pulalah yang semakin
membuat aku selalu mampir di rumah Pak Lik setiap aku pulang mudik. Dan
walaupun saat usianya sudah lebih dari 50 tahun atau 20 tahun di atas
saya, tetapi Pak Lik tetap nampak gagah dan sehat.
Dua tahun yang lalu Bu Lik meninggal dunia karena sakit sehingga
kini Pak Lik menjadi duda. Untuk menopang kegiatannya sehari-hari Pak
Lik dibantu pelayan kecil dari kampungnya untuk mencuci pakaiannya dan
masak ala kadarnya. Apabila sudah tidak ada lagi yang dikerjakan dia
pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Pak Lik. Akhirnya Pak Lik
menjadi terbiasa hidup sendirian di rumahnya. Sanak saudaranya yang
menyarankan untuk kawin lagi agar ada perempuan yang membuatkan kopi di
pagi hari atau menjadi teman saat bertandang ke sanak keluarga, tetapi
Pak Lik belum juga menemukan jodohnya yang sesuai dengan keinginan
hatinya. Walaupun pendidikannya cukup tinggi, waktu itu sudah
menyandang titel BA atau sarjana muda, kegiatannya sehari-hari dari
dulu hingga kini adalah tani. Dia menggarap sendiri sawahnya.
Tahun ini aku dan istriku terpaksa pulang mudik berdua saja.
Anak-anakku punya acara sendiri bersama teman-temannya yang susah aku
pengaruhi untuk ikut menemani kami. Ya, sudah. Aku nggak suka
memaksa-maksa anak. Mereka perlu dewasa dan belajar mengambil keputusan
sendiri. Menjelang masuk kota Kroya jam menunjukkan pukul 2 siang saat
aku merasa agak tidak enak badan. Badanku agak demam dan kepalaku
pusing. Sambil pesan agar nyopirnya nggak usah buru-buru, istriku
memberi obat berupa puyer anti masuk angin yang selalu dia bawa saat
bepergian jauh. Sesudah aku meminumnya rasa badanku agak lumayan,
pusingku sedikit berkurang. Tetapi tetap saja tidak senyaman kalau
badan lagi benar-benar sehat. Menjelang memasuki desa Redjo Legi menuju
rumah Pak Lik aku merasakan sakitku tak bisa tertahan lagi. Kupaksakan
terus jalan pelan-pelan hingga tepat jam 5 sore mobilku memasuki
halaman rumah Pak Lik yang dengan penuh kehangatan menyambut kami.
Ketika dia tahu aku sakit, dia panggil embok-embok di kampungnya
yang biasa mijit dan kerokan, kebiasaan orang Jawa kalau sakit badannya
di kerok dengan mata uang logam untuk mengeluarkan anginnya. Ketika
sakitku tidak berkurang juga akhirnya istriku membawa aku ke dokter
yang tidak jauh dari rumah Pak Lik. Aku dikasih obat dan disuruh banyak
istirahat dan tidur. Sepulang dari dokter Pak Lik sudah merepotkan
dirinya dengan menyediakan makan malam. Sebelum minum obat istriku
menyuruh aku makan dulu barang sedikit. Dan seusai aku minum obat, aku
langsung diserang kantuk yang luar biasa. Rupanya dokter telah
memberikan obat tidur padaku. Aku langsung tertidur pulas.
Sekitar pukul 2 atau 3 malam, aku tidak begitu pasti, aku
dibangunkan oleh suara berisik amben bambu dibarengi suara rintihan dan
desahan halus dari sebelah dinding kamarku. Kantukku masih sangat
memberati mataku. Aku meraba-raba istriku tetapi tak kutemukan, mungkin
dia sedang turun kencing. Di rumah Pak Lik kamar-kamar tidurnya tidak
dilengkapi lampu. Cahaya dalam kamar cukup didapat dari imbas lampu di
ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga yang tembus ke dinding bambu
yang banyak celah lubangnya itu. Suara amben yang terus mengganggu
kupingku memaksa aku mengintip ke celah dinding. Apa yang kemudian aku
lihat langsung memukul diriku. Aku terpana dan limbung. Kepalaku yang
pusing karena sakit langsung kambuh. Aku kembali terkapar dengan
jantungku yang berdegup cepat dan keras. Benarkah Dik Narti istriku
telah tega mengkhianati aku? Benarkah Pak Lik yang aku selalu baik
padanya telah tega menggauli istriku yang mestinya dianggap sama dengan
istri anaknya juga? Apakah kekuranganku Dik Narti? Apakah karena
kesibukkanku yang selalu merampas waktuku sehingga kamu merasa berhak
untuk menerima orang lain? Apakah karena hanya itu sebagaimana yang
sering kamu keluhkan padaku? Ataukah Pak Lik yang sudah 2 tahun
men-duda telah membujuk rayu padamu dan kamu tak mampu menolaknya? Ah,
sejuta pertanyaan yang aku nggak mampu menjawabnya karena semakin
menambah pusing kepalaku. Sementara berisik amben itu semakin tak
terkendali. Dan rintihan Dik Narti serta desahan berat Pak Lik semakin
jelas di kupingku. Aku tak mampu bangun karena obat yang aku minum
membuat aku limbung kalau nggak ada yang menuntunku. Aku hanya bisa
kembali ngintip dari celah dinding itu.
Kulihat Pak Lik sedang mengayun-ayun kontolnya yang lumayan gede ke
lubang memek istriku sambil mencium Dik Narti penuh nafsu. Sementara
Dik Narti memegangi dan meremas rambut Pak Lik untuk memastikan
bibir-bibir mereka bisa tetap saling berpagut dan melumat. Suara
kecupan saat bibir yang satu terlepas dari bibir yang lain kudengar
terus beruntun. Sementara ayunan kontol Pak Lik yang semakin
menghunjam-hunjam vagina istriku semakin membuat ambennya menjadi lebih
berisik lagi.
"Pak Lik, Pak Lik, enaakk Pak Lik.. teruss Pak Lik.. oocchh..
hhmm.. Pak Lik..", duh, rintihan Dik Narti yang sedemikian menikmati
derita birahinya membuatku kepalaku semakin terpukul-pukul.
Darah yang naik ke kepalaku semakin membuatku pusing yang sedemikian hebatnya.
Dan desahan Pak Lik sendiri nggak kalah hebatnya. Sebagai lelaki
sehat yang telah men-duda lebih dari 2 tahun tentu kandungan libidonya
sangat menumpuk. Bukan tidak mungkin dialah yang memulai dan
melemparkan bujuk rayu pada istriku sementara dia tahu aku nggak akan
mudah terbangun karena obat tidurku ini. Kembali aku ngintip ke
dinding. Kulihat buah dada dan istriku yang masih demikian ranum dengan
pentilnya yang tegak kencang menusuk ke depan sudah terbongkar dari
kantung BH-nya. Itu pasti ulah Pak Lik yang membetotnya keluar untuk
dia lumat-lumat bukitnya dan sedoti pentilnya hingga kuyup oleh
ludahnya. Kulihat bagaimana ketiak istriku yang terbuka saat memegangi
kepala dan meremasi rambut Pak Lik. Pasti lidah dan ludah Pak Lik juga
sudah melumati dan menjilati hingga basah kuyup pada ketiak Dik Narti
yang sangat sensual itu. Kembali aku ambruk ke ambenku.
Rasa nyut-nyut di kepalaku sangat menyakitkan. Tanganku berusaha
memijit-mijt untuk mengurangi rasa sakitnya. Tetapi setiap kali aku
tergoda untuk kembali ngintip di lubang dinding. Kulihat kontol Pak Lik
serasa semakin sesak menembusi vagina Dik Narti. Dia tarik keluar pelan
dengan dibarengi desahan beratnya dan rintihan Dik Narti, kemudian
mendorongnya masuk kembali dengan desahan dan rintihan mereka lagi. Dia
lakukan itu berulang-ulang dan desahan serta rintihannya juga terdengar
mengulang-ulang. Kemudian kulihat tusukan kontol Pak Lik makin
dipercepat. Mungkin kegatalannya pada kelamin-kelamin mereka makin
menjadi-jadi. Pak Lik tidak lagi melumati bibir Dik Narti. Dia turun
dari amben dan mengangkat satu tungkai kaki istriku dan mengangkat
hingga menyentuh dadanya. Dengan cara itu Pak Lik bisa lebih dalam
menghunjamkan kontolnya ke memek istriku Dik Narti. Dan akibatnya
kenikmatan yang tak terperi melanda istriku. Dia meremasi sendiri
susunya sambil kepalanya yang rambutnya telah amburadul acak-acakan
terus bergoyang ke kanan dan ke kiri menahan siksa nikmat yang terperi.
Racauan terus keluar dari mulutnya. Mereka sudah sangat lupa diri.
Mereka sudah tidak lagi memperhitungkan aku yang suaminya atau
keponakannya yang kini berada di sebelah dinding dan tengah tergeletak
sakit hampir mati.
Kenikmatan nafsu birahi telah menghempaskan mereka ke sifat
kebinatangan yang tak mengenal lagi ada rasa iba, martabat, hormat dan
menghargai norma-norma hidup sebagaimana mestinya. Mereka sudah hangus
terbakar dan berubah sifatnya menjadi gumpalan nafsu setan gentayangan.
Aku terbatuk-batuk dan mual. Pusing kepalaku langsung menghebat. Dengan
suara yang sengaja kukeraskan aku mengeluarkan dahakku yang kemudian
disusul dengan muntah-muntah. Aku berharap dengan tindakakanku itu
segalanya menjadi berhenti. Mereka pasti akan bergegas menolong aku.
Tetapi suara amben itu justru makin cepat dan kencang. Sehingga kini
ada dua sumber berisik di dalam rumah Pak Lik ini. Suaraku yang orang
sakit dan memerlukan pertolongan di kamar sebelah sini dan suara yang
berkejar-kejaran dengan nafsu setan di kamar di sebelah sana.
Aku tahu mereka dalam keadaan tanggung. Puncak nikmat sudah dekat
dan nafsu birahi untuk memuntahkan segalanya sudah di ubun-ubun. Mereka
pasti berpikir, biarkan saja aku menunggu. Dan ketika saat puncak
mereka akhirnya hadir suara-suara di rumah ini benar-benar gaduh. Aku
yang muntah-muntah tanpa henti dengan suaraku seperi babi yang
disembelih bercampur dengan suara Pak Lik bersama istriku berteriak
histeris menerima kenyataan nikmat dari orgasme yang mereka raih. Untuk
sesaat suara amben masih terdengar berisik untuk kemudian reda dan
sunyi. Sementara disini aku masih mengeluarkan suara dari batukku
disertai dengan rasa mau muntah yang keluar dari tenggorokanku.
Akhirnya istriku muncul di pintu. Dipegangnya kepalaku. Ah, kok
makin panas mas, obatnya diminum lagi ya, katanya. Kemudian dengan kuat
tangannya meringkus aku dan memaksakan obat cair masuk ke mulutku. Aku
terlampau lemah untuk menolaknya. Saat jari-jarinya memencet hidungku
kesulitan nafasku memaksa aku menelan seluruh obat yang telah berada
dalam rongga mulutku. Kemudian disuruhnya aku minum air hangat. Sebelum
air itu habis kuteguk aku sudah kembali jatuh tertidur pulas. Dan aku
nggak punya alibi sedikitpun atas apa yang selanjutnya terjadi di rumah
ini hingga 6 jam kemudian saat aku terbangun.
Jam 9 pagi esoknya aku terbangun lemah. Pertama-tama yang kulihat
adalah dinding dimana aku mengintai selingkuh istriku dengan Pak Lik.
Aku marah pada dinding itu. Kenapa begitu banyak lubangnya sehingga aku
bisa mengintip. Dan aku juga marah pada diriku kenapa aku yang sakit
ini masih pengin mengintip ke dinding itu dan menyaksikan istriku
menanggung nikmat saat kontol Pak Lik menggojlok kemaluannya. Tapi saat
aku ingin teriak karena marah besarku istriku dia muncul di pintu.
Pandangan matanya aku rasakan sangat lembut. Dia mendekat dan duduk di
ambenku. Dia ganti kompres di kepalaku dengan elusan tangannya yang
lembut sambil berkata,
"Mas Roso (begitu dia memanggilku) semalaman mengigau terus. Panas
badannya tinggi. Aku jadi takut dan khawatir. Pak Lik bilang supaya aku
ambil air dan kain untuk mengompres kepala Mas Roso".
Saat mendengar mulutnya menyebut Pak Lik yang aku ingat betul nada
suara dan pengucapannya persis sebagaimana aku dengar saat dia meracau
penuh nikmat tadi malam, seketika darahku mendidih dan tanganku
langsung mencekal blusnya dan ingin membantingnya ke tanah. Tetapi
senyum teduhnya kembali hadir di bibirnya,
"Hah, apa lagi mas, apa lagi yang dirasakan, sayang", ucapnya
lembut tanpa prasangka dengan mukanya yang nampak tetap suci bersih.
Langsung didih darahku surut. Aku tak mampu melawan kelembutan dan
senyumnya itu. Kutanyakan padanya di mana Pak Lik sekarang. Dia bilang
Pak Lik ke sawah. Hari ini giliran dia untuk membuka pematang agar air
mengalir kesawahnya. Dia juga bilang agar aku banyak istirahat saja
dulu. Dia sudah menelpon orang tua di Yogya dari kantor telepon,
mengabarkan bahwa aku sakit dan akan istirahat dulu di Redjo Legi.
Kemudian dia beranjak dan kembali dengan sepiring bubur sum-sum, aku
disuapinya.
Aku jadi berpikir apa yang sesungguhnya terjadi tadi malam. Apakah
panas badanku yang sedemikian rupa telah membawaku ke alam mimpi sampai
aku mengigau sepanjang malam sebagaimana kata istriku, ataukah
perselingkuhan Pak Lik dengan istriku itu memang benar-benar sebuah
kenyataan? Kembali kepalaku berputar-putar rasanya. Istriku kembali
men'cekok'i aku dengan obatnya. Dan aku kembali tertidur. Sebelum aku
lelap benar, istriku dengan penuh kasih memeluk aku, mengelusi kepalaku
sambil mendekatkan kedadanya. Pada saat itu aku merasakan semburat
aroma yang lembut menerjang ke hidungku. Aroma itu aku yakini adalah
aroma ludah yang telah mengering pada buah dada dan bagian tubuh
istriku yang lain. Tetapi obat tidurku tak memberi kesempatan padaku
untuk melek lebih lama. Aku kembali pulas tertidur. Sampai kini, 6
bulan sesudah pulang mudikku itu, aku tetap tidak tahu apa yang
sesungguhnya terjadi. Dan aku tidak mempunyai alibi apapun untuk
mempertanyakan keinginan tahuku pada istriku. Yang mungkin bisa dan
perlu aku lakukan adalah memilih jalur utara yang padat saat pulang
mudik yang akan datang.
(Diceritakan kembali oleh Pak Roso) Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
96,086 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
65,733 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
56,306 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
52,628 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
52,375 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
51,748 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
45,421 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
42,433 |
| Orgasme dengan Bertukar Pasangan 01 |
tante_mirna@yahoo.com |
40,501 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
39,139 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
38,869 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
36,518 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
36,197 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
35,787 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
34,925 |
|
|
|
|
|
|
|